- Dari sekitar 40.000 kasus terduga kolera di Yaman selatan, 10.252 ditangani di empat fasilitas dukungan MSF.
- Enam belas pasien meninggal, setara 0,2 persen, lebih rendah daripada 0,52 persen untuk seluruh Yaman selatan.
- Pusat perawatan Sadaqa di Aden merawat 80,3 persen dari seluruh pasien dehidrasi berat di keempat fasilitas.
- Hanya 707 pasien atau 6,9 persen yang diambil sampelnya untuk uji laboratorium.
- Para penulis menilai kesiapan menghadapi wabah harus bergeser dari menanggapi menjadi mengantisipasi.
Delapan puluh enam tempat tidur disiapkan di Rumah Sakit Sadaqa, di distrik Dar Sad, pinggiran Aden. Distrik itu luasnya 37 kilometer persegi dan dihuni 153.000 orang, banyak di antaranya pengungsi akibat konflik. Ke sanalah, antara April dan Oktober 2024, lebih dari separuh pasien kolera yang ditangani empat fasilitas dukungan Médecins Sans Frontières di Yaman selatan datang.
Catatan dari tempat tidur itu dihimpun Masar Sallam, Noor Othman Abdulgany, Abdulhakeem Moh Farhan, Moath Shomasi, Ahmed Abdulhaq, Umar Zaman Khan, Darwin Dela Cruz-Diaz, Hilde De Clerck, Sylvia Lim, Krystel Moussally, dan Pilar Garcia-Vello. Artikel mereka, Epidemiological characteristics and outcomes of the 2023–2024 cholera outbreak in South Yemen: a retrospective descriptive study from MSF-supported centres, terbit di BMC Public Health volume 26, nomor artikel 2487, tahun 2026.
Yaman, tulis mereka, memikul beban kolera tertinggi di dunia. Konflik bersenjata sejak 2014 membuat penduduk mengungsi, merusak sarana air dan sanitasi, dan mempersempit jalan menuju layanan kesehatan. Dari Oktober 2016 sampai Desember 2020 saja, lebih dari dua juta kasus terduga dan lebih dari 3.500 kematian dilaporkan.
Wabah terbaru bermula November 2023 di Provinsi Shabwah. Kasus berangsur turun sampai Januari 2024, dan wabah tampak terkendali. Lalu pada Maret 2024 kolera merambat ke arah barat. Sistem peringatan dini penyakit Yaman mencatat sekitar 40.000 kasus terduga di selatan dari Maret hingga Oktober 2024, dengan angka kematian kasus 0,52 persen.
Sadaqa, Aden
Dari sekitar 40.000 kasus itu, 10.252 ditangani di empat fasilitas yang didukung organisasi kemanusiaan tersebut: Aden, Ataq, Mafraq, dan Mocha. Jumlah itu setara 25,6 persen dari seluruh kasus terduga di Yaman selatan. Pusat perawatan kolera di Sadaqa menangani 56,2 persen di antaranya, disusul Mocha dengan 24,8 persen.
Kelompok terbesar adalah orang dewasa muda. Sebanyak 4.237 pasien, atau 41,4 persen, berumur 15 sampai 44 tahun. Anak di bawah lima tahun menyusul dengan 2.466 pasien, setara 24,1 persen. Laki-laki sedikit lebih banyak, 5.375 orang atau 52,5 persen. Umur tengah pasien 22 tahun, dengan rentang dari bayi sampai 99 tahun.
Sebagian besar tidak tiba dalam keadaan parah. Dari 9.848 pasien yang rencana rehidrasinya tercatat, 4.239 orang atau 43,1 persen tidak mengalami dehidrasi. Sebanyak 4.128 orang, 41,9 persen, mengalami dehidrasi sedang. Dehidrasi berat ditemukan pada 1.481 pasien, yaitu 15 persen.
Sebanyak 6.555 pasien atau 66,6 persen ditangani sebagai pasien rawat jalan. Rawat inap diperlukan pada 3.164 kasus atau 32,1 persen. Lama rawat pun pendek: rata-rata 1,3 hari untuk pasien tanpa dehidrasi, 1,8 hari untuk dehidrasi sedang, dan 2,2 hari untuk dehidrasi berat.
Enam belas pasien meninggal. Angka itu setara 0,2 persen, lebih rendah daripada 0,52 persen yang tercatat untuk seluruh Yaman selatan. Sebelas dari enam belas kematian itu terjadi pada pasien dehidrasi berat. Sebanyak 9.322 pasien, atau 94,7 persen, dipulangkan ke rumah, sementara 225 orang pergi tanpa persetujuan dokter dan 114 dirujuk ke fasilitas lain.
