Pengojek Kamerun Mau Pakai Rompi Pemantul, Lampu Motor Tetap Mati

A A

Ilustrasi kerumunan pengendara motor pada jam sibuk di Ndokoti, Douala, Kamerun [Foto: The Taxi Photographer/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Edukasi yang diuji di Limbe tidak berhenti pada satu ceramah.
  • Namun, alat yang murah tidak dengan sendirinya dipakai.
  • Dengan kata lain, apa yang diketahui dan diyakini para pengojek berubah nyata, sedangkan apa yang mereka akui kerjakan sehari-hari belum tentu mengikuti.
  • Pendekatan berlapis semacam itu, menurut mereka, lebih mungkin menghasilkan perbaikan yang bertahan lama.
Daftar Isi
  1. Terlihat sebagai soal hidup dan mati
  2. Pesan yang datang setiap pekan
  3. Kepala yang berubah lebih dulu
  4. Satu rompi, lima alat yang tertinggal
  5. Di luar jangkauan sebuah penyuluhan
  6. Batas yang diakui dan yang janggal

Orang yang tahu bahaya akan menjauhinya, begitulah keyakinan yang menopang hampir setiap penyuluhan keselamatan, seakan-akan jarak antara mengerti dan berbuat hanya selebar satu pertemuan di balai warga. Namun, di dua kota pesisir di Kamerun, para pengojek motor yang sudah diajari berbulan-bulan tentang pentingnya terlihat di jalan memang menjadi lebih paham dan lebih setuju, tetapi yang benar-benar berubah pada diri mereka hanyalah satu benda yang paling mudah dikenakan, yakni rompi pemantul cahaya, sedangkan lampu-lampu di motor mereka tetap seperti sediakala.

Temuan itu dilaporkan Chrisantus Eweh Ukah dari University of Buea, Kamerun, bersama sebelas rekannya dari kampus yang sama, University of California Berkeley, dan University of California Los Angeles, dalam artikel Impact of a health education intervention on knowledge, attitudes, and use of visibility materials among commercial motorcycle riders: a quasi-experimental study in Cameroon, yang diterima jurnal BMC Public Health pada 2026 dan belum diberi nomor volume. Mereka mengikuti 249 pengojek di Distrik Kesehatan Limbe dan Tiko selama delapan bulan, dan hanya pengojek Limbe yang menerima edukasi.

Ojek motor, yang di Kamerun lazim disebut okada, digambarkan naskah itu sebagai angkutan yang tidak tergantikan, karena murah dan mudah dijangkau di kawasan kota dan pinggiran kota yang angkutan umumnya belum memadai. Di South-West Region, tempat Limbe dan Tiko berada, ketergantungan itu bahkan disebut bertambah akibat ketidakstabilan sosial-politik yang berkepanjangan dan ekonomi yang terganggu, sementara para pengojeknya bekerja di jalan yang padat dan miskin penerangan.

Terlihat sebagai soal hidup dan mati

Di jalan semacam itulah, menurut para penulis, perkara terlihat menjadi perkara keselamatan. Motor lebih kecil dan kurang menonjol dibandingkan kendaraan besar, sehingga pengguna jalan lain kerap gagal menangkap kehadirannya pada waktunya, terutama pada malam hari, saat fajar dan senja, atau ketika cuaca buruk. Rompi pemantul, stiker pemantul yang ditempel di badan motor, serta lampu depan, lampu belakang, lampu rem, dan lampu sein yang berfungsi disebut naskah sebagai cara murah untuk menambah jarak pandang dan waktu bagi orang lain untuk bereaksi.

Namun, alat yang murah tidak dengan sendirinya dipakai. Riset terdahulu di Kamerun yang dirujuk para penulis mendapati bahwa kira-kira separuh pengojek mengaku memakai rompi pemantul, hanya sebagian kecil yang memasang stiker pemantul di motornya, dan kurang dari satu di antara sepuluh orang yang praktik keselamatannya tergolong baik. Dari sana mereka menarik dugaan yang kelak diuji oleh hasil mereka sendiri, bahwa menyediakan alat saja tidak akan mengubah perilaku apabila hal-hal yang menentukan perilaku itu tidak ikut disentuh.

