- Sebanyak 37,8 persen petani mengaku tidur kurang dari tujuh jam semalam, atau hampir dua dari lima orang.
- Di Iowa, petani pada tingkat risiko panas sedang tercatat kira-kira 4 persen lebih sering tidur kurang dari tujuh jam.
- Di North Carolina, petani pada risiko panas tinggi 6 persen lebih sering tidur siang dibandingkan pada hari berisiko rendah.
- Pada golongan risiko panas tinggi di Iowa, kebiasaan tidur siang panjang sekitar 14 persen lebih jarang.
- Semua kaitan itu kecil dan tidak bisa dipastikan sebagai hubungan sebab-akibat.
Daftar Isi
- Panas yang dirasakan tubuh tidak sama dengan angka termometer
- Tidur malam memendek justru di tempat yang lebih sejuk
- Mengapa tubuh yang kepanasan mencari tidur siang
- Lebih sering rebah, tetapi lebih cepat terjaga
- Usia tidak mengubah arah temuan
- Di mana penjelasan ini berhenti
- Angka dalam naskah yang patut dicocokkan pembaca
Orang yang seharian bekerja di bawah terik semestinya tidur lebih lelap dan lebih lama pada malam harinya. Dugaan itu terdengar wajar. Jawaban ribuan petani di dua negara bagian Amerika Serikat justru menunjuk ke arah lain: ketika hari-hari terasa panas dan lembap, tidur malam sebagian dari mereka sedikit lebih pendek, tidur siang lebih sering dilakukan, tetapi tidur siang yang panjang malah lebih jarang.
Pola itu dilaporkan Wensu Zhou, Symielle A. Gaston, Bethany T. Ogbenna, Christine G. Parks, Dale P. Sandler, dan Chandra L. Jackson dalam artikel Heat stress in relation to sleep health among farmers: a cross-sectional study. Artikel tersebut terbit di jurnal BMC Public Health volume 26, nomor artikel 933, tahun 2026. Keenam penulis bekerja di National Institute of Environmental Health Sciences, bagian dari National Institutes of Health, Amerika Serikat.
Yang mereka periksa adalah jawaban 8.203 petani laki-laki dari Iowa dan North Carolina, yang diwawancarai pada musim hangat antara Mei dan September sepanjang 2013 sampai 2015. Iowa menyumbang 6.403 orang, North Carolina 1.800 orang. Usia rata-rata mereka 63 tahun, sehingga yang dibicarakan di sini bukan pekerja muda, melainkan orang-orang yang sudah puluhan tahun hidup dari ladang.
Panas yang dirasakan tubuh tidak sama dengan angka termometer
Persoalannya, suhu udara saja tidak cukup untuk menggambarkan beban yang ditanggung tubuh. Kelembapan yang tinggi, tulis para peneliti, menghambat pelepasan panas lewat keringat, sehingga tekanan panas naik walau termometer tidak bergerak. Indeks panas yang lazim dipakai sudah menggabungkan suhu dan kelembapan. Namun, indeks itu masih meninggalkan angin dan sinar matahari, dua hal yang ikut menentukan apakah tubuh bisa membuang panasnya.
Karena itu, mereka memakai ukuran bernama wet bulb globe temperature, disingkat WBGT. Ukuran ini menghitung kecepatan angin, tutupan awan, kelembapan, dan sudut matahari sekaligus. Menurut naskah, WBGT lebih cocok untuk menilai kondisi orang yang beraktivitas di cuaca panas. Angka WBGT tiap petani dirata-ratakan untuk dua, lima, dan tujuh hari sebelum ia diwawancarai, lalu disandingkan dengan jawabannya tentang tidur.
Dua negara bagian itu ternyata menanggung takaran panas yang jauh berbeda. Rata-rata WBGT dua hari di Iowa 70,4°F, sedangkan di North Carolina 77,7°F. Hampir semua petani Iowa, tepatnya 91,7 persen, berada pada hari-hari berisiko rendah, yakni hari ketika aktivitas normal masih dianjurkan. Di North Carolina, hanya 65,7 persen yang berada di kelompok itu. Sisanya terbagi antara risiko sedang, 21,1 persen, dan risiko tinggi, 13,3 persen.
Batas ketiga golongan itu pun tidak disamakan. Pedoman keselamatan yang dipakai para peneliti menetapkan ambang berbeda menurut wilayah, karena penduduknya terbiasa dengan iklim yang berbeda. Di Iowa, risiko sedang dimulai pada WBGT 78,8°F dan risiko tinggi di atas 83,7°F. Di North Carolina, ambangnya lebih tinggi: 82,1°F untuk risiko sedang dan di atas 86,0°F untuk risiko tinggi, yaitu saat kegiatan luar ruang dianjurkan dibatasi atau dibatalkan.
