Remaja Tiongkok Tenang bila Harapan Sekolah Seirama Orang Tua

A A

Ilustrasi ruang kelas kosong dengan deret meja dan bangku kayu di Hubei, Tiongkok [Foto: Pexels]

  • Begitu jarak melebar, ke arah mana pun, skor kesehatan mental menurun.
  • Sebanyak 19.487 siswa masuk hitungan, 51,4 persen di antaranya laki-laki dan 43,4 persen anak tunggal.
  • Puncak bukit itu jatuh pada selisih minus 0,690.
  • Makin tinggi kendali, makin tajam lengkung pada ketiga jalur keluarga tadi.
  • Datanya dipotret pada satu waktu, sehingga tidak bisa dipastikan mana yang lebih dulu: selisih harapan atau suasana jiwa yang murung.
Daftar Isi
  1. Dari Yamamoto hingga Leung: Dua Kubu soal Harapan Orang Tua
  2. Rutherford 2015 dan Pertanyaan yang Tertinggal
  3. Tahun Ajaran 2013–2014: Hampir Dua Puluh Ribu Siswa
  4. Temuan Wang dkk.: Puncak Bukit Sedikit di Sisi Anak
  5. Tiga Jalur di Dalam Rumah menurut Wang dkk.
  6. Kendali Orang Tua dalam Hitungan Wang dkk.
  7. Batas dan Kejanggalan Naskah 2026

Pendidikan sudah lama dipandang keluarga di Tiongkok sebagai jalan utama untuk naik tangga sosial, sehingga harapan orang tua atas sekolah anak menempati pusat pengasuhan. Belakangan keadaannya bergeser. Wajib belajar meluas, pendidikan menengah bertambah besar, persaingan berubah cepat, dan para remaja mulai punya penilaian sendiri tentang sejauh mana mereka ingin bersekolah. Harapan anak pun tumbuh menjadi hal yang berdiri sendiri, tidak selalu sama dengan harapan ayah dan ibunya.

Jarak di antara dua harapan itulah yang ditelaah Yongxiang Wang, Shiqian Wang, Xinyi Ling, Wenjie Wang, Weiqi Chen, Zeyang Wu, dan Daili Wu dalam artikel Intergenerational educational expectation discrepancies and adolescent mental health: evidence from China. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulisnya berasal dari Wenzhou Medical University dan Huzhou University di Provinsi Zhejiang serta Dongshin University di Republik Korea, dan mereka menulis tanpa pendanaan dari luar.

Jawaban mereka ringkas: remaja paling sehat jiwanya ketika harapan pendidikannya nyaris sama dengan harapan orang tua yang ia rasakan, dengan harapan si anak sedikit lebih tinggi. Begitu jarak melebar, ke arah mana pun, skor kesehatan mental menurun. Gambarannya seperti bukit: naik menuju satu puncak, lalu turun di kedua lerengnya. Dalam naskah, bentuk itu disebut hubungan U terbalik.

Dari Yamamoto hingga Leung: Dua Kubu soal Harapan Orang Tua

Selama ini pembahasan tentang harapan orang tua, menurut Wang dan rekan-rekannya, berjalan di dua jalur. Jalur pertama menekankan daya dorongnya. Yamamoto dan Holloway pada 2010 menjadi rujukan untuk pandangan bahwa harapan orang tua menguatkan motivasi belajar dan cita-cita anak, sedangkan telaah gabungan Fan dan Chen pada 2001 dipakai sebagai dasar bahwa harapan tinggi dapat mengangkat prestasi akademik.

Jalur kedua menyoroti sisi gelapnya. Harapan yang berlebihan dikaitkan dengan tekanan yang menumpuk, turunnya keyakinan diri, dan kecemasan. Wang dkk. merujuk Leung dan Shek, yang pada 2014 menulis tentang keluarga miskin Tionghoa, untuk risiko cemas dan depresi, serta Chen dan Wong, yang pada 2015 menulis tentang siswa Hong Kong, untuk pemberontakan dan kejenuhan belajar. Dua jalur itu tampak saling menyangkal.

