Angka Bayi Lahir Mati di Shiga Turun 40 Persen Setelah Anjuran

A A

Gedung Rumah Sakit Shiga University of Medical Science di Otsu, Prefektur Shiga, Jepang [Foto: 運動会プロテインパワー/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Pada babak ketiga, angka lahir mati Shiga turun 40 persen dan Jepang 21 persen dibanding babak pertama.
  • Shiga berada di urutan ke-40 pada babak pertama, ke-19 pada babak kedua, dan ke-2 pada babak ketiga.
  • Kasus yang dianggap mungkin dicegah turun dari 31 persen pada babak pertama menjadi 13 persen pada babak ketiga.
  • Ibu hamil diminta mencatat berapa lama waktu yang diperlukan untuk merasakan sepuluh gerakan janin.
  • Para peneliti tidak dapat menunjukkan bahwa penurunan itu merupakan hasil langsung dari anjuran yang disebar.
Daftar Isi
  1. Shiga, di tengah Jepang
  2. Meja telaah dan klinik
  3. Dari urutan ke-40 ke urutan ke-2
  4. Kasus yang mungkin dicegah
  5. Hitungan gerak janin
  6. Batas yang ditulis Koshida

Selembar bagan dibagikan kepada perempuan hamil di Prefektur Shiga, Jepang, lewat tenaga kesehatan yang merawat mereka. Isinya sederhana. Sejak usia kandungan 34 minggu sampai melahirkan, sekali sehari pada jam berapa pun, mereka diminta mencatat berapa lama waktu yang diperlukan untuk merasakan sepuluh gerakan janin. Bila sepuluh gerakan itu baru terasa setelah lebih dari 30 menit, mereka diminta melapor kepada perawatnya.

Bagan itu satu bagian dari upaya yang dicatat Shigeki Koshida, Shinsuke Tokoro, Daisuke Katsura, Shunichiro Tsuji, Jun Matsubayashi, Takashi Murakami, dan Kentaro Takahashi dalam artikel The association between the provision of recommendations for stillbirth prevention and the stillbirth reduction: a regional population-based study in Japan, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Ketujuhnya bekerja di Shiga University of Medical Science di Otsu. Mereka menelusuri angka bayi lahir mati di Shiga selama 15 tahun, dari 2008 sampai 2022, sebelum dan sesudah anjuran pencegahan disebarkan.

Shiga, di tengah Jepang

Shiga terletak di bagian tengah Jepang. Penduduknya 1,4 juta jiwa, dengan 10.000 sampai 13.000 kelahiran setiap tahun, dan angka kelahirannya tercatat tertinggi ketiga di negeri itu. Namun, selama dasawarsa yang dimulai pada tahun 2000, angka lahir mati di prefektur ini lebih tinggi daripada rata-rata Jepang.

Lahir mati, dalam naskah itu, berarti kematian janin sebelum ia keluar atau dikeluarkan sepenuhnya dari ibunya. Koshida dan rekan menghitung kematian janin pada usia kandungan 22 minggu atau lebih, batas yang sejalan dengan definisi Organisasi Kesehatan Dunia dan dipakai statistik vital Jepang. Angkanya dinyatakan per 1.000 kelahiran. Angka itu, tulis mereka, dipakai sebagai penanda mutu perawatan ibu dan bayi di suatu negara atau wilayah.

Jepang sendiri berada di posisi terbaik. Untuk kematian janin pada usia kandungan 28 minggu atau lebih, negeri itu mencatat angka terendah di antara negara berpendapatan tinggi, yaitu 1,58 per 1.000 kelahiran pada 2021. Norwegia mencatat 2,09, Italia 2,22, Australia 2,39, Amerika Serikat dan Inggris 2,73, serta Prancis 3,07. Di dalam negeri ceritanya lain. Angka antarprefektur berbeda lebih dari dua kali lipat.

Baca juga Standar BMI Asia Lebih Peka Deteksi Risiko Kehamilan

Meja telaah dan klinik

Dari selisih itulah pekerjaan di Shiga bermula. Data semua kasus lahir mati di prefektur itu dikumpulkan, lalu ditelaah satu per satu oleh tim dokter kandungan dan dokter bayi baru lahir yang berpengalaman. Statistik resmi, menurut para peneliti, tidak memuat rincian keadaan yang mendahului kematian janin. Tim menilai tiap kasus: mungkin dicegah atau tidak mungkin dicegah.

