Gizi Murid SD Musi Rawas Terkait Ragam Piring, Bukan Uang Jajan

A A

Ompreng baja berisi nasi, mi bersayur, lauk, dan gorengan dari program Makan Bergizi Gratis [Foto: Fitrah 9131/Wikimedia Commons, CC0]

  • Di antara anak yang makanannya kurang beragam, 75,0 persen berstatus gizi tidak normal.
  • Sebanyak 54,8 persen murid berstatus gizi tidak normal, kategori yang dalam naskah ini menggabungkan anak yang terlalu kurus dan anak yang kelebihan berat.
  • Dalam model akhir, rasio peluang riwayat infeksi mencapai 10,087, jauh di atas faktor lain yang diuji.
  • Pada 2018, Musi Rawas tercatat memiliki angka malnutrisi anak tertinggi, yakni 37 persen.
Daftar Isi
  1. Lahan yang luas tidak langsung berpindah ke piring anak sekolah
  2. Makanan yang beragam bekerja dengan saling menambal kekurangan zat gizi
  3. Pengetahuan ibu masuk ke piring anak lewat cara makanan disajikan
  4. Infeksi menggerus gizi anak dari tiga arah sekaligus
  5. Uang jajan, ijazah, dan gaji orang tua ternyata tidak menggeser angka
  6. Di mana penjelasan berhenti, dan satu kategori untuk dua masalah
  7. Angka-angka dalam naskah yang tidak saling mengunci

Kabupaten yang sebagian besar wilayahnya berupa sawah beririgasi dan kolam ikan tidak otomatis melahirkan anak-anak yang bergizi baik. Di Musi Rawas, Sumatera Selatan, sawah irigasi berdampingan dengan kolam air deras, kolam biasa, bahkan sawah yang sekaligus menjadi kolam ikan dalam sistem mina padi. Namun, lebih dari separuh murid sekolah dasar yang diperiksa di sana tercatat berstatus gizi tidak normal.

Kejanggalan itu menjadi pintu masuk Determinant of school children’s nutritional status in Musi Rawas district, karya Tita Priyanka Putri, Rico Januar Sitorus, dan Anita Rahmiwati yang terbit di Jurnal Gizi Indonesia volume 14 nomor 2 tahun 2026. Ketiganya berasal dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya di Ogan Ilir. Mereka mencari apa yang sebenarnya berkaitan dengan status gizi anak sekolah di kabupaten itu, sesuatu yang menurut mereka belum pernah dipetakan untuk Musi Rawas.

Jawaban mereka menunjuk ke piring, bukan ke dompet. Dari 208 murid kelas 4, 5, dan 6 di enam sekolah dasar yang tersebar di Kecamatan Muara Beliti, Tugu Mulyo, dan Muara Kelingi, anak yang makanannya kurang beragam lebih sering berstatus gizi tidak normal. Hubungan itu bertahan setelah pengetahuan gizi ibu, penghasilan orang tua, dan riwayat penyakit infeksi ikut diperhitungkan. Uang jajan, pendidikan, dan pekerjaan orang tua tidak menunjukkan hubungan bermakna.

Lahan yang luas tidak langsung berpindah ke piring anak sekolah

Latar yang dipaparkan para penulis memperlihatkan persoalan yang sudah lama menumpuk. Pada 2018, Musi Rawas tercatat memiliki angka malnutrisi anak tertinggi, yakni 37 persen. Pada 2021 angkanya masih 22 persen, sementara kategori gizi lebih mencapai 10,32 persen dan obesitas 1,59 persen. Cakupan penjaringan kesehatan murid sekolah dasar di kabupaten itu juga yang paling rendah di Sumatera Selatan, hanya 20,5 persen.

Karena itu, para penulis menyebut Musi Rawas menghadapi beban gizi rangkap tiga, keadaan ketika anak yang kekurangan gizi, anak yang kelebihan berat, dan anak yang obesitas hidup di wilayah yang sama. Di tingkat provinsi, Sumatera Selatan mencatat anak sangat kurus 4,4 persen, kurus 6,4 persen, gemuk 12,5 persen, dan obesitas 2,2 persen. Masalahnya tidak satu arah, melainkan menyebar ke kedua ujung timbangan.

Persoalannya, kekayaan lahan tidak serta-merta sampai ke meja makan. Para penulis mencatat bahwa jumlah makanan yang dikonsumsi penduduk Sumatera Selatan, bila diukur dari total energi, masih di bawah norma Pola Pangan Harapan sebesar 2.000 kilokalori per orang per hari. Mutu konsumsi pangan di Musi Rawas juga cenderung tidak banyak berubah, sehingga menurut mereka dibutuhkan upaya menaikkan keterjangkauan pangan bagi warga miskin.

