- Dengan ukuran itu, 36,7 persen lansia yang diteliti, kira-kira 2.500 orang, sudah terkena.
- Di lapisan termiskin, 89,6 persen lansia yang sakit hidup dalam rumah tangga rawan pangan.
- Punya atau tidak punya asuransi tidak berkaitan secara bermakna dengan rawan pangan.
- Kaitan antara biaya berobat berat dan rawan pangan paling kuat justru di sini, pada kelompok yang oleh para penulis dijuluki lapisan tengah yang hilang.
Daftar Isi
Sebungkus obat darah tinggi dan sepiring makan malam jarang dicatat dalam satu hitungan. Di rumah para lansia Ghana yang sedang sakit, keduanya ternyata bertaut erat. Dari 6.804 orang berusia 50 tahun ke atas yang mengalami sakit, cedera, atau disabilitas, separuhnya hidup dalam rumah tangga yang rawan pangan, dan lebih dari sepertiganya menanggung biaya berobat yang melampaui daya bayar keluarga.
Pertautan itu diurai Patrick Ziem Wellu dari Department of Computer Science, University of Ghana, bersama Adawu Redeemer, Michael Annor Peprah, Daniel Amakye, Emmanuel Prempeh Agyemang, Prince Peprah, dan Williams Agyemang-Duah dalam artikel Catastrophic Health Expenditure and Household Food Insecurity Among Older Adults with Health Conditions in Ghana: A Cross-Sectional Analysis, terbitan BMC Public Health tahun 2026. Naskahnya masih berstatus artikel dalam proses terbit, sehingga belum bernomor volume. Bahannya survei pendapatan dan pengeluaran rumah tangga Ghana tahun 2022.
Resep yang Harus Ditebus
Sisi pertama adalah ongkos sakit. Para peneliti menyebut biaya berobat sebagai bencana keuangan bila uang yang keluar dari kantong sendiri melewati 40 persen daya bayar rumah tangga, yaitu pendapatan yang tersisa setelah belanja pangan pokok. Dengan ukuran itu, 36,7 persen lansia yang diteliti, kira-kira 2.500 orang, sudah terkena. Angka tersebut jauh di atas kisaran 17 sampai 25 persen yang dilaporkan kajian terdahulu pada penduduk Ghana secara umum.
Selisih itu tidak mengejutkan para penulis, sebab yang mereka amati memang orang-orang yang sedang sakit. Usia rata-ratanya 74,6 tahun, dan hampir dua dari lima sudah berumur 80 tahun atau lebih. Mayoritas, 61,7 persen, perempuan. Keluhannya meliputi hipertensi, diabetes, radang sendi, penyakit jantung, gangguan pernapasan, dan disabilitas gerak. Rata-rata tiap orang membawa 2,3 kondisi sekaligus.
Hanya 28,4 persen yang melaporkan satu kondisi. Sebanyak 34,7 persen menanggung dua, 22,2 persen tiga, dan 14,8 persen empat atau lebih. Penyakit semacam itu menuntut obat yang dibeli berulang, kontrol rutin, dan penanganan komplikasi, sehingga pengeluarannya mengalir terus. “Orang lanjut usia bisa sangat rentan karena mereka kerap menghadapi kebutuhan layanan kesehatan yang lebih tinggi sementara kemampuan mereka menghasilkan pendapatan terbatas,” tulis Wellu dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Baca juga Separuh Peserta JKN Tak Memakai Kartunya Saat Berobat Jalan
Piring yang Ikut Menyusut
Di sisi lain ada urusan makan. Rumah tangga digolongkan rawan pangan bila belanja makanannya menelan lebih dari 60 persen pendapatan, atau bila sedikitnya dua dari tiga hal ini kerap dialami: cemas makanan habis sebelum ada uang, tidak bisa menyantap makanan yang diinginkan, dan terpaksa melewatkan waktu makan. Hasilnya 50,2 persen. Pada lansia Ghana berusia 60 tahun ke atas secara umum, angka pembandingnya sekitar 30 persen.
