Istri Jepang Tertekan Saat Suami Minum Berat, Juga Saat Tak Minum

A A

Ilustrasi botol sake keramik dan cawan kecil di atas alas bambu bersama semangkuk takowasa [Foto: Kentin/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Pada istri yang suaminya peminum sedang, 3,1 persen masuk golongan itu.
  • Pada istri yang suaminya peminum berat angkanya 4,1 persen.
  • Istri dari suami yang tidak atau jarang minum mencatat tekanan batin berat 3,8 persen, lebih tinggi daripada 3,1 persen pada istri dari suami peminum sedang.
  • Datanya potret pada satu waktu, sehingga arah sebab-akibat antara tekanan batin dan kebiasaan minum tidak dapat ditentukan.
Daftar Isi
  1. Satu Gou Sake Menjadi Takaran untuk Memilah Tiga Golongan Peminum
  2. Ketika Suami Minum Berat, Tekanan Batin Istri Ikut Naik
  3. Kaitan Itu Hanya Tampak pada Istri yang Tidak Ikut Minum
  4. Suami yang Tidak Minum Pun Datang dengan Angka yang Lebih Tinggi
  5. Tekanan Batin Suami Tidak Bergerak Mengikuti Gelas Istrinya

Kejutan itu datang dari sisi yang tidak diduga. Di antara 65.192 pasangan menikah di Jepang, istri yang paling jarang mengalami tekanan batin berat bukanlah istri dari suami yang menjauhi alkohol. Mereka justru istri dari suami yang minum dalam takaran sedang. Di dua ujung lainnya, pada suami peminum berat dan pada suami yang tidak atau jarang minum, angkanya sama-sama naik.

Temuan tersebut dilaporkan Tasuku Okui, peneliti di Medical Information Center, Kyushu University Hospital, Fukuoka, dalam artikel Association between severe psychological distress and spousal alcohol drinking status among married couples in Japan: a cross-sectional study using nationally representative survey data. Artikel itu dimuat BMC Public Health tahun 2026 dan masih berstatus artikel dalam proses terbit, sehingga belum bernomor volume. Bahannya survei kondisi hidup berskala nasional milik Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang tahun 2013, 2016, dan 2019.

Satu Gou Sake Menjadi Takaran untuk Memilah Tiga Golongan Peminum

Mundur sejenak ke gelasnya. Takaran yang dipakai survei itu adalah gou, satuan sake. Satu gou sama dengan 180 mililiter sake dan mengandung 22 gram alkohol. Kuesioner menjelaskan padanannya kepada responden: sebotol bir sekitar 500 mililiter, seperempat botol anggur, satu wiski dobel sekitar 60 mililiter, atau satu setengah kaleng chuhai.

Dari takaran itu Okui memilah responden menjadi tiga golongan. Peminum berat ialah laki-laki yang rata-rata minum 40 gram alkohol atau lebih sehari dan perempuan yang minum 20 gram atau lebih. Ambang itu di Jepang dipakai sebagai batas naiknya risiko penyakit terkait gaya hidup. Peminum di bawah ambang disebut peminum sedang, dan sisanya masuk golongan tidak atau jarang minum.

Suami dan istri menempati golongan yang berbeda. Dari seluruh suami, 31.145 orang tergolong peminum sedang, 23.283 tidak atau jarang minum, dan 9.951 peminum berat. Di sisi istri urutannya terbalik. Sebanyak 45.086 istri tidak atau jarang minum, 14.111 peminum sedang, dan 5.172 peminum berat.

Kebiasaan minum suami dan istri di JepangJumlah suami dan istri di Jepang menurut golongan kebiasaan minum alkohol.Kebiasaan minum suami dan istri di JepangJumlah orang di tiap golongan, dari 65.192 pasangan menikahSuamiIstri23.28345.086Tidak atau jarangminum31.14514.111Peminum sedang9.9515.172Peminum beratData tidak tersedia: 813 suami dan 823 istri.
Sumber: Tasuku Okui, Association between severe psychological distress and spousal alcohol drinking status among married couples in Japan: a cross-sectional study using nationally representative survey data, BMC Public Health, artikel dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kebiasaan itu cenderung berpasangan. Di antara istri peminum berat, 37,0 persen bersuamikan peminum berat pula, sedangkan di antara istri yang tidak atau jarang minum hanya 12,5 persen. Sebaliknya, suami yang tidak atau jarang minum paling sedikit dijumpai pada istri peminum berat, yakni 18,2 persen. Pada istri yang juga tidak atau jarang minum, bagiannya 42,6 persen.

Latar yang ditulis Okui tidak hitam putih. Alkohol, catatnya, menjadi sumber kesenangan bagi banyak orang, dan minum bersama adalah bentuk pergaulan yang lazim. Di Jepang, minum alkohol sekaligus merupakan faktor risiko penyakit seperti kanker dan tekanan darah tinggi. Yang jarang diperiksa ialah apa yang terjadi pada batin orang yang duduk di seberang meja.

Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung

Ketika Suami Minum Berat, Tekanan Batin Istri Ikut Naik

Tekanan batin berat diukur dengan K6, skala distres psikologis versi Jepang. Skor 13 atau lebih digolongkan berat. Pada istri yang suaminya peminum sedang, 3,1 persen masuk golongan itu. Pada istri yang suaminya peminum berat angkanya 4,1 persen. Kira-kira empat dari setiap seratus istri.

Tekanan batin istri menurut minum suamiSuami tak/jarang minum: Istri dengan tekanan batin berat +3,8%; Suami peminum sedang: Istri dengan tekanan batin berat +3,1%; Suami peminum berat: Istri dengan tekanan batin berat +4,1%.Tekanan batin istri menurut minum suamiPersen istri dengan tekanan batin berat1%2%3%4%5%0Suami tak/jarang minum3,8%Suami peminum sedang3,1%Suami peminum berat4,1%Tekanan batin berat: skor K6 13 atau lebih.
Sumber: Tasuku Okui, Association between severe psychological distress and spousal alcohol drinking status among married couples in Japan: a cross-sectional study using nationally representative survey data, BMC Public Health, artikel dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Selisih itu bertahan setelah umur, pendidikan, pekerjaan, kebiasaan merokok, dan kebiasaan minum kedua pihak ikut diperhitungkan. Prevalensi tekanan batin berat pada istri dari suami peminum berat 1,16 kali prevalensi pada istri dari suami peminum sedang. Artinya 16 persen lebih tinggi. Rentang kepercayaannya 1,02 sampai 1,32, seluruhnya di atas angka satu.

Okui mencatat arah temuan ini serupa dengan kajian di negara lain yang ia rujuk. Kajian-kajian itu menunjukkan bahwa memiliki peminum berat atau peminum bermasalah dalam kehidupan seseorang berkaitan dengan bertambahnya masalah kesehatan jiwa. Ia menambahkan satu kemungkinan lain. Minum berat pada suami boleh jadi berkaitan dengan kondisi kesehatan suami itu sendiri.

Kaitan Itu Hanya Tampak pada Istri yang Tidak Ikut Minum

Belokan kedua muncul ketika para istri dipilah menurut kebiasaan minum mereka sendiri. Kaitan tadi tidak merata. Pada istri yang tidak atau jarang minum, prevalensi tekanan batin berat menjadi 1,27 kali bila suaminya peminum berat, atau 27 persen lebih tinggi. Pada istri peminum sedang angkanya 0,94 dan pada istri peminum berat 1,13. Keduanya tidak bermakna secara statistik.

Penjelasan yang ditawarkan Okui berasal dari kajian tentang keserasian kebiasaan minum dan kepuasan pasangan. Salah satu kajian yang ia kutip menemukan bahwa selisih tingkat minum antara suami dan istri meramalkan turunnya kepuasan perkawinan dari waktu ke waktu. “Dengan demikian, jika suami dan istri minum alkohol bersama, hal ini mungkin tidak menambah tekanan psikologis,” tulis Tasuku Okui, peneliti Medical Information Center Kyushu University Hospital, dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Dari sana ia menarik implikasi yang hati-hati. Mencegah minum berat pada suami, tulisnya, bermakna bukan hanya untuk mencegah penyakit terkait gaya hidup, melainkan juga untuk kesehatan jiwa istri. Karena kuatnya kaitan berbeda menurut kebiasaan minum istri, pencegahan itu ia nilai paling diperlukan ketika istri tidak atau jarang minum.

Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan

Suami yang Tidak Minum Pun Datang dengan Angka yang Lebih Tinggi

Ujung yang satu lagi lebih sulit dijelaskan. Istri dari suami yang tidak atau jarang minum mencatat tekanan batin berat 3,8 persen, lebih tinggi daripada 3,1 persen pada istri dari suami peminum sedang. Setelah penyesuaian, prevalensinya 1,23 kali, dengan rentang 1,11 sampai 1,37. Angka itu bahkan lebih besar daripada angka pada suami peminum berat.

Kaitan ini muncul pada istri yang tidak atau jarang minum, 1,21 kali, dan pada istri peminum sedang, 1,36 kali. Pada istri peminum berat angkanya 1,40 tetapi tidak bermakna secara statistik. Okui menduga sebabnya jumlah pasangan di kelompok itu yang kecil, hanya 941, sebab angkanya sendiri tinggi.

Mengapa suami yang tidak minum berkaitan dengan istri yang lebih tertekan? Sepengetahuan Okui, belum ada kajian yang melaporkan kaitan ini. Ia menunjuk satu jalur yang mungkin. Golongan tidak atau jarang minum mencakup orang yang sudah berhenti minum, dan memburuknya kesehatan adalah salah satu peramal orang berhenti minum. Sebuah kajian di Belanda, tulisnya, menemukan kaitan antara tekanan batin perempuan dan kondisi kesehatan pasangannya.

