- Data 34 tahun tidak menunjukkan pengaruh yang nyata dari stabilitas politik terhadap modal asing yang masuk ke Pakistan.
- Setiap kenaikan ekspor 1 persen berkaitan dengan kenaikan modal asing 0,78 persen.
- Setiap kenaikan impor 1 persen berkaitan dengan turunnya modal asing 0,32 persen.
- Tekstil menyumbang 57 persen dari seluruh ekspor Pakistan.
- Pakistan disarankan melembagakan hubungan dagangnya lewat perjanjian bilateral.
Daftar Isi
Gejolak politik dan angka ekspor jarang dibicarakan dalam satu tarikan napas, tetapi di Pakistan keduanya sama-sama disebut penentu datang atau perginya modal asing. Sebuah kajian atas data 34 tahun, dari 1990 sampai 2023, menimbang keduanya sekaligus. Hasilnya, ekspor terbaca jelas pada angka, sedangkan stabilitas politik tidak.
Kajian itu ditulis Adila Haidari, Safiullah Junejo, dan Teguh Yudo Wicaksono dengan judul The synergy of political stability, trade liberalization, and macroeconomic factors in attracting FDI to Pakistan. Naskahnya terbit di Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan volume 27 nomor 1 tahun 2026. Ketiganya berasal dari Departemen Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Internasional Indonesia di Jawa Barat, dan Junejo juga tercatat di Shah Abdul Latif University, Khairpur, Pakistan.
Yang mereka timbang ada lima: stabilitas politik, liberalisasi perdagangan yang diukur lewat tarif, ekspor, impor, dan inflasi. Kelimanya dihadapkan pada arus masuk investasi asing langsung ke Pakistan, memakai data Bank Dunia. Selama ini, tulis para peneliti, faktor-faktor itu lebih sering dikaji sendiri-sendiri, dan perdebatan tentang mana yang lebih menentukan belum selesai.
Di Sisi Politik, Gejolak yang Bertahan Puluhan Tahun
Di sisi pertama berdiri politik. Naskah itu mencatat ketidakstabilan politik di Pakistan sudah bertahan selama puluhan tahun. Kebijakan perdagangan negeri itu pun kerap tidak konsisten karena berganti mengikuti rezim politik yang berbeda-beda. Akibatnya, upaya membuka perdagangan dalam jangka panjang menjadi kurang ampuh.
Para peneliti mengutip bank sentral, State Bank of Pakistan, yang menyebut tiga penghalang utama investasi asing: gejolak politik, kebijakan yang sering dibalik, dan infrastruktur yang lemah. Sejak 2022, menurut naskah itu, ketidakstabilan politik yang berulang menggerus kepercayaan investor. Arus modal asing menurun bersamaan dengan naiknya inflasi dan pengangguran.
Tidak semua gejolak berbobot sama. Ketegangan sipil dan militer serta perubahan aturan yang mendadak disebut paling merusak harapan investor. Kelemahan tata kelola, termasuk korupsi dan aturan yang tidak konsisten, ikut mengurangi manfaat yang bisa dipetik dari stabilitas. Dari situ para peneliti berangkat dengan dugaan bahwa stabilitas politik berpengaruh positif dan nyata terhadap modal asing.
Catatan sepuluh tahun terakhir memperlihatkan betapa naik turunnya arus itu. Modal asing yang masuk ke Pakistan mencapai puncak 2,58 miliar dolar Amerika Serikat pada 2016, lalu turun tajam pada 2018 dan 2022. Pada masa pandemi COVID-19 arus itu justru bertahan, rata-rata 2 miliar dolar setahun pada 2020 dan 2021, sebelum naik kembali pada 2023.
Di Sisi Dagang, Ekspor yang Bertumpu pada Tekstil
Di sisi lain berdiri perdagangan. Daya saing ekspor Pakistan, tulis para peneliti, masih terbatas. Sebagian besar barang yang dijual ke luar negeri terkumpul pada tekstil dan pertanian. Mengutip International Trade Centre, naskah itu menyebut tekstil menyumbang 57 persen dari seluruh ekspor Pakistan, sementara perluasan ke produk berteknologi berjalan lambat.
