- Komandan CENTCOM Brad Cooper mengklaim IRGC kehabisan uang hingga tidak mampu menggaji tentaranya.
- AS mengaku telah mencegah ekspor minyak mentah Iran senilai sedikitnya 25 miliar dolar.
- Gubernur Bank Sentral Iran menyebut klaim keruntuhan ekonomi Iran hanya ilusi.
Cekricek.id — Otoritas Iran membantah negaranya tak lagi mampu menopang sekutu regionalnya setelah Amerika Serikat mengklaim IRGC kehabisan uang, meski mengakui sanksi AS dan perang telah menimbulkan tantangan keuangan.
Pekan lalu, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper mengklaim kombinasi serangan militer dan blokade laut di pelabuhan selatan Iran “telah memberikan pukulan berat” kepada negara itu, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Selasa (20/10/2026).
Menurut Cooper, AS telah mencegah ekspor minyak mentah Iran senilai sedikitnya 25 miliar dolar AS dan membantu membekukan aset kripto sekitar 350 juta dolar AS. Akibatnya, Garda Revolusi Iran (IRGC) disebut tidak mampu menggaji tentaranya.
“Tekanan finansial terhadap militer Iran sudah begitu besar sehingga ada laporan kelompok milisi yang bersekutu dengan Iran di kawasan menahan gaji tentaranya untuk menyalurkan uang kembali ke IRGC, yang juga tidak membayar pasukannya,” kata Cooper.
Kepala riset Timur Tengah dan Afrika Utara di lembaga Horizon Engage, Michael Knights, mengatakan Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman sama-sama terpukul secara finansial dalam beberapa tahun terakhir. “Ekonomi nasional yang menopang gerakan Hizbullah dan Houthi rusak parah, sehingga mereka terus menerima tunjangan dan pendanaan berupa produk bahan bakar dari Iran,” katanya.
Bank Dunia awal bulan ini memproyeksikan ekonomi Iran menyusut 7,7 persen pada tahun fiskal 2026-2027. Namun, otoritas Iran menolak penilaian Departemen Keuangan AS bahwa tekanan ekonomi bisa membuat Teheran kehilangan kendali dalam hitungan bulan.
“Meski ada semua tekanan ini, ekonomi Iran menunjukkan ketahanan yang sangat baik, dan klaim bahwa ekonomi Iran sedang runtuh tidak lebih dari ilusi,” kata Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati awal bulan ini.
Presiden Masoud Pezeshkian pada Minggu mengakui serangan militer dan blokade laut menimbulkan masalah besar, tetapi pemerintahnya mengandalkan kemampuan dalam negeri. Knights menilai Teheran “terjebak dalam siklus eskalasi agresif” dengan Washington. “Trump bertaruh bahwa Iran yang lebih miskin akan membuat rezimnya lebih lunak, tetapi itu tidak pernah menjadi taruhan yang bagus,” ujarnya.
“Tekanan ekonomi jelas membatasi sumber daya militer Iran, tetapi itu tidak berarti akan mengubah perhitungan strategis IRGC secara mendasar atau memaksa Teheran menyerah,” kata peneliti senior Center for International Policy di Washington, Negar Mortazavi, terkait perang AS dengan Iran.