Keduanya, tulis para penulis, punya kelemahan yang sama: harapan orang tua diperlakukan sebagai kekuatan satu arah yang turun dari atas. Padahal anak ikut membentuk makna lewat harapannya sendiri. Karena itu selisih antara keduanya dianggap lebih mampu menjelaskan keadaan batin remaja daripada salah satu harapan saja. Dari titik inilah naskah tahun 2026 itu berangkat.

Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet

Rutherford 2015 dan Pertanyaan yang Tertinggal

Sudah ada yang lebih dulu melihat ke arah selisih itu. Rutherford pada 2015 menemukan bahwa beda harapan pendidikan orang tua dan anak berkaitan dengan tekanan emosional remaja. Namun, menurut Wang dkk., telaah tersebut tidak membedakan besar kecilnya selisih dan belum membuka mekanisme psikologis di baliknya. Pertanyaan yang lebih mendasar juga belum dijawab, yakni apakah pengaruh selisih itu berjalan lurus atau melengkung.

Dugaan melengkung punya pijakan. Riset tentang motivasi dan tekanan belajar, dengan Putwain dan Symes 2018 sebagai rujukan, menunjukkan tekanan akademik kerap berbentuk U terbalik. Pandangan lama yang garisnya lurus, antara lain Hao dan Bonstead-Bruns pada 1998, cenderung menganggap kesamaan penuh sebagai keadaan terbaik. Wang dkk. menduga sebaliknya: sedikit jarak, terutama ketika anak berharap sedikit lebih tinggi, justru memberi ruang gerak.

Kerangka yang mereka pakai berasal dari Burke dan Stets, yang pada 2009 merumuskan bahwa orang terus membandingkan ukuran dirinya dengan penilaian orang-orang penting di sekitarnya. Bila keduanya cocok, emosi lebih stabil. Bila tidak, muncul cemas, tertekan, menghindar, atau melawan. Itu sebabnya yang diukur bukan harapan orang tua yang tak terucap, melainkan harapan orang tua sebagaimana dirasakan si remaja.

Tahun Ajaran 2013–2014: Hampir Dua Puluh Ribu Siswa

Bahan ujinya adalah China Education Panel Survey, survei nasional yang digelar National Survey Research Center di Renmin University of China. Gelombang dasarnya berlangsung pada tahun ajaran 2013–2014 dan menyasar siswa kelas tujuh dan sembilan di 438 kelas, 112 sekolah, dan 28 wilayah setingkat kabupaten. Sebanyak 19.487 siswa masuk hitungan, 51,4 persen di antaranya laki-laki dan 43,4 persen anak tunggal.

Setiap siswa ditanya dua hal: jenjang pendidikan yang diharapkan orang tuanya dan jenjang yang ia sendiri inginkan. Jawabannya diberi angka nol sampai tujuh, dari tidak peduli hingga gelar doktor, dengan sarjana di angka lima. Harapan diri lalu dikurangkan dari harapan orang tua. Hasilnya bisa minus tujuh sampai tujuh; angka minus berarti si anak berharap lebih tinggi daripada orang tuanya.

Rata-rata selisih itu minus 0,187. Artinya, bagi sebagian besar siswa, harapan kedua pihak hampir sama, dengan harapan remaja rata-rata sedikit lebih tinggi. Kesehatan mental diukur dari lima pertanyaan tentang perasaan murung atau cemas selama sepekan terakhir, lalu dibalik sehingga skor lebih tinggi berarti lebih sehat. Dari rentang 5 sampai 25, rata-ratanya 19,591.

Harapan sekolah anak dan orang tuaHarapan sekolah anak dan orang tuaHarapan sekolah anak dan orang tuaData China Education Panel Survey tahun ajaran 2013-201419.487siswa SMPkelas 7 dan 9112sekolah438 kelas19,591skor rata-ratarentang 5-25-0,187selisihrata-rataskala -7 s.d. 7Jalan risetnyaHarapan orang tua dananakSelisih keduanyaKesehatan mentalSelisih minus berarti harapan anak lebih tinggi daripada harapan orangtua.
Sumber: Yongxiang Wang, Shiqian Wang, Xinyi Ling, Wenjie Wang, Weiqi Chen, Zeyang Wu, dan Daili Wu, Intergenerational educational expectation discrepancies and adolescent mental health: evidence from China, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Temuan Wang dkk.: Puncak Bukit Sedikit di Sisi Anak

Puncak bukit itu jatuh pada selisih minus 0,690. Dengan kata lain, skor kesehatan mental tertinggi muncul ketika harapan remaja lebih tinggi kurang dari satu jenjang daripada harapan orang tua yang ia rasakan. Di sebelah kiri puncak garisnya menanjak, di sebelah kanan menurun, dan kedua kemiringan itu sama-sama nyata secara statistik. Hipotesis pertama Wang dkk. pun terpenuhi.

