- Lebih dari empat dari lima ibu dua anak, dengan kata lain, menganggap keluarganya sudah cukup.
- Mereka yang berencana punya anak dalam setahun ke depan hanya 8,9 persen, dan yang merencanakannya dalam dua tahun 5,3 persen.
- Setelah ciri lain diperhitungkan, rencana sekolah itu tidak menunjukkan kaitan langsung dengan niat punya anak.
- Belanja bulanan rumah tangga dan status bekerja tidak terbukti bermakna.
Daftar Isi
Pertanyaan tentang menambah anak tidak hanya dijawab ya atau tidak oleh perempuan menikah di Teheran, ibu kota Iran. Di kota dengan tingkat kelahiran yang termasuk paling rendah di negeri itu, ada jawaban ketiga yang makin sering terdengar pada perempuan di bawah 36 tahun, yakni belum tahu. Sebuah survei atas 1.999 perempuan menikah berusia di bawah 45 tahun di kota itu mendapati sekitar dua dari tiga responden tidak ingin anak lagi, sementara kira-kira satu dari sembilan mengaku belum yakin.
Gambaran itu disusun Amir Erfani, Marzieh Nojomi, dan Neda SoleimanvandiAzar dalam Levels, trends, and determinants of fertility intentions in Tehran, Iran: the role of educational aspirations, life-course factors, and contextual influences, yang terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Erfani adalah profesor demografi dan sosiologi di Nipissing University, Kanada, sedangkan Nojomi, profesor kedokteran komunitas, dan SoleimanvandiAzar berasal dari Iran University of Medical Sciences di Teheran. Bahan mereka adalah survei niat punya anak tahun 2025 yang menjangkau perempuan di 22 distrik kota tersebut.
Teheran, menurut para penulis, dihuni hampir seperlima penduduk Iran dan mencatat sekitar 1,2 kelahiran per perempuan, salah satu yang terendah di negeri itu. Latar yang lebih panjang juga mereka catat: Iran bergerak dari lebih dari tujuh anak per perempuan pada pertengahan 1980-an ke bawah tingkat penggantian sejak awal 2000-an. Pergeseran itu, tulis mereka, berjalan bersama pernikahan yang tertunda, masa sekolah yang memanjang, dan ketidakpastian sosial ekonomi yang membesar, terutama di kota seperti Teheran.
Keluarga yang dianggap lengkap pada anak kedua
Dari seluruh perempuan yang ditanya, 66,8 persen menyatakan tidak ingin anak lagi, 21,9 persen masih ingin punya anak atau menambah anak, dan 11,3 persen belum yakin. Bila yang tidak ingin anak lagi dan yang belum yakin digabung sebagaimana dilakukan para penulis, 78 persen responden berniat berhenti atau masih ragu. Mereka yang berencana punya anak dalam setahun ke depan hanya 8,9 persen, dan yang merencanakannya dalam dua tahun 5,3 persen.
Angka rata-rata itu menyembunyikan jurang yang lebar antara ibu dan perempuan yang belum punya anak. Di kalangan yang belum punya anak, 61,4 persen ingin punya anak, 23,5 persen tidak ingin, dan 15 persen belum yakin. Begitu ada satu anak, yang berniat berhenti sudah 58,5 persen, lalu melonjak ke 83,5 persen pada ibu dua anak dan 88,1 persen pada ibu tiga anak atau lebih. Lebih dari empat dari lima ibu dua anak, dengan kata lain, menganggap keluarganya sudah cukup.
Niat untuk segera hamil mengikuti tangga yang sama. Sebanyak 21,6 persen perempuan yang belum punya anak ingin punya anak dalam setahun ke depan, dibanding 10,6 persen pada ibu satu anak dan di bawah 5 persen pada mereka yang sudah punya dua anak atau lebih. Para penulis menyimpulkan bahwa keinginan menambah anak sebagian besar terbatas pada perempuan tanpa anak atau dengan satu anak, sehingga pembatasan kelahiran di Teheran terjadi pada jumlah anak yang relatif rendah.
Susunan responden sendiri sudah mencerminkan pola itu. Rata-rata usia mereka 37,5 tahun, dan kelompok terbesar, 41,6 persen, punya dua anak, disusul 30,6 persen dengan satu anak, 16 persen tanpa anak, dan 11,8 persen dengan tiga anak atau lebih. Hampir tiga perempat dari mereka, tepatnya sekitar 72,2 persen, punya satu atau dua anak, yang oleh para penulis dibaca sebagai tanda bahwa sebagian besar sedang membangun keluarga atau sudah sampai pada jumlah anak yang lazim.
