Perempuan Desa di India Menunggu Haid Tak Normal Reda Sendiri

A A

Ilustrasi rombongan perempuan bersari warna-warni berjalan di pematang ladang kering di India [Foto: Sandeep Mahto/Pexels]

  • Haid normal, menurut mereka, berlangsung tiga sampai lima hari.
  • Mereka baru mencari pertolongan medis ketika keluhan tidak reda dengan sendirinya.
  • Selama menunggu, sebagian besar perempuan memakai ramuan rumah.
  • Ketika akhirnya berangkat berobat, pilihan pertama para perempuan adalah rumah sakit pemerintah.
Daftar Isi
  1. Hari-hari pertama: haid yang dianggap wajar
  2. Ketika haid berubah: makanan lebih dulu disalahkan
  3. Setelah beberapa siklus: menunggu, lalu meramu
  4. Hari berobat: setengah hari di antrean
  5. Sesudahnya: sekolah, dapur, dan pikiran yang terganggu
  6. Tahun 2026: yang disimpulkan dan yang belum pasti

Pada September 2022, wawancara pertama dimulai di Desa Sahupura. Desa itu berada di wilayah pusat kesehatan primer Dayalpur, Faridabad, negara bagian Haryana, India utara. Sampai November tahun yang sama, 38 orang di sana ditanyai tentang satu hal yang jarang dibicarakan terbuka: perdarahan haid yang tidak normal.

Catatan dari tiga bulan itu ditulis Ishan Gupta, Hardik Gupta, kelompok mahasiswa AUB Qualitative Research Consortium - MBBS Batch B, Subham Kansal, Surabhi Puri, Harshal Ramesh Salve, Puneet Misra, dan Rakesh Kumar. Naskahnya berjudul Perceptions and treatment seeking for abnormal uterine bleeding among women of reproductive age group in rural North India: a qualitative study, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Semua penulis berasal dari All India Institute of Medical Sciences di New Delhi.

Dari 38 peserta itu, 32 orang adalah perempuan berusia 18 sampai 49 tahun, termasuk ibu rumah tangga dari berbagai lapisan ekonomi. Enam lainnya tenaga kesehatan: tiga kader kesehatan desa yang di India disebut ASHA, satu petugas kesehatan serbaguna, dan dua dokter kandungan. Seluruh percakapan berlangsung dalam bahasa Hindi.

Hari-hari pertama: haid yang dianggap wajar

Urutan cerita para perempuan Sahupura berawal dari ukuran mereka sendiri tentang haid yang wajar. Haid normal, menurut mereka, berlangsung tiga sampai lima hari. Ia datang setiap 27 sampai 30 hari, dengan selisih satu atau dua hari. Di luar ukuran itu, haid mulai dicurigai.

Batas curiga itu mereka sebut dengan angka. Sebagian besar menganggap pemakaian tiga pembalut atau lebih dalam sehari sudah tidak normal. Siklus yang lebih panjang dari 35 hari atau lebih pendek dari 10 hari juga dinilai janggal. Begitu pula haid yang berlangsung lebih dari delapan sampai sembilan hari.

Tenaga kesehatan desa memakai ukuran yang sedikit berbeda. Bagi petugas kesehatan serbaguna dan para kader, perdarahan tak normal berarti siklus 15 sampai 20 hari. Tandanya yang lain adalah lebih dari tiga pembalut sehari, atau pembalut yang harus diganti setiap dua sampai tiga jam.

Para penulis sendiri bekerja dengan definisi yang lebih luas. Perdarahan rahim abnormal, dalam naskah mereka, adalah kelainan apa pun pada keteraturan, frekuensi, banyaknya darah, atau lamanya haid. Mereka mencatat gangguan ini dilaporkan terjadi pada 3 sampai 30 persen perempuan, sejak haid pertama hingga menopause.

Baca juga Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara

Ketika haid berubah: makanan lebih dulu disalahkan

Tahap berikutnya adalah mencari sebab. Para perempuan yakin gangguan ini bertambah seiring usia dan asupan makanan yang tidak tepat. Daftar makanan yang mereka sebut panjang: air panas, susu panas, teh, kacang almon, dadih, dan susu mentega. Makanan dingin seperti minuman dingin dan es krim ikut disebut.

Petugas kesehatan serbaguna menambahkan daftar lain yang beredar di tengah warga. Acar, lemon, gula merah, pepaya, dan makanan panas dipercaya memicu perdarahan. Para perempuan dan kader juga menyebut anemia serta badan lemah sebagai penyebab umum. Kanker, infeksi, tekanan darah tinggi, keputihan, penyakit jantung, dan fibroid masuk daftar yang sama.

Dokter kandungan memberi jawaban yang berbeda. “Itu mitos, sebenarnya makanan tidak berpengaruh,” kata seorang dokter kandungan yang tidak disebut namanya, dalam kutipan yang diterjemahkan penulis ke bahasa Inggris. Ia hanya mengecualikan makanan cepat saji, yang menurutnya bisa mengganggu pelepasan sel telur atau memicu sindrom ovarium polikistik.

