- Hampir separuh sampel air minum simpanan, 291 dari 600 atau 48,5 persen, mengandung bakteri Escherichia coli, dan 53,7 persen mengandung bakteri koliform.
- Dalam dua pekan terakhir, 23,3 persen rumah tangga melaporkan balita mereka terkena diare.
- Tidak satu pun ukuran dampak banjir berhubungan bermakna dengan diare, baik tingkat keparahan banjir, rusaknya sumber air, rusaknya jamban, terganggunya akses air, maupun pengalaman mengungsi.
- Balita di rumah dengan wadah tertutup terkena diare 18,8 persen, sedangkan di rumah dengan wadah terbuka 33,9 persen.
Daftar Isi
- Bagaimana banjir menggoyang air, jamban, dan cuci tangan
- Mengapa banjir tidak langsung tampak sebagai penyebab
- Air tercemar merata, bukan hanya di satu kampung
- Jalan air dari sumber sampai ke gelas balita
- Ketika tutup ember berubah arah di dalam model
- Di mana penjelasan berhenti dan angka tidak saling cocok
Ember air minum yang ditutup rapat mestinya menjadi pelindung paling sederhana di rumah yang baru diterjang banjir. Penyimpanan yang aman bahkan termasuk langkah yang dianjurkan dalam penelitian yang membahasnya. Tetapi di enam kampung korban banjir di Ebonyi State, Nigeria, wadah yang terlihat tertutup justru muncul sebagai satu-satunya penanda kuat diare balita dalam model statistik yang paling lengkap.
Teka-teki itu tercatat dalam Flood-related WASH disruption, point-of-use drinking water contamination and diarrhoea among under-five children in flood-affected communities in Ebonyi State, Nigeria karya Onwe Paul Chikaodili, yang dimuat BMC Public Health sebagai naskah dalam proses terbit, tahun 2026. Penulisnya bekerja di Departemen Kesehatan Masyarakat National Open University of Nigeria, Abakaliki Study Centre, dan menjadi penulis tunggal naskah yang disusun tanpa dana khusus itu.
Ia mendatangi 600 rumah tangga berbalita di Enohia Itim, Kpoghirikpo, Azuoto-Okpuitumo, Onakpoke, Inyimagu, dan Igbudu setelah banjir surut, lalu menguji air minum simpanan dari setiap rumah. Yang ia temukan bukan jawaban tunggal, melainkan rangkaian sebab yang saling menutupi. Di sanalah letak pelajaran terpentingnya, karena air yang kotor tidak selalu datang dari sumbernya.
Bagaimana banjir menggoyang air, jamban, dan cuci tangan
Menurut naskah itu, Ebonyi adalah negara bagian yang sebagian besar pedesaan dengan padi dan singkong sebagai tanaman utama, banyak di antaranya di sekitar Sungai Ebonyi. Pada musim hujan, curah yang deras kerap membanjiri kampung dataran rendah dan tepi sungai. Banjir merusak rumah, jalan, fasilitas kesehatan, sumber air, dan sarana sanitasi, sehingga layanan air bersih, jamban, dan cuci tangan ikut terputus.
Gangguan itu terlihat jelas pada 600 rumah tangga yang disurvei. Sebanyak 69,5 persen terdampak banjir secara langsung, dan dampak sedang paling sering dilaporkan. Akses air terganggu pada 59,7 persen rumah, sementara sumber air minum utama rusak sebagian pada 43,3 persen. Genangan terlihat di sekitar dua pertiga rumah, tepatnya 66,2 persen. Hampir separuh, 49,3 persen, sempat mengungsi.
Pengungsian pun tidak seragam. Menumpang di rumah kerabat atau teman menjadi pilihan paling umum, 30,5 persen, disusul kamp atau tempat penampungan dan gedung sekolah. Lama mengungsi paling sering enam sampai sepuluh hari, meski 17,2 persen bertahan di luar rumah tiga pekan atau lebih. Dalam dua pekan terakhir, 23,3 persen rumah tangga melaporkan balita mereka terkena diare.
