- Tidak satu pun dari 32 sekolah menjalankan program makan atau membagikan makanan dan kudapan gratis.
- Kue, permen, kudapan asin, dan jus buah buatan pabrik dijual oleh lebih dari 62 persen pedagang di dalam sekolah.
- Garam gratis tersedia di 12 kios dan gula gratis di 10 kios, sedangkan sabun hanya di 3 kios.
- Semua pengelola dan pedagang mengakui lingkungan pangan sekolah bisa diperbaiki secara berarti.
Daftar Isi
Lingkungan pangan sekolah, menurut paper ini, adalah semua ruang, sarana, dan keadaan di dalam dan di sekitar sekolah tempat makanan tersedia, diperoleh, dibeli, atau dimakan. Di sekolah menengah perkotaan Grande Comore, isinya kebanyakan kue, permen, kudapan asin, dan jus buatan pabrik.
Gambaran itu datang dari Housna Hassani dan rekan dari UMR MoISA, pusat riset sistem pangan berkelanjutan di Montpellier, Prancis, bersama Departemen Kesehatan Masyarakat Université des Comores di Moroni. Laporan mereka berjudul Adolescents’ exposure to unhealthy foods and beverages in and around schools in urban Comoros: a cross-sectional mixed-methods study. Naskah itu terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026.
Tim mendatangi 32 sekolah menengah yang dipilih acak di dua distrik Grande Comore, pulau terbesar Komoro, pada Desember 2024. Mereka mengisi kuesioner bersama kepala sekolah, mengamati 13 kios di dalam sekolah dan 15 pedagang di gerbang, lalu mewawancarai 9 pengelola kios dan 16 pedagang luar.
Program Makan Sekolah, Jatah Makan yang Belum Ada
Di Komoro, menurut paper, program makan sekolah nasional belum dibangun. Negeri kepulauan berpenduduk sekitar 850.000 jiwa itu juga belum memiliki kebijakan nasional tentang kesehatan dan gizi sekolah.
Hasil di lapangan sejalan. Tidak satu pun dari 32 sekolah menjalankan program makan atau membagikan makanan dan kudapan gratis. Hanya satu sekolah yang memberi potongan harga atau subsidi pangan, dan hanya satu yang punya program suplementasi zat gizi mikro.
Bedanya mencolok dengan ruang kelas. Sebanyak 29 sekolah, atau 91 persen, memasukkan pelajaran tentang pangan atau gizi ke dalam kurikulum. Kebun sekolah hanya ada di tiga sekolah. Tidak ada sekolah yang menerima sponsor atau bantuan dana dari perusahaan makanan atau minuman.
Maksudnya, murid harus mencari makan sendiri. Mereka membeli di sekolah, membawa bekal dari rumah, atau pulang untuk makan. Di semua sekolah kecuali satu, makanan di sekolah dibeli dengan harga penuh. Sebanyak 23 sekolah buka sepanjang hari, sedangkan 9 sekolah hanya buka pagi sampai sekitar pukul 12.30.
Taruhannya disebut di bagian pembuka paper. Mengutip perkiraan model, kelebihan berat badan pada anak usia 5 sampai 19 tahun di Komoro naik dua kali lipat antara 2000 dan 2022, dari 7 persen menjadi 14 persen. Pada remaja 15 sampai 19 tahun, angkanya 19 persen pada perempuan dan 5 persen pada laki-laki.
Baca juga Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas
Kios Sekolah, Kantin Kecil yang Jarang Punya Dapur
Paper membagi penjual makanan menjadi tiga. Ada kios tetap di dalam sekolah yang dikelola seorang pengelola kantin. Ada pedagang keliling yang boleh masuk saat istirahat, biasanya membawa kotak pendingin. Ada pula pedagang luar yang mangkal di sekitar gerbang. Kios tetap ada di 14 sekolah, atau 43 persen. Pedagang keliling diizinkan masuk di 9 sekolah, sedangkan sekitar separuh sekolah punya setidaknya satu pedagang di gerbang. Kios buka setiap hari sekolah, enam hari dalam seminggu.
Dari 9 pengelola kios yang diwawancarai, delapan perempuan. Lima berpendidikan menengah dan tiga pernah mendapat pelatihan khusus, misalnya tentang keragaman pangan dan cara menyiapkan makanan bergizi. Namun, tak seorang pun pernah menerima pelatihan formal tentang keamanan pangan atau higiene.
