- Di Uni Eropa, kenaikan 1 persen energi terbarukan menurunkan emisi karbon dioksida sekitar 0,133 persen dalam jangka pendek.
- Di kelompok non-Uni Eropa, kenaikan energi terbarukan belum cukup kuat untuk menurunkan emisi secara berarti.
- Kenaikan 1 persen keterbukaan dagang menaikkan emisi Uni Eropa sekitar 0,209 persen dalam jangka pendek.
- Pemakaian energi konvensional menaikkan emisi secara bermakna di semua model.
- Para penulis menyarankan pengembangan energi terbarukan disertai pengurangan konsumsi energi fosil yang terukur.
Daftar Isi
- Di Uni Eropa, energi terbarukan menekan emisi
- Di luar Uni Eropa, tambahan energi bersih belum terasa
- Dagang yang makin terbuka menaikkan emisi Uni Eropa
- Di kelompok lain, dagang tak terbukti berpengaruh
- Yang sama di kedua kelompok: bahan bakar fosil
- Yang berbeda: pertumbuhan ekonomi dan arah emisinya
Energi terbarukan dan perdagangan antarnegara jarang ditimbang dalam satu neraca. Yang pertama umumnya dipandang sebagai alat memangkas karbon dioksida, yang kedua bisa menaikkan atau justru menurunkan emisi. Sebuah kajian atas negara-negara G20 menaruh keduanya berdampingan, lalu membelah negara-negara itu menjadi dua kelompok: Uni Eropa dan bukan Uni Eropa. Hasilnya tidak sama di kedua sisi.
Kajian itu ditulis Fika Rizki Nandatari, Mahrus Lutfi Adi Kurniawan, Firsty Ramadhona Amalia Lubis, Danur Condro Guritno, dan Indanazulfa Qurrota A’yun. Artikel mereka, Renewable Energy, Trade Openness, and CO2 Emissions in G20 Economies: Evidence from Dynamic Panel GMM, terbit di Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan volume 27 nomor 1 tahun 2026. Tiga penulis pertama berasal dari Universitas Ahmad Dahlan. Guritno dari Universitas Sebelas Maret, sedangkan A’yun dari National Dong Hwa University, Taiwan.
G20 dipilih karena bobotnya. Para penulis mencatat anggota kelompok ini mewakili 80 persen investasi global, 60 persen penduduk dunia, 75 persen perdagangan global, dan 85 persen ekonomi dunia. Di sisi lain, kelompok yang sama bertanggung jawab atas lebih dari 80 persen emisi gas rumah kaca. Besarnya pemakaian energi untuk kegiatan ekonomi disebut sebagai sebabnya.
Angka emisi dunia yang mereka kutip terus menanjak. Emisi karbon global naik dari 35,38 gigaton pada 2016 menjadi 36,81 gigaton pada 2019. Penurunan baru tampak pada 2020, ketika pandemi Covid-19 menyusutkan kegiatan ekonomi. Kajian ini memakai data 2010 sampai 2021 dari 46 negara yang oleh para penulis disebut anggota G-20.
Dua gambaran awal sudah menunjukkan arah yang tidak seragam. Emisi karbon dioksida China naik tajam hingga melampaui Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa. Emisi umumnya meningkat di semua negara, kecuali Amerika Serikat dan Eropa yang cenderung turun pada tahun-tahun terakhir. Sementara itu, pembangkitan energi terbarukan paling tinggi tercatat di China, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.
Di Uni Eropa, energi terbarukan menekan emisi
Di kelompok Uni Eropa, energi terbarukan bekerja seperti yang diharapkan. Setiap kenaikan 1 persen energi terbarukan menurunkan emisi karbon dioksida sekitar 0,133 persen dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, penurunannya sekitar 0,156 persen. Hasil itu bermakna secara statistik pada tingkat paling ketat yang dipakai para penulis.
Nandatari dan rekan-rekannya menjelaskan mengapa jalur itu lebih efektif di sana. Pengembangan energi terbarukan di Uni Eropa disertai pengurangan pemakaian batu bara, penguatan jaringan listrik, teknologi penyimpanan, aturan lingkungan, dan kebijakan harga karbon. Negara-negara anggotanya, tulis mereka, mulai meninggalkan batu bara secara bertahap sebagai sumber energi.