Pendapatan ekspor negeri itu belakangan menurun karena inflasi dan gangguan rantai pasok. Meski begitu, naskah tersebut mencatat sejumlah pembenahan. Ada Pakistan Single Window untuk memudahkan urusan ekspor dan impor, ada pula dorongan bagi ekspor teknologi informasi dan pertanian. Keduanya disebut sebagai upaya memperbaiki daya saing.
Impor membawa dua wajah. Ia memasok teknologi dan barang setengah jadi yang menaikkan produktivitas, tetapi bila berlebihan ia menekan neraca dagang dan cadangan devisa. Ketergantungan Pakistan pada energi dan mesin impor memperlebar defisit perdagangannya. Pembatasan impor pada 2023 dimaksudkan melindungi cadangan devisa, tetapi ikut menyempitkan pasokan bahan bagi industri dan mengecilkan minat berinvestasi.
Inflasi melengkapi sisi ini. Naik turunnya harga di Pakistan didorong guncangan harga minyak, mata uang yang tidak stabil, dan pengetatan anggaran yang dipimpin Dana Moneter Internasional. Semua itu, menurut naskah tersebut, mengikis daya beli dan kepercayaan dunia usaha. Bagi investor, inflasi adalah alat menakar risiko dan peluang untung.
Baca juga Ekspor Sumatera Utara Harus Dibuat Dua Kali Permintaannya
Yang Terbaca pada Stabilitas Politik
Ketika kelima faktor ditimbang bersama, sisi politik memberi hasil yang berlawanan dengan dugaan awal. Angka untuk stabilitas politik bertanda negatif dan tidak signifikan secara statistik. Artinya, data 34 tahun itu tidak menunjukkan pengaruh yang nyata dari stabilitas politik terhadap modal asing yang masuk ke Pakistan.
Para peneliti mengakui hasil ini bertentangan dengan harapan teori yang lazim. “Meskipun stabilitas politik diakui luas penting bagi iklim usaha yang sehat, pengaruhnya dalam menarik investasi asing di Pakistan tampak terbatas,” tulis Adila Haidari, Safiullah Junejo, dan Teguh Yudo Wicaksono, para ekonom Universitas Islam Internasional Indonesia, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Penjelasan yang mereka tawarkan terletak pada cara investor berhitung. Investor tidak mengabaikan ketidakpastian politik. Mereka menimbang risiko itu terhadap peluang ekonomi yang ada. Bila peluangnya cukup kuat dan ada cara meredam risiko, kelemahan lembaga yang mereka rasakan dapat tertutupi. Imbal hasil yang lebih tinggi dari ekspor dan perdagangan yang terbuka, tulis para peneliti, mungkin mengimbangi risiko politik yang lebih besar.
Ada pula soal ke mana uang itu mengalir. Investasi kerap disalurkan ke sektor yang terlindung atau ke proyek yang dijamin perjanjian dua negara, seperti Koridor Ekonomi China-Pakistan. Jaminan semacam itu menjadi penyangga dari gejolak di tingkat nasional. Namun naskah itu juga mencatat pertumbuhan lewat koridor tersebut sempit, terpusat pada energi dan infrastruktur, dan tidak menjelma menjadi kepercayaan investor yang lebih luas.
Yang Terbaca pada Ekspor dan Tarif
Pada sisi kedua, angkanya tegas. Setiap kenaikan ekspor 1 persen berkaitan dengan kenaikan modal asing 0,78 persen. Hubungan itu positif dan nyata secara statistik. Menurut para peneliti, daya saing ekspor memberi isyarat kepada investor asing bahwa sebuah negara terbuka dan berpeluang mendatangkan untung.
Liberalisasi perdagangan menunjukkan arah yang sama. Setiap perubahan 1 persen pada ukuran keterbukaan dagang itu berkaitan dengan modal asing yang lebih tinggi 0,24 persen, dengan faktor lain dianggap tetap. Hasil ini nyata secara statistik. Para peneliti membacanya sebagai penegasan bahwa hambatan dagang yang lebih rendah dan akses pasar yang lebih baik mendorong perusahaan multinasional untuk datang.
Kelima faktor itu bersama-sama menjelaskan 72 persen naik turunnya modal asing ke Pakistan. Sisanya, yakni 28 persen, menurut naskah itu dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diukur. Para peneliti merangkumnya begini: stabilitas politik tidak berpengaruh, ekspor berpengaruh positif, sedangkan impor dan inflasi berpengaruh negatif terhadap modal asing.
Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka
Yang Menahan Modal: Impor dan Inflasi
Dua faktor bekerja ke arah sebaliknya. Yang pertama impor. Setiap kenaikan impor 1 persen berkaitan dengan turunnya modal asing 0,32 persen. Para peneliti menyimpulkan tingkat impor yang tinggi membawa akibat buruk bagi investasi asing di Pakistan. Mereka menulis bahwa pasar negeri itu mungkin lebih menarik bila aturan impor dan kepentingan investasi asing diseimbangkan.
Yang kedua inflasi. Setiap kenaikan inflasi 1 persen berkaitan dengan turunnya modal asing 0,059 persen. Hubungan ini juga nyata secara statistik. Harga yang terus tidak stabil, menurut naskah itu, meruntuhkan keyakinan investor terhadap keuntungan jangka panjang. Inflasi karena itu disebut sebagai salah satu penghalang modal asing.
Dari dua temuan itu para peneliti menarik satu garis. “Kondisi ekonomi yang stabil dan dapat diperkirakan lebih mungkin menarik investasi asing jangka panjang,” tulis Haidari, Junejo, dan Wicaksono dalam simpulan naskah mereka. Menjaga iklim investasi, menurut mereka, bergantung pada pengelolaan yang cermat atas pembatasan impor dan pengendalian inflasi.
Baca juga Inklusi Keuangan Disabilitas, Belanja Lebih Tinggi 23 Persen
Yang Dianjurkan: Perjanjian Antarnegara
Anjuran para peneliti mempertemukan kembali kedua sisi itu. Selain menjaga kestabilan ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang dipimpin ekspor, Pakistan disarankan melembagakan hubungan dagangnya lewat perjanjian bilateral. Perjanjian seperti itu menawarkan insentif jangka panjang dan mengurangi risiko yang ditanggung investor.
Alasannya berhubungan langsung dengan politik. Ketidakstabilan politik, tulis mereka, saat ini mungkin tidak banyak menghalangi modal asing. Meski begitu, perjanjian bilateral yang resmi dapat menjadi alat penyeimbang. Ia memberi investor jaminan yang tidak bergantung pada keadaan politik di dalam negeri.
Koridor Ekonomi China-Pakistan kembali dijadikan contoh, terutama di sektor infrastruktur dan energi. Para peneliti menganjurkan perjanjian semacam itu diperkuat dan diperluas, khususnya dengan negara yang berminat pada manufaktur, teknologi, dan jasa. Langkah itu dinilai dapat memperbesar arus modal asing dan sejalan dengan tujuan pembangunan Pakistan yang berorientasi ekspor.
Kajian ini punya batas yang diakui penulisnya sendiri. Secara konsep kajian ini menyoroti sinergi, tetapi model yang dipakai tidak menguji bagaimana faktor-faktor itu saling memengaruhi. Hasilnya mencerminkan pengaruh tiap faktor secara terpisah, bukan pengaruh gabungan. Mereka menyarankan riset berikutnya menguji bagaimana faktor politik dan ekonomi bersama-sama membentuk arus investasi asing.
Batas lain menyangkut politik itu sendiri. Para peneliti mengakui sulitnya menangkap seluruh kerumitan stabilitas politik. Menurut mereka, stabilitas politik mungkin tetap memengaruhi modal asing secara tidak langsung, lewat jalur yang tidak masuk dalam model. Perubahan keadaan ekonomi dunia dan perkembangan politik dari waktu ke waktu juga membatasi sejauh mana temuan ini dapat diberlakukan umum.
Di akhir naskah, para peneliti merangkum bahwa liberalisasi perdagangan dan ekspor berpengaruh baik dan nyata terhadap modal asing, sedangkan impor dan inflasi berpengaruh buruk. Mereka menyebut keputusan investor di Pakistan mungkin lebih digerakkan dasar-dasar ekonomi atau peluang di sektor tertentu daripada keadaan politik. Pakistan, tulis mereka, perlu mengutamakan dan mendukung prakarsa yang berorientasi ekspor untuk menarik lebih banyak investasi asing.















