- Nigeria mengonfirmasi kasus Ebola pertama di Abuja pada seorang perempuan yang datang dari Uganda.
- Otoritas Nigeria melacak 44 orang yang sempat melakukan kontak dengan pasien.
- Kenya mencatat kasus kesembilan, seluruhnya masih berasal dari satu klaster.
- Di RD Kongo, wabah Ebola telah mencatat lebih dari 9.000 kasus dan 4.000 kematian sejak Mei.
Cekricek.id — Nigeria mengonfirmasi kasus Ebola pertama di ibu kotanya, Abuja, setelah seorang perempuan yang bepergian dari Uganda dinyatakan positif terinfeksi virus tersebut.
Kasus di negara Afrika Barat itu muncul di tengah wabah di Republik Demokratik Kongo dan sejumlah kasus di Kenya, sehingga memicu kekhawatiran penyebaran ke seluruh benua, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Selasa (20/10/2026).
Menurut Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Federal Nigeria, perempuan itu mulai bergejala pada 7 Oktober dan dirawat di sebuah rumah sakit swasta di Abuja pada 11 Oktober sebelum didiagnosis Ebola. Menteri Kesehatan Muhammad Pate mengatakan otoritas mulai melacak 44 orang yang sempat melakukan kontak dengan pasien.
“Kami melakukan segala yang mungkin untuk menahan kasus ini dengan melacak semua kontak yang mungkin dimiliki orang tersebut,” kata Pate.
Pada hari yang sama, Kenya mengonfirmasi kasus Ebola kesembilan. Pasien terbaru adalah pria berusia 24 tahun yang sudah dikarantina dan merupakan anggota keluarga dekat pasien Ebola pertama Kenya, yang datang dari RD Kongo melalui Uganda dan meninggal di sebuah rumah sakit di Nairobi pada 5 Oktober.
“Kesembilan kasus berasal dari satu klaster, dan hingga hari ini tidak ada bukti penularan di luar kelompok ini,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Kenya Patrick Amoth. “Delapan pasien dalam kondisi stabil dan merespons pengobatan dengan baik, sementara 134 dari 135 kontak telah dilacak dan dikarantina.”
Menurut Amoth, sebagian besar kontak yang dikarantina tetap sehat selama masa pemantauan 21 hari dan bisa pulang mulai 25 Oktober. Meski ada sembilan kasus, Kenya tidak membatasi perjalanan, perdagangan, maupun pertemuan publik.
Di RD Kongo, wabah Ebola telah mencatat lebih dari 9.000 kasus dan 4.000 kematian sejak Mei. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa menyebutnya epidemi terbesar kedua yang pernah tercatat. Wabah itu sulit dikendalikan karena belum ada vaksin berlisensi atau pengobatan khusus untuk virus Ebola strain Bundibugyo.