Telaah itu memperlihatkan dua pola. Yang pertama menyangkut rujukan. Layanan kebidanan di Jepang terbagi tiga: klinik kebidanan primer untuk kehamilan berisiko rendah, rumah sakit umum untuk risiko menengah, dan pusat perinatal untuk risiko tinggi. Dalam sejumlah kasus, kehamilan berisiko tinggi tidak dirujuk ke pusat perinatal, dan hal itu diduga ikut menyebabkan kematian janin.

Pola kedua terjadi di rumah. Tim kerap menemukan ibu hamil yang sudah beberapa hari merasakan gerakan janinnya berkurang, tetapi tidak mencari pertolongan sampai tiba jadwal kunjungan berikutnya. Pada kunjungan itulah kematian janin di dalam kandungan dipastikan. Dari pola inilah bagan sepuluh gerakan lahir, dengan maksud mendorong ibu datang lebih awal ketika gerakan janin terasa berkurang.

Untuk dokter kandungan, anjurannya menyangkut waktu merujuk. Kehamilan berisiko tinggi diminta dikirim lebih dini ke pusat perinatal. Yang disebut dalam naskah adalah pertumbuhan janin terhambat, ancaman persalinan prematur sebelum 28 minggu, kembar monokorionik diamniotik sejak 16 minggu, dan korioamnionitis sebelum 36 minggu. Dalam pembahasannya, para peneliti juga menyebut gangguan hipertensi pada kehamilan.

Daftar itu belum selesai. Dokter diminta memperbaiki diagnosis kelainan janin sebelum lahir, pemantauan denyut jantung janin, dan pengenalan pertumbuhan janin yang terhambat. Resusitasi bayi baru lahir ikut masuk daftar. Satu butir lagi kembali ke ibu hamil: mereka perlu diberi tahu agar segera menghubungi tenaga kesehatan ketika merasakan gerakan janin berkurang.

Cara menyampaikannya langsung. Setiap selesai menelaah kasus yang dinilai dapat dihindari, tim mengirim catatan masalah dan anjurannya ke fasilitas yang melaporkan kasus itu. Anjuran yang sama dipaparkan pada pertemuan tahunan dokter kandungan di Shiga. Tim juga mendatangi pusat kesehatan masyarakat agar bidan dan perawat kesehatan masyarakat meneruskannya kepada ibu hamil. Semua itu berjalan sejak 2013.

Isi anjuran itu sebenarnya bukan hal baru. Hal serupa sudah tertulis dalam pedoman kebidanan dan dalam laporan Jepang tentang pencegahan cerebral palsy. Kasus-kasus yang dinilai dapat dicegah, menurut Koshida dan rekan, menandakan bahwa anjuran tersebut belum tersampaikan secara memadai kepada semua dokter kandungan di wilayah mereka.

Shiga sebelum dan sesudah anjuran disebarShiga sebelum dan sesudah anjuran disebarShiga sebelum dan sesudah anjuran disebarPrefektur Shiga, lahir mati sejak usia kandungan 22 minggu2008-20122018-202266.57552.310Kelahiran240114Lahir mati3,62,2Per 1.000kelahiran31%13%Mungkin dicegahke-40ke-2Urutan terendah
Sumber: Shigeki Koshida, Shinsuke Tokoro, Daisuke Katsura, Shunichiro Tsuji, Jun Matsubayashi, Takashi Murakami, dan Kentaro Takahashi, The association between the provision of recommendations for stillbirth prevention and the stillbirth reduction: a regional population-based study in Japan, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga MDSR Kematian Ibu Aceh Utara Macet di Tahap Identifikasi

Dari urutan ke-40 ke urutan ke-2

Angkanya bergerak dalam tiga babak lima tahunan. Pada 2008 sampai 2012, sebelum anjuran disebar, Shiga mencatat 3,6 lahir mati per 1.000 kelahiran, di atas rata-rata Jepang yang 3,4. Pada 2013 sampai 2017 keduanya hampir sama: 2,9 di Shiga dan 3,0 di Jepang. Pada 2018 sampai 2022 keadaannya berbalik. Shiga mencatat 2,2, sedangkan Jepang 2,7.