Baca juga Banjir Tallo Makassar: Ibu Hamil Jatuh, Tirah Baring Dua Bulan
Mengapa banjir tidak langsung tampak sebagai penyebab
Logika sederhana menduga, rumah yang paling parah diterjang banjir akan punya balita yang paling sering sakit. Persoalannya, data Ebonyi tidak menunjukkan pola itu. Tidak satu pun ukuran dampak banjir berhubungan bermakna dengan diare, baik tingkat keparahan banjir, rusaknya sumber air, rusaknya jamban, terganggunya akses air, maupun pengalaman mengungsi. Genangan hanya menunjukkan hubungan lemah yang tidak lolos batas kemaknaan.
Perbandingan dua kelompok rumah memperlihatkan betapa miripnya mereka. Di antara rumah dengan balita diare, 54,3 persen pernah mengungsi, dibanding 47,8 persen pada rumah tanpa diare. Genangan malah sedikit lebih jarang di rumah balita diare, 60,0 persen berbanding 68,0 persen. Selisih-selisih ini terlalu kecil untuk dibedakan dari kebetulan, sehingga banjir tidak bisa ditunjuk sebagai pelaku tunggal.
Penulis menjelaskan bahwa banjir kemungkinan bekerja secara tidak langsung, melalui akses air, sanitasi, kebersihan, mutu tempat berteduh, dan pencemaran lingkungan. Karena itu, dampaknya tercecer ke banyak jalur kecil yang sulit ditangkap satu per satu. Ia juga mencatat bahwa rancangan potong lintang hanya memotret satu titik waktu, sehingga efek banjir yang menumpuk atau datang terlambat tidak terukur.
Air tercemar merata, bukan hanya di satu kampung
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan sisi lain dari rantai itu. Hampir separuh sampel air minum simpanan, 291 dari 600 atau 48,5 persen, mengandung bakteri Escherichia coli, dan 53,7 persen mengandung bakteri koliform. Sebanyak 10,2 persen sampel masuk kategori risiko sangat tinggi dengan lebih dari 100 koloni per 100 mililiter, dan 13,8 persen berada di kategori risiko tinggi.
Yang membuatnya mencolok adalah keseragamannya. Persentase sampel positif E. coli per kampung bergerak di rentang sempit, dari 45 persen di Azuoto-Okpuitumo hingga 52 persen di Enohia Itim. Koliform berkisar 43 persen di Inyimagu sampai 62 persen di Kpoghirikpo. Proporsi risiko sangat tinggi tertinggi di Onakpoke, 13 persen, dan terendah di Igbudu, 6 persen, tanpa beda bermakna.
“Kontaminasi tetap tinggi secara konsisten di keenam komunitas, yang menunjukkan masalah sistemik, bukan masalah setempat,” tulis Onwe Paul Chikaodili dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Karena itu, persoalannya tidak bisa diselesaikan dengan menunjuk satu sumur atau satu kampung yang paling kotor, sebab pencemaran tersebar hampir sama rata di semua tempat yang diperiksa.
Baca juga Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun
Jalan air dari sumber sampai ke gelas balita
Menariknya, asal air tidak banyak membedakan. Rumah yang memakai pipa atau sumur bor, sumber paling umum dengan 41,7 persen, mencatat diare pada 19,6 persen balita. Rumah yang minum dari sungai mencatat 29,4 persen, dan yang bergantung pada air hujan 30,8 persen. Namun keseluruhan perbedaan sumber air itu tidak bermakna, sehingga sumber saja tidak cukup menjelaskan siapa yang sakit.
Penulis lalu menggeser perhatian ke tahap sesudah air diambil. Menurutnya, penanganan dan penyimpanan air setelah dikumpulkan tampak lebih kuat berkaitan dengan diare daripada sumbernya. Bayangkan air sebagai kiriman paket, di mana kerusakan bisa terjadi di gudang penyimpanan, bukan hanya di pabrik. Cemaran bisa masuk sebelum air disimpan, dari wadah yang kurang bersih, dari mutu air yang merosot selama disimpan, atau dari cara menangani air yang tidak aman.
