- Hingga 40 persen kasus demensia bisa dicegah bila faktor risiko ditangani sejak dini
- Penderita demensia di Indonesia diperkirakan naik dari 1,2 juta (2016) menjadi 4 juta (2050)
- Indonesia belum punya data nasional angka demensia yang jelas
Cekricek.id — Hingga 40 persen kasus demensia dapat dicegah bila faktor risikonya ditangani sejak usia dini. Dosen Keperawatan Jiwa dan Komunitas FKKMK Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Sri Mulyani SKep Ns MNg, mengacu pada penelitian yang menunjukkan potensi pencegahan tersebut, antara lain lewat edukasi serta menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
“Jadi, ternyata kasus demensia itu berdasarkan penelitian bisa dicegah hingga 40 persen jika sejak awal, early life, sudah melakukan pencegahan-pencegahan,” kata Sri, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis UGM, Kamis (22/10/2026).
Baca juga: Cegah Demensia, Kota di Jepang Ramai Latih Otak, Sepi Urus Rokok
Ia menjelaskan, hipertensi dan diabetes perlu dikendalikan untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular yang bisa berkontribusi pada demensia. Kebiasaan makan juga perlu diperhatikan sejak kanak-kanak, terutama konsumsi makanan cepat saji serta makanan dan minuman tinggi gula dan kalori. “Jadi, apa yang bagus untuk jantung juga bagus untuk perlindungan otak,” ujarnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memproyeksikan sekitar 55,2 juta penderita demensia di dunia pada 2019, dan jumlahnya bisa mencapai 139 juta orang pada 2050. Organisasi Alzheimer Indonesia memperkirakan 1,2 juta penderita sindrom demensia di Indonesia pada 2016, yang dapat meningkat menjadi 4 juta orang pada 2050.
Perubahan Perilaku Lebih Dulu Disadari Keluarga
Menurut Sri, keluarga sering menjadi pihak pertama yang menyadari perubahan pada orang dengan demensia (ODD). “Biasanya orang terdekatlah yang pertama kali notice. Tahu ini kok jadi aneh, kok perilakunya begini. Yang paling mengganggu biasanya adalah perubahan perilakunya, bukan hanya lupa-lupanya,” jelasnya.
Diagnosis dini memberi kesempatan bagi keluarga merencanakan perawatan jangka panjang, mulai dari pembagian tanggung jawab, pembiayaan, hingga keinginan pribadi ODD soal perawatan dan harta benda. Ia menegaskan, diagnosis bukan akhir segalanya. “Jadi, bukan berarti setelah terdiagnosis itu end of the world. Setelah diagnosis, keluarga tetap harus mendukung melibatkan orang dengan demensia atau yang biasa disebut ODD, untuk tetap aktif. Kita juga tetap melibatkan dalam kegiatan-kegiatan keluarga, membantunya melakukan hobinya,” ujarnya.
Baca juga: Olahraga dan Kerja Fisik Beda Kaitan dengan Demensia
Sri menilai tantangan terbesar adalah kesadaran masyarakat untuk membedakan pikun karena penuaan dengan gejala demensia. Indonesia sudah memiliki National Dementia Plan sejak 2016, tetapi pelaksanaannya dinilai belum optimal, dan data nasional angka demensia pun belum ada. “Angka demensia di Indonesia itu belum ada data yang jelas. Yang ada itu penelitian yang skalanya tidak terlalu besar dan juga hasil-hasil screening, di mana screening itu berbeda dengan diagnosis,” ungkapnya.
Ia mencontohkan Singapura yang telah menjalankan upaya pencegahan secara intensif, dan menilai Indonesia masih perlu memperkuat edukasi, deteksi dini, serta layanan keperawatan komunitas. Keluarga juga bisa menyesuaikan rumah agar lebih aman bagi ODD, misalnya memasang tulisan di pintu toilet, menaruh peralatan makan di tempat yang mudah terlihat, dan menyimpan benda berbahaya di tempat terkunci.
Baca juga: Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia














