Delapan Menlu di Istanbul Peringatkan AS Tak Lagi Serang Iran

A A

Menlu Jerman Johann Wadephul, Menlu Inggris Ed Miliband, dan Menlu Italia Antonio Tajani dalam pertemuan di Istanbul, Turki, 23 Oktober 2026. [Foto: Murad Sezer/Reuters via Al Jazeera]

  • Menteri luar negeri delapan negara memperingatkan AS agar tidak kembali menyerang Iran.
  • Menlu Turki Hakan Fidan menyebut diplomasi dan dialog satu-satunya jalan untuk mengakhiri perang.
  • Dubes AS untuk Turki Tom Barrack menyebut Washington bisa menyerang Iran akhir pekan ini.

Cekricek.id — Menteri luar negeri dari delapan negara memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melancarkan serangan ke Iran lagi, usai bertemu di Turki untuk membahas Selat Hormuz dan perkembangan kawasan.

Para menteri dari Inggris, Prancis, dan Jerman, yang dikenal sebagai E3, bertemu dengan mitranya dari kelompok R4, yakni Turki, Arab Saudi, Pakistan, dan Mesir, ditambah Italia, di Istanbul, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Jumat (23/10/2026).

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan tak satu pun negara peserta menyetujui intervensi militer atau serangan lain terhadap Iran. Menurut dia, langkah itu hanya akan memperburuk ketegangan dan memperluas konflik, sementara diplomasi dan dialog menjadi satu-satunya jalan untuk mengakhiri perang.

Eskalasi lanjutan antara Iran dan AS “tidak akan menghasilkan apa pun selain pihak yang kalah dan pasti berdampak sangat serius pada harga hidrokarbon,” kata Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot kepada wartawan.

“Karena itu, hal pertama yang akan dilakukan kelompok delapan negara ini adalah menyerukan kedua pihak menahan diri sepenuhnya, karena kita tidak sanggup menanggung eskalasi lagi di kawasan,” ujar Barrot.

Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mengatakan tujuannya adalah “deeskalasi demi menjamin kebebasan navigasi.” “Saya tidak percaya masalah ini bisa diselesaikan murni dari sudut pandang militer,” katanya. Menurut Tajani, dialog harus didorong agar Selat Hormuz kembali dibuka.

Peringatan itu muncul saat Duta Besar AS untuk Turki Tom Barrack mengatakan Washington “tentu saja” bisa menyerang Iran akhir pekan ini. Kepada pembawa siniar di X Mario Nawfal, Barrack mengatakan Presiden Donald Trump terbuka untuk kesepakatan, tetapi juga sangat jelas soal apa yang diinginkannya. Menurut Barrack, aksi militer AS tidak akan bertujuan mengganti rezim.

Para menteri R4 dalam pernyataan bersama menyebut pendudukan Israel “merupakan sumber utama ketidakstabilan di kawasan dan di luarnya.” Mereka juga mengecam keras eskalasi milisi Houthi, menyatakan solidaritas penuh dengan Arab Saudi dan pemerintah Yaman yang diakui internasional, serta meminta Houthi menghentikan semua aksi militer.

Houthi yang didukung Iran memerangi pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan telah melancarkan serangkaian serangan mematikan ke kerajaan itu.

“Kami tidak mengetahui platform lain yang mempertemukan negara-negara dengan latar geografis dan politik yang begitu berbeda,” kata Fidan tentang forum delapan negara tersebut.

Bagikan

Baca Juga

Robot Bebek Microduck Viral, 20.000 Unit Laku Jelang Natal
Topan Champi Hantam Taiwan, Satu Tewas dan 350 Orang Terluka
Pneumonia Berat di Ulaanbaatar Terkait Rokok dan Alkohol
Finlandia Beri Izin Gudang Limbah Nuklir Permanen Pertama Dunia
Ukraina Klaim Rebut Wilayah, Rusia Balas dengan Bom Tandan
Gedung Putih: Melania Trump Amankan Gencatan Senjata di Oleshky