Cara mengolah air memang berkaitan dengan cemaran E. coli, meskipun 60 persen rumah tangga sama sekali tidak mengolah air minumnya. Saringan kain mencatat cemaran terendah. Penulis menahan diri untuk tidak memujinya, karena hasil itu bisa saja mencerminkan kebiasaan bersih rumah tangga tersebut secara umum, bukan kemampuan kain menyaring bakteri. Sumber air di luar pekarangan juga menunjukkan hubungan lemah dengan cemaran.
Ketika tutup ember berubah arah di dalam model
Di sinilah teka-teki pembuka mulai bekerja. Pada perbandingan sederhana, wadah tertutup terlihat melindungi. Balita di rumah dengan wadah tertutup terkena diare 18,8 persen, sedangkan di rumah dengan wadah terbuka 33,9 persen. Rumah yang mengolah air pun, anehnya, mencatat diare lebih tinggi, 28,7 persen, dibanding 19,7 persen pada rumah yang tidak mengolah airnya.
Setelah semua faktor dimasukkan bersama ke dalam satu model, arah wadah tertutup justru berbalik. Wadah yang terlihat tertutup saat kunjungan dikaitkan dengan peluang diare sekitar dua kali lipat, dengan rasio odds terkoreksi 2,01. Sebaliknya, E. coli dalam air tidak lagi berhubungan bermakna dengan diare. Model itu sendiri hanya menjelaskan 7,7 persen variasi diare, sisanya tetap gelap.
Penulis menawarkan beberapa jalan keluar. Keluarga yang balitanya baru saja diare bisa jadi mulai menutup wadah air setelah sakit atau setelah mendapat penyuluhan kesehatan, sehingga tutup itu akibat, bukan sebab. “Karena itu, temuan ini tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa menutup wadah air meningkatkan risiko diare,” tulisnya, juga dalam bahasa Inggris.
Baca juga Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025
Di mana penjelasan berhenti dan angka tidak saling cocok
Penulis mengakui penelitiannya tidak dapat memastikan sebab-akibat karena semua diukur pada satu waktu. Diare dicatat dari ingatan pengasuh selama dua pekan, air diambil hanya sekali, dan jarak waktu sejak banjir tidak diukur. Usia dan jenis kelamin balita tidak dicatat, sementara pola makan dan kebiasaan berobat tidak ikut diperhitungkan. Temuannya pun belum tentu berlaku di luar kampung pengungsian Ebonyi.
Beberapa angka di dalam naskah juga tidak saling cocok dan bisa diperiksa pembaca. Sampel positif E. coli disebut 291 di tabel per kampung dan di ringkasan, tetapi tabel hubungan cemaran dengan diare menjumlahkan 207 dan 74, yaitu 281. Di tabel yang sama, sampel negatif berjumlah 319, padahal kategori nol koloni, yang semestinya identik dengan negatif, hanya 309.
Selisih kecil serupa muncul pada pengolahan air. Satu baris tabel mencatat 362 rumah tangga tidak mengolah air, baris sesudahnya 360, dan tabel lain menjumlahkan 367. Wadah tertutup tercatat 420 di satu tabel dan 415 di tabel lain. Judul naskah juga menyebut komunitas terdampak banjir, sementara sebagian besar isinya menyebut komunitas pengungsi, padahal yang mengungsi 49,3 persen.
Pada akhirnya, ember bertutup di Ebonyi tidak terbukti mencelakakan balita, dan tidak pula terbukti menyelamatkan mereka. Ia lebih mirip jejak yang tertinggal sesudah sesuatu terjadi di rumah itu. Yang terbukti justru lebih sederhana dan lebih merisaukan, yaitu hampir separuh air minum di enam kampung itu tercemar tinja, dan pencemaran itu tidak memilih kampung.