Baca juga Gelombang Panas Dhaka: Merasa Terancam, 7,77 Kali Lebih Sakit
Tidur malam memendek justru di tempat yang lebih sejuk
Sebelum panas ikut dihitung, tidur para petani ini sudah tidak panjang. Sebanyak 37,8 persen mengaku tidur kurang dari tujuh jam semalam, atau hampir dua dari lima orang. Di Iowa angkanya 36,6 persen, di North Carolina 41,9 persen. Sebagai pembanding, naskah mengutip angka untuk orang dewasa Amerika Serikat pada umumnya, yaitu sekitar 23,1 persen yang tidur kurang dari tujuh jam.
Kaitan dengan panas muncul di tempat yang tidak disangka. Di Iowa, petani yang dua hari sebelumnya berada pada tingkat risiko sedang tercatat kira-kira 4 persen lebih sering tidur kurang dari tujuh jam dibandingkan dengan mereka yang berada pada risiko rendah. Di North Carolina, yang lebih panas, kaitan serupa tidak terlihat. Kenaikan WBGT yang dihitung sebagai angka biasa, tanpa penggolongan, juga tidak berkaitan dengan tidur pendek di kedua negara bagian.
Yang membuatnya rumit adalah urutan itu sendiri: daerah yang lebih sejuk justru menunjukkan kaitan yang lebih jelas. Para peneliti menawarkan penjelasan lewat kebiasaan tubuh. Lebih banyak petani Iowa terpapar tekanan panas yang rendah, sehingga penyesuaian mereka terhadap panas boleh jadi lebih rendah ketika hari panas datang. Dari situ mereka menyimpulkan bahwa wilayah yang kurang terbiasa dengan panas perlu mendapat perhatian lebih.
Cara kerjanya, menurut riset terdahulu yang dirujuk naskah, cukup lurus. Paparan panas menambah waktu terjaga dan memendekkan tidur, dan kelembapan menambah keterjagaan itu. Ketika batas tidur pendek digeser menjadi kurang dari delapan jam, kaitan di Iowa tetap muncul, bahkan sedikit lebih besar, sekitar 6 persen. Bagi para peneliti, hal itu menandakan polanya tidak hilang walau orang cenderung melebih-lebihkan lama tidurnya sendiri.
Mengapa tubuh yang kepanasan mencari tidur siang
Di North Carolina, panas tampak pada jam yang lain. Setiap kenaikan WBGT dua hari sebesar satu simpangan baku berkaitan dengan kemungkinan tidur siang yang 2 persen lebih tinggi. Bila dilihat menurut golongan, petani pada risiko sedang 4 persen lebih sering tidur siang, dan petani pada risiko tinggi 6 persen lebih sering, dibandingkan dengan mereka yang berada pada hari berisiko rendah. Di Iowa, kaitan dengan tidur siang tidak ditemukan.
Penjelasan yang diajukan naskah bertumpu pada ongkos yang dibayar tubuh untuk tetap dingin. Saat menyesuaikan diri dengan suhu tinggi, tubuh berkeringat dan mengalirkan lebih banyak darah ke kulit, dan proses itu memakan tenaga tambahan. Pembuluh darah melebar untuk melepas panas, tekanan darah turun, dan rasa lelah bertambah. Tidur siang, tulis para peneliti, bisa menjadi cara menebus kelelahan tersebut.
Bagi pekerja luar ruang, tidur siang juga punya guna lain. Menurut naskah, mereka mungkin memakainya untuk menghindari panas pada puncak hari, memulihkan tenaga, dan mendinginkan badan seusai bekerja. Penjelasan ini sekaligus menjawab satu hal yang semula tampak ganjil, yaitu tidak adanya kaitan antara panas dan rasa kantuk di siang hari. Kalau lelahnya sudah ditebus dengan rebahan, kantuk yang berlarut tidak perlu muncul.
Baca juga Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia
Lebih sering rebah, tetapi lebih cepat terjaga
Bagian yang paling tidak terduga ada pada lamanya tidur siang. Secara keseluruhan, 17,1 persen petani biasa tidur siang 30 menit atau lebih. Pada golongan risiko panas tinggi di Iowa, kebiasaan tidur siang panjang itu sekitar 14 persen lebih jarang daripada pada golongan risiko rendah, dan angkanya bertahan di kisaran 11 persen untuk rata-rata lima dan tujuh hari. Di North Carolina, penurunan sekitar 5 persen terlihat pada rata-rata lima hari.
Mekanisme yang sama yang mendorong orang merebahkan diri rupanya juga yang membangunkannya. Tekanan panas yang meningkat, menurut naskah, menghambat pelepasan panas dari tubuh, mengurangi pendinginan suhu inti, dan memperpanjang waktu terjaga. Satu riset lain yang dirujuk menyebut pengaruh panas terkumpul pada bagian awal siklus tidur, sehingga orang lebih sulit terlelap. Tubuh yang butuh istirahat itu, dengan kata lain, tidak mendapat kondisi untuk tidur lama.