Di ruang praktik, para dokter itu melihat penyebab lain. Mereka menyebut fibroid, adenomiosis, kista ovarium, dan gangguan hormon seperti hipotiroid. Pil kontrasepsi yang diminum tidak sesuai aturan dan obat penggugur kandungan juga mereka catat. Akibat yang paling sering mereka temui adalah anemia.

Satu keluhan, dua penjelasanSatu keluhan, dua penjelasanSatu keluhan, dua penjelasanHaid tak normal menurut dua pihak di SahupuraWarga desaDokterPemicuMitosMakananAnemia, lemahFibroid, PCOSPenyebabInfeksi, peningAnemiaAkibatBila tak redaSesudah nikahBerobatKolom kanan: keterangan dokter kandungan.
Sumber: Ishan Gupta, Hardik Gupta, AUB Qualitative Research Consortium - MBBS Batch B, Subham Kansal, Surabhi Puri, Harshal Ramesh Salve, Puneet Misra, dan Rakesh Kumar, Perceptions and treatment seeking for abnormal uterine bleeding among women of reproductive age group in rural North India: a qualitative study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Warga membayangkan akibat yang lebih beragam. Para perempuan menyebut infeksi, badan lesu, kepala terasa ringan, dan gangguan penglihatan. Tekanan darah rendah, sakit kepala, dan kesulitan hamil kelak juga mereka sebut. Petugas dan kader menambahkan anemia berat, infeksi rahim, pingsan, bahkan stroke.

Setelah beberapa siklus: menunggu, lalu meramu

Sesudah sebab diduga, kebanyakan perempuan tidak langsung berobat. Mereka baru mencari pertolongan medis ketika keluhan tidak reda dengan sendirinya. Hanya sebagian yang segera memeriksakan diri begitu haidnya berubah. “Saya baru memikirkannya ketika masalahnya terasa mulai tak terkendali,” kata seorang perempuan yang dalam naskah hanya ditandai sebagai perempuan usia reproduksi.

Selama menunggu, sebagian besar perempuan memakai ramuan rumah. Obat tradisional setempat, yang mereka sebut obat desi, dinilai banyak meredakan keluhan. Seorang perempuan mengaku biasa menyantap sesuatu yang dingin bila haidnya terlalu lama. Hanya sebagian peserta yang mengikuti anjuran dokter.

Dokter kandungan mencatat jeda waktu yang lebih panjang lagi. Kebanyakan perempuan, menurutnya, baru datang setelah beberapa siklus haid yang tidak normal. Banyak pula yang baru memeriksakan diri sesudah menikah, walaupun keluhannya sudah muncul sebelum itu.

Jalan panjang menuju ruang periksaJalan panjang menuju ruang periksaJalan panjang menuju ruang periksaUrutan menurut tuturan di Desa SahupuraHaidberubahLama ataubanyakDitungguSampairedaRamuanrumahObat desiDokterterdekatBersertifikatatau tidakAntreRumah sakitpemerintahSebagian perempuan langsung berobat begitu haidnya berubah.
Sumber: Ishan Gupta, Hardik Gupta, AUB Qualitative Research Consortium - MBBS Batch B, Subham Kansal, Surabhi Puri, Harshal Ramesh Salve, Puneet Misra, dan Rakesh Kumar, Perceptions and treatment seeking for abnormal uterine bleeding among women of reproductive age group in rural North India: a qualitative study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Di rumah, penundaan itu kerap mendapat pembenaran. Para perempuan menyebut kesibukan mengurus rumah tangga dan rasa segan membicarakan keluhan. Dukungan keluarga pun tidak selalu ada. “Saya sudah menanggung ini bertahun-tahun, dan kamu tidak sanggup menahan yang segini saja,” begitu ucapan seorang ibu mertua yang ditirukan salah satu peserta.

Baca juga Kematian Ibu Purwakarta: 22 dari 24 Jarang Bertemu Dokter

Hari berobat: setengah hari di antrean

Ketika akhirnya berangkat berobat, pilihan pertama para perempuan adalah rumah sakit pemerintah. Menurut mereka, dokter di sana lebih baik dan keluhan lebih cepat reda. Namun pasien yang membeludak, antrean panjang, dan waktu tunggu yang lama membuat mereka beralih ke klinik swasta.

Dokter kandungan di rumah sakit pemerintah mengakui hal itu. Pasien, katanya, harus membuat kartu tepat waktu dan menunggu di poliklinik rawat jalan. Mereka tahu sedikitnya separuh pertama hari itu harus diluangkan. Menurut dokter tersebut, itulah satu-satunya penghalang untuk datang ke rumah sakitnya.