Angka lahir mati Shiga dan JepangSebelum (2008-2012): Shiga +3,6, Jepang +3,4; Awal (2013-2017): Shiga +2,9, Jepang +3,0; Akhir (2018-2022): Shiga +2,2, Jepang +2,7.Angka lahir mati Shiga dan JepangLahir mati per 1.000 kelahiran, tiap periodeShigaJepang12340Sebelum (2008-2012)3,63,4Awal (2013-2017)2,93,0Akhir (2018-2022)2,22,7
Sumber: Shigeki Koshida, Shinsuke Tokoro, Daisuke Katsura, Shunichiro Tsuji, Jun Matsubayashi, Takashi Murakami, dan Kentaro Takahashi, The association between the provision of recommendations for stillbirth prevention and the stillbirth reduction: a regional population-based study in Japan, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Di balik angka per seribu itu ada jumlah yang bisa dibayangkan. Pada babak pertama tercatat 240 bayi lahir mati dari 66.575 kelahiran di Shiga. Babak kedua mencatat 179 dari 62.036 kelahiran. Babak ketiga, 114 dari 52.310 kelahiran. Di seluruh Jepang, jumlah bayi lahir mati pada tiga babak yang sama adalah 17.867, lalu 14.735, lalu 11.170.

Urutan Shiga di antara prefektur Jepang ikut bergeser. Dihitung dari angka lahir mati yang paling rendah, prefektur ini berada di urutan ke-40 pada babak pertama, ke-19 pada babak kedua, dan ke-2 pada babak ketiga. Pada tiga tahun, yakni 2016, 2021, dan 2022, angka Shiga menjadi yang terendah di antara seluruh 47 prefektur: 1,74, lalu 1,28, lalu 1,74.

Jepang secara keseluruhan juga membaik, dari 3,44 pada 2008 menjadi 2,67 pada 2022, tetapi lajunya berbeda. Dibanding babak pertama, angka Shiga pada babak kedua turun 20 persen dan angka Jepang 12 persen, selisih yang belum bermakna secara statistik. Pada babak ketiga, Shiga turun 40 persen dan Jepang 21 persen. Kali ini selisihnya bermakna.

Baca juga Kematian Ibu Purwakarta: 22 dari 24 Jarang Bertemu Dokter

Kasus yang mungkin dicegah

Ukuran kedua diambil dari meja telaah tadi. Pada babak pertama, 62 dari 199 kasus yang dapat dinilai, atau 31 persen, dianggap mungkin dicegah. Pada babak kedua angkanya 48 dari 176 kasus, atau 27 persen, penurunan yang belum bermakna secara statistik. Pada babak ketiga tinggal 14 dari 111 kasus, atau 13 persen, dan penurunan ini bermakna.

Ada hal yang nyaris tidak berubah. Sebagian besar kematian janin terjadi sebelum persalinan dimulai, yakni 95 persen, 92 persen, dan 96 persen pada tiga babak itu. Kematian pada usia kandungan 28 minggu atau lebih tetap lebih banyak daripada yang terjadi sebelum 28 minggu, dengan porsi 68 persen, 65 persen, dan 68 persen. Perbedaan antarbabak untuk kedua hal itu tidak bermakna.

Sebabnya pun sering tidak diketahui. Penyebab utama lahir mati tidak dapat ditentukan pada 43 persen kasus. Di antara kasus yang penyebabnya teridentifikasi, masalah tali pusat mencakup 18 persen, disusul solusio plasenta 9 persen. Tim penelaah, menurut naskah itu, tidak mendasarkan penilaian dapat atau tidaknya dicegah pada penyebab utama kematian.

“Kami menduga penyampaian langsung anjuran ini kepada dokter kandungan di wilayah kami mungkin telah memperbaiki penanganan perinatal dan, sebagai akibatnya, mengurangi angka lahir mati di wilayah ini,” tulis Shigeki Koshida, peneliti Department of Perinatal Center di Shiga University of Medical Science, bersama enam rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka mencatat bahwa sejak 2013 tidak ada pusat perinatal tersier baru untuk kehamilan berisiko tinggi yang didirikan di Shiga.

