Serangan Drone di Sudan Tewaskan Lebih dari 160 Orang

A A

Dok. Seorang perempuan pengungsi Sudan menggendong bayi di antara pengungsi lain yang menunggu bantuan di kamp Oure Cassoni, Chad, 24 Februari 2026. [Foto: Dan Kitwood/Getty Images]

  • Gelombang serangan drone di Sudan menewaskan lebih dari 160 orang dalam beberapa hari terakhir.
  • Serangan paling mematikan menewaskan 80 orang di dekat pasar di kota Al-Dibab, Kordofan Barat.
  • PBB menyatakan khawatir atas serangan drone yang terus menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak.

Cekricek.id — Gelombang serangan drone di Sudan menewaskan lebih dari 160 orang dalam beberapa hari terakhir, menurut tenaga medis dan kelompok hak asasi manusia.

Serangan drone ke Khartoum menewaskan tiga anak pada Senin, menurut Emergency Lawyers, kelompok yang memantau kekerasan terhadap warga sipil dalam perang saudara Sudan, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Senin (19/10/2026). Lebih dari 160 orang dilaporkan tewas di wilayah barat sejak Jumat.

Serangan itu dituduhkan kepada Pasukan Dukungan Cepat (RSF) maupun pasukan pemerintah. Keduanya bertempur sejak 2023, dan meningkatnya penggunaan drone dalam beberapa bulan terakhir membuat korban sipil terus bertambah.

Serangan paling mematikan terjadi di dekat pasar pada Minggu malam di kota Al-Dibab, Negara Bagian Kordofan Barat, yang dikuasai RSF. Warga dan tenaga medis mengatakan drone menghantam pusat transportasi tempat warga desa berkumpul untuk mencari tumpangan pulang seusai hari pasar, menewaskan 80 orang.

Sebanyak 47 orang terluka dibawa ke kota Al-Mujlad, dan 30 di antaranya kemudian meninggal, kata sumber medis kepada AFP. Pemerintahan bentukan RSF, Tasis, dan Emergency Lawyers menuding tentara melakukan serangan itu.

Pada Senin dini hari, serangan drone menghantam Nyala, ibu kota Darfur Selatan yang menjadi basis RSF, menewaskan 17 orang termasuk tujuh perwira RSF. Pada Jumat, serangan drone RSF menghantam kumpulan pengungsi di Provinsi Nil Biru di perbatasan Ethiopia dan menewaskan 41 orang, menurut Emergency Lawyers.

“Kami khawatir atas serangan drone mematikan yang terus berlangsung di seluruh negeri, yang menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak, dan mengganggu layanan pokok,” kata Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, kepada wartawan.

Perang di Sudan pecah pada April 2023 ketika pemimpin militer Abdel Fattah al-Burhan dan pemimpin RSF Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti berselisih soal rencana peleburan RSF ke dalam tentara. Menurut pemantau konflik ACLED, perang di Sudan telah menewaskan sedikitnya 59.000 orang, sementara PBB mencatat sekitar 13 juta orang terusir dari rumah mereka.

Bagikan

Baca Juga

Arab Saudi Tunda Konferensi FII 2026 di Tengah Serangan Houthi
Lembaga Keuangan BRICS+ Menguat, Energi Terbarukan Menyusut
Ibu Bangladesh Rajin Periksa Hamil Lebih Kerap Bersalin di Faskes
Anemia Anak Sekolah Tanzania Turun, Masih Empat dari Sepuluh
Delapan dari Sepuluh Dokter di Zagazig Hindari Pasien Berisiko
Survei: Sepertiga Pekerja Tiongkok di Afrika Kena Penyakit Tropis