- Gula darah puasa mereka turun, sesuai harapan para peneliti yang meraciknya.
- Artinya, gula darah puasa kelompok yogurt berkurang rata-rata 37,25 miligram per desiliter, sementara kelompok pembanding bertambah 13,96.
- Riset ini tidak memeriksa kadar SCFA, komposisi bakteri usus, atau sensitivitas insulin pasien.
- Bagian metode menyebut 30 pasien perlakuan dan 30 pasien kontrol, sedangkan abstrak dan semua tabel memakai 24 dan 23 orang.
Daftar Isi
Segelas yogurt yang sama diminum pasien diabetes setiap hari selama empat minggu, dan hasilnya terbelah dua. Gula darah puasa mereka turun, sesuai harapan para peneliti yang meraciknya. Kolesterol total, yang juga diharapkan ikut turun, justru naik, baik di kelompok yang minum yogurt maupun di kelompok pembanding. Minuman yang sama menghasilkan dua penanda yang bergerak ke arah berlawanan.
Temuan itu tercatat dalam naskah Effectiveness of synbiotic yogurt made from pisang batu (musa balbisiana) flour on blood glucose levels and cholesterol levels in type 2 diabetes mellitus patients karya Yuniarti, Arintina Rahajuni, Estuasih Dyah Pertiwi, dan Nurul Fatih Rahmadina dari Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang. Artikel itu terbit di Jurnal Gizi Indonesia volume 14 nomor 2, tahun 2026, dengan pasien rawat jalan diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit K.R.M.T. Wongsonegoro, Kota Semarang, sebagai pesertanya.
Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan apakah yogurt ini menyehatkan, melainkan bagaimana ia bisa bekerja pada satu penanda dan tidak pada penanda lain. Jawabannya ada pada bahan yang dicampurkan ke dalam yogurt, pada cara bahan itu diolah bakteri usus, dan pada angka yang dicatat sendiri oleh para penelitinya. Sebagian angka itu, seperti akan terlihat, tidak selalu sepakat satu sama lain.
Cara Pisang Batu Menjadi Bahan Bakar Bakteri Usus
Pisang batu, Musa balbisiana, adalah jenis pisang olahan yang menurut penulis lebih cocok dijadikan tepung daripada dimakan langsung. Yang penting darinya bagi riset ini bukan rasa atau gula buahnya, melainkan komponen prebiotik. Naskah mencatat kandungan fruktooligosakarida atau FOS sebesar 427,03 miligram per mililiter, pati resisten 39,35 persen, dan inulin satu gram per seratus gram pisang.
Prebiotik, menurut naskah, adalah serat pangan yang difermentasi dan mengubah aktivitas mikroflora usus. Dalam kerangka penulis, FOS yang difermentasi menghasilkan asam lemak rantai pendek, yang di naskah disingkat SCFA, dan zat inilah yang disebut menekan produksi glukosa sekaligus memperbaiki sensitivitas insulin. Pati resisten dan inulin menempuh jalan serupa. Keduanya juga berakhir sebagai SCFA.
Sisi lainnya adalah probiotik, mikroorganisme hidup yang memberi manfaat bila dikonsumsi dalam jumlah cukup. Yogurt dalam riset ini difermentasi dengan Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus, dan penulis menyebut tambahan tepung pisang batu meningkatkan asam propionat di dalamnya. Asam propionat itu, menurut mereka, dapat memperbaiki resistensi insulin. Karena prebiotik dan probiotik digabung, produknya disebut sinbiotik.
Untuk kolesterol, penulis mengajukan jalur yang berbeda. Probiotik dari susu fermentasi disebut membantu menurunkan kolesterol dengan mengikatnya di usus, menghasilkan SCFA, dan memengaruhi metabolisme asam empedu. Dari dua jalur itu mereka menarik manfaat ganda: “Kombinasi prebiotik dan probiotik memberikan efek sinergis pada kendali glikemik dan lipid, yang mendukung penggunaannya sebagai intervensi diet fungsional bagi pasien diabetes,” tulis Yuniarti dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Persoalannya, jalur itu adalah penjelasan, bukan hasil ukur. Riset ini tidak memeriksa kadar SCFA, komposisi bakteri usus, atau sensitivitas insulin pasien. Yang diukur hanya dua hal di ujung rantai, yakni gula darah puasa dan kolesterol total, sehingga bagian tengah mekanisme itu tetap bersandar pada kajian yang dirujuk penulis, termasuk riset terdahulu pada tikus.
