- Pasien diabetes di RSUD dr. Sayidiman Magetan mendapat kue ikan gabus apel lima keping dua kali sehari selama tiga hari.
- Rerata gula darah sewaktu kelompok yang mendapat kue turun dari 390,25 menjadi 267,56 mg/dL.
- Kelompok kontrol yang mendapat snack rumah sakit juga turun, dari 436,19 menjadi 354,19 mg/dL.
- Rerata asupan serat kelompok yang mendapat kue naik dari 7,84 menjadi 17,30 gram.
Daftar Isi
Selama tiga hari, sekelompok pasien diabetes tipe 2 di ruang penyakit dalam RSUD dr. Sayidiman Magetan, Jawa Timur, mendapat camilan berupa kue kering dua kali sehari. Pada kelompok itu, rerata asupan energi naik dari 715,24 menjadi 1.486,44 kilokalori. Pada hari-hari yang sama, rerata gula darah sewaktu mereka turun dari 390,25 menjadi 267,56 mg/dL.
Kue kering itu bukan kue biasa. Namanya Igapel, singkatan dari ikan gabus apel, dan ia diuji oleh Hanan dan rekan dari Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang, dengan Hanan juga bertugas sebagai ahli gizi di RSUD dr. Sayidiman Magetan. Hasilnya dimuat dengan judul Intervensi cookies ikan gabus apel (Igapel) terhadap asupan makronutrien dan kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di Jurnal Gizi Klinik Indonesia volume 22 nomor 3, tahun 2026.
Penelitian itu melibatkan 32 pasien diabetes tipe 2 yang dirawat antara Desember 2024 dan Februari 2025. Rancangannya kuasi-eksperimen dengan pengukuran sebelum dan sesudah serta kelompok kontrol. Separuhnya, 16 orang, menerima kue Igapel, sedangkan 16 lainnya menerima camilan biasa dari rumah sakit. Penelitian ini juga menjawab persoalan nyata di rumah sakit itu, yakni snack pasien yang menurut para peneliti “masih disediakan oleh pihak ketiga tanpa kontrol kandungan gizi dan belum memenuhi kebutuhan energi, serat, dan zat gizi pasien DM.”
Bagaimana Ikan Gabus dan Apel Berubah Menjadi Kue Kering
Bahan utamanya tepung Igapel, yakni tepung gabungan ikan gabus dan apel Rome Beauty. Dalam satu adonan, 100 gram tepung Igapel dicampur dengan 200 gram tepung garut, 50 gram tepung susu skim, 100 gram margarin, 50 gram kuning telur, 100 mililiter santan, dan 30 mililiter stevia cair. Adonan lalu dicetak dan dipanggang dalam oven bersuhu 180 derajat Celsius selama 25 sampai 30 menit.
Hitungan gizinya dicantumkan para peneliti per 100 gram kue. Isinya energi 407,15 kilokalori, protein 7,18 gram, lemak 8,79 gram, karbohidrat 74,83 gram, dan serat 5,27 gram. Takaran yang diberikan kepada pasien jauh lebih kecil, yaitu lima keping seberat 5 gram per keping, dua kali sehari pada pukul 10.00 dan 15.00 WIB.
Tabel 1 paper membandingkan kandungan per sajian. Satu sajian kue Igapel seberat 25 gram mengandung 101,8 kilokalori, protein 1,8 gram, lemak 2,2 gram, karbohidrat 18,7 gram, dan serat 1,3 gram. Snack kontrol seberat 50 gram memuat 138,3 kilokalori, protein 0,1 gram, lemak 5,0 gram, karbohidrat 22,8 gram, dan serat 0,2 gram. Dalam bahasannya, para peneliti menggambarkan kue ini berenergi moderat, tinggi protein, berkarbohidrat kompleks, berlemak terkendali, serta cukup serat larut.
Untuk mengurangi bias hasil penelitian, tim Hanan memberi edukasi kepada semua pasien kelompok perlakuan agar menghabiskan kue dalam kemasan plastik ziplock berlabel, dan pesan serupa diberikan kepada kelompok kontrol untuk snack rumah sakit. Sisa yang tidak dimakan ditimbang dengan timbangan digital, lalu dicatat dalam lembar observasi.
