PR dan Les Murid Guangzhou Berkurang Sebentar lalu Naik Lagi

A A

Ilustrasi tangan menulis aksara Asia Timur dengan pena di buku tulis berkotak [Foto: Nguyễn Tiến Thành/Pexels]

  • Pada 2021 pekerjaan rumah menjadi 2,22 jam, dan pada 2022 menyentuh 2,16 jam sehari, titik terendah sepanjang pengamatan.
  • Sepanjang 2021 sampai 2025, kedua beban tetap lebih rendah daripada masa sebelum kebijakan.
  • Murid kelas 4 sampai 6 mencatat penurunan awal terbesar, lalu pantulan yang paling jelas.
  • Di pinggiran kota, yang kembali bertambah adalah pekerjaan rumah, 0,10 jam setiap tahun sesudah 2022.
  • Angka itu sempat jatuh ke 3,11 hari pada 2022, lalu menanjak terus sampai 3,93 hari pada 2025, hampir empat hari dari tujuh.
Daftar Isi
  1. Buku PR dan Ruang Les
  2. Bangku Sekolah Dasar
  3. Kota dan Pinggiran
  4. Kursi, Kasur, dan Lapangan
  5. Guangzhou, Satu Kota
  6. Angka yang Tak Seragam

Setiap September dan Oktober, selembar kuesioner sampai ke meja murid di 66 sekolah di Guangzhou. Pertanyaannya sederhana. Berapa lama kamu mengerjakan pekerjaan rumah sepulang sekolah dalam sepekan terakhir, dan berapa lama kamu duduk di kelas les bahasa Inggris, matematika, atau mengarang? Pilihannya lima, dari tidak ada sampai tiga jam atau lebih. Tujuh tahun jawaban itu dikumpulkan, dari 2019 sampai 2025.

Tumpukan jawaban tersebut dibaca Jiashuan Huang, Yi Sun, Xuanyu Zhang, Dongrui Zhuang, Weijia Liu, Jianrong He, dan Rong Lin dalam Impact of a national educational intervention on academic burden and health-related behaviours among children and adolescents in China: a repeated cross-sectional study, terbit di BMC Public Health tahun 2026 sebagai artikel yang masih dalam proses cetak. Mereka bekerja di Guangzhou Medical University dan Guangzhou Center for Disease Control and Prevention.

Di tengah rentang tujuh tahun itu ada satu peristiwa. Pada Juli 2021 pemerintah Tiongkok memberlakukan kebijakan yang dikenal sebagai Double Reduction, pengurangan ganda, untuk murid sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Pekerjaan rumah harian yang berlebihan dibatasi. Les pelajaran di luar sekolah diatur lewat pembatasan lama belajar dan pembatasan usaha bimbingan yang mencari laba.

Latar kebijakan itu digambarkan para penulis tanpa basa-basi. Persaingan pendidikan yang ketat, harapan orang tua yang tinggi, dan kecemasan soal pekerjaan membuat prestasi sekolah dianggap sangat penting di Tiongkok. Sekolah menambah pekerjaan rumah, keluarga membeli les. Beban berlebihan itu, tulis mereka dengan merujuk riset terdahulu, merampas tidur, menyingkirkan olahraga, dan berkaitan dengan gejala depresi pada remaja.

Buku PR dan Ruang Les

Dari meja-meja sekolah Guangzhou terkumpul 122.263 jawaban milik 74.759 anak kelas 4 sampai kelas 12, dengan usia rata-rata 13,67 tahun. Sedikit lebih dari separuhnya laki-laki, dan kira-kira empat dari lima tinggal di wilayah kota. Angka pertama yang muncul adalah titik berangkat: pada 2019 murid mengerjakan pekerjaan rumah rata-rata 2,44 jam sehari dan mengikuti les 1,59 jam sepekan.

