Benih Padi Gamagora 7 UGM Sudah Tersebar ke 11 Provinsi

A A

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau benih di Pusat Inovasi Agroteknologi UGM, Sleman. [Foto: UGM]

  • Benih padi Gamagora 7 UGM sudah tersebar ke 11 provinsi, termasuk Sumatera Barat.
  • Produktivitas rata-rata 7,95 ton per hektare dengan potensi maksimal 9,80 ton.
  • Kementan memberi bantuan Rp7,7 miliar untuk benih kedelai, padi, dan kakao UGM.

Cekricek.id — Benih padi Gamagora 7 hasil riset Universitas Gadjah Mada (UGM) sudah tersebar ke 11 provinsi, termasuk Sumatera Barat. Varietas ini disebut memiliki produktivitas rata-rata 7,95 ton per hektare dengan potensi maksimal 9,80 ton per hektare.

Data itu mengemuka saat Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau pusat pengembangan benih di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Berbah, Sleman, Kamis (15/10/2026), sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis UGM. Tahun ini, Kementerian Pertanian memberikan bantuan anggaran Rp7.717.750.000 untuk kerja sama pengembangan, penyediaan, dan penyaluran benih kedelai lokal, padi Gamagora 7, dan kakao.

Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof Subejo SP MSc PhD, menyebut distribusi benih Gamagora 7 sudah menjangkau Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. “Hingga saat ini, penyediaan benih Gamagora 7 sudah mencapai 170 ton dengan harga 2,7 miliar,” ujarnya.

Amran menyatakan pemerintah akan membeli benih yang dikembangkan UGM agar bisa menyebar ke seluruh Indonesia. “Kami apresiasi teman-teman UGM atas kerja kerasnya serta komitmen yang diberikan. Kami akan melanjutkan kerjasama ini dan terus dikawal karena sesuai dengan perintah Bapak Presiden,” katanya.

Kedelai Grobogan dan Bibit Kakao

Selain padi, UGM mengembangkan kedelai lokal varietas Grobogan dengan potensi produktivitas 3,4–3,6 ton per hektare melalui platform Saekedelai. Program ini sudah menjangkau petani di delapan kabupaten di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM sekaligus pengembang varietas kedelai, Dr Atris Suyantohadi STP MT, menyebut platform itu memakai teknologi mulai dari penelusuran produk dan mutu hingga hasil panen, serta menghubungkan petani dengan mitra industri. “Melalui Saekedelai, petani kedelai menanam itu sudah jelas dari hasil panennya dan juga hasil penjualan yang dia akan terima nantinya,” tuturnya.

Baca juga: Mentan Siap Beli Kedelai UGM, Sebut 4 Juta Hektare Sawit Disita

Atris berharap kedelai lokal itu bisa mengurangi ketergantungan pada kedelai impor. “Semoga pengembangan kedelai lokal yang jenisnya alami murni non-GMO ini dapat mendukung ketahanan pangan nasional, serta dapat memenuhi kebutuhan tempe dan tahu dalam negeri sehingga memberikan kesejahteraan para petani,” harapnya.

Baca juga: UGM dan NUST Namibia Jajaki Penanaman Padi Gamagora

Untuk kakao, UGM, PT Pagilaran, dan Kementerian Pertanian berencana menyalurkan bibit unggul pada akhir 2026. Tiga varietas, yakni Klon Sulawesi 02, Klon MCC 02, dan Hibrida ICCRI 08 H, akan disalurkan ke Brebes, Cilacap, dan Batang.

Baca juga: Panen Sawah Pokok Murah di Agam, Sumbar Didorong Jadi Pelopor Swasembada Pangan

Bagikan

Baca Juga

Karhutla Capai 8,35 Juta Hektare, Pakar UGM: Gambut Harus Basah
Lapangan Kerja Menyempit, Investasi Asing Disebut Padat Modal
Mentan Siap Beli Kedelai UGM, Sebut 4 Juta Hektare Sawit Disita
Rektor IPB Alim Setiawan Dilantik Jadi Wakil Menteri Pertanian
Kuota 30 Persen Perempuan di Politik Tak Cukup Tanpa Kaderisasi
Surplus Pangan Belum Turunkan Harga Beras dan Cabai di Pasar