- Sebanyak 72,66 persen dari 3.223 istri remaja Bangladesh berusia 15 sampai 19 tahun memakai KB modern.
- Pada 174 perempuan yang suaminya berada di luar Bangladesh, hanya 12,2 persen yang memakai KB modern.
- Di antara istri remaja yang sudah pernah melahirkan, 80,7 persen memakai KB modern, sedangkan yang belum 62,9 persen.
- Pemakaian paling tinggi di Divisi Mymensingh, 80,1 persen, dan paling rendah di Chittagong, 63,5 persen.
- Pendidikan, status bekerja, dan tinggal di kota atau desa hanya punya daya ramal yang kecil.
Daftar Isi
Orang mudah mengira bahwa pemakaian kontrasepsi terutama ditentukan oleh sekolah dan pekerjaan, sehingga perempuan yang lebih lama belajar dan punya penghasilan sendiri dianggap lebih mungkin memakainya. Pada istri-istri remaja di Bangladesh, dugaan itu tidak bertahan, sebab pendidikan, status bekerja, dan tinggal di kota atau di desa nyaris tidak membantu meramalkan siapa yang memakai KB modern. Penentu yang paling berpengaruh dalam analisis itu adalah hal yang jauh lebih dekat dengan rumah, yakni apakah suaminya tinggal bersamanya atau berada jauh di negeri lain.
Temuan itu ditulis Shawkatul Islam, Md Eyah Eya, dan Muhammad Khairul Alam dalam artikel berjudul Determinants of modern family planning use among married adolescents in Bangladesh: evidence from a machine learning approach, yang terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Ketiganya bekerja di Department of Statistics and Data Science, Jahangirnagar University, Savar, Dhaka, dan mereka menelaah jawaban 3.223 perempuan berusia 15 sampai 19 tahun yang pernah menikah, yang dihimpun Bangladesh Adolescent Health and Wellbeing Survey 2019–20, sebuah survei yang mewakili seluruh negeri.
KB modern yang dimaksud para penulis mencakup pil, kondom, suntik, implan, alat kontrasepsi dalam rahim, sterilisasi, pil darurat, dan metode amenore laktasi, sedangkan cara tradisional seperti pantang berkala dan sanggama terputus dihitung sebagai bukan pemakai. Dengan batasan itu, 72,66 persen responden, atau 2.342 orang, menyatakan sedang memakai salah satu cara modern, dan 27,34 persen sisanya, 881 orang, tidak memakainya.
Angka besar yang menyimpan ketimpangan
Para istri remaja itu sebagian besar hidup dalam keadaan yang serupa: 57,1 persen berusia 18 sampai 19 tahun, 75,7 persen bersekolah sampai kelas 6 hingga 10, 93,8 persen tidak bekerja, dan 77,1 persen tinggal di pedesaan. Sebanyak 85,3 persen tinggal bersama suami, 82,5 persen mengaku memutuskan urusan KB berdua dengan suami, dan 54,8 persen sudah pernah melahirkan.
Pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal tidak banyak membedakan siapa yang memakai KB modern dan siapa yang tidak. Pemakaian tercatat 75,9 persen pada mereka yang bersekolah sampai kelas 5 atau kurang, 72,2 persen pada kelas 6 hingga 10, dan 67,9 persen pada kelas 11 ke atas; 69,2 persen pada yang bekerja dan 72,9 persen pada yang tidak; 72,5 persen di desa dan 74,2 persen di kota. Tidak satu pun dari selisih itu bermakna secara statistik, dan para penulis mencatat ketiga hal tersebut hanya punya daya ramal yang kecil.
Rumah yang ditinggal suami
Justru sebaliknya yang terjadi ketika pertanyaannya digeser ke tempat suami berada. Di antara 2.750 istri remaja yang tinggal serumah dengan suami, 77 persen memakai KB modern, dan di antara 299 orang yang suaminya tinggal di tempat lain di Bangladesh, angkanya 68,1 persen. Pada 174 perempuan yang suaminya berada di luar Bangladesh, hanya 12,2 persen yang memakainya, sedangkan 87,8 persen tidak, dan perbedaan menurut tempat tinggal suami itu bermakna secara statistik.