Lalu angkanya turun. Pada 2021 pekerjaan rumah menjadi 2,22 jam, dan pada 2022 menyentuh 2,16 jam sehari, titik terendah sepanjang pengamatan. Les mengikuti jalan yang sama, dari 1,55 jam pada 2020 menjadi 1,04 jam sepekan pada 2022. Dibandingkan dengan dua tahun sebelum kebijakan, murid pada 2022 menghemat 0,27 jam pekerjaan rumah tiap hari, kira-kira 16 menit, dan 0,52 jam les tiap pekan.

PR dan les murid Guangzhou, 2019-20252019: PR, jam per hari +2,44, Les, jam per minggu +1,59; 2020: PR, jam per hari +2,47, Les, jam per minggu +1,55; 2021: PR, jam per hari +2,22, Les, jam per minggu +1,21; 2022: PR, jam per hari +2,16, Les, jam per minggu +1,04; 2023: PR, jam per hari +2,25, Les, jam per minggu +1,14; 2024: PR, jam per hari +2,30, Les, jam per minggu +1,23; 2025: PR, jam per hari +2,29, Les, jam per minggu +1,24.PR dan les murid Guangzhou, 2019-2025Rata-rata menurut jawaban murid kelas 4 sampai 12PR, jam per hariLes, jam per minggu123020192,441,5920202,471,5520212,221,2120222,161,0420232,251,1420242,301,2320252,291,24Kebijakan berlaku Juli 2021. Titik terendah keduanya jatuh pada 2022.
Sumber: Jiashuan Huang, Yi Sun, Xuanyu Zhang, Dongrui Zhuang, Weijia Liu, Jianrong He, dan Rong Lin, Impact of a national educational intervention on academic burden and health-related behaviours among children and adolescents in China: a repeated cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Sesudah 2022 garisnya berbelok. Pekerjaan rumah naik lagi menjadi 2,25 jam pada 2023, lalu 2,30 jam pada 2024, dan bertahan di 2,29 jam pada 2025. Les merambat dari 1,14 ke 1,23 lalu 1,24 jam sepekan. Para penulis menyebut bentuknya huruf U. Setiap tahun sampai 2022 pekerjaan rumah berkurang 0,10 jam, kemudian bertambah 0,05 jam setahun sampai 2025.

Pantulan itu tidak menghapus seluruh hasil. Sepanjang 2021 sampai 2025, kedua beban tetap lebih rendah daripada masa sebelum kebijakan. Hanya saja selisihnya menyempit. Pada 2025 penghematan pekerjaan rumah tinggal 0,15 jam sehari, sekitar sembilan menit, dan penghematan les tinggal 0,34 jam sepekan. “Kami menemukan penurunan sementara pada beban akademik murid sesudah kebijakan diberlakukan; namun, dampak positif ini kemudian menunjukkan tanda-tanda berbalik,” tulis Huang dan enam rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka

Bangku Sekolah Dasar

Belokan paling tajam terjadi di bangku sekolah dasar. Murid kelas 4 sampai 6 mencatat penurunan awal terbesar, lalu pantulan yang paling jelas. Les mereka berkurang 0,29 jam setiap tahun sampai 2022, lebih deras daripada murid sekolah menengah pertama yang turun 0,21 jam. Sesudah itu kurva sekolah dasar naik kembali, mengikuti bentuk U yang sama dengan gambaran seluruh kota.

Di sekolah menengah pertama ceritanya lebih tenang. Pekerjaan rumah turun 0,106 jam setahun sampai 2022, kemudian nyaris diam dengan kenaikan 0,01 jam setahun. Les mereka turun lalu memantul seperti adik kelasnya. Kebijakan itu memang ditujukan kepada dua jenjang ini, dan pada keduanya perubahan paling terasa.

Naik satu jenjang lagi, hampir tidak ada yang bergerak. Pekerjaan rumah murid sekolah menengah atas hanya berkurang 0,04 jam setahun sampai 2022, dan les mereka 0,07 jam. Sesudah 2022, les di jenjang ini praktis datar. Para penulis mengaitkannya dengan ujian masuk perguruan tinggi yang mengatur hampir seluruh jadwal murid, sehingga beban sudah tinggi sejak awal dan hampir tidak tersisa waktu luang untuk digeser.

