- Sebanyak 21,27 persen perempuan dalam kajian ini bergejala cemas, depresi, atau sedang meminum obat untuk masalah kejiwaan.
- Sekitar satu dari enam perempuan membenarkan pemukulan istri dalam setidaknya satu dari lima keadaan.
- Di antara perempuan yang pernah mengalami kehamilan terhenti, 25,5 persen bergejala cemas atau depresi.
- Pada perempuan dengan lebih dari tiga anak, angka gejala cemas atau depresi mencapai 28,3 persen.
- Data diambil pada satu waktu, sehingga hubungan sebab-akibat tidak dapat ditarik.
Daftar Isi
- Satu dari lima perempuan menikah menanggung gejala
- Kehamilan yang terhenti meninggalkan jejak paling jelas
- Makin banyak anak, makin banyak yang bergejala
- Sikap terhadap pemukulan lebih kuat daripada pernikahan dini
- Harta dan sekolah berjalan ke arah sebaliknya
- Menimbang faktor mana yang paling berat
- Di mana penjelasan ini berhenti
Makanan yang gosong, bagi sebagian perempuan di Bangladesh, adalah alasan yang cukup bagi seorang suami untuk memukul istrinya. Begitu pula membantah suami, menelantarkan anak, keluar rumah tanpa pamit, atau menolak berhubungan. Perempuan yang menyetujui salah satu saja dari lima alasan itu ternyata lebih banyak yang menanggung gejala cemas dan depresi, padahal yang ditanyakan kepada mereka hanyalah pendapat, bukan pengalaman pernah dipukul.
Temuan itu muncul dalam artikel Relative contributions of reproductive, behavioral and social vulnerability-related correlates of mental disorder among reproductive aged women in Bangladesh: evidence from nationwide cross-sectional study yang ditulis Lubana Tanvia, Angona Panday, Selim Hossen, Mukundo Chandro Das, dan Md. Tanjimul Alam Sourav, terbit di BMC Public Health tahun 2026. Kelimanya bekerja di Department of Statistics, University of Dhaka. Bahan mereka adalah jawaban 15.991 perempuan menikah berusia 15 sampai 49 tahun dalam Bangladesh Demographic and Health Survey 2022.
Survei itu istimewa karena untuk pertama kalinya memuat pertanyaan tentang kesehatan jiwa perempuan usia subur di seluruh negeri. Seorang perempuan digolongkan mengalami gangguan jiwa bila ia menunjukkan gejala cemas, gejala depresi, atau keduanya, atau bila ia sedang meminum obat yang diresepkan tenaga kesehatan untuk masalah kejiwaan dalam dua minggu sebelum diwawancarai. Perempuan yang sedang hamil dan yang baru melahirkan tidak diikutkan.
Satu dari lima perempuan menikah menanggung gejala
Hasil hitungannya menetapkan skala persoalan lebih dulu. Sebanyak 21,27 persen perempuan dalam kajian ini bergejala cemas, depresi, atau sedang meminum obat untuk masalah kejiwaan. Angka itu berdekatan dengan 20,4 persen yang tercantum dalam laporan akhir survei yang sama. Para penulis menduga selisih tipis itu timbul karena mereka mengeluarkan perempuan hamil dan nifas dari hitungan.
“Kira-kira satu dari lima perempuan menikah usia subur di Bangladesh mengalami gejala kecemasan dan/atau depresi,” tulis Lubana Tanvia dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Beban itu tidak terbagi rata. Di desa, 22,9 persen perempuan bergejala, sedangkan di kota 19,5 persen. Pada kelompok di bawah 20 tahun angkanya 15,1 persen, lalu naik menjadi 25,3 persen pada mereka yang berusia di atas 34 tahun.