Para peneliti merumuskannya dalam satu kalimat. “Paparan tekanan panas mungkin mendorong petani untuk tidur siang, tetapi lama tidur siang itu belum tentu bertambah,” tulis Wensu Zhou dan lima rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menambahkan bahwa gabungan pengamatan tersebut mengisyaratkan tidur siang yang lebih singkat dan mungkin lebih buruk mutunya, bukan sekadar lebih sering.
Usia tidak mengubah arah temuan
Sejak awal, para peneliti menduga pola ini akan lebih kuat pada petani yang lebih tua. Alasannya, kemampuan tubuh mengatur suhu menurun seiring usia, dan penyakit penyerta lebih sering hadir. Dugaan itu tidak terbukti. Ketika petani dibelah menjadi kelompok di bawah 60 tahun dan 60 tahun ke atas, kaitan antara panas dan tidur tidak berbeda secara berarti di kedua negara bagian.
Naskah menawarkan dua kemungkinan sebabnya. Sebagian peserta yang lebih tua, misalnya yang berusia di atas 70 tahun, tidak masuk ke dalam analisis, sehingga mereka yang tersisa boleh jadi lebih mampu menyesuaikan diri dengan panas daripada rekan sebayanya yang lebih rentan. Selain itu, jumlah peserta per kelompok usia di North Carolina relatif kecil. Para penulis menyatakan temuan ini masih perlu diselidiki lagi.
Baca juga Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China
Di mana penjelasan ini berhenti
Semua kaitan tadi kecil, dan para penulis sendiri menyebutnya lemah. Data tidur dan data panas diambil pada satu kurun yang sama, bukan diikuti dari waktu ke waktu, sehingga tidak bisa dipastikan bahwa panas yang menyebabkan perubahan tidur. Keterbatasan itu ditulis terang dalam kesimpulan: “Namun, rancangan potong lintang penelitian ini tidak memungkinkan penarikan kesimpulan sebab-akibat,” tulis mereka.
Ada pula batas pada alat ukurnya. Tidur dinilai dari jawaban petani atas beberapa pertanyaan, bukan dari alat perekam, dan pertanyaan itu tidak menunjuk hari tertentu, sehingga bisa saja tidak sejajar dengan hari-hari panas yang dihitung. Data cuaca berasal dari petak selebar 32 kilometer yang dicocokkan dengan alamat rumah. Jam kerja, pemakaian penyejuk udara, dan kebiasaan minum air es tidak tercatat, padahal semuanya bisa memengaruhi hasil.
Satu pertanyaan penting juga dibiarkan terbuka. Data yang ada, menurut para peneliti, tidak dapat menentukan apakah tidur siang merupakan akibat langsung dari tidur malam yang kurang. Mereka juga belum memisahkan panas siang dari panas malam, padahal keduanya dapat memengaruhi tidur. Petani perempuan tidak ikut dianalisis karena jumlahnya terlalu sedikit, sehingga seluruh pola di atas hanya berlaku bagi petani laki-laki di dua negara bagian itu.
Angka dalam naskah yang patut dicocokkan pembaca
Ada beberapa hal di naskah yang bisa diperiksa sendiri. Abstrak dan kesimpulan menyatakan risiko panas tinggi berkaitan dengan tidur siang yang lebih singkat di kedua negara bagian. Tabel hasilnya menunjukkan kaitan itu konsisten di Iowa, sedangkan di North Carolina hanya rata-rata lima hari yang menyentuh batas kemaknaan. Golongan risiko tinggi di Iowa juga sangat kecil, hanya 21 orang pada rata-rata dua hari dan empat orang pada rata-rata tujuh hari.
Tabel karakteristik peserta memuat kejanggalan lain. Petani dengan tidur siang 30 menit atau lebih berjumlah 1.401 orang dan yang kurang dari 30 menit 6.802 orang, sehingga totalnya 8.203, padahal pertanyaan lama tidur siang hanya diajukan kepada 3.660 petani yang memang tidur siang. Pengelompokan usia di tabel itu pun meloncat dari di bawah 50 tahun ke 51 sampai 60 tahun, sehingga usia tepat 50 tahun tidak punya tempat.
Maka dugaan di awal tadi tidak sepenuhnya keliru, hanya kurang lengkap. Terik memang membuat tubuh petani meminta istirahat, dan di North Carolina permintaan itu terlihat sebagai tidur siang yang lebih sering. Akan tetapi, panas yang sama menahan tubuh agar tidak cepat mendingin, sehingga istirahat itu lebih singkat dan, di Iowa, tidur malam ikut memendek. Lelah karena panas, dalam data ini, tidak dibayar dengan tidur yang lebih panjang.