Baca juga Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun
Dar Sa’d
Sadaqa menerima pasien terutama dari distrik-distrik kota di Aden sendiri. Dar Sa’d menyumbang paling banyak, 1.874 pasien atau 35 persen. Di belakangnya ada Ash Shaykh Othman dengan 855 pasien, Al Mansurah 693, Al Burayqah 391, dan Khur Maksar 176. Kasus dehidrasi berat pun terkumpul di Dar Sa’d, kawasan padat di utara provinsi itu.
Para penulis menggambarkan distrik tersebut sebagai wilayah yang meluas cepat dengan prasarana terbatas. Angka serangan kolera di sana 1,11 persen dan angka kematian kasusnya 0,62 persen pada 2024. Karena distrik itu terus menjadi sumber utama kasus, petugas mendatangi rumah demi rumah untuk memberi penyuluhan bersama para tokoh masyarakat.
Kasus di Aden mulai naik pada pekan ke-14, bertepatan dengan akhir Ramadan. Puncaknya terjadi antara pekan ke-26 dan ke-30, lalu menurun. Porsi pasien dehidrasi berat naik turun, tetapi umumnya lebih tinggi pada pekan-pekan awal. Porsi anak di bawah lima tahun relatif tetap, antara 15 dan 25 persen.
Soal Ramadan, para penulis berhati-hati. Bulan itu, tulis mereka, lekat dengan kumpulan besar orang, makan bersama, dan kemungkinan berkurangnya kunjungan berobat pada jam puasa. Namun data mereka tidak dapat memastikan apakah perilaku selama Ramadan ikut mendorong penularan atau mengubah pola berobat. Catatan tentang awal gejala terlalu tidak lengkap untuk menjawabnya.
Satu angka menonjol dari Sadaqa. Pusat perawatan itu merawat 80,3 persen dari seluruh pasien dehidrasi berat di keempat fasilitas. Menurut para penulis, pemusatan itu terutama mencerminkan susunan wilayah layanan dan jalur rujukan, bukan perbedaan penyakit antarwilayah. Sadaqa berperan sebagai simpul rujukan bagi pasien paling gawat.
Mocha dan Mafraq
Di pesisir Provinsi Taiz, pusat perawatan Mocha hanya punya 20 tempat tidur. Pasiennya datang terutama dari distrik-distrik barat Ta’iz, sebanyak 2.537 orang, dan dari Provinsi Al Hodeidah di sebelahnya, 377 orang. Distrik Al Makha menyumbang 1.721 pasien, Mawza’ 257, dan Dhubab 149. Dari Al Hodeidah, sebagian besar berasal dari distrik Al Khukhah.
Garis depan pertempuran ada di dekat situ. Sepanjang 2024 provinsi itu mengalami garis depan yang kembali aktif, perpindahan pengungsi, dan arus pendatang dari Ethiopia. Meski konflik berlangsung, pasien tetap datang menyeberangi garis depan. Tetapi tidak satu pun kasus diterima dari distrik Maqbanah. Ketiadaan itu, tulis para penulis, mungkin mencerminkan terbatasnya gerak penduduk dan rujukan akibat pertempuran.
Wabah di Mocha berjalan lebih panjang, dari pekan ke-15 sampai pekan ke-39. Kasus naik sekitar pekan ke-15, mencapai puncak pertama pada pekan ke-26 dan puncak kedua pada pekan ke-32, lalu baru turun nyata sesudah pekan ke-37. Polanya berlarut dan tidak teratur, bukan satu puncak tajam. Porsi anak di bawah lima tahun bertahan sekitar 30 persen.
Di Mafraq hanya ada empat tempat tidur dan lima kursi. Unit kecil itu melayani distrik Mawza, wilayah pedesaan seluas 665 kilometer persegi dengan 120.000 penduduk. Hampir semua pasiennya, 1.845 orang, berasal dari distrik itu, terutama dari subdistrik Al Ahmul. Distrik Mawza tidak punya pusat perawatan kolera, sehingga pasien yang lebih berat dikirim ke Mocha.
Angka untuk distrik itu dicatat tersendiri. Data surveilans yang dikutip para penulis menunjukkan angka serangan 4,24 persen dan angka kematian kasus 3,3 persen untuk Mawza pada 2024. Sebagian besar rujukan dari keempat fasilitas, yakni 80 persen, adalah pasien Mafraq yang dikirim ke Mocha.
Baca juga Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025
Ataq
Di Ataq, Provinsi Shabwa, kasus kolera pertama terdeteksi pada September 2023. Pusat perawatan milik kementerian kesehatan di sana punya 20 tempat tidur dan menjadi satu-satunya di distrik itu. Pasien yang tercatat sedikit: 56 dari distrik Ataq sendiri, 12 dari As Sa’id, serta masing-masing tujuh dari Al Mahfad dan Nisab.
Hanya segelintir yang datang dari seberang garis depan. Para penulis menduga pasien menghindari jalur rujukan yang lebih jauh atau tidak aman. Secara keseluruhan, tulis mereka, asal pasien di keempat tempat mungkin lebih banyak menggambarkan ke mana orang bisa berobat dan seberapa terbuka jalannya daripada peta penularan yang sebenarnya.
