- Garda Revolusi Iran mengumumkan peralihan ke doktrin ofensif dan asimetris.
- Juru bicara IRGC menyebut stok rudal Iran naik 1,5 kali lipat sejak perang Juni 2025.
- Harga minyak Brent naik di atas 110 dolar per barel di tengah serangan di Selat Hormuz.
Cekricek.id — Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan doktrin ofensif baru dan memperingatkan bahwa serangan AS berikutnya bisa membuat Teheran menyerbu negara tetangga serta menyerang pangkalan yang dipakai dalam operasi militer AS.
Peringatan pada Rabu (21/10/2026) itu muncul di tengah meningkatnya serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan ketidakpastian upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang berlangsung hampir delapan bulan, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Kamis (22/10/2026).
“Doktrin pertahanan kami sebelumnya defensif; dulu kami mengatakan jika sebuah negara menyerang kami, kami akan membalas. Sekarang kami mengatakan jika sebuah negara menyerang kami, kami akan membalas sekaligus melancarkan serangan,” kata Juru Bicara IRGC Hossein Mohebi.
Mohebi menyebut stok rudal Iran telah naik 1,5 kali lipat sejak perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025, tanpa merinci angkanya. “Kualitas rudal meningkat signifikan, dan jangkauan, daya hancur, serta akurasinya dalam mengenai sasaran telah bertambah,” ujarnya.
Angkatan laut IRGC menyatakan empat kapal yang dituduh terlibat transfer minyak ilegal diserang dan terbakar di Teluk utara, sementara tiga kapal lain menabrak ranjau di sebelah barat selat. Harga minyak mentah Brent naik di atas 110 dolar AS per barel pada Kamis.
“Teheran kini ingin menetapkan persamaan baru: setiap serangan di masa depan terhadap Iran akan menimbulkan biaya yang jauh lebih tinggi bagi para agresor,” kata peneliti senior Center for International Policy Negar Mortazavi.
Presiden Donald Trump pada Rabu menyatakan AS tidak lagi bernegosiasi dengan Teheran. “Kita akan mendapatkan sesuatu, dengan satu atau lain cara, yang akan terjadi cukup segera,” katanya kepada wartawan. Trump sebelumnya berjanji tidak menyerang Iran sebelum pemilu 3 November.
“Amerika Serikat tidak akan mendukung kesepakatan apa pun yang membuka jalan bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menghadapi pemilu Israel pada Selasa, kembali berjanji menggulingkan pemerintah Iran.
“Semua pihak harus tahu bahwa setiap tindakan terhadap Iran ada harganya. Jika diplomasi bisa menciptakan pemahaman ini, kami lebih memilih diplomasi, tetapi jika perang berlanjut, Iran memiliki sarana yang diperlukan untuk mempertahankan balasannya,” kata Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei.