Persoalannya, angka sebesar itu bertemu dengan layanan yang sangat tipis. Para penulis mencatat hanya sekitar 0,44 persen anggaran kesehatan nasional Bangladesh dialokasikan untuk kesehatan jiwa, jauh di bawah anjuran Organisasi Kesehatan Dunia sebesar sedikitnya 5 persen. Jumlah psikiater kurang dari 0,1 per 100.000 penduduk dan layanan terkumpul di kota. Akibatnya, hanya sekitar 22 persen perempuan bergejala sedang hingga berat yang memperoleh perawatan dalam bentuk apa pun.
Baca juga Satu Modul Kesehatan Jiwa, Dua Hasil di Riyadh dan Kuala Lumpur
Kehamilan yang terhenti meninggalkan jejak paling jelas
Dari riwayat reproduksi, satu pengalaman menonjol. Hampir seperempat perempuan dalam kajian ini, tepatnya 24,2 persen, pernah mengalami kehamilan yang terhenti, baik karena keguguran, aborsi, maupun lahir mati. Di antara mereka, 25,5 persen bergejala cemas atau depresi. Pada perempuan yang tidak pernah mengalaminya, angkanya 19,9 persen. Selisih itu bertahan ketika seluruh faktor lain ikut diperhitungkan.
Dalam hitungan yang paling lengkap, peluang perempuan dengan riwayat kehamilan terhenti untuk melaporkan gangguan jiwa tercatat 32 persen lebih tinggi daripada perempuan tanpa riwayat itu. Para penulis menawarkan penjelasan cara kerjanya dengan hati-hati. Perempuan yang kehilangan kehamilan, menurut mereka, mungkin merasakan kecemasan dan depresi lebih besar karena guncangan emosi, stigma masyarakat, dukungan yang tidak memadai, dan kekhawatiran tentang kesuburan di kemudian hari.
Yang membuatnya rumit adalah nasib faktor yang tampak serupa. Kehilangan anak, yang dialami 12,6 persen perempuan, semula juga berkaitan dengan gangguan jiwa: 27,1 persen berbanding 20,4 persen. Akan tetapi, kaitan itu melemah dan tidak lagi bermakna secara statistik setelah keadaan sosial dan ciri kependudukan dimasukkan. Para penulis menyebut sebuah kajian di pedesaan Bangladesh sebelumnya menemukan hal yang sama.
Makin banyak anak, makin banyak yang bergejala
Jumlah anak bekerja seperti anak tangga. Di antara perempuan dengan satu anak, 15,5 persen bergejala. Pada mereka yang memiliki dua atau tiga anak, angkanya 21,6 persen. Pada perempuan dengan lebih dari tiga anak, angkanya mencapai 28,3 persen. Setelah semua faktor lain ditimbang, peluang gangguan jiwa pada kelompok dua atau tiga anak tetap 28,8 persen lebih tinggi daripada kelompok satu anak, dan pada kelompok terbanyak 51,9 persen lebih tinggi.
Karena itu, para penulis menempatkan jumlah anak di antara penanda terkuat dalam telaah mereka. Penjelasan yang mereka ajukan bersandar pada kajian terdahulu: anak yang lebih banyak mungkin berarti tanggung jawab mengasuh yang lebih besar, tuntutan keuangan, dan peran keluarga yang saling berebut waktu. Ketiganya, tulis mereka, pernah dikaitkan dengan kesejahteraan psikologis perempuan yang lebih buruk. Analisis serupa atas survei Nepal tahun 2022 menemukan arah yang sama.
Satu perilaku justru berjalan ke arah sebaliknya. Perempuan yang aktif secara seksual dalam empat pekan sebelum survei memiliki peluang gangguan jiwa 16,2 persen lebih rendah daripada yang tidak. Aktivitas itu, menurut mereka, mungkin mencerminkan mutu hubungan, dukungan emosional, dan kestabilan perkawinan. Arah hubungannya pun bisa terbalik, sebab keadaan jiwa seorang perempuan dapat memengaruhi kehidupan seksualnya.