Dapur menjadi soal tersendiri. Hanya empat sekolah yang memiliki dapur di lokasi. Tujuh pengelola menyiapkan makanan di rumah, empat menyiapkannya di sekolah, dan empat hanya menjual makanan siap santap tanpa persiapan. Delapan pengelola membeli bahan di pasar lokal, lima menjual pangan impor, dan satu mengambil dari petani kecil.
Menurut perkiraan para pengelola kios, seorang murid membelanjakan rata-rata 0,97 dolar AS per hari untuk makanan di sekolah. Rentangnya 0,58 sampai 1,15 dolar AS. Angka itu adalah taksiran penjual, bukan catatan belanja murid.
Pedagang Gerbang, Penjual di Luar Pagar
Pada hari pengamatan, pilihan sehat sangat sedikit, baik di kios dalam sekolah maupun di gerbang. Serealia olahan dan telur paling banyak muncul. Buah dan sayur nyaris tidak terwakili.
Di dalam sekolah, daftarnya lebih sempit lagi. Tidak ada daging, ikan, kacang-kacangan, umbi-umbian, maupun buah dan sayur kaya vitamin A yang dijual kepada murid pada hari itu. Bahan-bahan tersebut sedikit lebih mudah ditemukan pada pedagang di luar pagar.
Dari 15 pedagang gerbang, tujuh menjual umbi berdaging putih seperti singkong. Empat menjual daging tanpa olahan, sering kali ayam, tiga menjual ikan, dan dua menjual buah berwarna oranye atau kuning. Karena itu, paper mencatat bahwa pedagang luar menawarkan ragam pilihan sehat yang lebih banyak.
Baca juga Pedagang Makanan Jalanan Pune: 68,8 Persen Tak Patuh Higiene
Sisi sebaliknya jauh lebih ramai. Kue, permen, kudapan asin, dan jus buah buatan pabrik adalah barang paling umum di dalam sekolah, dijual oleh lebih dari 62 persen pedagang. Minuman ringan juga banyak tersedia, dan dalam kadar lebih kecil, gorengan lokal seperti samboussa dan badjia.
Di luar pagar, dagangannya hampir sama dan sama tidak sehatnya. Secara keseluruhan, makanan tidak sehat jauh lebih banyak daripada pilihan sehat, di dalam maupun di luar sekolah. Paper memakai kerangka Global Dietary Recommendations untuk memilah 32 jenis pangan ke dalam dua kelompok itu.
Daya Beli, Uang Jajan yang Serba Tipis
Daya beli murid, menurut paper, sebagian besar ditentukan pendapatan orang tua. Bagi pengelola kios, inilah perhatian utama. Mereka terus menimbang selera murid dengan kebutuhan menjaga harga tetap rendah. Pedagang luar menyinggung hal yang sama, meski lebih jarang.
Seorang pedagang luar mengatakan bahwa menawarkan makanan bergizi bergantung pada pendanaan, dan ia perlu menjaga harga tetap sama agar memudahkan anak-anak. Sekitar separuh pengelola dan pedagang menuturkan bahwa banyak orang tua memakai utang informal. Murid membeli kudapan pada siang hari, lalu orang tua membayarnya belakangan dalam bulan itu.
Seorang pengelola kios menyebut keadaan itu sebagai krisis. Menurut dia, dalam keluarga dengan lima anak, seorang anak mungkin hanya punya 100 sampai 150 franc Komoro, sekitar 0,30 dolar AS, untuk jajan. Harga pangan di pasar yang tinggi dan terus naik juga menyulitkan penjualan kudapan dan kue rumahan, sementara pengelola kios di sekolah menyebut kekurangan bahan pokok seperti tepung sebagai kendala besar.
Selera ikut menentukan. Kebanyakan penjual menyesuaikan dagangan dengan kesukaan murid agar laku. Mereka menjual kue, permen, keripik kemasan, roti lapis, dan gorengan rumahan seperti makandazi dan bointrié. Seorang pengelola kios bercerita bahwa ia menjual cokelat dan telur, tetapi anak-anak lebih memilih makandazi dan magulagula, kue goreng manis setempat.