Angka yang lebih besar berdiri di belakang kekhawatiran tersebut. Cedera lalu lintas, tulis naskah, merenggut kira-kira 1,19 juta nyawa setiap tahun di seluruh dunia, dan pengendara motor termasuk yang paling rentan karena kendaraannya nyaris tidak memberi perlindungan fisik. Di Kamerun sendiri, motor disebut menyumbang bagian yang besar dari kecelakaan dan pasien trauma, khususnya di antara orang dewasa muda yang sedang produktif.

Baca juga Chiang Mai Buang Tahun Pandemi, Ramalan Kecelakaan Malah Meleset

Pesan yang datang setiap pekan

Edukasi yang diuji di Limbe tidak berhenti pada satu ceramah. Para pengojek dikumpulkan tiga kali dalam pertemuan tatap muka yang berjarak dua bulan, tempat mereka berdiskusi, melihat peragaan cara memakai rompi pemantul dan merawat lampu motor, serta meluruskan salah paham tentang manfaat terlihat di jalan. Di antara pertemuan itu, setiap pekan mereka menerima pesan pengingat yang disesuaikan dengan kemampuan baca dan jenis ponselnya, lewat WhatsApp, pesan singkat, atau panggilan telepon.

Isi pesan itu pun disusun dari keluhan para pengojek sendiri. Sebelum program berjalan, para penulis berbincang dengan kelompok pengojek, pengurus serikat ojek, seorang polisi lalu lintas, seorang tenaga kesehatan, dan pejabat perhubungan, lalu menemukan tiga penghalang utama, yakni rendahnya rasa terancam oleh kecelakaan, salah paham tentang bahan pemantul, dan lemahnya kebiasaan bersama yang mendukung pemakaian alat itu. Ketiganya kemudian dijadikan sasaran.

Peserta program itu seluruhnya laki-laki, dengan usia rata-rata 33,4 tahun di Limbe dan 32,0 tahun di Tiko. Dari 183 pengojek Limbe dan 130 pengojek Tiko yang bersedia ikut, sebanyak 149 dan 100 orang bertahan sampai pengukuran terakhir. Pengojek Tiko, yang tidak menerima edukasi apa pun selama masa itu, baru ditawari pesan-pesan yang sama sesudah seluruh pengukuran selesai, selama dua bulan.

Yang berubah sesudah delapan bulanPerubahan skor pengetahuan, sikap, dan praktik pengojek di Limbe yang diberi edukasi dan di Tiko yang tidak.Yang berubah sesudah delapan bulanSelisih skor rata-rata pengojek, akhir dikurangi awalLimbeTiko+1,75+0,07Pengetahuan+5,60+0,17Sikap+0,36-0,13PraktikLimbe menerima edukasi, Tiko tidak. Perubahan di Tiko tidak bermaknasecara statistik.
Sumber: Chrisantus Eweh Ukah dkk., Impact of a health education intervention on knowledge, attitudes, and use of visibility materials among commercial motorcycle riders: a quasi-experimental study in Cameroon, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kepala yang berubah lebih dulu

Hasil pertamanya nyaris sesuai harapan. Di Limbe, skor pengetahuan para pengojek tentang alat agar terlihat naik rata-rata 1,75 poin, skor sikap naik 5,60 poin, dan skor praktik naik 0,36 poin, dan ketiganya bermakna secara statistik. Di Tiko, pada masa yang sama, pengetahuan hanya bergeser 0,07 poin, sikap 0,17 poin, dan praktik malah turun 0,13 poin, tanpa satu pun yang bermakna.