Riwayat minum memberi petunjuk ke arah yang sama. Dari seluruh suami, 50.432 masih minum, 12.172 tidak pernah minum, dan 1.775 sudah berhenti. Istri dari suami yang sudah berhenti mencatat prevalensi tekanan batin berat 1,49 kali dibanding istri dari suami yang masih minum. Pada istri yang dirinya tidak pernah minum, angkanya naik menjadi 1,64 kali.

Suami yang tidak pernah minum juga datang dengan angka lebih tinggi, 1,16 kali. Di sini kaitannya bermakna pada istri yang masih minum, 1,40 kali, dan nyaris hilang pada istri yang tidak pernah minum, 1,02 kali. Mengapa pada suami yang sudah berhenti kaitannya hanya tampak pada istri yang tidak pernah minum, Okui menulis bahwa alasannya tidak pasti.

Tekanan Batin Suami Tidak Bergerak Mengikuti Gelas Istrinya

Potong ke sisi suami. Arah sebaliknya nyaris datar. Suami dengan tekanan batin berat tercatat 2,6 persen bila istrinya tidak atau jarang minum, 2,4 persen bila istrinya peminum sedang, dan 2,8 persen bila istrinya peminum berat. Setelah penyesuaian, angkanya 0,99 dan 0,98 kali dibanding istri peminum sedang. Riwayat minum istri pun tidak menunjukkan kaitan bermakna.

Kajian terdahulu yang dirujuk Okui tentang sisi suami memang tidak seragam. Sebuah kajian di Norwegia menemukan kaitan negatif yang bermakna, sedangkan kajian di Amerika Serikat tidak menemukan kaitan apa pun. Karena itu ia menilai pemeriksaan di negara lain tetap berarti. Hasil dari Jepang kini berdiri di samping temuan Amerika Serikat.

Okui menyebut dua kemungkinan. Tekanan batin sebagian besar suami boleh jadi tidak berhubungan dengan kebiasaan minum istri mereka. Kemungkinan lain terletak pada batas peminum berat yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Asupan alkohol perempuan lebih rendah, sehingga minum berat pada istri mungkin berdampak lebih kecil terhadap kesehatan jiwa pasangan dibanding minum berat pada suami.

Batas penelitian ini dinyatakan terang. Datanya potret pada satu waktu, sehingga arah sebab-akibat antara tekanan batin dan kebiasaan minum tidak dapat ditentukan. Survei itu tidak memuat kuesioner ketergantungan alkohol seperti CAGE yang kerap dipakai kajian terdahulu. Sebagai kajian pengamatan, masih mungkin ada faktor lain yang tidak terukur di balik kaitan tersebut.

Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang

Pembahasan itu berakhir dengan daftar pertanyaan untuk riset berikutnya di Jepang. Mengapa tekanan batin berat lebih banyak pada istri tak minum yang suaminya peminum berat? Mengapa pula pada istri yang suaminya tidak atau jarang minum, dan pada istri tak pernah minum yang suaminya sudah berhenti? Survei yang mengikuti pasangan dari waktu ke waktu, tulis Okui, perlu dipakai untuk memeriksa hubungan sebab-akibatnya.

Ada beberapa hal kecil yang bisa diperiksa pembaca di naskah itu. Penulisnya satu orang, tetapi naskah memakai kata ganti kami dan menyebut statistiknya dihasilkan oleh para penulis. Ambang peminum berat ditulis 40 gram atau lebih, sedangkan kalimat berikutnya menyebut rata-rata yang melebihi ambang. Satu kalimat di bagian kesimpulan juga kehilangan kata penghubung antara tekanan batin berat dan istri.

Angka terendah tetap berada di tengah sampai halaman terakhir: 3,1 persen, pada istri dari suami peminum sedang. Di kiri dan kanannya berdiri 3,8 persen dan 4,1 persen. Gelas suami, kosong atau terlalu penuh, tercatat bersama tekanan batin istrinya. Gelas istri tidak tercatat demikian pada suaminya.

Bagikan

Baca Juga

Koas Dokter Gigi UGM Tak Lagi Tanggung Sendiri Biaya Pasien
Gigi Bantu Kenali Korban KM Virgo Transport 8, Tim UI Diturunkan
Guru di Istanbul yang Suaranya Terganggu Lebih Lelah Mengajar
Kanker di Laos Sebagian Besar Tak Pernah Tercatat Rumah Sakit
Rumah Bantuan di Matotonan Mentawai Langsung Ditambahi Dapur
Guru di Bangkok Hanya Mengenali Tiga dari 25 Murid Kurang Dengar