Kedua sisi itu lalu dipertemukan. Dalam hitungan mentah, lansia yang terkena biaya berobat berat berpeluang 27 kali lebih besar hidup dalam rumah tangga rawan pangan. Setelah kekayaan, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, dan tempat tinggal diperhitungkan, peluang itu turun menjadi 5,88 kali, tetap kuat dan bermakna. Rentang ketidakpastiannya lebar, dari 2,31 sampai 14,93, dan para penulis sendiri mengakui lebarnya rentang tersebut.
Bagaimana tagihan klinik bisa sampai ke meja makan, naskah itu menawarkan penjelasan. Rumah tangga yang dihantam biaya besar kerap meminjam kepada pemberi pinjaman informal, menjual aset produktif, atau memangkas belanja kebutuhan pokok. Para penulis menamai lingkaran itu perangkap kemiskinan medis. Uang habis untuk berobat, makan dikurangi, kesehatan memburuk, lalu biaya berobat datang lagi. Jalur tersebut mereka uraikan sebagai dugaan, bukan sebagai hasil pengukuran.
Kaitan itu bertahan ketika garis batasnya digeser. Dengan ambang 25 persen daya bayar, peluangnya 4,95 kali, dan dengan ambang 10 persen pendapatan, 3,42 kali. Pada laki-laki angkanya 6,52 dan pada perempuan 5,41. Di desa 6,21, di kota 5,62. Rentang ketidakpastian tiap pasangan saling tumpang tindih, sehingga para penulis meminta selisih itu dibaca dengan hati-hati. Antarkelompok etnis tidak tampak perbedaan berarti.
Mereka yang Paling Miskin
Rawan pangan tidak tersebar rata. Di lapisan termiskin, 89,6 persen lansia yang sakit hidup dalam rumah tangga rawan pangan. Di lapisan terkaya hanya 19,0 persen. Artinya, yang termiskin lebih dari empat kali lebih mungkin kekurangan makan. Pendidikan menunjukkan jurang serupa meski lebih landai: 55,8 persen pada mereka yang tidak pernah bersekolah formal, 42,6 persen pada lulusan perguruan tinggi.
Justru pada lapisan terbawah itu, guncangan biaya berobat tidak banyak mengubah keadaan. Para penulis menyebutnya efek lantai. Orang yang paling miskin sudah hidup dalam kekurangan yang berat dan menahun, sehingga tagihan kesehatan, betapapun menghancurkan, tidak lagi menggeser status pangan mereka secara drastis. Yang sudah berada di dasar tidak punya banyak ruang untuk jatuh lebih jauh.
Di ujung seberang, kekayaan melindungi, tetapi ada batasnya. Setelah faktor lain diperhitungkan, peluang rawan pangan pada lapisan terkaya 52 persen lebih rendah daripada lapisan termiskin. Lapisan kaya di bawahnya mencatat angka yang persis sama. Para penulis membacanya sebagai tanda perlindungan yang mendatar pada tingkat kekayaan tertentu. Tinggal di kota juga berkaitan dengan peluang 32 persen lebih rendah.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Mereka yang Hampir Miskin
Pada lapisan kedua dari bawah, ceritanya berbeda. Kaitan antara biaya berobat berat dan rawan pangan paling kuat justru di sini, pada kelompok yang oleh para penulis dijuluki lapisan tengah yang hilang. Dibanding lapisan termiskin, kekuatan kaitan itu 2,38 kali lipat. Temuan tersebut mereka sebut berlawanan dengan dugaan awal, sekaligus yang paling penting bagi perumus kebijakan.
Penjelasan yang ditawarkan menyangkut penyangga. Kelompok hampir miskin punya cukup uang untuk makan layak dalam keadaan biasa dan cukup uang untuk mendatangi layanan kesehatan resmi, sehingga mereka benar-benar menanggung biaya besar. Yang tidak mereka punya adalah tabungan untuk menyerap guncangan tanpa mengorbankan belanja pokok. Satu kali sakit berat bisa mendorong mereka dari keadaan stabil yang rapuh ke rawan pangan yang parah.
Ada satu lagi yang memperberat posisi mereka. Menurut naskah itu, kelompok hampir miskin sering luput dari program perlindungan sosial yang hanya menyasar warga miskin ekstrem. Setelah faktor lain diperhitungkan, peluang rawan pangan mereka bahkan tercatat 73 persen lebih tinggi daripada lapisan termiskin. Para penulis menandai pola itu sebagai hal yang mencolok dan tidak terduga.