Justru ketika kedua distrik itu dihadapkan secara langsung, gambarnya mulai retak. Sesudah perubahan di Tiko dikurangkan dari perubahan di Limbe, edukasi tetap berkaitan dengan kenaikan pengetahuan sebesar 1,68 poin dan sikap sebesar 5,51 poin, tetapi kenaikan skor praktik sebesar 0,34 poin tidak lagi dapat dibedakan dari kebetulan. Dengan kata lain, apa yang diketahui dan diyakini para pengojek berubah nyata, sedangkan apa yang mereka akui kerjakan sehari-hari belum tentu mengikuti.

Di situlah persoalannya, dan para penulis menyebutnya terus terang. Menurut mereka, hasil itu menggambarkan sebuah asas penting dalam ilmu perubahan perilaku, yaitu bahwa membaiknya pengetahuan dan sikap tidak serta-merta menjelma menjadi kesediaan menjalankan semua perilaku yang dianjurkan. Edukasi, tulis mereka, memang sanggup memengaruhi cara orang menimbang bahaya, tetapi mengubah timbangan itu menjadi kebiasaan memakai sejumlah alat mungkin memerlukan campur tangan lain yang bersifat struktural dan menyangkut kebijakan.

Baca juga Praktik Cegah Mpox Tinggi di Sarawak, Pengetahuan Tertinggal

Satu rompi, lima alat yang tertinggal

Dari enam alat yang diperiksa langsung oleh petugas pada badan pengojek dan motornya, hanya satu yang tetap berkaitan dengan edukasi sesudah Limbe dibandingkan dengan Tiko, yaitu rompi pemantul. Peluang seorang pengojek Limbe mengenakannya naik dengan rasio odds 4,34, dengan rentang kepercayaan 1,88 sampai 10,02. Untuk stiker pemantul, lampu depan, lampu belakang, lampu rem, dan lampu sein, tidak ditemukan pengaruh yang bermakna, padahal semuanya dibahas dalam pertemuan yang sama dan pesan yang sama.

Namun, gambaran itu sedikit berbeda bila Limbe dilihat sendirian. Di dalam distrik itu, pemakaian lampu belakang, lampu rem, dan lampu sein yang berfungsi tercatat naik secara bermakna, lampu depan berada tepat di ambang batas, dan hanya stiker pemantul yang sama sekali tidak bergerak. Kenaikan tersebut menghilang ketika dihadapkan dengan perubahan di Tiko, sehingga para penulis tidak menganggapnya sebagai hasil edukasi, dan hanya rompi yang mereka sebut sebagai perilaku yang benar-benar terangkat oleh program.

Mengapa rompi, para penulis menjawabnya dengan alasan yang sederhana: benda itu relatif murah, mudah dibawa, dan dapat dipakai tanpa mengubah apa pun pada motor. Lampu dan stiker menuntut hal lain, sebab para pengojek sejak awal sudah menyebut keterbatasan uang, sulitnya memperoleh suku cadang pengganti yang bermutu, lemahnya penegakan aturan, dan repotnya merawat motor sebagai penghalang. “Hambatan-hambatan ini sebagian besar bersifat struktural dan mungkin tidak dapat diatasi lewat edukasi saja,” tulis Chrisantus Eweh Ukah dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Edukasi yang berhenti di rompiDari 249 pengojek, edukasi delapan bulan menaikkan pemakaian rompi pemantul tetapi tidak lima alat lain.Edukasi yang berhenti di rompiPengojek motor di Limbe dan Tiko, Kamerun249Pengojekbertahan sampaiakhir8Bulanmasa edukasi4,34Rasio oddsmemakai rompipemantul5Alat laintanpa pengaruhbermaknaJalan risetnyaTiga sesi tatap mukaPesan tiap pekanDibanding TikoAlat lain: stiker pemantul, lampu depan, lampu belakang, lampu rem,lampu sein.
Sumber: Chrisantus Eweh Ukah dkk., Impact of a health education intervention on knowledge, attitudes, and use of visibility materials among commercial motorcycle riders: a quasi-experimental study in Cameroon, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Di luar jangkauan sebuah penyuluhan