Mengapa anak sekolah dasar yang paling cepat kembali sibuk? Huang dan rekan-rekannya menawarkan dugaan dari riset lain. Tekanan di jenjang ini lebih ringan dan waktu lebih longgar, sehingga keluarga leluasa memilih. Kelonggaran itu, menurut dugaan tersebut, justru diisi les dini atau tugas tambahan oleh orang tua yang takut anaknya tertinggal. Mereka menegaskan dugaan ini belum diuji pada murid yang mereka amati.

Kota dan Pinggiran

Peta Guangzhou memperlihatkan dua jalan pulang yang berbeda. Di pinggiran kota, yang kembali bertambah adalah pekerjaan rumah, 0,10 jam setiap tahun sesudah 2022. Di wilayah kota, kenaikan pekerjaan rumah jauh lebih landai, sekitar 0,04 jam setahun. Sebaliknya, les memantul jelas pada murid kota. Beban yang sama kembali lewat pintu yang berlainan.

Para penulis membaca perbedaan itu sebagai satu kecemasan dengan dua wajah. Di kota, tempat jasa bimbingan mudah dibeli, kekhawatiran orang tua disalurkan ke les berbayar. Di pinggiran, tempat pilihan semacam itu lebih sedikit, kekhawatiran serupa beralih menjadi pengawasan yang lebih ketat atas tugas dari sekolah. Tafsir ini pun mereka beri catatan: masuk akal dan didukung pustaka, tetapi tidak diuji langsung.

Anak laki-laki dan anak perempuan juga berpisah arah. Pekerjaan rumah memantul pada keduanya, tetapi lebih kuat pada anak laki-laki, 0,06 jam setahun berbanding 0,037 jam. Pada les, urutannya terbalik. Jam les anak perempuan bertambah 0,09 jam setahun sesudah 2022, lebih dari dua kali kenaikan anak laki-laki yang 0,04 jam.

Baca juga Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur

Kursi, Kasur, dan Lapangan

Kuesioner yang sama menanyakan tubuh murid: berapa lama duduk, berapa lama tidur, berapa hari bergerak. Waktu duduk bergerak paling lebar. Dari 10,44 jam sehari pada 2019, ia turun menjadi 5,94 jam pada 2022, lalu naik lagi ke 7,63 jam, 7,97 jam, dan 8,34 jam pada 2025. Bentuknya huruf U, serupa pekerjaan rumah dan les.

Tidur bergeser jauh lebih tipis, dengan arah yang berlawanan. Dari 7,83 jam pada 2020, lama tidur naik menjadi 7,96 jam pada 2022, selisih kira-kira delapan menit. Dua tahun kemudian angkanya kembali ke 7,86 jam. Untuk 2025 tidak ada angka, sebab pertanyaannya diganti menjadi jam berangkat tidur dan jam bangun sehingga tidak bisa disandingkan.

Titik terendah dan tiga tahun sesudahnyaTitik terendah dan tiga tahun sesudahnyaTitik terendah dan tiga tahun sesudahnyaRata-rata kebiasaan murid Guangzhou pada dua tahun survei202220252,16 jam2,29 jamPR per hari1,04 jam1,24 jamLes per minggu5,94 jam8,34 jamDuduk per hari3,11 hari3,93 hariHari cukup gerakHari cukup gerak: hari dalam sepekan dengan olahraga 60 menit ataulebih.
Sumber: Jiashuan Huang, Yi Sun, Xuanyu Zhang, Dongrui Zhuang, Weijia Liu, Jianrong He, dan Rong Lin, Impact of a national educational intervention on academic burden and health-related behaviours among children and adolescents in China: a repeated cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Hanya lapangan yang tidak ikut berbalik. Jumlah hari dalam sepekan ketika murid bergerak sedang sampai berat sedikitnya 60 menit naik dari 3,36 hari pada 2019 ke 3,53 hari pada 2021. Angka itu sempat jatuh ke 3,11 hari pada 2022, lalu menanjak terus sampai 3,93 hari pada 2025, hampir empat hari dari tujuh.

