- Dari 162.449 penambang mineral yang parunya pernah diperiksa, 24.461 orang mengidap silikosis.
- Silikosis ditemukan pada 20 persen penambang batu, 20 persen penambang nonlogam, dan 18 persen penambang logam.
- Di negara dengan indeks rendah, silikosis ditemukan pada 23 persen penambang, di negara berindeks tinggi 4 persen.
- Pada studi sebelum 1970 silikosis ditemukan pada 28 persen penambang, sesudahnya 14 persen.
- Para penulis menilai kepastian angka gabungan itu rendah karena hasil antarstudi sangat tidak seragam.
Daftar Isi
Silikosis adalah nama untuk paru yang berparut karena debu batu. Debu itu bernama silika kristalin, cukup halus untuk terhirup, dan terlepas ketika batuan dibor, diledakkan, dikumpulkan, dihancurkan, lalu diangkut. Parutnya tidak bisa pulih dan terus bertambah. Dari 162.449 penambang mineral yang parunya pernah diperiksa, 24.461 orang mengidapnya.
Hitungan itu disusun Jeremy T. Hua, Wigdan H. Farah, Cecile S. Rose, Liz Kellermeyer, dan Lauren M. Zell-Baran dalam artikel Silicosis and silica dust sampling in mineral mining across 30 countries: a systematic review and meta-analysis. Artikel tersebut terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulisnya bekerja di National Jewish Health di Denver, University of Colorado, Colorado School of Public Health, dan Mayo Clinic di Amerika Serikat.
Mereka menghimpun 85 studi dari 30 negara yang terbit dalam 13 bahasa. Sebanyak 24 studi datang dari Asia, 22 dari Amerika Utara, 19 dari Eropa, 14 dari Afrika, lima dari Australia, dan tiga dari Amerika Selatan. Sedikitnya 40 jenis bahan tambang terwakili di dalamnya.
Silikosis, Parut Paru karena Debu Batu
Maksudnya begini. Silika adalah mineral alami yang paling melimpah, bahan utama batu, bata, beton, kaca, dan pasir. Pekerja yang menghirup debunya bertahun-tahun bisa mengalami fibrosis, yaitu jaringan paru yang berubah menjadi parut. Naskah itu menyebut lebih dari 2,6 juta pekerja industri di dunia diperkirakan mengidap silikosis, dan angka itu pun diduga terlalu rendah.
Selama ini sorotan tertuju pada tambang batu bara. Penambang mineral, sebutan untuk mereka yang menggali apa pun selain batu bara, kurang dipahami kesehatannya. Golongan ini mencakup empat kelompok bahan: logam seperti emas, perak, besi, tembaga, timbal, dan seng; mineral nonlogam seperti kalium, lempung, keramik, dan talk; batu; serta pasir dan kerikil.
Contoh emas membantu membayangkan sumber debunya. Untuk mendapat satu satuan logam murni, batuan yang harus digali lazimnya lebih dari seratus kali lipat. Pada logam mulia seperti emas, perbandingannya melampaui satu juta. Karena itu, tulis para penulis, risiko parut paru pada penambang logam tampaknya terutama digerakkan oleh paparan silika.
Baca juga Debu PM2.5 Menaikkan Risiko Influenza di Xinjiang 6,7 Persen
Prevalensi Gabungan, Hitungan dari Puluhan Studi
Prevalensi adalah bagian dari sekelompok orang yang sedang mengidap suatu penyakit. Prevalensi gabungan berarti angka itu dirangkum dari banyak studi sekaligus. Dari 57 studi di 26 negara, hasilnya 17 persen penambang mineral. Studi-studi itu terbit antara 1924 dan 2025.
Angka 17 persen bukan potret yang seragam. Tiap studi melaporkan angka yang sangat berjauhan, dari nol sampai 68 persen, dengan nilai tengah 24 persen. Rentang kepercayaan untuk angka gabungan itu sendiri terbentang dari 13 sampai 22 persen.
Siapa yang diperiksa juga tercatat. Usia rata-rata penambang itu 43 tahun dan 96 persennya laki-laki. Dari 28 studi yang mencatat masa kerja, rata-ratanya 16,6 tahun. Keterangan soal rokok terbatas, tetapi di 19 studi yang memuatnya, 60,6 persen penambang merokok.
