- Kecemasan prestasi akademik berhubungan positif dengan stres, dengan koefisien beta terstandar 0,315 setelah usia dan pendapatan diperhitungkan.
- Kecemasan prestasi akademik tetap berhubungan positif dengan nyeri haid, dengan beta 0,211.
- Kecemasan prestasi akademik berhubungan negatif dengan perilaku higiene genital, dengan beta -0,126.
- Sebanyak 58 mahasiswi atau 18,9 persen menjawab selalu kesulitan hadir di kampus selama haid.
Daftar Isi
Pada 15 Maret 2025, sebuah angket daring mulai beredar di Instagram, Facebook, dan X. Sasarannya mahasiswi yang sedang kuliah di berbagai universitas di Turki. Angket itu dibuka sampai 25 Juni 2025. Dalam rentang itu, 307 mahasiswi yang memenuhi syarat dan bersedia ikut menjadi sampel akhir penelitian.
Jawaban mereka menjadi bahan makalah Nazire Bahar dan rekan dari Departemen Kebidanan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Istanbul Medipol, serta Universitas Istanbul-Cerrahpaşa. Judulnya The Impact of Academic Achievement Anxiety on Perceived Stress and Menstrual Health Outcomes among Female University Students. Makalah itu dimuat jurnal BMC Public Health pada 2026.
Temuannya bisa diringkas dalam satu kalimat. Mahasiswi yang lebih cemas soal prestasi akademiknya cenderung melaporkan stres yang lebih tinggi dan nyeri haid yang lebih berat. Kebiasaan mereka menjaga kebersihan area genital sedikit lebih rendah. Semua hubungan itu bertahan setelah faktor lain diperhitungkan, tetapi ukurannya kecil.
Maret 2025, Satu Pertanyaan tentang Rasa Cemas
Sebelum angket beredar, Komite Etik Penelitian Non-Intervensional Universitas Istanbul Medipol memberi persetujuan pada 6 Maret 2025. Pada 15 Maret, pengumpulan data dimulai. Angket disusun di Google Forms dan dirancang selesai dalam kira-kira 15 menit. Semua pertanyaannya wajib dijawab.
Rasa cemas diukur dengan satu pertanyaan. Peserta ditanya seberapa cemas mereka saat ini terhadap prestasi akademik masing-masing. Jawabannya berupa angka 0 untuk tidak cemas sampai 10 untuk sangat cemas. Nyeri haid diukur dengan cara serupa, juga pada rentang 0 sampai 10.
Stres diukur dengan Skala Stres yang Dirasakan berisi 14 butir, dengan skor 0 sampai 56. Kebiasaan kebersihan diukur dengan skala perilaku higiene genital berisi 23 butir. Skornya 23 sampai 115, dan skor yang lebih tinggi berarti kebiasaan yang lebih sehat. Skala higiene itu punya tiga subskala. Ketiganya adalah perilaku higiene umum, higiene menstruasi, dan kesadaran akan temuan normal. Mahasiswi yang tidak haid karena sebab apa pun, misalnya hamil, tidak diikutkan. Begitu pula mahasiswi dengan gangguan jiwa yang sudah terdiagnosis.
Hingga 25 Juni, 307 Mahasiswi Menjawab
Ketika angket ditutup pada 25 Juni 2025, usia rata-rata peserta tercatat 20,59 tahun. Peserta termuda berusia 18 tahun dan yang tertua 30 tahun. Mereka rata-rata mendapat haid pertama pada usia 12,90 tahun. Lebih dari separuh peserta, yakni 167 orang atau 54,4 persen, kuliah di fakultas ilmu kesehatan. Bidangnya kedokteran, kedokteran gigi, farmasi, keperawatan, dan kebidanan. Sisanya, 140 orang atau 45,6 persen, berasal dari disiplin lain seperti pendidikan, teknik, hukum, komunikasi, serta seni dan desain.