Hitungan gerak janin

Soal bagan, para peneliti mencatat bukti yang ada belum kuat. Sebuah tinjauan Cochrane, tulis mereka, tidak menemukan bukti yang cukup bahwa penghitungan gerak janin secara formal bermanfaat untuk mencegah lahir mati. Pedoman kebidanan di Jepang pun tidak serta-merta menganjurkannya. Meski begitu, riset mereka sebelumnya mendapati kunjungan ibu yang terlalu terlambat setelah merasakan gerakan janin berkurang menurun bermakna.

Dari situ mereka menarik simpulan. Memberi tahu ibu hamil tentang hitungan gerak janin, menurut Koshida dan rekan, mungkin berkaitan dengan turunnya angka lahir mati di wilayah mereka. Di kalimat berikutnya mereka menambahkan peringatan: perlu diperhatikan kemungkinan akibat yang tidak diinginkan dari hitungan itu, misalnya bertambahnya kecemasan ibu.

Pertanyaan lain menyangkut kata dapat dicegah itu sendiri. Belum ada definisi yang diterima umum. Satu riset di Amerika Serikat yang dirujuk naskah ini mengecualikan janin di bawah 24 minggu, yang beratnya kurang dari 500 gram, dan yang membawa kelainan berat atau kondisi genetik. Koshida dan rekan menilai patokan itu tidak serta-merta cocok untuk Jepang.

Alasannya angka dari ruang perawatan bayi di negeri itu. Bayi yang lahir pada usia kandungan 22 minggu bertahan hidup sampai pulang dari rumah sakit pada 36 persen kasus, dan pada 23 minggu 63 persen. Untuk bayi dengan berat lahir di bawah 500 gram, angkanya 55 persen. Anak dengan kelainan kromosom seperti trisomi 18 yang bertahan setelah perawatan intensif juga makin banyak.

Batas yang ditulis Koshida

Ketujuh peneliti menulis sendiri batas pekerjaannya. Mereka tidak dapat menunjukkan bahwa turunnya angka lahir mati di Shiga merupakan hasil langsung dari anjuran yang disebar. Sangat sulit, tulis mereka, mengetahui dengan tepat berapa kematian janin yang tercegah karena orang mengenal anjuran itu. Yang mereka nyatakan adalah adanya hubungan antara upaya tersebut dan penurunan yang bermakna.

Batas kedua ada di meja telaah. Keputusan tentang dapat atau tidaknya sebuah kematian dicegah, menurut mereka sendiri, agak subjektif. Tidak ada definisi atau kriteria khusus yang ditetapkan. Keputusan diambil lewat kesepakatan seluruh penelaah dengan pedoman kebidanan nasional sebagai acuan, dan lewat suara terbanyak bila kesepakatan tidak tercapai.

“Penyebarluasan anjuran kami untuk pencegahan lahir mati mungkin dapat membantu mengurangi lahir mati di wilayah lain,” tulis Koshida dan rekan pada penutup naskahnya. Mereka tidak menemukan laporan tentang upaya serupa di wilayah lain di Jepang. Untuk bagan sepuluh gerakan yang dibagikan kepada ibu hamil di Shiga, para peneliti meminta riset lanjutan untuk menilai seberapa efektif hitungan gerak janin mengurangi lahir mati, juga pedoman berbasis bukti untuk menilai kematian yang dapat dicegah.

Bagikan

Baca Juga

Stres Kerja Pekerja Petrokimia Iran dan Atasan yang Memerintah
Debu Silika Melukai Paru 17 Persen Penambang Mineral di 26 Negara
Harga Implan Gigi Dipangkas, Pesanan Sichuan Naik Lalu Melambat
Omega-3 di Arab Saudi Paling Banyak Dicoba yang Rajin Olahraga
TBC Paling Banyak Dilaporkan di Kota Perbatasan Tiongkok-Rusia
Nyeri Punggung Bawah Menimpa 56 Persen Pegawai Bank di Pokhara