Mekanisme yang bekerja adalah penggantian. Ketika tenaga surya, angin, air, biomassa, dan panas bumi menggantikan batu bara, minyak, dan gas alam, kadar karbon kegiatan ekonomi ikut turun. Pergantian itu terjadi dalam produksi listrik, industri, transportasi, dan konsumsi rumah tangga. Para penulis menyebut pergeseran susunan energi inilah penghubung utama antara energi terbarukan dan turunnya emisi.
Di luar Uni Eropa, tambahan energi bersih belum terasa
Di sisi lain, kelompok non-Uni Eropa memberi hasil yang berbeda. Angkanya memang tetap bertanda negatif, yaitu 0,002, tetapi tidak bermakna secara statistik. Menurut para penulis, kenaikan energi terbarukan di kelompok ini belum cukup kuat untuk menurunkan emisi secara berarti.
Penjelasan mereka bertumpu pada peran energi itu. Keadaan tersebut bisa terjadi bila tambahan energi terbarukan hanya memenuhi pertumbuhan permintaan energi, tanpa disertai pengurangan bahan bakar fosil. Dengan kata lain, energi terbarukan masih menjadi sumber pelengkap. Ia belum menjadi pengganti energi konvensional.
Para penulis juga mencatat soal tahap. Pada awal peralihan energi, pembangunan infrastruktur, pembuatan peralatan, dan penyambungan teknologi terbarukan masih bisa memerlukan bahan bakar fosil. Akibatnya, manfaat penurunan emisi belum langsung terlihat. Di negara yang porsi bahan bakar fosilnya masih dominan, kenaikan kecil energi terbarukan mungkin tidak cukup.
Bila semua negara digabung, energi terbarukan tetap menurunkan emisi. Kenaikan 1 persen energi terbarukan berkaitan dengan penurunan emisi 0,019 persen dalam jangka pendek dan sekitar 0,031 persen dalam jangka panjang. Angka itu relatif kecil. Para penulis menduga porsi energi terbarukan belum cukup besar untuk menggantikan bahan bakar fosil sepenuhnya.
Baca juga Ekspor Sumatera Utara Harus Dibuat Dua Kali Permintaannya
Dagang yang makin terbuka menaikkan emisi Uni Eropa
Perdagangan memberi gambaran yang berkebalikan. Di kelompok Uni Eropa, kenaikan 1 persen keterbukaan dagang menaikkan emisi sekitar 0,209 persen dalam jangka pendek dan 0,246 persen dalam jangka panjang. Hasil ini bermakna secara statistik.
Para penulis menawarkan pembacaan atas temuan itu. Produksi yang bertambah, perpindahan barang, keterlibatan dalam rantai nilai global, dan kemungkinan berpindahnya kegiatan padat karbon mungkin masih mengimbangi manfaat alih teknologi bersih. Akses ke pasar internasional memperluas permintaan, menambah produksi, memperbesar kegiatan industri, dan menaikkan pemakaian energi.
Naskah itu memilah pengaruh dagang ke dalam tiga jalur. Jalur skala bekerja ketika produksi dan pemakaian energi membesar. Jalur komposisi muncul ketika suatu negara memusatkan sumber dayanya pada sektor tertentu, misalnya manufaktur berat, pertambangan, atau sektor padat energi. Jalur teknik bekerja sebaliknya: mesin yang lebih hemat, teknologi energi bersih, dan standar lingkungan yang lebih tinggi masuk lewat pasar global.
Di kelompok lain, dagang tak terbukti berpengaruh
Pada kelompok non-Uni Eropa, angka keterbukaan dagang tercatat 0,041, tetapi tidak bermakna secara statistik. Karena itu, tulis para penulis, tidak ada bukti bahwa bertambahnya perdagangan memengaruhi emisi secara langsung di kelompok tersebut. Dampak dagang bisa berbeda antarnegara karena perbedaan susunan ekspor, struktur industri, pemakaian energi, dan mutu aturan lingkungan.
Untuk seluruh negara, keterbukaan dagang menaikkan emisi. Kenaikan 1 persen keterbukaan dagang menambah emisi sekitar 0,042 persen dalam jangka pendek dan 0,068 persen dalam jangka panjang. Para penulis membacanya sebagai tanda bahwa jalur skala dan komposisi lebih dominan daripada jalur teknik. Mereka juga mencatat bahwa hasil untuk variabel dagang sangat peka terhadap cara penghitungan.