Sebanyak 194 mahasiswi atau 63,2 persen tinggal bersama keluarga. Sebanyak 113 orang lainnya tinggal di asrama atau rumah sendiri. Hanya 48 orang, atau 15,6 persen, yang bekerja. Menurut tingkat pendapatan, 62,2 persen tergolong menengah, 21,5 persen rendah, dan 16,3 persen tinggi.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Catatan haid mereka ikut dihimpun. Sebanyak 183 peserta, atau 59,6 persen, menyebut haidnya teratur. Sebanyak 86 orang atau 28,0 persen menyebutnya sebagian teratur, sedangkan 38 orang atau 12,4 persen tidak teratur. Lama haid rata-rata 5,79 hari.
Hampir semua peserta memakai pembalut, yakni 304 orang atau 99,0 persen. Pembalut kain dipakai 8 orang dan tampon 9 orang. Rata-rata mereka memakai 4,71 pembalut per hari. Soal membeli produk haid, 269 mahasiswi atau 87,6 persen mengaku mudah mendapatkannya. Sebanyak 38 orang atau 12,4 persen mengaku sulit. Angka itu tercatat di tabel karakteristik peserta, bersama satu pertanyaan lain tentang kuliah saat haid.
Pertanyaan itu menyangkut kesulitan hadir di kampus selama haid. Sebanyak 58 mahasiswi atau 18,9 persen menjawab selalu kesulitan. Sebanyak 197 orang atau 64,2 persen menjawab kadang-kadang, dan hanya 52 orang atau 16,9 persen yang tidak pernah mengalaminya.
Saat Data Dihitung, Cemas dan Stres Berjalan Seiring
Skor kecemasan prestasi akademik peserta rata-rata 6,35 pada rentang 0 sampai 10. Skor stres rata-rata 29,94, dengan nilai terendah 3 dan tertinggi 53. Nyeri haid rata-rata 5,95 pada skala 0 sampai 10. Skor perilaku higiene genital rata-rata 93,87, dengan nilai terendah 56 dan tertinggi 113. Pada subskalanya, perilaku higiene umum rata-rata 48,95, higiene menstruasi 33,12, dan kesadaran akan temuan normal 11,79.
Lalu hubungan antarskor dihitung. Kecemasan prestasi akademik berhubungan positif dengan stres, dengan koefisien korelasi 0,32. Dengan nyeri haid, korelasinya 0,21. Peserta yang lebih cemas cenderung juga melaporkan stres lebih tinggi dan nyeri lebih berat.
Arah sebaliknya muncul pada kebiasaan kebersihan. Korelasi kecemasan dengan perilaku higiene genital tercatat −0,13, dan dengan perilaku higiene umum −0,16. Para peneliti menggolongkan korelasi negatif itu sebagai lemah. Skor stres juga bergerak bersama nyeri haid, dengan korelasi 0,15. Terhadap perilaku higiene genital, korelasinya −0,12. Terhadap perilaku higiene umum, angkanya −0,15.
Setelah Faktor Lain Ikut Dihitung, Hubungan Itu Bertahan
Tahap berikutnya adalah tiga model regresi linear berganda. Di tiap model, kecemasan prestasi akademik menjadi faktor utama yang diuji. Stres, nyeri haid, dan perilaku higiene genital diuji dalam model terpisah, masing-masing dengan faktor pendamping yang berbeda.
Pada model stres, usia dan tingkat pendapatan ikut diperhitungkan. Kecemasan prestasi akademik tetap berhubungan positif dengan stres, dengan koefisien beta terstandar 0,315. Usia dan pendapatan tidak berhubungan bermakna. Model ini menjelaskan 10,8 persen variasi skor stres.
Pada model nyeri haid, yang ikut diperhitungkan adalah usia dan keteraturan haid. Kecemasan prestasi akademik tetap berhubungan positif dengan nyeri haid, dengan beta 0,211. Usia dan keteraturan haid tidak berhubungan bermakna. Model ini menjelaskan 4,8 persen variasi.