Kenaikan di lapangan itu tidak diklaim sebagai buah satu kebijakan. Para penulis menyebut tiga kemungkinan: pelonggaran pembatasan sekolah akibat COVID-19 sejak 2022, rencana peningkatan kebugaran murid yang diumumkan pada 2020, dan pedoman beban olahraga murid yang resmi terbit pada 2023. Faktor lain yang tidak terukur, kata mereka, mungkin ikut bekerja.

Dari kursi dan kasur, mereka menarik satu pelajaran. “Ini menunjukkan bahwa sekadar membebaskan waktu tanpa dukungan struktural yang menyertainya dapat menghasilkan perbaikan perilaku yang rapuh dan tidak berkelanjutan,” tulis mereka. Dukungan yang dimaksud adalah kegiatan di luar pelajaran yang beragam, lingkungan keluarga yang sehat, dan kesadaran akan kesehatan.

Baca juga Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas

Guangzhou, Satu Kota

Semua angka itu datang dari satu kota. Guangzhou adalah ibu kota Provinsi Guangdong di delta Sungai Mutiara, kota raksasa dengan sumber daya pendidikan yang sangat terpusat. Para penulis mengakui temuan mereka belum tentu berlaku di daerah pedesaan atau wilayah yang kurang maju, tempat pelaksanaan dan penerimaan kebijakan bisa jauh berbeda.

Batas lain melekat pada lembar kuesioner itu sendiri. Lama pekerjaan rumah, les, dan duduk adalah ingatan murid, bukan catatan jam, dan butir pertanyaannya tidak diuji secara terpisah. Tahun 2022 dipilih sebagai titik balik sesudah para peneliti melihat grafik, bukan ditetapkan sebelumnya. Sisa pengaruh pandemi, dari sekolah yang ditutup sampai les yang sulit dijangkau, juga tidak bisa dipisahkan dari pengaruh kebijakan.

Ada pula yang tidak ditanyakan. Pendidikan orang tua dan penghasilan keluarga tidak tercatat, sehingga perbedaan kota dan pinggiran tidak bisa dipilah antara soal tempat dan soal kemampuan ekonomi. Murid kota, tulis para penulis, mungkin datang dari keluarga yang lebih mampu atau bersekolah di tempat yang lebih lengkap. Bila data itu tersedia, jarak antara kota dan pinggiran bisa jadi mengecil.

Angka yang Tak Seragam

Beberapa hal dalam naskah dapat diperiksa pembaca. Simpangan baku lama tidur 2020 dan 2024 ditulis 1,50 dan 1,42 di bagian hasil, sedangkan tabel mencantumkan 1,52 dan 1,46. Pantulan pekerjaan rumah murid kota ditulis 0,038, tetapi rentang kepercayaannya 0,04 sampai 0,05. Pembahasan menyebut murid sekolah menengah pertama relatif stabil, padahal bagian hasil mencatat pekerjaan rumah dan les mereka turun.

Lembar kuesioner itu masih akan dibagikan lagi pada September berikutnya, dengan lima pilihan jawaban yang sama. Selama tujuh tahun ia merekam satu gerak: beban dilepas, lalu pelan-pelan dipungut kembali, lebih dulu oleh anak yang paling kecil. Para penulis menutup dengan menunjuk ke luar lembar itu, ke sistem penilaian yang berpusat pada ujian, pembagian sumber daya pendidikan, dan harapan orang tua.

Bagikan

Baca Juga

Lansia Ghana yang Terjerat Biaya Berobat Lebih Kerap Kurang Makan
Gigi Goyang dan Gusi Nyeri Menandai Risiko Stroke Lebih Tinggi
Jam Tangan Pintar Dipercaya Warga Saudi Menjaga Irama Jantung
Istri Jepang Tertekan Saat Suami Minum Berat, Juga Saat Tak Minum
Koas Dokter Gigi UGM Tak Lagi Tanggung Sendiri Biaya Pasien
Gigi Bantu Kenali Korban KM Virgo Transport 8, Tim UI Diturunkan