Baca juga Perkawinan Anak Penentu Utama Kelahiran Remaja di 34 Provinsi
Sikap terhadap pemukulan lebih kuat daripada pernikahan dini
Sekitar satu dari enam perempuan, atau 15,8 persen, membenarkan pemukulan istri dalam setidaknya satu dari lima keadaan tadi. Di kelompok ini 27,2 persen bergejala cemas atau depresi, sedangkan pada perempuan yang menolak semua alasan itu angkanya 20,2 persen. Dalam hitungan lengkap, peluang gangguan jiwa pada kelompok yang membenarkan tercatat 41,2 persen lebih tinggi.
Bagaimana sebuah pendapat dapat berjalan seiring dengan gejala kejiwaan? Para penulis menduga, dalam masyarakat patriarkal seperti Bangladesh, penerimaan atas pemukulan istri mencerminkan norma gender yang timpang dan telah diserap ke dalam diri, sehingga kekerasan dipandang sebagai bagian yang wajar dari perkawinan. “Penormalan semacam itu mungkin berkaitan dengan berkurangnya rasa otonomi, ketakutan akan kemungkinan kekerasan, dan tekanan psikologis, bahkan tanpa adanya viktimisasi yang terukur,” tulis mereka dalam bahasa Inggris.
Faktor sosial lain tidak sekuat itu. Tujuh dari sepuluh perempuan dalam kajian ini menikah sebelum berusia 18 tahun, dan di antara mereka 22,0 persen bergejala, berbanding 19,6 persen pada yang menikah lebih lambat. Kaitan itu semula bermakna, tetapi hilang setelah riwayat reproduksi, perilaku, dan ciri kependudukan diperhitungkan. Para penulis mengingatkan bahwa pernikahan dini kerap diikuti kehamilan pada usia muda.
Dua faktor sosial lain juga tidak terbukti berkaitan. Kebebasan perempuan mengambil keputusan di rumah tangga tidak berkaitan dengan gangguan jiwa, begitu pula paparan media. Status bekerja pun demikian: 21,4 persen perempuan bekerja bergejala, nyaris sama dengan 21,2 persen pada yang tidak bekerja. Pemakaian kontrasepsi modern, yang dilaporkan 62,0 persen perempuan, juga tidak menunjukkan kaitan yang bermakna.
Harta dan sekolah berjalan ke arah sebaliknya
Kekayaan rumah tangga bekerja sebagai lereng yang menurun. Di rumah tangga miskin, 23,5 persen perempuan bergejala. Di rumah tangga menengah angkanya 21,0 persen, dan di rumah tangga kaya 19,3 persen. Namun, setelah semua faktor ditimbang bersama, hanya kelompok kaya yang tetap berbeda secara bermakna dari kelompok miskin, dengan peluang gangguan jiwa 15,9 persen lebih rendah.
Para penulis menjelaskan lereng itu lewat hal-hal yang menyertai harta. Rumah tangga yang lebih berada, tulis mereka, mungkin mengalami tekanan keuangan yang lebih ringan, ketahanan pangan yang lebih baik, serta akses yang lebih mudah ke layanan kesehatan dan sumber dukungan lain. Semua itu pernah dikaitkan dengan kesejahteraan jiwa perempuan yang lebih baik dalam kajian-kajian yang mereka rujuk.
Pendidikan menunjukkan pola yang serupa. Di antara perempuan yang tidak bersekolah atau hanya tamat sekolah dasar, 24,9 persen bergejala, sedangkan pada yang menamatkan pendidikan menengah atau lebih tinggi angkanya 18,6 persen. Dalam hitungan lengkap, peluang gangguan jiwa kelompok berpendidikan lebih tinggi tercatat 14,1 persen lebih rendah. Dari seluruh ciri kependudukan yang diuji, hanya pendidikan yang bertahan; usia dan tempat tinggal tidak.