Arti lereng kiri dan kanan dijelaskan penulis lewat dua keadaan. Ketika harapan anak jauh melampaui orang tuanya, ia membaca pesan bahwa keluarganya tidak percaya ia mampu, lalu merasa diremehkan dan sendirian. Ketika harapan orang tua jauh melampaui anak, yang datang adalah tekanan, pengawasan, dan perbandingan. Untuk kedua gambaran ini naskah bersandar pada Luthar, Kumar, dan Zillmer tahun 2020.

Di sinilah Wang dkk. mengambil jarak dari kedua kubu terdahulu. “Harapan orang tua bukan ‘semakin tinggi semakin baik’ dan bukan pula ‘semakin tinggi semakin buruk’, melainkan ada rentang keselarasan yang optimal,” tulis Yongxiang Wang, peneliti Wenzhou Medical University, bersama rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Menurut mereka, bentuk bukit itu mendamaikan kesimpulan positif dan negatif yang selama ini bertentangan.

Mereka lalu menguji ulang dengan cara lain, yakni memasukkan dua harapan itu secara terpisah. Hasilnya searah. Bila harapan orang tua dan anak sama, kesehatan mental naik seiring makin tingginya jenjang yang diharapkan bersama. Bila keduanya berseberangan, kesehatan mental turun makin dalam seiring melebarnya jarak, dan tidak ada beda nyata antara orang tua yang berharap lebih tinggi dan anak yang berharap lebih tinggi.

“Besarnya selisih, bukan arahnya, yang memengaruhi kesehatan mental: selisih yang lebih besar sejalan dengan kesejahteraan jiwa yang lebih buruk,” tulis mereka. Di bagian ini ada nuansa yang perlu dicatat. Model pertama menaruh puncak sedikit di sisi anak yang berharap lebih tinggi, sedangkan uji kedua menyatakan arah tidak menentukan. Naskah menyajikan keduanya sebagai hasil yang saling menguatkan.

Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma

Tiga Jalur di Dalam Rumah menurut Wang dkk.

Bagaimana selisih harapan sampai ke suasana hati? Wang dkk. menelusuri tiga jalur di dalam keluarga: konflik, kebersamaan, dan keyakinan orang tua pada masa depan anak. Konflik diukur dari seberapa renggang hubungan dengan ayah dan ibu. Kebersamaan dihitung dari seringnya makan malam bersama, mengunjungi museum, kebun binatang, atau pusat sains, serta menonton film, pertunjukan, atau pertandingan olahraga bersama.

Ketiganya mengikuti pola yang sama. Konflik paling rendah pada selisih minus 0,234, kebersamaan paling tinggi pada minus 0,367, dan keyakinan orang tua memuncak pada minus 0,975. Semua titik itu berada sedikit di sisi anak yang berharap lebih tinggi. Menjauh dari sana, hubungan merenggang, waktu bersama berkurang, dan keyakinan orang tua surut.

Titik terbaik: anak berharap sedikit lebih tinggiKesehatan mental tertinggi: Jenjang harapan anak di atas harapan orang tua +0,690; Konflik keluarga terendah: Jenjang harapan anak di atas harapan orang tua +0,234; Kebersamaan keluarga tertinggi: Jenjang harapan anak di atas harapan orang tua +0,367; Keyakinan orang tua tertinggi: Jenjang harapan anak di atas harapan orang tua +0,975.Titik terbaik: anak berharap sedikit lebih tinggiSelisih harapan pada titik puncak tiap ukuran, dalam jenjang0,250,500,751,000Kesehatan mental tertinggi0,690Konflik keluarga terendah0,234Kebersamaan keluarga tertinggi0,367Keyakinan orang tua tertinggi0,975Satu jenjang setara jarak dari sarjana ke magister pada skala survei.
Sumber: Yongxiang Wang, Shiqian Wang, Xinyi Ling, Wenjie Wang, Weiqi Chen, Zeyang Wu, dan Daili Wu, Intergenerational educational expectation discrepancies and adolescent mental health: evidence from China, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tiap jalur itu lalu terhubung ke kesehatan mental. Konflik keluarga berkaitan dengan skor yang lebih rendah, sedangkan kebersamaan dan keyakinan orang tua berkaitan dengan skor yang lebih tinggi. Namun ketiganya hanya menerangkan sebagian. Sesudah ketiga jalur dimasukkan bersama, pengaruh langsung selisih harapan masih tersisa dan tetap nyata, sehingga para penulis menyebutnya perantara sebagian, bukan seluruhnya.

