- Prof Mary Astuti wafat Minggu (18/10/2026) dan disemayamkan di Balairung UGM
- Penelitian kedelai hitam 2001–2007 menghasilkan varietas unggul nasional Malikka
- Ia juga meneliti antosianin beras hitam untuk penyakit kronis seperti diabetes
Cekricek.id — Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Ir Mary Astuti MS, berpulang pada Minggu (18/10/2026). Almarhumah mendapat penghormatan terakhir dari keluarga besar UGM dalam upacara persemayaman di Balairung UGM pada hari yang sama.
Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng, menyampaikan duka cita atas nama pimpinan dan keluarga besar universitas. Ia mengenang almarhumah sebagai guru, senior, dan sejawat yang memberi teladan lewat dedikasi dan kecintaannya pada ilmu pengetahuan. “Dedikasi, ilmu, keteladanan, serta kecintaan Beliau pada alam dan ilmu pengetahuan akan senantiasa hidup dan menjadi amal jariyah yang tak terputus serta menjadi pembuka jalan bagi pengembangan ilmu pengetahuan masa depan,” ujar Panut, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis UGM, Senin (19/10/2026).
Baca juga: Mentan Siap Beli Kedelai UGM, Sebut 4 Juta Hektare Sawit Disita
Mary Astuti dikenal sebagai salah satu pakar pangan fungsional di Indonesia. Ia dikukuhkan sebagai guru besar UGM pada 1999 dengan pidato berjudul ‘Makanan Fungsional, Manfaat dan Prospeknya bagi Kesehatan dan Industri Pangan’. Kiprahnya meneliti kedelai dan tempe membuatnya dijuluki ‘Profesor Tempe’.
Dari Kedelai Hitam hingga Beras Hitam
Salah satu kontribusi pentingnya adalah penelitian kedelai hitam yang dilakukan secara terintegrasi bersama pakar kedelai Fakultas Pertanian UGM pada 2001–2007. Penelitian itu menghasilkan varietas unggul nasional bernama Malikka. Ia juga meneliti manfaat antosianin dalam beras hitam untuk mencegah dan memperbaiki kondisi penyakit kronis tidak menular, terutama diabetes melitus.
Baca juga: Benih Padi Gamagora 7 UGM Sudah Tersebar ke 11 Provinsi
Atas dedikasinya di bidang pangan, Mary Astuti menerima penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara dari Kabupaten Sleman pada 2016 dan Satyalancana Karya Satya XXX dari Pemerintah Republik Indonesia pada 2008. Ia memasuki masa purnatugas sebagai dosen UGM pada 1 Maret 2018.
Panut berharap pengabdian dan karya almarhumah terus menjadi inspirasi bagi sivitas akademika. “Kiranya Allah SWT senantiasa melindungi dan mengiringi langkah kita semua dalam merawat dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang berdampak dan melanjutkan karya dan cita-cita Almarhumah di masa-masa mendatang,” tutur Panut.
Baca juga: Gempuran Kuliner Indonesia di Manila: Tempe dan Batik Mendunia