Kudapan kemasan punya daya tarik lain. Menurut para penjual, barang itu laku bukan hanya karena disukai, tetapi juga praktis, murah, dan dianggap lebih kecil risiko keamanan pangannya. Kudapan kemasan tidak perlu disiapkan dan langsung bisa dimakan. Seorang pedagang luar menyebut roti dan kue tradisional dari tepung lokal butuh persiapan lama, dan istrinya kadang membuatnya, tergantung waktu luangnya.
Aturan Sekolah, Pagar yang Hampir Tak Terlihat
Aturan sekolah tentang makanan hanya muncul sesekali dalam wawancara, dan hanya disebut segelintir pengelola kios. Seorang di antaranya mengatakan tidak ada langkah apa pun untuk membuat anak-anak paham bahwa mereka perlu makan makanan sehat dan bermutu. Hanya satu pengelola yang diawasi kepala sekolah dan dilarang menjual keripik, permen karet, dan Coca-Cola.
Tanpa aturan yang jelas, banyak penjual menjaga kebersihan atas tanggung jawab pribadi. Dorongannya terutama datang dari komunitas sekolah, khususnya orang tua. Seorang pengelola kios menyebut ia menyediakan tempat sampah dan ember air untuk mencuci tangan.
Pengamatan tim di 13 kios memperlihatkan gambaran yang lebih lengkap. Garam gratis tersedia di 12 kios dan gula gratis di 10 kios. Tempat sampah ada di 9 kios, air bersih untuk cuci tangan di 6 kios, sedangkan sabun hanya di 3 kios. Tidak satu kios pun memajang menu atau label makanan.
Hanya tiga sekolah yang menyediakan tempat duduk di dalam ruangan untuk makan. Peralatan juga kurang. Seorang pengelola kios bercerita bahwa ia bisa menjual yogurt bila ada listrik, tetapi listriknya diputus dan kulkasnya terpaksa dibawa pulang. Menurut para pengelola, kurangnya peralatan juga menambah risiko keamanan pangan, terutama untuk menyimpan bahan yang cepat basi.
Baca juga Gizi Murid SD Musi Rawas Terkait Ragam Piring, Bukan Uang Jajan
Kesediaan Berubah, Asal Ada Penopang
Semua pengelola dan pedagang mengakui lingkungan pangan sekolah bisa diperbaiki secara berarti. Namun, saat wawancara berlangsung, belum ada perubahan besar yang dijalankan. Hambatannya dana yang terbatas dan keuntungan yang tidak pasti. Pedagang luar terutama khawatir dagangan tidak laku bila beralih ke makanan bergizi yang lebih mahal, seperti hidangan nasi. Seorang pedagang menilai nasi paling cocok bagi murid yang bersekolah sampai sore, tetapi sulit dijalankan. Menurut dia, murid saja sudah kesulitan membeli barang yang lebih murah, apalagi yang lebih mahal.
Para penjual menyebut beberapa syarat. Orang tua perlu dilibatkan agar selera murid lebih dipahami dan ada dukungan dana dari keluarga. Bantuan dari luar, seperti subsidi atau pasokan bahan sehat, dinilai penting. Penjual juga ingin kepastian bahwa menu baru akan dibeli, dan kebijakan sekolah yang membatasi makanan tidak sehat dianggap perlu.
Hassani dan rekan merangkum temuan itu dalam satu kalimat. “Remaja di Komoro terutama terpapar makanan tidak sehat selama hari sekolah,” tulis mereka, dalam terjemahan dari bahasa Inggris. Menurut mereka, perbaikan butuh tindakan terkoordinasi, dari mengurangi beban ekonomi penjual, melibatkan murid, sampai memperkuat aturan sekolah.
Paper juga terbuka soal batasnya. Jumlah sekolah relatif kecil, sehingga tidak ada uji statistik dan beda antara wilayah kota dan pinggiran kota tidak bisa dinilai. Meski begitu, sampel mencakup sekitar 36 persen sekolah menengah di wilayah kota dan pinggiran kota Grande Comore.
Penelitian ini juga tidak mencatat harga pangan, apa yang benar-benar dibeli dan dimakan murid, maupun pandangan para remaja itu sendiri. Langkah berikutnya, menurut tim, adalah mendengar komunitas sekolah, dimulai dari para remajanya.