Kendali Orang Tua dalam Hitungan Wang dkk.

Satu hal lagi ikut menentukan: seberapa ketat orang tua mengatur. Merujuk Xie, kendali dihitung dari enam urusan, yaitu pekerjaan rumah dan ujian, perilaku di sekolah, pertemanan, pakaian, penggunaan internet, dan waktu menonton televisi. Makin tinggi kendali, makin tajam lengkung pada ketiga jalur keluarga tadi. Puncaknya lebih menonjol dan lerengnya lebih curam.

Para penulis membacanya sebagai penguat kepekaan. Di rumah yang ketat, keluarga lebih mudah terguncang ketika harapan tidak bertemu; di rumah yang lebih longgar, remaja punya ruang yang meredam akibatnya. Catatannya, kekuatan bukti tidak merata. Kaitan dengan kebersamaan keluarga paling kokoh, sedangkan kaitan dengan konflik hanya lolos pada ambang yang paling longgar di tabel naskah.

Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka

Batas dan Kejanggalan Naskah 2026

Wang dkk. sendiri menuliskan batas pekerjaannya. Datanya dipotret pada satu waktu, sehingga tidak bisa dipastikan mana yang lebih dulu: selisih harapan atau suasana jiwa yang murung. Sampelnya berada dalam budaya Tiongkok yang dibentuk nilai Konfusianisme, jadi belum tentu berlaku di masyarakat yang menekankan pilihan pribadi. Seluruh ukuran utamanya juga bersumber dari jawaban siswa sendiri, dan ukuran konflik serta kebersamaan bukan skala psikologi baku.

Ada pula beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Teks menyebut usia rata-rata siswa 14 tahun, tetapi tabel deskriptifnya mencantumkan rata-rata usia 9,939 dengan rentang 0 sampai 22. Tiga nilai p yang ditulis di teks untuk uji ulang, yaitu 0,013, 0,012, dan 0,011, sama dengan angka galat baku di tabel, sementara kolom p tabel itu memuat nilai lain.

Soal ukuran, bagian awal menyebut kelima pertanyaan memotret perasaan murung atau cemas, sedangkan bagian keterbatasan menyatakan pengukuran itu terutama menangkap gejala depresi dan tidak mencakup kecemasan. Tabel model utama juga mencantumkan R kuadrat tersesuaikan 0,031. Catatan-catatan itu menyangkut ketelitian penyajian, dan layak dibawa ketika membaca angka-angkanya.

Dalam rantai yang bermula dari keyakinan bahwa harapan tinggi selalu mendorong, lalu berbelok ke peringatan tentang harapan yang menekan, naskah Wang dkk. menambah satu mata rantai: yang dihitung adalah jarak, bukan tinggi. Mata rantai berikutnya sudah mereka sebut sendiri, yakni data yang mengikuti siswa yang sama dari waktu ke waktu dan perbandingan lintas budaya. Sampai itu tersedia, bukit dengan puncak sedikit di sisi anak tetap berupa potret satu tahun ajaran.

Bagikan

Baca Juga

Pengojek Kamerun Mau Pakai Rompi Pemantul, Lampu Motor Tetap Mati
PR dan Les Murid Guangzhou Berkurang Sebentar lalu Naik Lagi
Lansia Ghana yang Terjerat Biaya Berobat Lebih Kerap Kurang Makan
Gigi Goyang dan Gusi Nyeri Menandai Risiko Stroke Lebih Tinggi
Jam Tangan Pintar Dipercaya Warga Saudi Menjaga Irama Jantung
Istri Jepang Tertekan Saat Suami Minum Berat, Juga Saat Tak Minum