Model ketiga menyertakan usia, pendapatan, dan jenis fakultas. Kecemasan prestasi akademik berhubungan negatif dengan perilaku higiene genital, dengan beta −0,126. Sebaliknya, usia yang lebih tua dan pendapatan tinggi dibanding pendapatan rendah berhubungan positif, masing-masing dengan beta 0,172 dan 0,175. Jenis fakultas dan pendapatan menengah tidak berhubungan bermakna dengan kebiasaan kebersihan itu. Mahasiswi ilmu kesehatan dan mahasiswi disiplin lain tidak berbeda bermakna. Model ketiga menjelaskan 6,7 persen variasi skor perilaku higiene genital.
Baca juga Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka
Ketika Angka Itu Dibaca Ulang
Dalam pembahasan, para peneliti menyebut hubungan kecemasan dengan perilaku higiene relatif lemah. Salah satu penjelasan yang mereka ajukan adalah tingginya skor kebiasaan bersih peserta. Rata-rata 93,87 dari nilai maksimal 115 menandakan kebiasaan higiene peserta umumnya relatif tinggi, yang mungkin membuat sebaran skornya sempit.
Sebaran yang sempit itu, tulis mereka, bisa melemahkan hubungan yang teramati. Para peneliti juga menyebut kebiasaan higiene menstruasi biasanya rutin dan sudah mapan. Kebiasaan semacam itu makin otomatis seiring waktu, sehingga mungkin relatif lebih tahan terhadap beban pikiran akibat stres.
Mereka mencatat pula faktor lain di luar rasa cemas. Kebiasaan higiene menstruasi kemungkinan dipengaruhi kondisi sosial ekonomi, akses ke produk higiene, norma budaya, dan kesadaran pribadi. Ukuran hubungan yang ditemukan juga kecil.
“Hubungan-hubungan ini tampaknya tidak besar, yang menunjukkan bahwa kecemasan akademik hanyalah salah satu dari beberapa faktor yang memengaruhi kesehatan menstruasi,” tulis Nazire Bahar dan rekan dalam simpulan makalah, dalam terjemahan. Mereka meminta temuan itu dibaca hati-hati agar makna praktisnya tidak dibesar-besarkan.
Sampai Penelitian Usai, Beberapa Batas Dicatat
Para peneliti mencatat sejumlah keterbatasan. Kecemasan prestasi akademik hanya diukur dengan satu pertanyaan, sehingga sisi-sisinya yang beragam mungkin tidak tertangkap. Fase siklus haid saat peserta mengisi angket juga tidak dicatat, padahal keluhan haid bisa berubah sepanjang siklus.
Peserta direkrut lewat survei daring sukarela berdasarkan kemudahan menjangkau. Mahasiswi yang punya keluhan haid mungkin lebih tertarik ikut daripada yang tidak. Karena itu, temuannya belum tentu mewakili seluruh mahasiswi di Turki. Mahasiswi dengan gangguan jiwa terdiagnosis juga sengaja tidak diikutkan. Menurut para peneliti, keputusan itu bisa mempersempit variasi skor kecemasan. Desain potong lintang pun tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat maupun arah hubungan.
Baca juga Perempuan Desa di India Menunggu Haid Tak Normal Reda Sendiri
Dari sisi praktik, para peneliti menyebut dukungan pengelolaan stres bagi mahasiswa berpotensi bermanfaat bagi kesehatan haid. Akses produk higiene menstruasi dan kesadaran kesehatan haid di tingkat lembaga juga disebut bisa membantu. Mengingat ukuran hubungannya kecil, langkah itu dianjurkan menjadi bagian dari strategi berlapis. Penelitian lanjutan diminta memakai desain jangka panjang untuk memperjelas arah hubungan. Mereka juga menyarankan ukuran kecemasan akademik yang lebih lengkap, serta data status sosial ekonomi, literasi kesehatan, dan akses ke produk higiene menstruasi.
Angket yang beredar sejak 15 Maret 2025 itu ditutup pada 25 Juni 2025 dengan 307 peserta dalam sampel akhir. Dari data mereka, kecemasan soal prestasi akademik tercatat sebagai salah satu faktor, bukan satu-satunya.















