Tinggi Badan Pria Jepang dan Lamanya Bertahan Bebas Diabetes

A A

Dua pekerja kantoran pria berjas gelap bersiap menyeberang zebra cross di jalan kota Jepang [Foto: Ryan Lee/Pexels]

  • Pria di kuartil terpendek, di bawah 167 sentimeter, mencatat 14,5 kasus per 1.000 orang-tahun.
  • Insiden per kuartil perempuan naik turun, yaitu 7,0, 5,8, 6,1, dan 4,1.
  • Pola ini bertahan saat batas tahun lahir digeser ke 1955 atau 1965.
  • Studi ini hanya menunjukkan keterkaitan, bukan bukti bahwa tinggi badan mencegah diabetes.
Daftar Isi
  1. Tinggi sebagai Jejak
  2. Pria Paling Jangkung
  3. Perempuan Tidak Searah
  4. Generasi Sebelum 1960
  5. Gizi Masa Kecil
  6. Pembanding di China
  7. Batas Temuan
  8. Catatan pada Naskah

Pria Jepang yang lebih jangkung lebih lama bebas diabetes. Temuan ini datang dari 63.264 pekerja di 12 lokasi kerja perusahaan Jepang, terdiri atas 54.188 pria dan 9.076 perempuan berusia 20 sampai 64 tahun. Mereka dipantau rata-rata 9,4 tahun, dan pada perempuan polanya tidak jelas.

Hasil itu ditulis Rachana Manandhar Shrestha, Huan Hu, Yosuke Inoue, dan 16 penulis lain dalam The association between adult height and the incidence of diabetes in a Japanese working population: a prospective study exploring the possible role of cohort effects. Artikel ini terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2259, tahun 2026.

Sebagian besar penulisnya bernaung di Department of Epidemiology and Prevention, Japan Institute for Health Security, Tokyo. Sisanya dokter perusahaan dari Furukawa Electric, JFE Steel, Nippon Steel, Yamaha, Mitsui Chemicals, Hitachi, dan Kubota. Datanya berasal dari J-ECOH Study, kumpulan hasil pemeriksaan kesehatan tahunan wajib para pekerja di wilayah Kanto dan Tokai.

Tinggi sebagai Jejak

Mengapa tinggi badan? Menurut naskah, tinggi orang dewasa terutama ditentukan gen, tetapi gizi, infeksi, dan kondisi sosial ekonomi sejak dalam kandungan sampai masa kanak-kanak juga ikut membentuknya. Karena itu, para penulis memandang tinggi badan sebagai penanda adaptasi tubuh terhadap kondisi awal hidup.

Kecuali untuk kanker, tinggi badan umumnya berhubungan terbalik dengan berbagai masalah kesehatan. Diabetes termasuk yang sudah banyak diteliti, dan naskah mencatat prevalensinya secara global 6,1 persen pada 2021, atau sekitar 529 juta orang.

Meta-analisis atas 16 studi sebelumnya menemukan orang yang lebih tinggi berisiko diabetes tipe 2 lebih rendah. Masalahnya, bukti dari Asia Timur masih sedikit dan saling bertentangan, karena studi dari China dan Taiwan memberi hasil yang berbeda.

Para penulis juga menyebut diabetes pada orang Asia Timur banyak dipicu gangguan sel beta pankreas. Akibatnya, penyakit ini cenderung muncul pada indeks massa tubuh lebih rendah dibanding populasi Barat, sehingga hubungan tinggi badan dengan diabetes bisa saja berbeda.

Pria Paling Jangkung

Pada pria, 5.829 orang terkena diabetes selama 478.076 orang-tahun pengamatan. Insidennya 12,2 kasus per 1.000 orang-tahun, dan angka ini turun bertahap dari kelompok terpendek ke kelompok tertinggi. Pria tertinggi juga lebih muda, rata-rata 40,9 tahun berbanding 46,8 tahun pada pria terpendek.

Pria di kuartil terpendek, di bawah 167 sentimeter, mencatat 14,5 kasus per 1.000 orang-tahun. Di kuartil tertinggi, 175 sentimeter ke atas, angkanya 10,6, sedangkan dua kuartil tengah berada di 12,5 dan 11,4.

Ukuran utama studi ini adalah time ratio, yakni perbandingan lama seseorang bertahan tanpa diabetes. Angka di atas 1 berarti lebih lama bebas diabetes dibanding kelompok terpendek, sedangkan angka di bawah 1 berarti lebih cepat terkena.

Setelah usia, indeks massa tubuh, kebiasaan merokok, hipertensi, dan dislipidemia diperhitungkan, pria tertinggi mencatat time ratio 1,07. Artinya, mereka bertahan bebas diabetes sedikit lebih lama daripada pria terpendek, dan tren antarkuartil ini bermakna secara statistik.