Baca juga Perkawinan Anak Penentu Utama Kelahiran Remaja di 34 Provinsi
Usia dan umur menikah yang menarik ke arah berlawanan
Usia menunjukkan pola paling kuat di antara semua ciri yang dibandingkan. Di bawah 30 tahun, 58,1 persen perempuan ingin punya anak dan 26,8 persen berniat berhenti, sedangkan pada kelompok 40–44 tahun yang ingin anak tinggal 9,7 persen dan yang berniat berhenti mencapai 83,4 persen. Keraguan tidak mengikuti garis lurus itu: ia memuncak pada usia 30–34 tahun, yakni 19,4 persen, lalu menyusut menjadi 6,9 persen pada kelompok tertua.
Umur saat menikah, di sisi lain, menarik ke arah sebaliknya. Di antara perempuan yang menikah sebelum usia 20 tahun, hanya 12,2 persen yang ingin anak lagi dan 79,9 persen berniat berhenti, sementara di antara yang menikah pada usia 25 tahun atau lebih, 33,6 persen masih ingin anak dan 52,3 persen berniat berhenti. Keraguan pun lebih tinggi pada yang menikah belakangan, 14,1 persen berbanding 7,9 persen pada yang menikah sebelum usia 20 tahun.
Ketika semua ciri itu diperhitungkan bersama, usia, jumlah anak, dan umur menikah tetap menjadi penentu terkuat. Setiap tambahan satu tahun usia berkaitan dengan naiknya kemungkinan berniat berhenti sebesar 22 persen, dan setiap tambahan satu anak berkaitan dengan kemungkinan berniat berhenti yang naik lebih dari tiga kali lipat. Menikah pada umur lebih tua justru berkaitan dengan kemungkinan berhenti dan kemungkinan ragu yang lebih kecil, sehingga perempuan yang menikah belakangan, tulis para penulis, tetap lebih berorientasi pada kelanjutan punya anak.
Tiga belas tahun yang menggeser peta niat
Survei serupa pernah dilakukan di Teheran pada 2012 terhadap perempuan menikah di bawah 36 tahun, sehingga para penulis dapat menyandingkan dua tahun itu pada kelompok usia yang sama. Hasilnya, perempuan yang ingin anak segera, yakni dalam satu sampai tiga tahun, naik tipis dari 28,1 persen menjadi 31,1 persen. Mereka yang ingin anak nanti atau belum menentukan waktunya turun dari 14,8 persen menjadi 12,8 persen, sehingga secara keseluruhan yang ingin anak hanya bergeser dari 42,9 persen ke 43,9 persen.
Perubahan yang lebih besar terjadi di dua ujung lainnya. Niat berhenti punya anak turun dari 44,8 persen pada 2012 menjadi 39,1 persen pada 2025, dan pada waktu yang sama perempuan yang belum yakin bertambah dari 12,3 persen menjadi 17 persen. Para penulis menyebut pergeseran itu bermakna secara statistik dan membacanya sebagai perpindahan dari niat berhenti yang tegas ke dua arah sekaligus, yaitu rencana yang lebih dekat dan kebimbangan tentang masa depan.
Para penulis tidak membaca turunnya niat berhenti itu sebagai tanda sederhana bahwa kelahiran akan naik. “Kenaikan tipis niat jangka pendek yang beriringan dengan turunnya niat berhenti menunjuk pada penataan ulang preferensi punya anak, bukan sekadar pergeseran menuju fertilitas yang lebih tinggi,” tulis Amir Erfani, Marzieh Nojomi, dan Neda SoleimanvandiAzar dalam naskah berbahasa Inggris. Sebagian perempuan, menurut mereka, memajukan rencana punya anak, sementara sebagian lain menunda keputusannya sama sekali.
Keraguan, dalam bacaan para penulis, adalah bagian tak terpisahkan dari niat punya anak. Ia terkumpul pada tahap awal perjalanan hidup dan menyusut seiring bertambahnya usia dan jumlah anak, tetapi kenaikannya dari waktu ke waktu menandakan makin sulitnya menyusun rencana yang jelas di kota yang sedang berubah. Mereka mengingatkan bahwa analisis ini tidak mengukur langsung perubahan keadaan di sekitar responden, walaupun kenaikan itu sejalan dengan penelitian lain yang mengaitkan keraguan dengan kondisi ekonomi dan kelembagaan.
Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina
Rencana sekolah yang melunakkan hitungan anak
Rencana melanjutkan sekolah ikut dibandingkan para penulis, dan hasilnya berbeda menurut ada tidaknya rencana itu. Di antara perempuan menikah yang berencana melanjutkan pendidikan dalam lima tahun ke depan, 32,2 persen ingin anak lagi, dibanding 18,6 persen pada yang tidak punya rencana itu. Yang berniat berhenti pun lebih sedikit, 57,8 persen berbanding 69,8 persen, sedangkan selisih keraguan di antara keduanya kecil, 10 persen dan 11,6 persen.