“Remaja yang suaminya tinggal di luar Bangladesh memiliki pemakaian KB yang sangat rendah,” tulis Islam, Eya, dan Alam dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menyebut temuan itu sejalan dengan penelitian di Bangladesh dan India yang mendapati pemakaian kontrasepsi lebih rendah pada perempuan yang terpisah dari suami karena migrasi, dan tempat tinggal suami muncul sebagai penentu paling berpengaruh di seluruh rangkaian analisis mereka.
Pola itu bertahan sesudah ciri-ciri lain ikut diperhitungkan. Dibandingkan dengan istri yang tinggal serumah, peluang memakai KB modern pada mereka yang suaminya berada di tempat lain di Bangladesh lebih rendah, dengan rasio odds tersesuaikan 0,74, dan pada mereka yang suaminya di luar negeri angkanya 0,03. Penurunan pada kelompok terakhir itu, menurut para penulis, paling tajam pada remaja yang sudah pernah melahirkan, yang mereka baca sebagai tanda pentingnya kehadiran pasangan dalam membentuk perilaku berkontrasepsi.
Baca juga Perkawinan Anak Penentu Utama Kelahiran Remaja di 34 Provinsi
Sesudah anak pertama, bukan sebelumnya
Penentu kedua adalah riwayat melahirkan. Di antara istri remaja yang sudah pernah melahirkan, 80,7 persen memakai KB modern, sedangkan di antara yang belum, angkanya 62,9 persen, dan sesudah penyesuaian peluang kelompok pertama tercatat 3,20 kali kelompok kedua. Para penulis menautkannya dengan penelitian terdahulu di Bangladesh yang menunjukkan bahwa kontrasepsi kerap baru dipakai sesudah kelahiran pertama, bukan mendahuluinya.
Usia memberi kejutan yang lebih halus. Dalam hitungan mentah, pemakaian pada kelompok 15 sampai 17 tahun, yakni 73,5 persen, hampir sama dengan kelompok 18 sampai 19 tahun, yakni 72 persen, dan selisihnya tidak bermakna. Namun sesudah ciri lain diperhitungkan, remaja 18 sampai 19 tahun tercatat lebih kecil kemungkinannya memakai KB modern, dengan rasio odds tersesuaikan 0,71, yang menurut para penulis sejalan dengan sebuah tinjauan sistematis di Bangladesh tentang perempuan yang lebih muda.
Keputusan berdua dan isi rumah tangga
Cara pasangan memutuskan juga berjejak pada angka. Pemakaian KB modern mencapai 74,1 persen bila keputusan diambil berdua, 72,2 persen bila terutama diputuskan istri, 60,5 persen bila terutama diputuskan suami, dan 58 persen bila diputuskan pihak lain. Sesudah penyesuaian, keputusan bersama berkaitan dengan peluang 1,61 kali lebih besar, dan para penulis menyebutnya sejalan dengan temuan di Bangladesh dan Asia Selatan mengenai peran komunikasi pasangan dan kewenangan yang dibagi.
Kekayaan rumah tangga bekerja dengan cara yang lebih berliku. Dalam hitungan mentah, pemakaian berkisar dari 76,1 persen pada kelompok kekayaan kedua terbawah sampai 68,8 persen pada kelompok teratas, dengan kaitan yang oleh para penulis disebut marginal. Akan tetapi dalam analisis lanjutan, rumah tangga yang lebih berada berkaitan dengan peluang 1,38 sampai 1,65 kali lebih besar, dan para penulis menduga kekayaan bekerja lewat jalinan rumit dengan hal lain, seperti wilayah dan paparan media.
Pengaruh cara memutuskan itu juga berbeda menurut keadaan ekonomi. Pada rumah tangga yang tidak miskin, istri yang memutuskan sendiri urusan KB berkaitan dengan peluang pemakaian yang lebih besar, tetapi pada rumah tangga termiskin arahnya berbalik. “Hal ini menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi dapat membatasi daya guna otonomi semata,” tulis ketiga peneliti itu, sambil menambahkan bahwa keterlibatan perempuan dalam keputusan KB tampak lebih berhasil di rumah tangga yang kedudukan ekonominya lebih tinggi.