Gambaran di enam sekolah itu sejalan dengan latar tersebut. Sebanyak 54,8 persen murid berstatus gizi tidak normal, kategori yang dalam naskah ini menggabungkan anak yang terlalu kurus dan anak yang kelebihan berat. Anak-anak itu berusia 8 hingga 11 tahun, dan 57,21 persen di antaranya perempuan. Sebanyak 90,4 persen orang tua mereka berpenghasilan di bawah upah minimum Musi Rawas, Rp2.595.995.

Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama

Makanan yang beragam bekerja dengan saling menambal kekurangan zat gizi

Cara kerjanya sebenarnya lugas. Anak usia sekolah sedang tumbuh sehingga kebutuhan gizinya tinggi, dan kebutuhan yang tinggi itu membuat mereka rentan kekurangan. Makanan yang beragam saling melengkapi keunggulan susunan gizi jenis makanan lain, sehingga asupan yang seimbang lebih mungkin tercapai. Sebaliknya, keragaman zat gizi yang dibutuhkan tubuh, tulis para penulis, sangat sulit dipenuhi bila jenis makanan yang dimakan tidak beragam.

Ukurannya dalam penelitian ini adalah sembilan kelompok pangan. Anak yang memakan setidaknya enam kelompok digolongkan makan beragam, sisanya kurang beragam. Di permukaan, hasilnya tampak menenangkan, sebab 84,6 persen murid tergolong makan beragam dan hanya 15,4 persen yang kurang beragam. Namun, kelompok kecil itulah yang paling sering bermasalah, dan selisihnya terlalu lebar untuk diabaikan begitu saja.

Di antara anak yang makanannya kurang beragam, 75,0 persen berstatus gizi tidak normal. Di antara anak yang makanannya beragam, angkanya 51,1 persen, selisih 23,9 poin persen. Setelah pengetahuan gizi ibu, penghasilan orang tua, dan riwayat infeksi dikendalikan, anak dengan makanan kurang beragam tercatat memiliki peluang 2,917 kali lebih besar untuk berstatus gizi tidak normal dibanding anak yang makanannya beragam.

Porsi anak berstatus gizi tidak normalMakanan kurang beragam: Persen anak berstatus gizi tidak normal +75,0%; Makanan beragam: Persen anak berstatus gizi tidak normal +51,1%; Pengetahuan gizi ibu kurang: Persen anak berstatus gizi tidak normal +72,5%; Pengetahuan gizi ibu baik: Persen anak berstatus gizi tidak normal +50,6%; Pernah sakit infeksi: Persen anak berstatus gizi tidak normal +89,3%; Tak pernah sakit infeksi: Persen anak berstatus gizi tidak normal +49,4%.Porsi anak berstatus gizi tidak normal208 murid kelas 4-6 SD di Musi Rawas, persen per kelompok25%50%75%100%0Makanan kurang beragam75,0%Makanan beragam51,1%Pengetahuan gizi ibu kurang72,5%Pengetahuan gizi ibu baik50,6%Pernah sakit infeksi89,3%Tak pernah sakit infeksi49,4%Tidak normal = kurus maupun gemuk, digabung dalam satu kategori.
Sumber: Tita Priyanka Putri, Rico Januar Sitorus, dan Anita Rahmiwati, Determinant of school children’s nutritional status in Musi Rawas district, Jurnal Gizi Indonesia, 14(2), 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis membaca angka itu sebagai cermin keadaan rumah tangga, bukan sekadar selera anak. Pola makan yang kurang beragam dan mutu gizi yang rendah, menurut mereka, diduga merupakan masalah menahun yang dapat memengaruhi status gizi anak. Mengutip Olumakaiye, mereka menyebut keragaman konsumsi pangan, di samping total asupan energi, sebagai faktor kunci kesejahteraan gizi anak.

“Rendahnya keragaman makanan anak mencerminkan kerawanan pangan keluarga yang masih berlangsung di wilayah penelitian ini,” tulis Tita Priyanka Putri, Rico Januar Sitorus, dan Anita Rahmiwati dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Dalam kesimpulannya mereka menegaskan, “keragaman konsumsi pangan anak berperan penting dalam membentuk status gizi mereka, bahkan ketika faktor lain seperti pengetahuan gizi, penghasilan orang tua, dan riwayat penyakit infeksi turut diperhitungkan.”

Pengetahuan ibu masuk ke piring anak lewat cara makanan disajikan

Jalur kedua melewati dapur. Pengetahuan gizi dalam penelitian ini diukur dari ibu para murid, bukan dari anaknya sendiri. Sebanyak 80,8 persen ibu tergolong berpengetahuan baik dan 19,2 persen kurang. Di antara anak yang ibunya berpengetahuan kurang, 72,5 persen berstatus gizi tidak normal, dibanding 50,6 persen pada anak yang ibunya berpengetahuan baik, selisih 21,9 poin persen.