Ataq punya satu kelebihan: kemampuan uji laboratoriumnya kuat, sehingga banyak sampel bisa diperiksa. Hasilnya, porsi sampel yang positif berubah-ubah cukup besar dari pekan ke pekan. Kasus di sana naik pada pekan ke-26 dan berangsur turun sampai pekan ke-29.
Meja laboratorium
Secara keseluruhan, uji laboratorium jarang dilakukan. Dari seluruh pasien, hanya 707 orang atau 6,9 persen yang diambil sampelnya. Uji cepat dijalankan pada 673 pasien dan 444 di antaranya, 66 persen, positif. Biakan kuman dilakukan pada 128 kasus, dengan 81 hasil positif.
Pasien yang paling parah lebih sering diperiksa. Sampel diambil dari 18,4 persen pasien dehidrasi berat, berbanding 3,7 persen pasien tanpa dehidrasi dan 7,3 persen pasien dehidrasi sedang. Sesudah pekan ke-21, hasil positif tidak lagi bisa diikuti secara konsisten karena alat uji tidak selalu tersedia, stok habis, dan tidak ada strategi pengujian yang ditetapkan lebih dulu.
Akibatnya ada pertanyaan yang tidak terjawab. Para penulis menyatakan mereka tidak dapat menilai apakah kasus terduga pada masa akhir wabah benar kolera atau penyakit diare lain. Kemungkinan salah diagnosis, tulis mereka, makin terasa karena tingginya porsi pasien tanpa dehidrasi, terutama menjelang akhir wabah.
Catatan lain pun berlubang. Hanya empat pasien yang melaporkan pernah divaksin, dan tiga di antaranya menunjukkan kartu vaksin. Gizi buruk tercatat pada 237 pasien, sedangkan untuk pasien lain tidak ada keterangan apakah mereka diperiksa. Padahal para penulis mencatat perkiraan 2,7 juta anak Yaman mengalami gizi buruk akut. Peran gizi dalam wabah ini karena itu tidak bisa mereka nilai.
Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Di luar pintu fasilitas
Para penulis sendiri membatasi jangkauan temuannya. Naskah itu, kata mereka, menggambarkan kasus terduga yang ditangani di fasilitas dukungan organisasi tersebut, bukan wabah secara nasional. Pasien yang tiba mungkin berbeda dari mereka yang tidak mau atau tidak mampu mencapai fasilitas. Cara memilah dan menangani pasien juga bisa sedikit berbeda antartempat.
Kematian di luar fasilitas menjadi kekhawatiran tersendiri. Untuk wabah ini didirikan 19 pusat dan unit perawatan serta 198 titik rehidrasi oral, tetapi perawatan tetap terpusat di fasilitas besar seperti Sadaqa. Angka 0,52 persen untuk Yaman selatan, tulis mereka, bisa saja belum menghitung kematian di luar fasilitas, terutama di pedesaan.
“Pasien yang tidak tertangani di luar sistem tetap tidak terlihat,” tulis Sallam dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Wabah 2016 sampai 2018, yang mereka jadikan pembanding, mencatat 1.103.683 kasus terduga.
Upaya pencegahan berjalan, tetapi terbatas. Lebih dari 70.000 paket kebersihan dibagikan dan penyuluhan menjangkau lebih dari 250.000 orang. Pada November 2024, sebanyak 3,8 juta orang menerima vaksin kolera oral. Karena pasokan vaksin dunia kurang sejak 2022, kampanye hanya memberi satu dosis, sehingga daya lindung penuhnya, menurut para penulis, kemungkinan belum tercapai.
Mereka menilai semua upaya itu mengurangi dampak, bukan mencegah. Sarana air dan sanitasi tidak membaik sampai taraf yang bisa menjarangkan wabah. “Tanpa perbaikan yang tahan lama pada prasarana air dan sanitasi, wabah akan terus berlanjut, terutama dalam keadaan konflik dan pengungsian,” tulis kesebelas penulis itu, juga dalam bahasa Inggris.
Saran mereka tertuju pada persiapan. Stok alat uji cepat, obat, dan vaksin perlu disimpan sebelum wabah datang. Jaringan perawatan perlu disebar lebih dekat ke penduduk, dan pencatatan pasien dibuat sistematis. Kesiapan menghadapi wabah, menurut mereka, harus bergeser dari menanggapi menjadi mengantisipasi.
Dalam simpulannya, para penulis menulis bahwa penanganan kasus berjalan efektif dan angka kematian kasus rendah, tetapi kasus tetap dilaporkan selama berbulan-bulan. Mereka meminta jaringan pusat perawatan dan titik rehidrasi yang tersebar, strategi uji yang jelas, surveilans yang lebih kuat, dan pengumpulan data yang sistematis.














