- Sebanyak 33,7 persen dari 303 pekerja Tiongkok di Afrika melaporkan pernah terkena penyakit tropis.
- Di antara yang pernah sakit, malaria disebut 88 orang dan dengue 13 orang.
- Dari 136 orang yang sudah bertugas tiga tahun atau lebih, 68 orang pernah terinfeksi.
- Pekerja yang mengaku tahu banyak soal penyakit tropis lebih berpeluang melaporkan pernah terinfeksi.
- Penjelasan ilmiah dan pendidikan kesehatan diminta 191 orang atau 63,0 persen responden.
Daftar Isi
- Tiga ratus tiga pekerja, sebagian besar ditempatkan di Afrika Timur
- Malaria paling sering disebut oleh mereka yang pernah sakit
- Makin lama masa tugas, makin banyak yang melaporkan pernah sakit
- Mereka yang tahu banyak soal penyakit tropis lebih sering melaporkan pernah terinfeksi
- Yang diminta para pekerja: penjelasan, obat, dan pemeriksaan
Jatuh sakit di negeri orang, ke mana seorang pekerja mengadu? Bagi karyawan perusahaan Tiongkok yang bertugas di Afrika, jawabannya paling sering adalah kantor sendiri. Sebanyak 205 dari 303 orang menyebut melapor ke perusahaan untuk minta bantuan sebagai jalur berobat mereka. Lalu 114 orang menyebut satu jalur yang jauh: berkonsultasi dengan dokter di Tiongkok.
Angka itu dicatat Wenjun Hu, Zhangyi Xu, Jian He, Hongchu Wu, Yi Wang, Kun Yang, dan Yuzheng Huang dalam artikel Health needs assessment for tropical vector-borne disease prevention among Chinese expatriate workers in Africa: a cross-sectional study. Tulisan mereka terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Ketujuh penulis berasal dari Jiangsu Institute of Parasitic Diseases di Wuxi, dan dua di antaranya juga dari School of Public Health, Nanjing Medical University.
Sepertiga dari para pekerja tersebut, persisnya 33,7 persen, melaporkan pernah terkena penyakit tropis yang ditularkan vektor, seperti malaria, dengue, dan skistosomiasis. Sebagian besar malaria. Para penulis ingin tahu siapa yang lebih sering mengalaminya, dan pertolongan apa yang dibutuhkan orang-orang itu selama masih berada di tempat tugas.
Tiga ratus tiga pekerja, sebagian besar ditempatkan di Afrika Timur
Latarnya adalah arus orang yang terus membesar. Proyek yang didanai Tiongkok di Afrika, menurut naskah itu, terus bertambah skalanya, terutama proyek infrastruktur dan pembangunan berskala besar. Pada 2023 hampir 40.000 pekerja Tiongkok dikirim ke benua tersebut. Banyak di antaranya ditempatkan di kawasan tropis, tempat malaria, dengue, dan skistosomiasis banyak ditemukan.
Jejak penyakit itu selama ini lebih sering terbaca sesudah mereka pulang. Data pengawasan di Tiongkok yang dikutip para penulis menunjukkan orang yang kembali dari Afrika menyumbang 65 persen kasus malaria impor dan 28 persen kasus dengue impor. Kebanyakan riset, tulis mereka, berfokus pada pengawasan penyakit setelah kepulangan itu. Pengalaman pekerja selama tinggal di luar negeri terlewat.
Maka pertanyaan dibawa langsung ke para pekerja, lewat kuesioner daring pada September sampai Oktober 2023. Dari 372 kuesioner yang masuk, 303 dinyatakan sah. Pengisinya orang Tiongkok dewasa yang dipekerjakan perusahaan berdana Tiongkok dan sedang bekerja di negara-negara Afrika. Semua jawaban adalah laporan diri, tanpa nama.
Wajah mereka cukup seragam. Laki-laki 76,2 persen. Sarjana 62,4 persen. Usia terentang dari 21 sampai 60 tahun, dengan median 34 tahun. Hampir separuhnya, 146 orang, adalah pekerja yang dikirim perusahaan. Sisanya antara lain 73 tenaga administrasi yang tidak terlibat pekerjaan lapangan, 55 tenaga teknis proyek bantuan luar negeri, dan 11 anggota tim medis bantuan Tiongkok.
Afrika Timur menampung bagian terbesar: 236 orang, atau 77,9 persen. Afrika Tengah 34 orang, Afrika Barat 26 orang, Afrika Utara empat orang, dan Afrika bagian selatan tiga orang. Mereka juga bukan pendatang baru. Sebanyak 44,9 persen sudah bertugas tiga tahun atau lebih, dan 35,0 persen antara satu sampai tiga tahun.
Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Malaria paling sering disebut oleh mereka yang pernah sakit
Seratus dua orang menjawab ya ketika ditanya apakah pernah terinfeksi penyakit tropis. Dua ratus satu orang menjawab tidak. Di antara yang pernah sakit, malaria disebut 88 orang, setara 86,3 persen. Dengue menyusul dengan 13 orang. Lalu parasit usus empat orang, skistosomiasis tiga orang, dermatitis parasit satu orang, dan penyakit lain enam orang. Tiga belas responden tercatat pernah terinfeksi dua jenis penyakit tropis.
Kuesioner juga menanyakan apa saja yang ada di sekitar tempat kerja dan tempat tinggal mereka. Hutan atau kawasan berpohon disebut 34,3 persen responden. Ladang atau lahan pertanian 30,4 persen. Perairan tawar 28,1 persen. Sebanyak 139 orang, atau 45,9 persen, menyatakan tidak bersentuhan dengan satu pun dari lingkungan yang ditanyakan.
Hewan lebih dekat lagi. Anjing disebut 70 persen responden, ternak seperti sapi, domba, dan babi 60,7 persen. Hewan pengerat 23,8 persen. Primata, yang dalam daftar kuesioner dicontohkan dengan monyet dan orang utan, 17,5 persen. Kelelawar 13,9 persen dan unta 6,3 persen. Hanya 17,2 persen yang menyatakan tidak berkontak dengan hewan mana pun dalam daftar.
Soal makan dan minum, gambarannya lebih tenang. Sebanyak 71 persen tidak melakukan satu pun kebiasaan makan berisiko yang didaftar kuesioner. Yang masih ada: 14,5 persen menyantap acar mentah ikan, udang, kepiting, atau siput, 12,2 persen meminum air keran langsung, 10,9 persen memakan daging sapi dan domba mentah atau setengah matang, dan 4,6 persen memakan satwa liar.
Makin lama masa tugas, makin banyak yang melaporkan pernah sakit
Lalu siapa yang lebih sering sakit? Usia memberi garis pertama. Di kelompok 21 sampai 29 tahun, 17 orang pernah terinfeksi. Di kelompok 30 sampai 38 tahun, 41 orang. Di kelompok 39 sampai 60 tahun, 44 orang. Padahal ketiga kelompok itu hampir sama besar, masing-masing 101, 98, dan 104 orang.
Setelah faktor lain ikut diperhitungkan, perbedaan itu bertahan. Rasio peluang terinfeksi pada kelompok 30 sampai 38 tahun tercatat 2,884 dibanding kelompok termuda, dan 3,043 pada kelompok 39 sampai 60 tahun. Para penulis menyebut kemungkinan penjelasannya: daya tahan tubuh yang menua dan beban penyakit kronis yang lebih besar pada orang yang lebih tua.
Lama bertugas memberi garis kedua, lebih tajam. Dari 25 orang yang bertugas kurang dari enam bulan, tiga orang pernah terinfeksi. Dari 36 orang yang bertugas setengah sampai satu tahun, empat orang. Dari 106 orang yang bertugas satu sampai tiga tahun, 27 orang. Dari 136 orang yang sudah tiga tahun atau lebih, 68 orang.
Rasio peluang untuk kelompok terlama itu 4,199 dibanding mereka yang bertugas kurang dari enam bulan. Naskah membacanya sebagai paparan yang menumpuk. Pekerja yang lama ditempatkan di luar negeri, tulis para penulis, bisa mengendur dalam perilaku pencegahan atau mengalami kelelahan sumber daya. Pencegahan disarankan tidak hanya menyasar pendatang baru, tetapi juga memperkuat pengawasan kesehatan sepanjang masa penugasan yang panjang.
Dua kebiasaan sehari-hari ikut bertahan dalam hitungan akhir. Kontak dengan primata berkaitan dengan rasio peluang 2,428, dan meminum air keran langsung dengan 2,418. Kontak dengan kelelawar, yang semula tampak berkaitan, tidak lagi bermakna secara statistik. Para penulis mengingatkan bahwa faktor yang tidak mereka ukur, seperti mutu hunian, sanitasi lokasi kerja, atau kepadatan vektor setempat, bisa ikut berperan.
Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi
Mereka yang tahu banyak soal penyakit tropis lebih sering melaporkan pernah terinfeksi
Kejutan datang dari pertanyaan tentang pengetahuan. Sebanyak 87 orang mengaku tahu banyak tentang penyakit tropis, 197 orang tahu sedikit, dan 19 orang tidak tahu sama sekali. Dari 87 orang yang tahu banyak, 44 pernah terinfeksi. Dari 19 orang yang tidak tahu apa-apa, hanya dua.
“Sebuah hubungan yang berlawanan dengan intuisi teramati antara pengetahuan yang lebih tinggi tentang penyakit tropis dan peluang yang lebih besar untuk pernah terinfeksi,” tulis Wenjun Hu bersama enam rekannya, peneliti Jiangsu Institute of Parasitic Diseases, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Rasio peluang untuk kelompok yang tahu banyak tercatat 11,990 dibanding kelompok yang tidak tahu apa-apa.
