- Tuberkulosis paru menyumbang 23,56 persen dari seluruh kasus penyakit menular di kota perbatasan Tiongkok-Rusia.
- Selama sepuluh tahun tercatat 70.244 kasus penyakit menular di 18 daerah perbatasan Heilongjiang.
- Kasus memuncak dua kali dalam setahun, yaitu pada Maret dan Desember.
- Petani adalah kelompok pekerjaan dengan kasus terbanyak, 22.381 kasus atau 31,86 persen.
- Mishan mencatat kasus terbanyak, 14.427 kasus atau 20,54 persen.
Daftar Isi
Tuberkulosis paru paling banyak dilaporkan di kota perbatasan Tiongkok-Rusia. Penyakit itu menyumbang 23,56 persen dari seluruh kasus penyakit menular di sana. Hepatitis B menyusul di tempat kedua dengan 15,81 persen.
Angka itu dilaporkan Song-Ting Wei, Ying-Zi Dong, Ya-Ting Shu, dan delapan rekannya dalam artikel Epidemiological analysis of infectious disease in border port areas of Heilongjiang Province, 2014–2023. Artikel tersebut terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Sebagian penulisnya, termasuk Wei, bekerja di Heilongjiang Provincial Center for Disease Control and Prevention di Harbin.
Heilongjiang adalah provinsi paling utara di Tiongkok. Batasnya dengan Rusia sepanjang 2.981 kilometer dan melintasi 18 daerah perbatasan. Di sana beroperasi 19 pelabuhan darat, jaringan terbesar dan paling beragam di antara provinsi Tiongkok.
Yang melintas pun beragam. Ada pebisnis, pekerja migran, wisatawan, pedagang kecil perbatasan, dan penumpang transit dari negara ketiga. Catatan yang dibaca para peneliti mencakup laporan kasus di 18 daerah itu sepanjang 2014 sampai 2023, tanpa Covid-19.
Tujuh Puluh Ribu Kasus
Selama sepuluh tahun tercatat 70.244 kasus penyakit menular. Sebanyak 64.865 di antaranya tergolong penyakit yang wajib dilaporkan menurut undang-undang. Itu setara dengan rata-rata 220,30 kasus per 100.000 penduduk setiap tahun.
Angka tersebut lebih rendah daripada rata-rata nasional Tiongkok. Para penulis menyebut rata-rata nasional pada periode yang bertumpang-tindih mencapai 551,26 per 100.000 penduduk. Tidak ada satu pun kasus kelas A, yaitu pes dan kolera, selama dasawarsa itu.
Penyakit pernapasan menjadi penyumbang terbesar. Jumlahnya 26.686 kasus atau 37,99 persen. Penyakit yang menular lewat darah dan hubungan seksual berada di tempat kedua dengan 23.658 kasus atau 33,68 persen.
Dua kelompok itu bersama-sama mengisi 71,67 persen beban penyakit. Sisanya terbagi ke penyakit menular lewat kontak sebesar 12,18 persen dan penyakit dari hewan serta vektor sebesar 8,71 persen. Penyakit saluran cerna hanya 6,85 persen, dan jalur lain 0,58 persen.
Tuberkulosis paru mencatat 16.552 kasus. Hepatitis B 11.107 kasus. Di belakangnya ada influenza dengan 6.921 kasus, sifilis dengan 6.566 kasus, serta penyakit tangan, kaki, dan mulut dengan 4.550 kasus. Cacar air, bruselosis, diare menular lain, hepatitis C, dan demam berdarah dengan sindrom ginjal melengkapi sepuluh besar.
Tuberkulosis paru bertahan di peringkat pertama dari 2014 sampai 2022. Hepatitis B berada di peringkat kedua hampir sepanjang masa itu. Sifilis paling sering menempati peringkat ketiga, sedangkan influenza baru masuk tiga besar pada 2020.
Urutan itu berubah pada 2023. Influenza melonjak ke peringkat pertama dengan 214,94 kasus per 100.000 penduduk. Tuberkulosis paru turun ke peringkat kedua dan hepatitis B ke peringkat ketiga.