Penanaman modal asing tidak memberi jawaban di kelompok mana pun. Pengaruhnya terhadap emisi tidak bermakna pada model seluruh negara, non-Uni Eropa, maupun Uni Eropa. Menurut para penulis, hal itu mungkin terjadi karena dua arus yang berlawanan. Modal asing di pertambangan, bahan bakar fosil, dan industri berat bisa menaikkan emisi, sedangkan modal yang membawa teknologi bersih bisa menurunkannya.
Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Yang sama di kedua kelompok: bahan bakar fosil
Satu hal berlaku di kedua sisi. Pemakaian energi konvensional menaikkan emisi secara bermakna dan konsisten di semua model. Angkanya 0,968 untuk seluruh negara, 0,398 untuk kelompok non-Uni Eropa, dan 0,960 untuk Uni Eropa. Dalam jangka panjang, dampaknya sekitar 1,559 persen, 0,606 persen, dan 1,128 persen.
Angka Uni Eropa yang besar itu diberi catatan khusus. “Besarnya koefisien energi konvensional di Uni Eropa tidak serta-merta berarti Uni Eropa lebih bergantung pada bahan bakar fosil daripada kelompok non-Uni Eropa,” tulis Nandatari dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Koefisien itu, lanjut mereka, menunjukkan besarnya tanggapan emisi atas setiap perubahan pemakaian bahan bakar fosil.
Kesamaan kedua adalah sifat emisi yang terbawa dari waktu ke waktu. Tingkat emisi pada periode sebelumnya memengaruhi tingkat emisi periode berjalan di semua model. Angkanya 0,379 untuk seluruh negara, 0,343 untuk non-Uni Eropa, dan 0,149 untuk Uni Eropa. Semuanya berada di bawah satu, sehingga guncangan emisi berangsur mereda.
Di dalam kesamaan itu ada selisih. Kelekatan emisi tampak lebih kuat di negara non-Uni Eropa. Angka yang lebih rendah di Uni Eropa menunjukkan guncangan emisi cenderung lebih cepat hilang. Para penulis menulis bahwa hal itu mungkin berkaitan dengan aturan lingkungan yang lebih kuat, peralihan energi, dan kemampuan teknologi.
Yang berbeda: pertumbuhan ekonomi dan arah emisinya
Pertumbuhan ekonomi memisahkan kedua kelompok paling jelas. Di kelompok non-Uni Eropa, kenaikan 1 persen produk domestik bruto menaikkan emisi sekitar 0,737 persen, dan dalam jangka panjang diperkirakan mencapai sekitar 1,122 persen. Menurut para penulis, pertumbuhan di kelompok ini masih banyak ditopang kegiatan produksi, industrialisasi, dan konsumsi bahan bakar fosil.
Pada kelompok Uni Eropa, angkanya 0,071 dan tidak bermakna secara statistik. Perubahan produk domestik bruto belum terbukti memengaruhi emisi di sana. Para penulis menulis bahwa hasil itu mungkin mencerminkan pertumbuhan dan emisi yang relatif sudah terlepas satu sama lain. Mereka menyebut efisiensi, pergeseran ke sektor jasa dan teknologi, harga karbon, dan energi rendah karbon sebagai kemungkinan sebabnya.
Para penulis menutup dengan dua hal: saran kebijakan dan batas kajian. “Pengembangan energi terbarukan harus disertai pengurangan konsumsi energi fosil yang terukur,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Pemerintah disarankan memperkuat investasi pada infrastruktur energi bersih, penyimpanan energi, dan jaringan listrik. Kebijakan dagang disarankan memuat standar lingkungan dan syarat efisiensi karbon.
Batasnya mereka tulis sebagai pekerjaan untuk penelitian berikutnya. Kajian lanjutan perlu menguji pengaruh yang tidak lurus dan pengaruh ambang, serta memilah perdagangan dan penanaman modal asing menurut sektor. Kajian lanjutan juga perlu menguji secara formal apakah angka kelompok Uni Eropa dan non-Uni Eropa memang berbeda.
Baca juga Luas Lahan Menentukan Pendapatan Petani Sawit Rokan Hilir
Energi terbarukan dan perdagangan akhirnya tetap berada dalam satu neraca. Di Uni Eropa, yang pertama menekan emisi dan yang kedua menaikkannya. Di luar Uni Eropa, keduanya belum terbukti berpengaruh. Yang tercatat sama di kedua sisi hanya satu, dan para penulis merumuskannya dalam simpulan: “ketergantungan pada bahan bakar fosil tetap menjadi pendorong utama emisi karbon”.