Baca juga Pengetahuan Diabetes Turunkan Gejala Neuropati Pasien
Bagaimana Gula Darah Puasa Bergerak Turun
Empat puluh tujuh pasien menyelesaikan penelitian, 24 orang minum yogurt dan 23 orang menjadi pembanding. Kelompok yogurt menerima 150 mililiter dua kali sehari, pagi dan sore sebagai kudapan, atau 300 mililiter per hari selama empat minggu. Sebelum minum, gula darah puasa kelompok ini rata-rata 211,42 miligram per desiliter, lebih tinggi daripada kelompok pembanding yang 182,52.
Setelah empat minggu, angka kelompok yogurt turun ke 174,17, sedangkan kelompok pembanding naik ke 196,48. Artinya, gula darah puasa kelompok yogurt berkurang rata-rata 37,25 miligram per desiliter, sementara kelompok pembanding bertambah 13,96. Selisih perubahan kedua kelompok itu bermakna secara statistik dengan nilai p 0,027, dan penulis membacanya sebagai tanda bahwa intervensi berpengaruh pada gula darah puasa.
Yang membuat angka itu layak diperhatikan adalah apa yang tidak berubah. Asupan makan kedua kelompok di akhir penelitian nyaris sama, yaitu energi 1.049,84 kilokalori pada kelompok yogurt dan 1.044,78 kilokalori pada pembanding, dengan karbohidrat 148,29 gram berbanding 150,81 gram. Tidak satu pun selisih asupan itu bermakna, sehingga penulis tidak menemukan perbedaan pola makan yang bisa menerangkan turunnya gula darah.
Kedua kelompok juga berangkat dari titik yang serupa. Perempuan menjadi mayoritas, 75 persen di kelompok yogurt dan 60,9 persen di pembanding, dan sebagian besar peserta tidak bekerja. Sebagian besar juga tidak merokok, 91,7 persen berbanding 87 persen, dan lebih dari separuh melaporkan beraktivitas fisik. Perbedaan karakteristik itu tidak bermakna secara statistik, sehingga keduanya layak dibandingkan.
Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun
Mengapa Kolesterol Justru Bergerak Naik
Di sinilah kejanggalan pembuka muncul kembali. Kolesterol total kelompok yogurt naik dari 167 menjadi 209,15 miligram per desiliter, sedangkan kelompok pembanding naik dari 158,43 menjadi 189,29. Menurut tabel naskah, kenaikannya 42,73 pada kelompok yogurt dan 30,72 pada pembanding, dan selisih kedua kenaikan itu tidak bermakna secara statistik.
Karena itu, kesimpulan penulis terbelah persis seperti angka-angkanya. “Pemberian 300 ml yogurt sinbiotik dari tepung Pisang Batu (Musa balbisiana) setiap hari selama empat minggu efektif menurunkan kadar glukosa darah pasien tetapi tidak efektif menurunkan kadar kolesterol,” tulis para peneliti dalam kesimpulan berbahasa Inggris mereka. Kalimat itu mengikuti data, meski tidak sejalan dengan harapan yang dibangun di bagian latar.
Penjelasan penulis untuk kenaikan itu bertumpu pada asal-usul kolesterol. Menurut naskah, sekitar separuh kolesterol tubuh berasal dari sintesis, kira-kira 700 miligram per hari, dan sisanya dari makanan. Asupan lemak kedua kelompok tidak berbeda bermakna, yakni 31,9 gram berbanding 34,9 gram, sehingga sumber kenaikan bisa datang dari dalam tubuh sendiri. Naskah tidak menguji dugaan itu lebih jauh.
Penulis juga menawarkan kemungkinan lain di bagian keterbatasan. “Masa intervensi empat minggu mungkin tidak cukup untuk mengamati efek jangka panjang, terutama pada kadar kolesterol,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Dengan kata lain, jalur kolesterol yang digambarkan di latar belum sempat terlihat, atau memang tidak bekerja pada dosis dan waktu ini, dan data naskah belum bisa membedakan keduanya.
Cara Segelas Yogurt Masuk ke Menu Harian
Bagi pasien diabetes, yogurt ini dirancang sebagai kudapan yang diminum pagi dan sore. Penulis menghitung yogurt itu memenuhi 10,9 persen kebutuhan energi harian menurut Acuan Label Gizi, masuk dalam rentang 10 sampai 20 persen yang dianjurkan untuk makanan selingan. Karbohidratnya datang dari laktosa susu dan tepung pisang batu, yang sekaligus menjadi sumber prebiotiknya.