Karena itu banyak perempuan memilih penolong terdekat. Dokter kandungan itu menyebut mereka biasanya mendatangi siapa saja yang ada, bergelar dokter atau tidak. Soal jenis kelamin dokter juga menentukan. Sebagian besar perempuan lebih suka dokter perempuan, sebab kepada dokter laki-laki mereka enggan bercerita terbuka.

Ongkos menjadi hitungan berikutnya. Para perempuan mencemaskan biaya perjalanan dan pengobatan, sementara fasilitas kesehatan terdekat tidak selalu tersedia. Sebagian khawatir pada efek samping obat. Ada pula yang tidak tahu bahwa perdarahan semacam itu merupakan masalah yang patut diperiksakan.

Sesudahnya: sekolah, dapur, dan pikiran yang terganggu

Selama keluhan belum tertangani, akibatnya menjalar ke kehidupan sehari-hari. Para perempuan menyebut kesehatan fisik terganggu. Anak perempuan yang masih bersekolah atau kuliah terpaksa izin tidak masuk. Dokter kandungan menambahkan bahwa rasa lemah dan lesu mengurangi kemampuan mengerjakan pekerjaan harian.

Petugas dan kader melihat dampaknya pada kesehatan mental, sosial, dan fisik sekaligus. Seorang peserta menggambarkan perempuan yang tidak sanggup mengurus pekerjaan rumah dan menjaga hubungan baik dengan anak-anaknya. Pikirannya terganggu dan ia terus tegang. Orang tua di dalam keluarga, kata dokter kandungan, sering tidak memahami keadaan itu.

Stigma yang melekat pada haid ikut memberatkan. Menurut dokter kandungan, stigma itu memengaruhi kesehatan mental dan kesehatan seksual perempuan. Para penulis mencatat peserta mengalami tekanan batin karena tidak dapat membicarakan keluhannya. Rasa tertutup itu berlaku bahkan terhadap anggota keluarga sendiri.

Baca juga Kartu Stiker Bintang Buat Ibu di Myanmar Tuntas Periksa Nifas

Tahun 2026: yang disimpulkan dan yang belum pasti

Empat tahun sesudah wawancara pertama, simpulan itu terbit. Para penulis menilai kurangnya pengetahuan bukan penghalang utama. “Hambatan untuk mencari pertolongan tepat waktu yang dilaporkan tidak terbatas pada kurangnya pengetahuan, tetapi mencakup stigma sosial budaya yang mengakar, otonomi yang terbatas, dan ketersediaan tenaga kesehatan perempuan yang tidak memadai,” tulis Gupta dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris.

Dari sana mereka menyebut tiga hal yang perlu diperkuat. Ketiganya adalah pengetahuan tentang kesehatan haid, layanan yang peka gender, dan sarana kesehatan primer. Temuan ini, tulis mereka, dapat menuntun pembuat kebijakan menyusun strategi. Mereka juga menyebut perlunya penelitian lanjutan mengenai cara penerapannya.

Batas penelitian dicatat pula. Semua peserta berasal dari satu komunitas desa, sehingga temuannya belum tentu berlaku di tempat lain. “Sifat topik yang sensitif mungkin telah memengaruhi keterbukaan jawaban,” tulis para penulis. Sebagian wawancara dilakukan peneliti laki-laki, meski peneliti perempuan selalu hadir.

Beberapa bagian naskah tidak sepenuhnya seiring dan dapat diperiksa pembaca. Pembahasan menyebut alat kontrasepsi Copper-T sebagai dugaan penyebab menurut warga, padahal alat itu tidak muncul di bagian hasil. Pembahasan juga menyatakan pengalaman buruk dengan tenaga kesehatan tidak ditemukan. Namun seorang peserta dikutip mengatakan petugas kerap tidak memeriksa dengan baik dan berbicara kasar.

Ada satu selisih angka lagi. Petugas kesehatan menyebut haid lebih dari tiga sampai lima hari sudah tidak normal. Para perempuan justru menyebut rentang yang sama sebagai haid normal, sedangkan definisi para penulis memakai empat sampai delapan hari. Naskah tidak menjelaskan perbedaan tersebut.

Catatan dari Sahupura berhenti pada November 2022. Naskahnya terbit pada 2026 tanpa pendanaan dari pihak mana pun. Sampai titik itu, yang tercatat adalah urutan yang sama: haid berubah, ditunggu, diramu di rumah, lalu dibawa ke antrean.

Bagikan

Baca Juga

Saat Panas Terik, Petani Lebih Sering Tidur Siang tapi Singkat
Remaja Tiongkok Tenang bila Harapan Sekolah Seirama Orang Tua
Pengojek Kamerun Mau Pakai Rompi Pemantul, Lampu Motor Tetap Mati
PR dan Les Murid Guangzhou Berkurang Sebentar lalu Naik Lagi
Lansia Ghana yang Terjerat Biaya Berobat Lebih Kerap Kurang Makan
Gigi Goyang dan Gusi Nyeri Menandai Risiko Stroke Lebih Tinggi