Bedanya begini bila bahan tambang dipilah. Silikosis ditemukan pada 20 persen penambang batu, 20 persen penambang mineral nonlogam, dan 18 persen penambang logam. Pada tambang pasir dan kerikil angkanya 3 persen, pada komoditas campuran 6 persen. Namun studi di dua kelompok terakhir sedikit, dan selisih antarkelompok tidak bermakna secara statistik.
Jenis tambang ikut dibandingkan, yakni tambang bawah tanah dan tambang permukaan, sebab kadar debu di keduanya pernah dilaporkan berbeda. Hasilnya serupa. Silikosis ditemukan pada 19 persen penambang bawah tanah dan 19 persen penambang permukaan. Pada mereka yang bekerja di kedua jenis tambang angkanya 14 persen.
Indeks Sosio-demografi, Ukuran Kemajuan Negara
Indeks Sosio-demografi, disingkat SDI, adalah ukuran gabungan pendapatan per kapita, pendidikan, dan tingkat kelahiran sebuah negara. Makin tinggi nilainya, makin maju keadaan sosial ekonominya. Para penulis memakainya sebagai penanda tidak langsung kondisi kerja di tambang.
Perbedaannya nyata. Di negara dengan indeks tinggi, silikosis ditemukan pada 4 persen penambang, meski hanya tiga studi yang mewakilinya. Di negara kelompok menengah angkanya 10 persen dari 16 studi. Di negara dengan indeks rendah, angkanya 23 persen dari 38 studi.
Naskah itu memberi penjelasannya. Negara berpendapatan lebih tinggi punya sumber daya ekonomi dan prasarana kesehatan masyarakat untuk membuat, menjalankan, dan menegakkan aturan pengurangan debu. Perusahaan tambang, tulis para penulis, kerap menanam modal di negara berindeks rendah, tempat upah lebih murah dan pengawasan lebih lemah.
Persoalan itu mereka kaitkan dengan masa depan. Jumlah penambang batu bara di dunia menurun, sedangkan tenaga kerja tambang mineral diperkirakan tumbuh lima kali lipat pada 2050. Pendorongnya adalah kebutuhan grafit, litium, dan kobalt untuk sumber energi yang lebih bersih. Hampir 50 juta orang di dunia juga bekerja di tambang rakyat dan tambang skala kecil.
Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Waktu juga memisahkan angka. Era kontemporer dalam naskah ini berarti tahun 1970 dan sesudahnya. Para penulis sendiri menyebut batas itu tidak presisi. Mereka memakainya untuk memisahkan kondisi tambang lama dari masa ketika aturan debu lebih ketat.
Selisihnya lebar. Pada studi sebelum 1970, silikosis ditemukan pada 28 persen penambang. Pada studi sesudahnya angkanya 14 persen. Perbedaan itu bermakna secara statistik, dan menurut para penulis kemungkinan berkaitan dengan membaiknya kondisi tambang dan aturan.
Satu contoh dari Tiongkok dikutip di dalam naskah. Chen dan rekan pada 1990 mencatat silikosis di tambang logam negeri itu turun dari 24 persen menjadi 2 persen, sebelum dan sesudah 1958. Pada tahun itu kewajiban membasahi debu dengan air dan memasang ventilasi diberlakukan.
Insidensi Kumulatif, Kasus Baru Selama Bertahun-tahun
Insidensi kumulatif menghitung hal yang berbeda dari prevalensi. Yang dicatat adalah penambang yang semula parunya bersih, lalu jatuh sakit selama diikuti bertahun-tahun. Enam studi di empat negara, mencakup 43.282 penambang, melaporkan angka semacam ini.
Rentangnya lebar. Pada 2.109 penambang logam di Kanada yang diikuti rata-rata 18 tahun, 2 persen terkena silikosis. Pada 30.925 penambang logam di Tiongkok yang diikuti rata-rata 32,5 tahun, angkanya 26 persen. Satu studi pada 1.809 pekerja tanah diatom, sejenis mineral nonlogam, mencatat 4,5 persen sesudah rata-rata 11,5 tahun.