Setiap tambahan tinggi 5 sentimeter pada pria berkaitan dengan time ratio 1,02. Polanya searah dengan meta-analisis terdahulu yang mencatat risiko diabetes 14 persen lebih rendah pada pria tertinggi dibanding pria terpendek.

Kasus diabetes baru menurut tinggi badanKuartil 1 (terpendek): Pria +14,5, Perempuan +7,0; Kuartil 2: Pria +12,5, Perempuan +5,8; Kuartil 3: Pria +11,4, Perempuan +6,1; Kuartil 4 (tertinggi): Pria +10,6, Perempuan +4,1.Kasus diabetes baru menurut tinggi badanKasus diabetes baru per 1.000 orang-tahun, pekerja JepangPriaPerempuan4812160Kuartil 1 (terpendek)14,57,0Kuartil 212,55,8Kuartil 311,46,1Kuartil 4 (tertinggi)10,64,1Kuartil pria: <167, 167-170,9, 171-174,9, 175 cm ke atas.Perempuan: <154, 154-157,9, 158-161,9, 162 cm ke atas.
Sumber: Rachana Manandhar Shrestha, Huan Hu, Yosuke Inoue, dkk., The association between adult height and the incidence of diabetes in a Japanese working population: a prospective study exploring the possible role of cohort effects, BMC Public Health, 26(2259), 2026. Grafik: Cekricek.id

Perempuan Tidak Searah

Pada perempuan, gambarnya lain, dengan batas kuartil dari di bawah 154 sampai 162 sentimeter ke atas. Hanya 448 kasus muncul selama 77.160 orang-tahun, sehingga insidennya 5,8 per 1.000 orang-tahun, kurang dari separuh insiden pada pekerja pria.

Insiden per kuartil perempuan naik turun, yaitu 7,0, 5,8, 6,1, dan 4,1. Tidak ada tren yang rapi dari terpendek ke tertinggi, dan nilai p untuk tren setelah penyesuaian hanya 0,074.

Sebelum faktor lain diperhitungkan, perempuan tertinggi tampak lebih lama bebas diabetes dengan time ratio 1,17. Setelah penyesuaian, angka itu turun menjadi 0,98 dan tidak lagi bermakna secara statistik.

Sebaliknya, perempuan di kuartil ketiga justru lebih cepat terkena diabetes setelah penyesuaian, dengan time ratio 0,83. Para penulis menyebut hasil pada perempuan tidak konsisten dan tidak menunjukkan pola dosis-respons antarkuartil.

Baca juga Pengetahuan Diabetes Turunkan Gejala Neuropati Pasien

Generasi Sebelum 1960

Temuan paling tajam muncul saat pria dibagi menurut tahun lahir. Batasnya 1960, yang menurut naskah dipilih untuk mencerminkan era pertumbuhan ekonomi pesat Jepang sekaligus membagi peserta secara seimbang.

Pada pria yang lahir 1960 atau sebelumnya, 2.625 dari 20.083 orang terkena diabetes. Insidennya 20,0 per 1.000 orang-tahun, dan pria tertinggi di kelompok ini mencatat time ratio 1,17 dibanding yang terpendek.

Pada pria yang lahir setelah 1960, 3.204 dari 34.105 orang terkena diabetes. Insidennya 9,2, dan time ratio pria tertinggi hanya 1,03 tanpa makna statistik, meski kuartil kedua dan ketiga masih mencatat 1,06 dan 1,07.

Beda kedua generasi itu bermakna secara statistik. Insiden per kuartil pria generasi tua turun dari 21,2 ke 17,3, sedangkan pada generasi muda hanya bergeser dari 10,1 ke 9,1 dan sempat naik lagi di kuartil tertinggi.

Pola ini bertahan saat batas tahun lahir digeser ke 1955 atau 1965. Hasil pada pria juga serupa ketika konsumsi alkohol, lama tidur, dan aktivitas fisik waktu luang ikut diperhitungkan pada 33.202 pekerja perusahaan terbesar.

Pria generasi tua, hubungannya lebih kuatPria generasi tua, hubungannya lebih kuatPria generasi tua, hubungannya lebih kuatPekerja pria Jepang dibagi menurut tahun lahirLahir s.d. 1960Lahir setelah 196020.08334.105Peserta pria2.6253.204Kasus diabetes20,09,2Insiden per 1.000orang-tahun1,171,03Time ratio kuartil4 vs 1Time ratio di atas 1 berarti lebih lama bebas diabetes. Angka 1,03 tidakbermakna secara statistik.
Sumber: Rachana Manandhar Shrestha, Huan Hu, Yosuke Inoue, dkk., The association between adult height and the incidence of diabetes in a Japanese working population: a prospective study exploring the possible role of cohort effects, BMC Public Health, 26(2259), 2026. Grafik: Cekricek.id

Gizi Masa Kecil

Para penulis menawarkan dua dugaan mekanisme dari literatur. Pertama, peran hormon pertumbuhan IGF-1 pada tinggi badan sekaligus pada sensitivitas insulin. Kedua, gizi dan kondisi sosial ekonomi awal hidup yang membentuk tinggi badan sekaligus risiko penyakit jangka panjang.