Menimbang faktor mana yang paling berat
Kelima penulis tidak berhenti pada daftar faktor yang bermakna. Mereka menakar sumbangan tiap faktor, lalu mendapati sikap terhadap kekerasan berada di urutan teratas, disusul kehamilan yang terhenti, jumlah anak, pendidikan, aktivitas seksual, dan kekayaan.
Takaran kedua menerjemahkan sumbangan itu ke dalam selisih peluang. Perempuan dengan lebih dari tiga anak rata-rata memiliki peluang gangguan jiwa 6,8 poin persentase lebih tinggi daripada perempuan dengan satu anak. Membenarkan pemukulan istri menambah 6,0 poin, riwayat kehamilan terhenti 4,7 poin, dan memiliki dua atau tiga anak 3,9 poin. Sebaliknya, aktivitas seksual mengurangi 3,0 poin, rumah tangga kaya 2,9 poin, dan pendidikan menengah 2,5 poin.
Dari dua takaran itu para penulis menarik satu simpulan yang sama. Kehamilan yang terhenti dan jumlah anak yang lebih banyak adalah penanda reproduksi yang paling kuat, sedangkan sikap membenarkan kekerasan adalah penanda sosial yang paling kuat. Faktor reproduksi dan perilaku serta faktor kerentanan sosial, menurut mereka, sama-sama berkaitan dengan gangguan jiwa perempuan.
Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma
Di mana penjelasan ini berhenti
Penjelasan tadi punya batas yang ditulis sendiri oleh penyusunnya. Gejala cemas dan depresi diukur dengan kuesioner penapisan yang dijawab sendiri, bukan diagnosis klinis, sehingga penggolongan bisa meleset. Di tempat stigma terhadap gangguan jiwa masih kuat, gejala pun mungkin dilaporkan lebih sedikit daripada yang sebenarnya. Data diambil pada satu waktu, sehingga hubungan sebab-akibat tidak dapat ditarik.
Ada pula hal yang tidak tersedia dalam survei. Riwayat gangguan jiwa sebelumnya, penyakit fisik menahun, pengalaman kekerasan dari pasangan, dan ciri-ciri suami tidak tercatat, sehingga pengaruhnya tidak dapat disingkirkan. Temuan ini juga tidak berlaku bagi perempuan hamil dan nifas. Para penulis menegaskan bahwa ukuran mereka menangkap sikap terhadap kekerasan dalam rumah tangga, bukan pengalaman menjadi korban, dua hal yang berkaitan tetapi berbeda.
Dari temuan itu, kelima penulis mengajukan beberapa usul. Penapisan kesehatan jiwa sebaiknya dipadukan ke dalam layanan kesehatan reproduksi, dengan perhatian khusus kepada perempuan yang mengalami kehamilan terhenti dan yang memiliki banyak anak. Program pencegahan kekerasan berbasis gender dan dukungan berbasis masyarakat perlu berjalan di samping layanan kesehatan jiwa. Akses pendidikan dan layanan bagi rumah tangga miskin, menurut mereka, patut didahulukan.
Wadahnya, tulis mereka, sudah ada: Rencana Strategis Kesehatan Jiwa Nasional Bangladesh 2020-2030 dan panduan mhGAP dari Organisasi Kesehatan Dunia yang telah disesuaikan untuk layanan primer. Untuk langkah berikutnya, mereka menyarankan kajian yang mengikuti perempuan yang sama dari waktu ke waktu agar arah hubungan menjadi jelas, ditambah keterangan tentang akses layanan, dukungan sosial, dan pengaruh lingkungan sekitar.
Perempuan yang menyetujui alasan-alasan pemukulan itu lebih banyak yang cemas dan depresi, dan para penulis membacanya sebagai tanda norma yang timpang telah diterima sebagai hal biasa. Apakah sikap itu yang mendahului gejala atau sebaliknya, data satu waktu ini belum dapat menjawabnya.















