- Sebanyak 1.571 dari 4.787 ibu di Bangladesh melahirkan anak terakhir lewat operasi caesar.
- Indeks massa tubuh ibu caesar rata-rata lebih tinggi 0,76 kilogram per meter persegi daripada ibu persalinan normal.
- Sebanyak 35 persen ibu caesar berasal dari rumah tangga terkaya, sedangkan pada ibu persalinan normal 11 persen.
- Survei tersebut tidak mencatat berat badan ibu sebelum hamil.
- Kedua penulis mengingatkan bahwa yang mereka temukan adalah hubungan, bukan sebab dan akibat.
Daftar Isi
Berat dan tinggi badan 4.787 ibu di Bangladesh diukur dalam sebuah survei nasional pada 2017–2018. Semuanya pernah menikah, berusia 15 sampai 49 tahun, dan melahirkan dalam lima tahun sebelum survei. Kepada mereka juga ditanyakan satu hal: apakah anak terakhir lahir lewat operasi caesar. Sebanyak 1.571 ibu, hampir sepertiganya, menjawab ya.
Dua catatan itu, cara melahirkan dan ukuran tubuh, dipertemukan oleh Mahbub A. H. M. Latif dan Tarikul Islam dalam artikel Association between cesarean section and maternal body mass index among ever-married women with recent births in Bangladesh: evidence from the 2017-18 BDHS. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keduanya bekerja di Institute of Statistical Research and Training, University of Dhaka.
Hasilnya searah. Ibu yang melahirkan lewat caesar tercatat punya indeks massa tubuh lebih tinggi daripada ibu yang melahirkan normal, dan lebih sering masuk kelompok kegemukan serta obesitas. Namun kedua penulis berulang kali mengingatkan bahwa yang mereka temukan adalah hubungan, bukan sebab dan akibat.
Ruang Bersalin Bangladesh
Operasi caesar kian lazim di negeri itu. Naskah tersebut mencatat angkanya naik dari sekitar 4,98 persen pada 2004 menjadi 24,21 persen pada 2014. Kenaikan itu dikaitkan dengan makin mudahnya ibu melahirkan di fasilitas kesehatan, tetapi juga dengan permintaan yang didorong penyedia layanan, terutama di sektor swasta.
Bangladesh tidak sendirian. Di seluruh dunia, jumlah kelahiran lewat caesar hampir berlipat dua antara 2000 dan 2015, dari kira-kira 16 juta menjadi 29,7 juta, atau dari 12,1 persen menjadi 21,1 persen dari semua kelahiran. Asia Selatan mencatat kenaikan terbesar kedua, dari 7,2 persen pada 2000 menjadi 19,2 persen pada 2014.
Operasi ini bisa menyelamatkan nyawa ibu dan bayi bila memang diperlukan secara medis. Hanya saja, Organisasi Kesehatan Dunia menekankan bahwa angka caesar di atas 10 sampai 15 persen pada tingkat penduduk kecil kemungkinannya menambah perbaikan bagi ibu maupun bayi. Di Matlab, Bangladesh, 35 persen persalinan pada 2013 dilakukan lewat caesar, dan hanya 1,4 persen yang dikerjakan atas indikasi mutlak pada ibu.
Pada saat yang sama, tubuh para ibu ikut berubah. Kegemukan dan obesitas pada perempuan usia subur di sana meningkat tajam antara 2000 dan 2014, meski kemiskinan dan kurang gizi masih bertahan di sebagian penduduk. Naskah itu mengutip angka 28 persen untuk obesitas umum dan 49 persen untuk obesitas perut pada ibu yang baru melahirkan.
Baca juga Standar BMI Asia Lebih Peka Deteksi Risiko Kehamilan
Rumah Tangga Terkaya
Ibu yang melahirkan lewat caesar ternyata datang dari lapisan yang berbeda. Sebanyak 35 persen dari mereka berasal dari kelompok rumah tangga terkaya, sedangkan pada ibu yang melahirkan normal hanya 11 persen. Di kelompok termiskin keadaannya terbalik: 8,4 persen berbanding 27 persen.