Kartu Asuransi yang Tak Menahan
Ghana punya National Health Insurance Scheme, jaminan kesehatan nasional yang berdiri lewat undang-undang tahun 2003. Di atas kertas, kartu itu semestinya menahan biaya agar tidak merembes ke dapur. Hitungan para peneliti berkata lain. Punya atau tidak punya asuransi tidak berkaitan secara bermakna dengan rawan pangan. Usia dan jenis kelamin pun demikian.
Sebab pertama yang mereka tunjuk adalah celah tanggungan. Obat esensial untuk hipertensi dan diabetes tidak sepenuhnya ditanggung, sedangkan pemeriksaan mahal seperti MRI dan CT scan serta perawatan khusus seperti cuci darah dan kemoterapi dikecualikan seluruhnya. “Celah-celah ini memaksa rumah tangga membayar dari kantong sendiri untuk layanan yang justru paling dibutuhkan kelompok ini,” tulis para penulis.
Sebab kedua ada di lapangan. Untuk layanan yang ditanggung pun pasien kerap menghadapi pungutan tidak resmi, atau diminta membeli sendiri obat dan perlengkapan yang tidak tersedia di fasilitas pemerintah. Ketika stok obat kosong, mereka membelinya di apotek swasta. Sebab ketiga adalah ongkos di luar pengobatan: perjalanan ke rumah sakit rujukan yang jauh, penginapan pendamping, dan waktu kerja keluarga yang hilang.
Dari situ para penulis menyusun usul. Paket manfaat asuransi diperluas agar mencakup obat penyakit kronis, konsultasi, dan pemeriksaan. Bantuan tunai diperlebar supaya menjangkau kelompok hampir miskin, bukan hanya yang termiskin. Lalu klinik yang melayani lansia diminta rutin menanyakan kecukupan makan pasiennya dan merujuk mereka ke bantuan gizi, misalnya lewat voucher atau pemberian makanan langsung.
Baca juga Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia
Angka yang Masih Menggantung
Semua angka tadi dipotret pada satu waktu, dan para penulis terang-terangan soal batasnya. Bisa jadi arahnya terbalik: kurang makan lebih dulu memperburuk penyakit, lalu menaikkan biaya berobat. Bisa pula kemiskinan menahun mendorong keduanya sekaligus. “Karena itu, temuan kami harus dibaca sebagai kaitan yang kuat, bukan bukti sebab-akibat yang meyakinkan,” tulis mereka.
Batas lain menyangkut cara mengukur. Pendapatan, belanja kesehatan, dan pengalaman soal makan semuanya dilaporkan sendiri oleh rumah tangga, sehingga bergantung pada ingatan. Ukuran rawan pangan yang dipakai pun gabungan dan tidak baku, lalu disederhanakan menjadi ya atau tidak. “Rumah tangga yang sesekali mencemaskan makanan dikelompokkan bersama mereka yang sering melewatkan makan, sehingga perbedaan penting dalam beratnya kesulitan bisa tertutupi,” tulis para penulis.
Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa pembaca. Disebutkan 25,9 persen lansia terjaring oleh kedua ukuran rawan pangan dan 25,4 persen oleh salah satunya, yang bila dijumlah menjadi 51,3 persen, bukan 50,2 persen. Rincian ukuran itu dirujuk ke berkas tambahan nomor 2 di satu bagian dan nomor 1 di bagian lain. Pertanyaan soal makan menyebut 12 bulan terakhir, sementara pilihan jawabannya dihitung per 30 hari.
Yang tinggal adalah dua gambar berdampingan. Di lapisan termiskin, piring sudah lama tipis dan tagihan berobat tidak banyak mengubahnya. Di lapisan tepat di atasnya, piring masih terisi sampai resep pertama harus ditebus. Naskah ini tidak menyebut mana yang lebih berat ditanggung. Keduanya dicatat sebagai bagian dari lingkaran yang sama, tempat sebungkus obat darah tinggi dan sepiring makan malam akhirnya masuk dalam satu hitungan.