Protein Ikan Gabus dan Enzim Pengubah Karbohidrat
Penjelasan para peneliti dimulai dari ikan gabus atau Channa striata. Menurut mereka, ikan ini mengandung protein yang bersifat antioksidan dan menghambat kerja enzim alfa-glukosidase, sehingga perubahan karbohidrat menjadi glukosa ikut melambat. Beberapa studi sebelumnya, tulis mereka, menunjukkan ekstrak ikan gabus dapat menurunkan kadar glukosa darah secara bermakna melalui senyawa aktif seperti arginin dan leusin, tetapi penerapannya dalam makanan praktis seperti kue kering masih terbatas.
Protein juga punya peran kedua. Para peneliti menulis bahwa protein dapat merangsang sekresi insulin dan glukagon, sehingga membantu pengaturan metabolisme glukosa dalam jangka pendek. Mereka menyebut asam amino esensial ikan gabus, seperti leusin, lisin, dan arginin, berperan meningkatkan sekresi insulin dan kepekaan reseptor insulin lewat jalur yang bergantung pada nitric oxide. Jalur ini, menurut mereka, diketahui berkontribusi pada perbaikan fungsi endotel dan metabolisme glukosa.
Baca juga Yogurt Tepung Pisang Batu Turunkan Gula Darah Pasien Diabetes
Lapisan berikutnya ada pada albumin. Tepung ikan gabus, menurut Hanan dan rekan, kaya albumin dan asam amino esensial yang berperan dalam regenerasi sel serta perbaikan fungsi pankreas, sehingga mendukung produksi insulin secara optimal. Mereka menyebut penggunaan ikan gabus sebagai sumber albumin dan protein fungsional dalam konteks diabetes sebagai inovasi yang belum banyak dilaporkan dalam literatur ilmiah.
Serat Apel Membentuk Gel yang Menahan Laju Glukosa
Dari sisi apel, penjelasan para peneliti berpusat di saluran cerna. Apel Rome Beauty, tulis mereka, mengandung dua jenis serat, yaitu serat tidak larut berupa selulosa dan serat larut yang memperlambat penyerapan glukosa ke dalam darah. Secara teori, menurut mereka, serat pangan yang larut air membentuk gel yang menghambat kerja enzim pencernaan, memperlambat pengosongan lambung, dan memperpanjang rasa kenyang.
Salah satu serat larut itu adalah pektin. Para peneliti menjelaskan bahwa pektin membentuk gel kental dalam saluran cerna yang memperlambat perjalanan makanan, sehingga lonjakan glukosa sesudah makan tertahan. Apel juga membawa senyawa polifenol, termasuk flavonoid, serta antioksidan seperti quercetin, yang menurut mereka membantu menurunkan stres oksidatif, salah satu pemicu resistensi insulin.
Para peneliti mengaitkan cara kerja kue ini dengan sinergi kandungan tepung ikan gabus dan apel dalam satu bentuk camilan. Mereka mencatat bahwa makanan selingan dalam porsi kecil tetapi lebih sering lebih sesuai bagi pasien diabetes karena membantu kerja insulin yang tersedia. Dalam bahasannya, tim Hanan menulis, “Kombinasi komponen-komponen ini dalam bentuk cookies tidak hanya memberi efek hipoglikemik melalui berbagai jalur metabolik, tetapi juga menawarkan alternatif camilan fungsional bagi penderita diabetes atau individu dengan risiko tinggi.”
Siapa Saja Pasien dalam Penelitian Ini
Sebagian besar pasien di kedua kelompok adalah perempuan berusia di atas 45 tahun, bekerja sebagai petani, dan lulus sekolah dasar. Pada kelompok yang mendapat kue, 12 dari 16 pasien adalah perempuan dan 10 orang bekerja sebagai petani. Di kedua kelompok, sembilan pasien atau 56,25 persen berpendidikan terakhir sekolah dasar.
Lama sakit yang paling banyak tercatat adalah kurang dari lima tahun, dan mayoritas pasien berstatus gizi normal menurut indeks massa tubuh. Namun, para peneliti juga menemukan 25 persen pasien kelompok perlakuan dan 18,75 persen kelompok kontrol berstatus gizi kurus. Hampir semuanya memakai obat Lantus, yakni 15 pasien di kelompok perlakuan dan 14 pasien di kelompok kontrol.