Sekolah menunjukkan pola yang sama. Hampir sepertiga ibu caesar, 31 persen, berpendidikan tinggi, dibandingkan 10 persen pada ibu persalinan normal. Suami mereka pun begitu, 33 persen berpendidikan tinggi berbanding 11 persen.
Tempat tinggal ikut membedakan. Di antara ibu caesar, 35 persen tinggal di kota, sementara pada ibu persalinan normal 22 persen. Divisi Dhaka menyumbang 32 persen ibu caesar, lebih besar daripada porsinya di kelompok persalinan normal, yakni 22 persen.
Selama hamil, mereka juga lebih sering datang ke pemeriksaan kehamilan. Rata-ratanya 5,04 kali, sedangkan ibu yang melahirkan normal 3,30 kali. Dua dari tiga ibu caesar, 66 persen, memeriksakan kandungan sedikitnya empat kali, dibandingkan 38 persen pada kelompok lain. Yang mencapai delapan kali, sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia sejak 2016, hanya sekitar 7 persen dari seluruh ibu.
Riwayat keluarga mereka pun lain. Ibu caesar rata-rata menikah pertama pada usia 17,21 tahun dan melahirkan pertama pada 19,53 tahun, lebih lambat daripada ibu persalinan normal yang menikah pada 16,00 dan melahirkan pada 17,92 tahun. Anak mereka lebih sedikit, rata-rata 1,79 berbanding 2,29, dan separuh dari mereka baru melahirkan anak pertama.
Selisih 0,76
Kekayaan, sekolah, dan tempat tinggal itu sendiri berkaitan dengan berat badan. Karena itu kedua penulis memperhitungkannya lebih dulu, bersama usia ibu, jumlah anak, pemeriksaan kehamilan, dan lama waktu sejak persalinan terakhir. Sesudah semua itu diperhitungkan, selisihnya tetap ada.
Indeks massa tubuh ibu yang melahirkan lewat caesar rata-rata lebih tinggi 0,76 kilogram per meter persegi daripada ibu yang melahirkan normal. Indeks itu adalah ukuran berat badan terhadap tinggi badan. Ketika dihitung ulang dengan cara lain sebagai uji ketahanan, angkanya nyaris sama, yaitu 0,75.
Selisih itu tidak sama pada semua umur. Jarak indeks massa tubuh antara dua kelompok ibu melebar seiring usia: untuk tiap pertambahan usia ibu sepuluh tahun, selisihnya bertambah kira-kira 0,90 kilogram per meter persegi. Kedua penulis menyebut pengaruh usia ini relatif kecil skalanya.
Mereka menawarkan dua kemungkinan penjelasan untuk pola usia itu. Bisa jadi akibat kesehatan dari persalinan bedah lebih terasa ketika perempuan menua. Bisa juga yang terekam adalah perbedaan antargenerasi dalam akses layanan kesehatan atau gaya hidup, dan bukan pengaruh penuaan tubuh.
Baca juga Kartu Stiker Bintang Buat Ibu di Myanmar Tuntas Periksa Nifas
Empat Kelompok Berat Badan
Angka indeks itu lalu dipilah menurut batas Organisasi Kesehatan Dunia. Di bawah 18,5 disebut kurus, 18,5 sampai 25,0 sehat, 25,0 sampai 30,0 kegemukan, dan 30,0 ke atas obesitas. Dengan pemilahan ini, ibu caesar punya peluang 1,45 kali lebih besar untuk berada di kelompok yang lebih tinggi.
Tetapi kaitan itu tidak rata di sepanjang tangga berat badan. Di anak tangga terbawah, antara kurus dan sehat, hubungan dengan caesar tidak bermakna secara statistik. Di anak tangga berikutnya barulah ia tampak jelas. Peluang ibu caesar berada di kelompok kegemukan dibandingkan kelompok sehat tercatat 1,61 kali peluang ibu persalinan normal. Untuk obesitas dibandingkan kegemukan, angkanya 1,79 kali. Kaitan itu, tulis kedua penulis, lebih kuat pada tingkat indeks massa tubuh yang lebih tinggi.
Ada satu peringatan yang mereka sertakan pada angka-angka itu. Perbandingan antarkelompok tersebut tidak menggambarkan perjalanan seorang ibu dari sehat ke kegemukan lalu ke obesitas. Yang dibandingkan adalah ibu-ibu berbeda yang diukur pada satu waktu.