Lemaknya justru terlalu sedikit untuk ukuran kudapan, hanya 6,20 persen dari kebutuhan. Penyebabnya bahan baku rendah lemak, yakni susu UHT berlemak 1,25 gram per seratus gram dan susu skim satu gram per seratus gram. Penulis tidak melihatnya sebagai kekurangan semata, sebab produk rendah lemak dinilai cocok bagi orang yang perlu membatasi lemak, termasuk pasien gangguan metabolik.
Kepatuhan pasien tergolong baik. Sebanyak 23 dari 24 orang di kelompok yogurt, atau 95,8 persen, menghabiskan lebih dari 80 persen jatahnya. Konsumsi sempat turun pada minggu ketiga karena beberapa peserta lupa menghabiskan yogurt, lalu naik lagi pada minggu keempat setelah mereka diingatkan. Penulis menggolongkan kepatuhan itu baik, tanpa perbedaan bermakna antara dua kelompok.
Baca juga Kurangi Garam, Tekanan Darah Tetap Naik, Ini Sebabnya
Batas yang Diakui Para Peneliti
Penulis menyebut sendiri beberapa hal yang membatasi temuan ini. Jumlah peserta relatif kecil dan semuanya berasal dari satu rumah sakit, sehingga hasilnya belum tentu berlaku untuk pasien di tempat lain. Asupan makan dan gaya hidup dicatat berdasarkan laporan pasien sendiri, yang membuka peluang bias pelaporan. Keduanya membuat angka penurunan gula darah tadi perlu dibaca sebagai hasil satu kelompok pasien, bukan patokan umum.
Yang membuatnya rumit, penanda yang diperiksa hanya dua. Riset ini tidak mengukur HbA1c, LDL, HDL, maupun trigliserida, sehingga gambaran metabolik pasien tetap parsial. Turunnya gula darah puasa dalam empat minggu adalah satu potret pada satu waktu, bukan bukti bahwa kendali gula jangka panjang ikut membaik, dan penulis sendiri tidak mengklaim sejauh itu.
Angka yang Tidak Saling Mengunci di Dalam Naskah
Pembaca yang membuka naskah ini akan menemukan beberapa angka yang tidak saling mengunci. Bagian metode menyebut 30 pasien perlakuan dan 30 pasien kontrol, sedangkan abstrak dan semua tabel memakai 24 dan 23 orang. Naskah tidak menjelaskan ke mana sisanya. Bahan yogurt juga berbeda, sebab abstrak menyebut fermentasi dua bakteri tadi, sedangkan metode menyebut yogurt dibuat dari kefir.
Angka gula darah hadir dalam dua versi. Tabel 5 mencatat penurunan 37,25 dan kenaikan 13,96 dengan p 0,027, sedangkan abstrak dan bagian diskusi menyebut penurunan 8,72, perubahan kelompok pembanding minus 3,35, serta selisih antarkelompok 11,07 dengan p 0,000. Nilai p untuk kolesterol pun berbeda, 0,224 di abstrak dan 0,67 di Tabel 6.
Bagian diskusi bahkan menukar kelompok kolesterol, menyebut kenaikan 42,73 milik kelompok kontrol dan 30,72 milik kelompok perlakuan, kebalikan dari Tabel 6. Selisih 167 ke 209,15 sendiri adalah 42,15, bukan 42,73. Diskusi yang sama masih menyebut yogurt ini berpotensi menurunkan gula darah dan kolesterol, padahal kolesterol naik di kedua kelompok.
Tabel kepatuhan juga mencantumkan konsumsi yogurt kelompok kontrol, tanpa penjelasan apa yang sebenarnya mereka terima. Diskusi menulis sebagian besar subjek berusia 60 tahun, padahal tabel menunjukkan mayoritas di bawah 60, yakni 62,5 persen dan 56,5 persen. Nama penulis ketiga pun ditulis dua cara, Pertiwi di halaman pertama dan Pratiwi di kepala halaman berikutnya.
Jadi segelas yogurt yang sama memang bisa bergerak ke dua arah. Prebiotik pisang batu dan bakteri yogurt, dalam penjelasan penulis, punya jalur ke gula darah lewat asam lemak rantai pendek, dan gula darah puasa pasien memang turun dalam empat minggu. Jalur ke kolesterol belum terlihat pada waktu sependek itu, sementara bagian tengah kedua jalur masih menunggu diukur.