Naskah juga mencatat tren tinggi anak Jepang sejak 1900. Tinggi rata-rata anak cenderung naik, sempat turun sementara kemungkinan akibat Perang Dunia II, lalu mendatar pada anak yang lahir mulai 1970-an. Secara global, tinggi manusia juga naik besar antara kelahiran 1896 dan kelahiran 1996.

Dari situ, para penulis menduga generasi tua lebih banyak melewati masa kecil yang sulit secara gizi. Pada generasi muda, perbaikan kondisi masa kecil mungkin membuat tinggi badan tidak lagi banyak mencerminkan kesulitan awal hidup.

Baca juga Stunting Melonjak Setelah Setahun, Tuasnya Ada di Gizi Akut

Pembanding di China

Hasil ini berbeda dari studi Conway dan rekan di China. Studi itu melibatkan 69.385 perempuan dan 55.311 pria berusia 40 sampai 70 tahun, dan tidak menemukan hubungan antara tinggi badan dan diabetes.

Para penulis mencatat studi China itu tidak memisahkan peserta menurut generasi, padahal banyak pesertanya kemungkinan mengalami kelaparan 1959 sampai 1961. Menurut mereka, beda antargenerasi bisa saling meniadakan sehingga hasil akhirnya nihil.

Pada perempuan, studi Conway justru menemukan hubungan positif antara tinggi badan dan risiko diabetes. Para penulis menyebut arah itu sejalan dengan sebagian hasil perempuan di studi mereka sendiri, yakni kuartil ketiga yang lebih cepat terkena diabetes.

Studi Kumari dan rekan di Inggris serta Schulze dan rekan di Jerman juga hanya menemukan hubungan bermakna pada pria. Sebaliknya, studi Pan dan rekan pada 306 orang dengan gula darah puasa terganggu di Taiwan menemukan hubungan terbalik yang searah dengan temuan pada pria Jepang.

Batas Temuan

Studi ini hanya menunjukkan keterkaitan, bukan bukti bahwa tinggi badan mencegah diabetes. Panjang tungkai, yang disebut penanda kekurangan masa kecil lebih kuat, tidak diukur, dan jenis diabetes tidak dicatat meski diasumsikan hampir semuanya tipe 2.

Data riwayat diabetes keluarga, pendidikan, pola makan, waktu layar, dan usia menstruasi pertama juga tidak tersedia. Pesertanya pekerja perusahaan besar, sebagian besar di sektor manufaktur, dengan rasio jenis kelamin yang timpang.

“Mengingat jumlah kasus perempuan yang relatif sedikit dan ciri khas kohort pekerja kami, kemungkinan bias seleksi tidak dapat disingkirkan,” tulis Shrestha, Inoue, dan rekan dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menyebut hasil pada perempuan belum bisa disimpulkan.

Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air

Catatan pada Naskah

Beberapa bagian naskah bisa diperiksa pembaca. Bagian metode menulis kuartil terpendek perempuan di bawah 155 sentimeter dan kuartil kedua 155 sampai 157,9, sedangkan Tabel 1 dan Tabel 2 menulisnya di bawah 154 dan 154 sampai 157,9.

Abstrak menyebut pekerja dari 12 perusahaan. Bagian metode menyebut 11 perusahaan dengan 12 lokasi kerja per 31 Maret 2023, dengan jumlah perusahaan yang berubah selama studi berjalan. Pembaca tidak mendapat rincian perusahaan mana yang keluar dan masuk.

Bagian hasil menulis tidak ada hubungan jelas pada perempuan di kedua generasi. Namun, Tabel 3 mencatat time ratio 0,92 per 5 sentimeter pada perempuan generasi tua setelah penyesuaian, dengan nilai p tren 0,014.

Tinggi badan tampaknya menyimpan jejak masa kecil pria Jepang yang lahir 1960 atau sebelumnya. Pada pria generasi muda dan pada pekerja perempuan, jejak yang sama belum terbaca jelas dari angka-angka studi ini.

Bagikan

Baca Juga

Kecanduan Ponsel Mahasiswa Bangladesh, 54 Persen Berisiko Tinggi
Listrik Padam Memperberat Penyakit Kronis Lansia Puerto Rico
Skrining Warga Madagaskar Ungkap HIV dan Sifilis Tersembunyi
Lansia Jatuh di China: Kulit Semangka hingga Takut Melangkah
Perempuan Paruh Baya di Changsha Sadar Menua, Bingung Bertindak
Kaitan Campak dan Konflik Bersenjata Bertahan hingga Setahun