Asupan Naik, Gula Darah Turun di Kedua Kelompok
Asupan gizi kedua kelompok sama-sama naik setelah intervensi, tetapi bentuk kenaikannya berbeda. Pada kelompok yang mendapat kue, rerata asupan protein naik dari 28,42 menjadi 53,87 gram dan serat dari 7,84 menjadi 17,30 gram, sedangkan pada kelompok kontrol protein naik dari 40,23 menjadi 46,44 gram dan serat dari 8,10 menjadi 10,47 gram.
Karbohidrat bercerita lain. Kelompok kontrol, meski tanpa perlakuan khusus, mengalami kenaikan asupan karbohidrat sekitar 139,35 gram, dari 93,33 menjadi 232,68 gram. Kelompok perlakuan naik 111,95 gram, dari 88,63 menjadi 200,58 gram. Menurut para peneliti, kenaikan asupan energi, protein, lemak, dan serat lebih tinggi pada kelompok yang mengonsumsi kue Igapel.
Gula darah sewaktu diukur perawat ruangan sekali sehari pada malam hari. Pada kelompok perlakuan, rerata kadarnya turun dari 390,25 menjadi 267,56 mg/dL. Kelompok kontrol juga mengalami penurunan, dari 436,19 menjadi 354,19 mg/dL, dan penurunan di kedua kelompok sama-sama bermakna secara statistik. Pengukurannya memakai alat glukotest di ruang rawat inap, sementara data asupan dikumpulkan ahli gizi ruangan lewat wawancara ingatan makan 24 jam.
Pembandingan antarkelompok menunjukkan perbedaan bermakna pada asupan protein, karbohidrat, serat, dan kadar gula darah sewaktu setelah intervensi. Asupan energi dan lemak tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok. Dari temuan itu para peneliti menyimpulkan, “Cookies ikan gabus apel dapat meningkatkan asupan zat gizi pasien sekaligus membantu mengontrol kadar GDS pada pasien DM tipe 2.”
Baca juga Biaya Berobat Diabetes di Desa Bangladesh Terbanyak untuk Obat
Ada pula alasan praktis yang mereka sebut. Bentuk kue kering dinilai mudah dimakan dan sudah akrab bagi masyarakat, sehingga lebih mudah diterima pasien. Apel memberi rasa manis alami dan aroma khas yang menambah nilai rasa produk, sementara bahan-bahannya berasal dari pangan lokal. Menurut mereka, hal ini menjadi kekuatan utama Igapel dibandingkan studi lain berupa crackers berbahan tempe dan labu yang mengalami kendala penerimaan sensorik oleh subjek penelitiannya.
Di Mana Penjelasan Ini Berhenti
Hanan dan rekan mengakui penelitian ini punya batas. Jumlah pasien dan lama intervensi masih terbatas, dan mereka belum mengukur penanda metabolik lain seperti HbA1c, indeks resistensi insulin HOMA-IR, atau profil lemak darah yang penting untuk memantau pasien dalam jangka panjang. Daya tahan kue selama penyimpanan dan pengaruhnya terhadap ukuran tubuh pasien juga belum dikaji.
Karena itu, mereka menyarankan penelitian lanjutan dengan jumlah pasien lebih besar dan waktu intervensi lebih panjang, disertai pengukuran HbA1c, kepekaan insulin, dan kadar adiponektin. Bahan serupa juga bisa dikembangkan menjadi bentuk lain, seperti bar energi atau minuman siap saji. Analisis biaya produksi, uji skala industri, dan uji selera konsumen di berbagai kelompok umur ikut mereka sebut.
Baca juga Tinggi Badan Pria Jepang dan Lamanya Bertahan Bebas Diabetes
Untuk rumah sakit, saran para peneliti lebih dekat ke dapur. Mereka menilai rumah sakit dapat mempertimbangkan kue Igapel sebagai bagian dari intervensi gizi medis, dengan memperhatikan pendekatan edukasi yang sesuai dengan latar belakang pendidikan pasien. Menurut mereka, produk berbahan lokal ini juga berpotensi dikembangkan dalam skala industri pangan fungsional.
Dalam simpulannya, Hanan dan rekan menulis bahwa pemberian kue Igapel dua kali sehari selama tiga hari dapat menurunkan kadar gula darah sewaktu serta meningkatkan asupan energi, zat gizi makro, dan serat dibandingkan dengan snack jatah rumah sakit. Penelitian dengan durasi lebih panjang dan cakupan lebih luas, menurut mereka, masih diperlukan untuk mengkaji dampak jangka panjangnya serta efektivitasnya terhadap parameter klinis lain.