Para penulis mengaitkan besarnya porsi tuberkulosis, bruselosis, dan demam berdarah dengan sindrom ginjal dengan dua hal. Pertama, ekologi Heilongjiang yang berada di lintang tinggi. Kedua, pengaruh perbatasan bersama dengan Timur Jauh Rusia.
Baca juga Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China
Turun Lalu Melonjak
Secara keseluruhan, angka kejadian tidak berubah bermakna selama sepuluh tahun. Namun kurvanya melewati tiga babak. Angka stabil pada 2014 sampai 2018, turun tajam pada 2018 sampai 2021, lalu naik kuat pada 2021 sampai 2023.
Dua titik belok itu bertepatan dengan awal dan meredanya pandemi Covid-19. Pola serupa huruf V atau U tampak pada sebagian besar jalur penularan. Sebagian besar daerah juga menurun serempak pada 2020 sampai 2022, lalu naik kembali pada 2023.
Hanya penyakit pernapasan yang naik bermakna sepanjang dasawarsa, rata-rata 6,61 persen per tahun. Kenaikan itu didorong lonjakan 105,81 persen pada 2021 sampai 2023. Penyakit menular lewat kontak juga melonjak 102,47 persen pada masa yang sama.
Penyakit saluran cerna justru turun rata-rata 12,96 persen per tahun. Penyakit dari hewan dan vektor turun 6,08 persen per tahun. Penyakit menular lewat darah dan hubungan seksual tidak menunjukkan arah yang bermakna sepanjang sepuluh tahun itu.
Maret dan Desember
Kasus memuncak dua kali dalam setahun. Puncak pertama jatuh pada Maret, dengan indeks musiman 131 persen dari rata-rata bulanan. Puncak kedua pada Desember, 128 persen, sehingga polanya berpunuk dua.
Penyakit pernapasan mendorong kedua puncak itu. Indeksnya mencapai 179 persen pada Maret dan 172 persen pada Desember. Influenza paling musiman, dengan masa sepi panjang dari Mei sampai Oktober.
Tuberkulosis paru berbeda. Angkanya relatif stabil sepanjang tahun, hanya sedikit lebih tinggi pada paruh pertama. Para penulis menyebut pola itu sebagai penularan pernapasan akut yang mengumpul pada musim dingin dan semi, berdampingan dengan tuberkulosis sepanjang tahun.
Penyakit menular lewat kontak berjalan sebaliknya. Penyakit tangan, kaki, dan mulut nyaris nol dari Januari sampai April, lalu memuncak pada Juli sampai September. Cacar air mengikuti kalender sekolah, tertinggi pada Desember dan terendah pada Agustus saat libur musim panas.
Baca juga Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025
Laki-Laki Lebih Banyak
Laki-laki lebih banyak terjangkit daripada perempuan. Tercatat 42.305 kasus pada laki-laki dan 27.939 pada perempuan, dengan perbandingan 1,51 banding 1. Angka kejadian tahunannya 283,17 per 100.000 pada laki-laki dan 190,46 pada perempuan.
Selisih itu muncul di keenam jalur penularan. Jarak terlebar ada pada penyakit dari hewan dan vektor, yakni 30,90 berbanding 10,47 per 100.000, atau kira-kira tiga banding satu. Para penulis mengaitkannya dengan dominasi laki-laki pada pekerjaan bertani, beternak, kehutanan, dan angkutan jarak jauh.
Kelompok usia 15 sampai 59 tahun menyumbang kasus terbanyak, 40.420 kasus atau 57,54 persen. Namun angka kejadian tertinggi ada pada anak. Kelompok usia 0 sampai 14 tahun mencatat 489,53 per 100.000, kira-kira 2,5 kali kelompok usia 15 sampai 59 tahun yang mencatat 194,91 per 100.000.
Penyakit tangan, kaki, dan mulut serta cacar air mengisi sebagian besar kasus pada anak. Keduanya menular lewat kontak. Penyakit saluran cerna terutama mengenai anak yang diasuh di rumah, yakni 58,19 persen kasus pada jalur itu.