Kalimat itu membelokkan arah naskah, dari keyakinan pada penyuluhan menuju pengakuan atas batasnya. Para penulis tetap menganggap edukasi perlu untuk menumbuhkan kesadaran dan kemauan, tetapi mereka meminta agar ia didampingi langkah lain, yakni penegakan aturan tentang alat agar terlihat, ketersediaan perlengkapan yang terjangkau, serta kerja sama dengan serikat ojek dan bengkel supaya perawatan lampu menjadi lebih mudah. Pendekatan berlapis semacam itu, menurut mereka, lebih mungkin menghasilkan perbaikan yang bertahan lama.

Rompi sendiri tidak mereka pandang sebagai hasil yang remeh. Dalam kerangka pencegahan cedera yang mereka rujuk, pakaian pemantul tergolong tindakan sebelum kejadian, sebab ia bekerja dengan membuat pengendara lebih mudah terlihat sebelum tabrakan sempat terjadi. Naskah itu juga menempatkan dirinya di wilayah yang selama ini jarang digarap, karena program keselamatan pengendara motor di Afrika sub-Sahara lebih banyak menyoroti helm, surat izin, dan kepatuhan pada aturan lalu lintas daripada perkara seberapa terlihat seorang pengendara di jalan.

Baca juga Pengetahuan Diabetes Turunkan Gejala Neuropati Pasien

Batas yang diakui dan yang janggal

Para penulis mencatat sendiri empat keterbatasan. Kedua distrik tidak ditentukan secara acak, melainkan dipilih atas pertimbangan administratif, sehingga kesimpulan sebab-akibatnya tidak sekuat uji acak terkendali. Sebagian ukuran praktik bersandar pada pengakuan pengojek, yang dapat dipengaruhi ingatan atau keinginan tampak baik. Pengamatan hanya berlangsung delapan bulan, sehingga belum diketahui apakah perubahan itu bertahan sesudah program selesai, dan karena kedua distrik berada di satu wilayah Kamerun, hasilnya belum tentu berlaku di tempat dengan jalan dan aturan yang berbeda.

Beberapa hal dalam naskah juga dapat diperiksa sendiri oleh pembaca. Tabel pemakaian alat di Limbe memuat deretan persentase awal dan akhir yang hampir seluruhnya sama dengan tabel untuk Tiko, dan kolom perubahannya tidak cocok dengan selisih kedua angka di sebelahnya. Satu tabel berjudul belum disesuaikan, sedangkan catatan kakinya menyebut semua model sudah disesuaikan. Seluruh pengojek berusia di atas 50 tahun hilang dari pemantauan di kedua distrik, dan satu nama tercantum dalam daftar kontribusi tetapi tidak dalam daftar penulis.

Yang tertinggal adalah sebuah jarak yang oleh penelitian ini diukur tetapi belum dijembatani, yaitu jarak antara pengojek yang kini mengerti mengapa ia harus terlihat dan motor yang lampunya belum juga menyala. Rompi menutup sebagian jarak itu karena ia cukup dikenakan, sedangkan lampu menuntut uang, suku cadang, dan bengkel yang berada di luar jangkauan sebuah penyuluhan. Bila pengetahuan sudah sampai di kepala para pengojek Limbe tetapi berhenti di bahu mereka, siapakah yang semestinya menyalakan lampu di belakangnya?

Bagikan

Baca Juga

PR dan Les Murid Guangzhou Berkurang Sebentar lalu Naik Lagi
Lansia Ghana yang Terjerat Biaya Berobat Lebih Kerap Kurang Makan
Gigi Goyang dan Gusi Nyeri Menandai Risiko Stroke Lebih Tinggi
Jam Tangan Pintar Dipercaya Warga Saudi Menjaga Irama Jantung
Istri Jepang Tertekan Saat Suami Minum Berat, Juga Saat Tak Minum
Koas Dokter Gigi UGM Tak Lagi Tanggung Sendiri Biaya Pasien