Penjelasan para penulis bertumpu pada peran ibu membentuk pola makan keluarga, terutama anak-anaknya. Ibu yang pengetahuan gizinya baik dan lebih berpengalaman menyediakan makanan akan punya cara menyajikan yang lebih bervariasi. Karena itu, konsumsi makanan yang dibutuhkan keluarga lebih terjamin. Pengetahuan itu, tulis mereka, bisa diperoleh lewat pendidikan formal maupun berbagai informasi dari jalur nonformal.

Dalam model akhir, pengetahuan gizi ibu bertahan sebagai faktor pengendali dengan rasio peluang 3,571. Para penulis menyebut pengetahuan gizi berperan penting dalam mengendalikan tingkat keragaman pangan yang memengaruhi status gizi anak. Dalam logika naskah, keduanya berjalan beriringan. Pengetahuan ibu memengaruhi apa yang tersaji di rumah, dan ragam sajian itu berkaitan dengan status gizi anak.

Temuan ini tidak seragam dengan semua riset lain. Para penulis mencatat hasil mereka sejalan dengan penelitian Yuliana dan kawan-kawan tahun 2024 yang menemukan hubungan bermakna antara pengetahuan ibu dan status gizi anak. Namun, mereka juga menyebut ada penelitian sebelumnya yang tidak menemukan hubungan bermakna antara pengetahuan ibu tentang makanan bergizi dan status gizi anak.

Baca juga Stunting Melonjak Setelah Setahun, Tuasnya Ada di Gizi Akut

Infeksi menggerus gizi anak dari tiga arah sekaligus

Faktor dengan angka paling mencolok justru riwayat penyakit infeksi, yakni penyakit akibat mikroorganisme seperti pneumonia, diare, campak, demam berdarah, cacingan, dan infeksi saluran pernapasan atas. Hanya 13,5 persen murid yang pernah mengalaminya, tetapi 89,3 persen dari mereka berstatus gizi tidak normal. Pada anak yang tidak pernah terkena, angkanya 49,4 persen.

Dalam model akhir, rasio peluang riwayat infeksi mencapai 10,087, jauh di atas faktor lain yang diuji. Mekanismenya diuraikan para penulis dengan merujuk Scrimshaw, yang menyebut ada interaksi sinergis antara kurang gizi dan infeksi. Saat sakit, nafsu makan anak turun dan ada kebiasaan mengurangi makan, sehingga asupan menyusut. Penyerapan zat gizi pun ikut menurun.

Pada saat yang sama, cairan dan zat gizi terbuang lewat diare, mual, atau muntah, sementara kebutuhan tubuh justru naik karena penyakit dan parasit di dalam tubuh. Para penulis menyebut hubungan antara penyakit infeksi dan malnutrisi itu erat. Tiga arah itu bertemu pada satu titik, yakni status gizi anak yang terganggu.

Cara infeksi menggerus gizi anakCara infeksi menggerus gizi anakCara infeksi menggerus gizi anakMekanisme yang diuraikan para penulis, merujuk ScrimshawAsupan turunnafsu makanhilang saat sakitSerapan turunzat gizi kurangterserapBoros giziterbuang lewatdiareGizistatus gizi anaktergangguAnak yang pernah sakit infeksi: 89,3% bergizi tidak normal.
Sumber: Tita Priyanka Putri, Rico Januar Sitorus, dan Anita Rahmiwati, Determinant of school children’s nutritional status in Musi Rawas district, Jurnal Gizi Indonesia, 14(2), 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang membuatnya rumit, ketiga arah itu bekerja bersamaan pada anak yang sama. Anak yang sakit makan lebih sedikit, menyerap lebih sedikit dari yang dimakan, dan kehilangan lebih banyak dari yang sudah terserap. Karena itu, rekomendasi para penulis tidak berhenti pada anjuran soal ragam makanan, tetapi juga meminta kebersihan lingkungan dijaga secara teratur agar anak terhindar dari penyakit infeksi.

Uang jajan, ijazah, dan gaji orang tua ternyata tidak menggeser angka

Tiga hal yang sering dianggap menentukan justru tidak terbukti berhubungan. Uang jajan dibagi di batas Rp2.000, dan 55,8 persen murid menerima di bawah angka itu. Hubungannya dengan status gizi tidak bermakna. Menurut para penulis, sebagian besar anak memakai uang jajan bukan untuk membeli makanan, melainkan mainan, dan makanan yang dibeli di sekolah pun belum tentu sehat dan bergizi.

Pendidikan orang tua bernasib serupa. Sebanyak 85,6 persen orang tua berpendidikan di bawah SMA, tetapi porsi anak bergizi tidak normal hampir sama di kedua kelompok, 54,5 persen dan 56,7 persen. “Tingkat pendidikan ibu yang tinggi tidak menjamin anak terhindar dari malnutrisi karena pendidikan yang tinggi tidak berarti sang ibu memiliki pengetahuan yang cukup tentang gizi yang baik,” tulis para penulis.