Penjelasan yang mereka anggap masuk akal adalah arah sebab yang terbalik. Orang yang sudah terinfeksi kemudian mencari informasi, lalu melaporkan pengetahuan yang lebih tinggi. Bagi para penulis, pola itu mengisyaratkan pendidikan kesehatan diberikan secara reaktif, setelah infeksi terjadi, dan belum membekali pekerja sebelum mereka terpapar.
Hal serupa terlihat pada obat. Sebanyak 173 orang, atau 57,10 persen, memiliki akses ke obat malaria seperti artemisinin, klorokuin, atau kina, dan 72 di antaranya pernah terinfeksi. Memegang obat malaria berkaitan dengan rasio peluang 2,326. Naskah membacanya sebagai kemungkinan perilaku sesudah terpapar pada orang berisiko tinggi, bukan penyebab langsung infeksi.
Dukungan medis di tempat tugas ikut masuk hitungan. Sebanyak 90 orang bekerja dengan tenaga medis di lokasi, 145 orang tanpa tenaga medis pendamping tetapi layanan kesehatan hariannya terjamin, dan 68 orang tanpa tenaga maupun dukungan medis. Pada kelompok terakhir, rasio peluang terinfeksi 2,920 dibanding mereka yang didampingi tenaga medis.
Soal asuransi kesehatan internasional, 51,5 persen menjawab punya dan 22,1 persen menjawab tidak. Sisanya, 26,4 persen, tidak yakin. Menurut para penulis, personel yang bekerja di Afrika semestinya diberi tahu tentang sumber daya medis yang tersedia, termasuk obat pencegahan dan pengobatan, fasilitas rujukan terdekat, dan bantuan medis darurat.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Yang diminta para pekerja: penjelasan, obat, dan pemeriksaan
Kembali ke saat seseorang jatuh sakit. Selain melapor ke perusahaan, 175 orang atau 57,8 persen menyebut langsung berobat ke layanan medis setempat. Berkonsultasi dengan dokter di Tiongkok disebut 37,6 persen, dan mencari di internet 31,4 persen. Ketergantungan pada perusahaan dan pada keahlian medis di tanah air itu, tulis para penulis, sekaligus menyingkap celah pada keterjangkauan layanan setempat.
Kesulitannya mereka sebut terang. Teknologi medis setempat yang terbatas dipilih 216 orang, atau 71,3 persen. Sumber daya medis yang langka dan biaya yang tinggi dipilih 157 orang, atau 51,8 persen. Naskah menambahkan dari pustaka yang dirujuknya bahwa hambatan bahasa, perbedaan budaya, dan ketidakakraban dengan sistem setempat menurunkan kesediaan dan kemampuan pekerja Tiongkok untuk berobat.
Lalu apa yang mereka minta? Enam hal paling sering muncul. Penjelasan ilmiah dan pendidikan kesehatan di urutan teratas, diminta 191 orang atau 63,0 persen. Obat untuk pencegahan dan pengobatan 59,4 persen. Skrining dan diagnosis klinis 51,8 persen. Perbaikan lingkungan sekitar tempat tinggal dan tempat kerja 42,2 persen, layanan prognosis dan rehabilitasi 38,3 persen, dan alat pelindung untuk kerja lapangan 36,0 persen.
Dari daftar itu para penulis menarik beberapa usulan. Perusahaan Tiongkok didorong bekerja sama dengan lembaga kesehatan masyarakat, di dalam negeri maupun internasional. Contohnya pendidikan kesehatan sebelum berangkat oleh ahli penyakit tropis, serta perluasan layanan telemedisin. Menjaga hubungan dengan klinik, rumah sakit, dan sistem rujukan di negara tuan rumah juga disebut berharga. Kelayakan dan efektivitasnya, kata mereka, masih perlu diteliti.
Mereka juga mencatat batas temuannya sendiri. Survei sekali potret seperti ini tidak dapat memastikan sebab dan akibat. Jawaban bersandar pada ingatan responden. Tautan kuesioner disebarkan lewat pimpinan proyek, sehingga pekerja yang tidak terjangkau, sedang cuti sakit, atau enggan membuka riwayat kesehatannya mungkin kurang terwakili. Sampel pun bertumpuk di Afrika Timur, sehingga keterwakilannya untuk seluruh benua terbatas.
Simpulan naskah ditujukan kepada tiga pihak. Perusahaan, tenaga kesehatan global, dan pembuat kebijakan diminta memberi perhatian lebih besar pada kesehatan dan kesejahteraan pekerja di luar negeri. Kerja sama yang lebih erat antara perusahaan, sistem kesehatan masyarakat, dan lembaga di negara tuan rumah, tulis para penulis, dapat membantu melindungi mereka.