Setelah ciri lain diperhitungkan, rencana sekolah itu tidak menunjukkan kaitan langsung dengan niat punya anak. Perannya muncul lewat jalan lain, yakni melemahkan kaitan antara jumlah anak dan niat berhenti. Menurut hitungan para penulis, tambahan satu anak berkaitan dengan kemungkinan berniat berhenti sekitar 3,4 kali pada perempuan tanpa rencana sekolah, tetapi hanya sekitar 1,8 kali pada yang punya rencana itu. Untuk keraguan, kaitan yang semula sekitar 1,9 kali turun hingga mendekati satu, artinya nyaris lenyap.
Siapa perempuan yang berencana sekolah lagi itu juga dicatat. Mereka lebih banyak yang berusia muda, punya anak lebih sedikit, bekerja, tinggal di distrik berstatus lebih tinggi, dan berpendidikan lebih panjang, yang oleh para penulis disebut sebagai profil sosial ekonomi yang lebih beruntung. Tingkat pendidikan sendiri memperlihatkan arah serupa: yang ingin anak naik dari 15,7 persen pada perempuan berpendidikan paling rendah ke 31,9 persen pada lulusan magister atau lebih, meski lama sekolah tidak lagi bermakna setelah ciri lain diperhitungkan.
Agama, distrik, dan belanja rumah tangga yang diam
Seberapa penting agama dalam hidup responden semula tampak tidak membedakan apa-apa, karena selisih antarkelompoknya kecil dan tidak bermakna. Namun, sesudah usia, jumlah anak, dan ciri lain diperhitungkan, perempuan yang menilai agama sangat penting jauh lebih kecil kemungkinannya berniat berhenti punya anak dibanding yang menilainya rendah. Hal serupa, dengan kekuatan lebih lemah, terlihat pada mereka yang menilai agama penting, dan para penulis menyebutnya sejalan dengan penelitian terdahulu tentang komitmen keagamaan.
Tempat tinggal ikut berbicara. Perempuan di distrik berstatus tinggi paling banyak yang ingin anak, 28,6 persen, dan paling sedikit yang ragu, 8,4 persen, sedangkan di distrik menengah yang ingin anak 19 persen dan yang ragu 13,2 persen. Setelah ciri lain diperhitungkan, tinggal di distrik menengah dan tinggi berkaitan dengan niat berhenti yang lebih besar dibanding distrik berstatus rendah, dan distrik menengah berkaitan dengan keraguan yang lebih tinggi sekitar 70 persen. Belanja bulanan rumah tangga dan status bekerja tidak terbukti bermakna.
Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Insentif uang dan batas yang diakui para peneliti
Temuan itu dibawa para penulis ke kebijakan pronatalis Iran, yang menurut mereka terutama bertumpu pada insentif keuangan dan langkah-langkah pembatasan. “Pendekatan semacam itu kecil kemungkinannya memengaruhi perilaku fertilitas secara berarti karena tidak cukup memperhitungkan bagaimana niat punya anak dibentuk oleh tahap perjalanan hidup, cita-cita masa depan, dan kondisi lingkungan,” tulis ketiganya dalam naskah berbahasa Inggris.
Karena sebagian besar perempuan berhenti pada jumlah anak yang rendah, kebijakan yang menyasar kelahiran anak ketiga dan seterusnya dinilai kecil kemungkinannya berhasil, dan dampak lebih besar mungkin dicapai dengan mendukung kelahiran pertama dan kedua. Para penulis juga menyebut sistem pendidikan yang luwes, penyediaan penitipan anak, dan peluang kerja awal karier yang stabil sebagai hal yang penting, serta pendekatan yang peka pada perbedaan antarwilayah, bukan strategi nasional yang seragam.
Batas penelitian ini mereka tulis sendiri. Survei dilakukan pada satu waktu, sehingga hasilnya hanya boleh dibaca sebagai hubungan yang teramati dan bukan sebab-akibat, sementara perbandingan 2012 dan 2025 bersandar pada dua survei terpisah, bukan pada perempuan yang sama yang diikuti dari waktu ke waktu. Kualitas hubungan pasangan, kondisi perumahan, dan ketidakpastian pekerjaan tidak diukur langsung, dan karena hanya mencakup Teheran, temuan ini belum tentu berlaku bagi kota lain maupun perdesaan di Iran.
Jawaban belum tahu yang makin sering terdengar itu, dengan demikian, masih menggantung di ujung naskah. Akankah perempuan yang hari ini ragu kelak menambah anak, berhenti, atau tetap bimbang, dan bagaimana perubahan kondisi ekonomi, hubungan pasangan, serta tempat tinggal membentuk perpindahan di antara ketiga jawaban itu? Para penulis menyatakan pertanyaan semacam itu memerlukan penelitian longitudinal atau metode campuran, yang mengikuti niat punya anak dari waktu ke waktu.