Penghasilan orang tua malah bergerak ke arah yang tak terduga. Di antara anak dari keluarga berpenghasilan tinggi, yang jumlahnya hanya 20 anak, 70,0 persen berstatus gizi tidak normal, lebih tinggi dari 53,2 persen pada keluarga berpenghasilan rendah. Selisih itu tidak bermakna secara statistik. Para penulis menduga banyak orang tua berpenghasilan tinggi sibuk bekerja dan jarang berada di rumah bersama anaknya.

Sebaliknya, orang tua berpenghasilan rendah menurut mereka lebih memperhatikan asupan keluarga dengan cermat memilih pangan yang relatif murah tetapi tetap bergizi. Pekerjaan orang tua juga tidak berhubungan bermakna. Sebanyak 95,2 persen orang tua bekerja, dan merujuk Lartriyani, para penulis menyebut sebagian jenis pekerjaan tidak menyita ibu seharian sehingga ia masih bisa mengatur waktu mengurus kebutuhan gizi anak.

Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan

Di mana penjelasan berhenti, dan satu kategori untuk dua masalah

Penjelasan itu punya batas yang jelas. Seluruh data diambil pada satu titik waktu, sehingga yang ditemukan adalah hubungan, bukan bukti bahwa makanan kurang beragam menyebabkan gizi anak memburuk. Para penulis sendiri mengakui hasilnya semata bertumpu pada analisis data kuesioner dengan metode kuantitatif, dan menyarankan penelitian berikutnya menambah wawancara mendalam, terutama untuk menggambarkan keragaman konsumsi pangan.

Batas lain ada pada kategori hasilnya. Status gizi tidak normal di naskah ini menggabungkan anak di bawah persentil ke-5 dengan anak di atas persentil ke-85, yakni yang kurus dan yang gemuk. Naskah tidak memisahkan keduanya, sehingga pembaca tidak bisa mengetahui apakah makanan kurang beragam lebih banyak berkaitan dengan anak kurus, anak gemuk, atau keduanya sekaligus.

Angka-angka dalam naskah yang tidak saling mengunci

Beberapa hal di naskah bisa diperiksa pembaca. Kriteria eksklusi menyebut murid yang punya riwayat penyakit seperti ISPA, diare, campak, dan malaria tidak diikutkan. Namun, hasil utamanya justru memuat 28 murid yang pernah mengalami penyakit infeksi, termasuk diare dan infeksi saluran pernapasan atas. Naskah juga menyebut enam sekolah masing-masing menyumbang 35 murid, yang berarti 210, sementara jumlah responden 208.

Batas kategori normal tertulis persentil ke-5 hingga kurang dari persentil ke-8, bukan ke-85. Di tabel analisis dua variabel, kelompok uang jajan besar tercatat 4 anak berstatus tidak normal dengan porsi 62,0 persen. Padahal, dengan 35 anak berstatus normal dari total 92, jumlahnya semestinya 57. Nilai p pekerjaan orang tua tertulis 0,117 di tabel tetapi 0,177 di pembahasan.

Model akhirnya juga menyisakan pertanyaan. Koefisien penghasilan orang tua bertanda positif, 1,208, sementara rasio peluangnya 0,299, dua angka yang arahnya berlawanan. Naskah menyebut hanya dua variabel yang bertahan dengan nilai p di bawah 0,05, padahal tabel yang sama mencatat penghasilan dengan p 0,023. Batas bawah selang kepercayaan keragaman pangan ditulis 1,178 di hasil dan 1,176 di pembahasan.

Kembali ke sawah dan kolam Musi Rawas. Lahan yang cukup luas dan irigasi yang baik ternyata belum menjamin enam kelompok pangan hadir di piring murid sekolah dasar setiap hari. Menurut naskah ini, yang berkaitan dengan status gizi anak adalah seberapa beragam isi piring itu, seberapa paham ibu yang menyajikannya, dan seberapa sering anak jatuh sakit karena infeksi.

Bagikan

Baca Juga

Makan Lansia Shanghai: Rapat di Pusat Kota, Jatahnya Paling Tipis
Imigran India di Jepang: Makin Melek Kesehatan, Makin Jarang Puas
Tanah Tambang Timbal Guizhou Lebih Mengancam Anak daripada Dewasa
Pemutih Gigi dari Lemon dan Soda Kue Masih Dipercaya di Istanbul
Empat Juta Kelambu Dibagikan, Malaria Kinshasa Tak Kunjung Surut
Pelatih Pribadi di Gym China Kini Lebih Sibuk Menjual Kelas