Baca juga Kartu Stiker Bintang Buat Ibu di Myanmar Tuntas Periksa Nifas
Peta yang tidak sewarna
Bangladesh sendiri tidak tampil sebagai satu warna. Pemakaian KB modern pada istri remaja paling tinggi di Divisi Mymensingh, 80,1 persen, dan Rajshahi, 79 persen, disusul Rangpur 75,7 persen dan Barisal 73,9 persen. Sylhet mencatat 70,2 persen, Dhaka 70 persen, Khulna 69,2 persen, dan Chittagong berada paling bawah dengan 63,5 persen, sebuah perbedaan antarwilayah yang bermakna secara statistik.
Para penulis menyebut pola itu sejalan dengan penelitian terdahulu tentang ketimpangan wilayah yang menetap, yang mencerminkan perbedaan penyediaan layanan, kepadatan program, prasarana, dan norma sosial budaya. Wilayah juga mengubah arti ciri yang lain: kelompok rumah tangga yang lebih kaya berkaitan dengan pemakaian yang lebih tinggi di divisi lain, tetapi kaitan itu melemah atau berbalik di Dhaka, sedangkan belum pernah melahirkan menurunkan peluang di Khulna dan Chittagong, sedikit lebih besar di Khulna.
Media cetak ikut membedakan, walau pembacanya sedikit. Sebanyak 86,9 persen responden tidak membaca koran atau majalah sama sekali, dan pemakaian di kelompok itu 73,1 persen, sedangkan pada 128 orang yang membaca sedikitnya sekali seminggu angkanya 78,9 persen, dengan peluang tersesuaikan 1,72 kali lebih besar. Televisi menunjukkan arah serupa, yaitu 74,5 persen pada yang menonton setiap hari dan 69,7 persen pada yang tidak menonton sama sekali.
Program KB sendiri hanya menjangkau sedikit dari mereka. Sebanyak 95 persen responden tidak terlibat dalam program KB selama tiga tahun terakhir, dan pemakaian pada 161 orang yang terlibat, 75,9 persen, tidak berbeda bermakna dari 72,5 persen pada yang tidak terlibat. Para penulis mencatat keterlibatan itu menyumbang secara positif dalam analisis mereka, tetapi tidak muncul sebagai penentu mandiri yang kuat.
Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina
Batas yang diakui para penulis
Daya ramal semua ciri itu pun ada batasnya. Model terbaik yang disusun para penulis menebak dengan benar 76 persen kasus, dan ia jauh lebih pandai mengenali pemakai daripada bukan pemakai: 86 persen pemakai dikenali dengan benar, sedangkan pada bukan pemakai angkanya 49 persen. Para penulis mencatat model itu masih salah menggolongkan cukup banyak perempuan yang tidak memakai KB modern, dan mereka menyebut penilaian yang hanya bersandar pada akurasi dapat menyesatkan.
Para penulis sendiri mencatat sejumlah keterbatasan. Survei itu memotret satu waktu saja sehingga tidak dapat dipakai untuk menyimpulkan sebab dan akibat, pemakaian KB dilaporkan sendiri oleh responden, dan remaja yang belum menikah tidak tercakup. Beberapa penentu yang lebih dekat, seperti otonomi dan mutu layanan, tidak tersedia dalam data, dan kinerja model hanya diuji di dalam satu himpunan data, bukan pada data dari luar.
Dari temuan itu, mereka menyarankan agar pembuat kebijakan dan perencana program menyusun layanan KB yang berfokus pada remaja dengan memperhatikan kesenjangan wilayah, ketimpangan sosial ekonomi, dan hubungan di dalam pasangan. Untuk penelitian berikutnya, mereka menganjurkan pengujian ulang dengan data lain, data yang mengikuti responden dari waktu ke waktu, serta keterangan yang lebih rinci tentang keadaan setempat dan layanan.
Dalam simpulannya, ketiga peneliti menyebut pemakaian KB modern pada istri remaja terutama berkaitan dengan tempat tinggal suami, riwayat melahirkan, kewenangan memutuskan urusan KB, divisi, kelompok usia, kekayaan rumah tangga, dan paparan media. Mereka menyatakan keberlakuan temuan itu pada kelompok lain atau pada masa yang lain masih belum pasti. Pendekatan yang terarah, menurut mereka, dapat membantu pemerataan akses layanan KB modern dan mendukung kemajuan menuju target 3.7 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Bangladesh.