Petani Paling Banyak
Petani adalah kelompok pekerjaan dengan kasus terbanyak, 22.381 kasus atau 31,86 persen. Ibu rumah tangga dan penganggur menyusul dengan 23,17 persen. Pelajar berada di tempat ketiga dengan 7.392 kasus atau 10,52 persen.
Ketiga kelompok itu menyumbang 65,56 persen dari seluruh kasus. Pada penyakit dari hewan dan vektor, porsi petani mencapai 73,53 persen. Pada penyakit menular lewat kontak, pelajar menyumbang 40,56 persen.
Dari situ para penulis menarik satu pesan. “Pengendalian infeksi di daerah pelabuhan perbatasan harus menjangkau rumah tangga perdesaan dan sekolah, alih-alih berfokus sempit pada pelancong yang masuk,” tulis Song-Ting Wei, peneliti Heilongjiang Provincial Center for Disease Control and Prevention, bersama rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Mishan dan Suifenhe
Mishan mencatat kasus terbanyak, 14.427 kasus atau 20,54 persen. Muling, Aihui, Jidong, dan Hulin berada di bawahnya. Lima daerah itu bersama-sama menyumbang 52,08 persen dari seluruh kasus.
Urutannya sedikit berbeda bila dihitung per penduduk. Mishan tetap teratas dengan 380,65 per 100.000, disusul Suifenhe dengan 303,33 dan Mohe dengan 269,97. Muling dan Tongjiang melengkapi lima besar dengan 258,63 dan 252,49 per 100.000 penduduk.
Tiap jalur penularan punya kantongnya sendiri. Penyakit dari hewan dan vektor mengumpul di Sunwu dan Xunke. Penyakit menular lewat darah dan hubungan seksual mengumpul di Mishan dan Aihui, sedangkan penyakit menular lewat kontak di Mohe dan Suifenhe.
Baca juga Debu PM2.5 Menaikkan Risiko Influenza di Xinjiang 6,7 Persen
Yang Tidak Tercatat
Para penulis mengakui lima keterbatasan. Catatan ini bersandar pada laporan pasif, sehingga kasus ringan rentan tidak terlapor. Infeksi tanpa gejala, seperti tuberkulosis laten dan pembawa hepatitis kronis, juga tidak tertangkap.
Kasus yang datang dari luar negeri tidak bisa dibedakan dari kasus setempat. Akibatnya, besarnya penularan lintas batas tidak dapat dihitung langsung. Data perilaku, paparan kerja, dan epidemiologi molekuler pun tidak tersedia.
Jumlah penduduk yang dipakai sebagai pembagi hanya mencakup penduduk tetap terdaftar. Pedagang lintas batas, sopir truk, dan pekerja musiman tidak ikut terhitung. Padahal, menurut para penulis, kelompok itu kemungkinan berisiko lebih tinggi.
Empat Arah Kebijakan
Naskah itu menyebut lima penyakit sebagai sasaran prioritas: tuberkulosis, hepatitis B, influenza, sifilis, dan bruselosis. Penyakit pernapasan perlu perhatian lebih pada musim dingin dan semi. Penyakit menular lewat darah dan hubungan seksual memerlukan upaya sepanjang tahun.
Ada empat arah kebijakan yang diusulkan. Yang pertama adalah mekanisme bersama Tiongkok dan Rusia untuk memantau penyakit menular dan berbagi informasi di pelabuhan utama. Yang kedua adalah penapisan tuberkulosis dan infeksi menular seksual bagi pekerja lintas batas jangka panjang dan sopir truk.
Yang ketiga adalah melanjutkan pengendalian bruselosis dan vaksinasi demam berdarah dengan sindrom ginjal di Mishan, Suifenhe, Mohe, Muling, dan Tongjiang. Yang keempat adalah vaksinasi cacar air dan EV-A71 di sekolah, sanitasi perdesaan, serta kemampuan diagnosis di layanan kesehatan primer.
Sepuluh tahun catatan itu memperlihatkan tuberkulosis paru di puncak daftar sampai 2022. Menurut para penulis, kerja sama lintas sektor dan lintas negara akan menentukan terjaganya pengendalian penyakit menular di perbatasan ini.