Dua istilah lain muncul di sini. Fibrosis masif progresif, disingkat PMF, digambarkan naskah itu sebagai keadaan yang tidak bisa pulih, melumpuhkan, dan kerap membutuhkan cangkok paru. Silikotuberkulosis adalah silikosis yang disertai tuberkulosis. Angka gabungannya 1 persen untuk PMF dan 4 persen untuk silikotuberkulosis.
Kedua angka itu bersandar pada studi yang terbatas. Para penulis menilai gambaran PMF pada penambang mineral belum jelas dan kemungkinan lebih rendah daripada beban penyakit sebenarnya. Karena komplikasi sering baru muncul bertahun-tahun kemudian, mereka menyebut pemeriksaan PMF dan tuberkulosis penting bagi penambang aktif maupun yang sudah pensiun.
Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Pengambilan Sampel Debu, Cara Menakar Udara Tambang
Pengambilan sampel debu berarti menakar seberapa banyak debu silika di udara yang dihirup pekerja. Catatan tentang praktik ini ditemukan di 28 studi dari 11 negara, terbit antara 1955 dan 2025. Alatnya ada yang dipasang pada badan pekerja, ada yang ditaruh di bagian tambang yang berdebu, ada pula yang keduanya.
Waktu mulainya berlainan. Studi dari Tiongkok dan Italia melaporkan kewajiban menakar debu sejak 1950-an. Aturan di Amerika Serikat, Swiss, dan Australia dibakukan pada 1970-an, sedangkan di Spanyol baru berlaku pada 1991. Penakaran terutama dikerjakan lembaga pemerintah, lebih jarang oleh perusahaan tambang atau ahli higiene industri independen.
Alatnya pun berganti. Mula-mula dipakai konimeter, alat yang menghitung jumlah partikel. Belakangan dipakai alat gravimetri, yang mengukur massa debu di udara. Batasnya juga dirumuskan berbeda-beda, ada yang berdasar debu total, ada yang berdasar debu silika. Semua perbedaan itu, tulis para penulis, membatasi perbandingan langsung antarnegara dan antarmasa.
Australia memberi contoh batas yang terus diturunkan. Pada 1970 batas debu silika di sana 0,2 miligram per meter kubik udara. Pada 2005 batas itu menjadi 0,1, lalu 0,05 pada 2020. Di Amerika Serikat, aturan yang diumumkan pada 18 April 2024 akan menurunkan batas dari 0,1 ke 0,05, tetapi pelaksanaannya ditunda.
Kepastian Rendah, Batas dari Angka 17 Persen
Kepastian rendah adalah penilaian para penulis sendiri atas angka gabungan mereka. Sebabnya, hasil antarstudi sangat tidak seragam, dan sebagian studi punya risiko bias. Ketika 12 studi yang paling diragukan dikeluarkan, angkanya nyaris tidak bergeser: 16 persen dari 112.544 penambang.
Ada batas lain yang mereka tulis. Tidak satu pun studi memakai pemindaian CT, dan rontgen dada kemungkinan menaksir silikosis lebih rendah daripada teknik pencitraan yang lebih baru. Banyak studi hanya memeriksa pekerja aktif, sehingga penambang yang sudah pensiun tidak terhitung. Data rokok dan masa kerja juga kerap tidak tersedia.
Para penulis menutup naskah dengan satu kesimpulan tentang aturan yang membaik itu. “Meskipun aturan debu dan kondisi kerja telah membaik pada era pertambangan kontemporer dan di negara dengan SDI lebih tinggi, silikosis di industri pertambangan mineral tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang besar,” tulis Jeremy T. Hua, peneliti National Jewish Health di Denver, bersama empat rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Dua hal mereka tekankan sebagai jalan keluar. Pertama, aturan debu yang lebih melindungi, disusun berdasarkan hasil penakaran debu silika. Kedua, pemeriksaan kesehatan berkala untuk menemukan silikosis sejak dini pada penambang aktif maupun pensiunan, apa pun bahan yang mereka gali.
Jadi, istilah silikosis dalam naskah ini punya batas yang jelas. Ia berarti parut paru yang terlihat pada rontgen dada penambang nonbatu bara, bukan ukuran sesak atau turunnya fungsi paru. Beban kecacatan pernapasan yang sesungguhnya, tulis para penulis, belum terhitung.