Dari Dhaka sampai Sylhet
Operasi caesar bukan satu-satunya hal yang berjalan seiring dengan indeks massa tubuh. Kekayaan rumah tangga juga menunjukkan selisih. Ibu dari kelompok terkaya punya indeks 2,49 lebih tinggi daripada ibu dari kelompok termiskin, sedangkan kelompok menengah lebih tinggi 0,81 dan kelompok di atasnya 1,13.
Peta wilayah juga berbicara. Dibandingkan ibu di Divisi Barisal, ibu di Sylhet tercatat punya indeks 1,28 lebih rendah dan ibu di Mymensingh 0,46 lebih rendah, sementara ibu di Chittagong 0,45 lebih tinggi. Adapun perbedaan antara desa dan kota tidak bermakna setelah faktor lain diperhitungkan.
Waktu ikut meninggalkan jejak. Makin lama jarak dari persalinan terakhir, makin tinggi indeks massa tubuh ibu, kira-kira 0,16 untuk tiap tahun. Pendidikan ibu sendiri tidak menunjukkan kaitan yang bermakna, tetapi pendidikan suami menunjukkannya: istri dari suami berpendidikan tinggi punya indeks 0,63 lebih tinggi daripada istri dari suami yang tidak bersekolah.
Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi
Yang Tidak Ikut Terukur
Mengapa caesar dan berat badan berjalan beriringan, naskah itu tidak memastikannya. Kedua penulis menyebut beberapa kemungkinan: ibu yang menjalani operasi mungkin kurang bergerak sesudah melahirkan, pulih lebih lama, atau mengalami perubahan metabolisme. Penjelasan lain, menurut mereka, juga harus dipertimbangkan.
Ibu yang sudah gemuk sebelum hamil memang lebih mungkin melahirkan lewat caesar. Naskah itu mencatat bahwa mereka lebih sering mengalami persalinan lama, bayi berukuran besar, dan diabetes saat hamil. Padahal survei tersebut tidak mencatat berat badan ibu sebelum hamil.
“Karena itu, hubungan yang teramati harus ditafsirkan dengan hati-hati dan bukan sebagai bukti adanya pengaruh sebab-akibat,” tulis Mahbub A. H. M. Latif dan Tarikul Islam, peneliti Institute of Statistical Research and Training, University of Dhaka, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menyebut ketiadaan data berat badan sebelum hamil sebagai keterbatasan penting.
Daftar yang tidak terukur masih lebih panjang. Survei itu tidak memuat komplikasi kehamilan, riwayat caesar sebelumnya, pola makan, maupun aktivitas fisik para ibu. Berat badan diukur pada saat survei, sedangkan persalinannya bisa terjadi beberapa bulan sampai beberapa tahun sebelumnya.
Batas lain ada pada siapa yang diukur. Hanya perempuan pernah menikah dengan kelahiran dalam lima tahun terakhir dan data lengkap yang masuk hitungan. Karena itu, menurut kedua penulis, temuan ini belum tentu berlaku bagi semua perempuan usia subur di Bangladesh.
Dari hubungan itu kedua penulis menarik saran yang berhati-hati. Mengingat cepatnya kenaikan angka caesar di Bangladesh, kaitan antara cara melahirkan dan indeks massa tubuh ibu dinilai layak mendapat perhatian pembuat kebijakan kesehatan masyarakat. “Strategi yang berfokus pada penggunaan operasi caesar atas indikasi medis dan pemantauan berat badan pascapersalinan mungkin bermanfaat bagi kesehatan perempuan, asalkan hubungan ini divalidasi lebih lanjut dalam penelitian longitudinal,” tulis keduanya. Penelitian semacam itu mengikuti ibu yang sama dari waktu ke waktu.
Sampai penelitian itu ada, yang tersedia adalah hasil satu kali pengukuran terhadap 4.787 ibu. Di dalamnya, 1.571 ibu yang melahirkan lewat caesar tercatat punya indeks massa tubuh lebih tinggi. Jalur sebab dan mekanisme di balik kaitan itu, tulis kedua penulis, masih harus dijelaskan.














