- Anak di separuh wilayah yang lebih berpolusi tercatat melangkah 356,26 langkah lebih banyak per hari setelah ciri anak dan keluarga diperhitungkan.
- Peluang mereka mengaku suka berolahraga dan bermain di luar rumah juga 1,19 kali peluang anak di wilayah yang kurang berpolusi.
- Perhitungan itu hanya menjelaskan sekitar 5,2 persen dari keragaman jumlah langkah anak.
- Anak perempuan mencatat 1.423,97 langkah lebih sedikit daripada anak laki-laki, tetapi peluang mereka mengaku suka bermain di luar lebih tinggi.
- Para penulis menegaskan bahwa temuan ini tidak berarti paparan karbon monoksida mendorong anak lebih giat bergerak.
Daftar Isi
- Sebelum Kuroiwa: riset yang lebih banyak menatap orang dewasa
- Anak kelahiran 2000 dan udara 2001–2006
- Temuan 2026: selisih 356 langkah sehari
- Tafsir Kuroiwa dan rekan: gas tak kasatmata, kota yang ramah pejalan kaki
- Anak perempuan, anak Asia Selatan, dan ekonomi keluarga
- Batas-batas yang diakui kelima penulis
- Mata rantai berikutnya setelah 2026
Kurang gerak dan udara kotor sudah lama dicatat sebagai dua tantangan besar kesehatan masyarakat dunia, masing-masing dengan sumbangan besar terhadap beban penyakit. Di Inggris Raya, hanya sedikit di atas separuh anak berumur enam tahun, yakni 53 persen, yang memenuhi anjuran aktivitas fisik. Pada waktu yang sama, sembilan dari sepuluh penduduk dunia tinggal di tempat yang kadar polusi udaranya melampaui pedoman Organisasi Kesehatan Dunia.
Di persimpangan dua kecemasan itulah Mona Kuroiwa, Hei Wan Mak, Jitka Pikhartova, Celine Tabche, dan Nicola Shelton menempatkan artikel mereka, Associations between carbon monoxide exposure, physical activity, and outdoor play preferences among UK children: evidence from the millennium cohort study, yang dimuat BMC Public Health tahun 2026. Kuroiwa dan Tabche berasal dari School of Public Health, Imperial College London, sedangkan tiga penulis lainnya dari University College London, dan yang mereka telaah adalah 6.281 anak berumur sekitar tujuh tahun.
Hasilnya berjalan ke arah yang tidak diduga. Anak yang rumahnya berada di wilayah dengan paparan karbon monoksida lebih tinggi ternyata tercatat lebih banyak melangkah, dan sedikit lebih sering mengaku suka berolahraga serta bermain di luar rumah. Kelima penulis sendiri menyebut kaitan positif itu tidak terduga, dan meminta agar angka tersebut ditafsirkan dengan hati-hati karena kaitannya kecil dan penelitiannya hanya memotret satu waktu.
Sebelum Kuroiwa: riset yang lebih banyak menatap orang dewasa
Rantai penelitian yang mendahului mereka, menurut para penulis, lebih banyak berbicara tentang orang dewasa. Paparan polusi udara telah dikaitkan dengan menurunnya fungsi paru dan naiknya tekanan darah, dan polusi diduga dapat mengurangi atau mengubah manfaat kesehatan dari bergerak di luar ruangan. Tinjauan Tainio dan rekan-rekannya pada 2021, yang mereka rujuk, mendapati sebagian besar kajian memusatkan perhatian pada orang dewasa dan lanjut usia.
Bukti pada anak karena itu terbatas. Satu kajian yang mereka sebut, karya Yu dan Zhang pada 2023 di Tiongkok, menemukan bahwa indeks kualitas udara harian yang lebih buruk berkaitan dengan aktivitas fisik sedang hingga berat yang lebih rendah, langkah berjalan yang lebih sedikit, dan waktu duduk yang lebih panjang pada anak. Kuroiwa dan rekan-rekannya menilai kelompok umur muda masih memerlukan penelitian lanjutan, terutama dengan ukuran aktivitas yang objektif.
Cara mengukur pun berbeda-beda di antara peneliti terdahulu. Wells dan rekan-rekannya pada 2012 menelaah pengakuan orang tentang perubahan kegiatan ketika kualitas udara dirasakan atau diberitakan buruk, dengan data survei kesehatan dan gizi nasional Amerika Serikat. Kajian Kuroiwa menempuh jalan lain: rata-rata tahunan karbon monoksida di wilayah tempat tinggal dipasangkan dengan langkah yang direkam alat di pinggang anak selama sepekan.
Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Anak kelahiran 2000 dan udara 2001–2006
Anak-anak itu berasal dari Millennium Cohort Study, penelitian berkelanjutan yang mengikuti bayi-bayi yang lahir di Inggris Raya selama satu tahun sejak 1 September 2000. Ketika berumur sekitar tujuh tahun, mereka diminta memakai alat penghitung gerak di pinggang sepanjang waktu terjaga selama tujuh hari berturut-turut. Dari seluruh peserta, 6.281 anak mempunyai data lengkap untuk semua hal yang diperhitungkan.
Karbon monoksida dipilih dari lima polutan yang tersedia karena masa pencatatannya, 2001 sampai 2006, paling dekat dengan masa perekaman langkah. Menurut para penulis, gas itu juga dapat menjadi penanda paparan yang berasal dari pembakaran dan lalu lintas. Wilayah tempat tinggal lalu dibelah menjadi dua: 3.955 anak atau 63,0 persen tinggal di separuh yang lebih berpolusi, dan 2.326 anak atau 37,0 persen di separuh yang kurang berpolusi.
Sebutan lebih berpolusi itu, tegas mereka, bersifat nisbi. Pembagiannya bertumpu pada peringkat antarwilayah di Inggris Raya, bukan pada kadar mutlak gas tersebut, sehingga kategori itu tidak dengan sendirinya berarti paparan di atas ambang kesehatan nasional ataupun internasional. Karena itu pula, tulis para penulis, hasilnya tidak dapat disandingkan secara langsung dengan nilai pedoman Organisasi Kesehatan Dunia.
Temuan 2026: selisih 356 langkah sehari
Sebelum ciri-ciri anak diperhitungkan, mereka yang tinggal di wilayah berpaparan lebih tinggi rata-rata melangkah 285,68 langkah lebih banyak per hari. Anak di separuh wilayah yang lebih berpolusi tercatat melangkah 356,26 langkah lebih banyak per hari setelah ciri anak dan keluarga diperhitungkan. Yang diperhitungkan adalah jenis kelamin, etnis, dan posisi sosial ekonomi keluarga. Sebagai pembanding, rata-rata langkah harian seluruh anak sebelum pembobotan adalah 10.406,71 langkah.
Kesukaan bermain memperlihatkan arah yang sama. Kepada anak-anak itu ditanyakan seberapa suka mereka berolahraga dan bermain di luar rumah, dan 71,3 persen tergolong suka sedangkan 28,7 persen tidak. Peluang mereka mengaku suka berolahraga dan bermain di luar rumah juga 1,19 kali peluang anak di wilayah yang kurang berpolusi. Sebelum penyesuaian, angkanya 1,20 kali. Para penulis mencatat bahwa rentang keyakinannya, 1,01 sampai 1,39, menunjukkan besar kaitan itu kecil.
Seberapa besar arti selisih itu? Perhitungan itu hanya menjelaskan sekitar 5,2 persen dari keragaman jumlah langkah anak. Dengan kata lain, sebagian besar perbedaan gerak antara satu anak dan anak lain tidak tertangkap oleh hal-hal yang masuk hitungan. Kuroiwa dan rekan-rekannya mengingatkan bahwa aktivitas anak dibentuk oleh kebiasaan keluarga, perjalanan ke sekolah, musim, cuaca, rancangan lingkungan, akses ke ruang terbuka, dan kegiatan orang tua.
Mereka merujuk Kimiecik dan Horn pada 1998 serta Trost dan Loprinzi pada 2011, yang menyoroti besarnya pengaruh orang tua terhadap perilaku gerak anak. Dari sana kesimpulan sementaranya ditarik dengan hati-hati. “Secara keseluruhan, kaitan yang teramati antara paparan CO dan jumlah langkah bersifat kecil dan tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti adanya penentu yang berarti bagi aktivitas fisik anak,” tulis Kuroiwa dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008
Tafsir Kuroiwa dan rekan: gas tak kasatmata, kota yang ramah pejalan kaki
Mengapa arahnya positif? Para penulis menilai kecil kemungkinan angka itu mencerminkan pengaruh langsung polusi terhadap perilaku. Penjelasan yang menurut mereka lebih masuk akal adalah perancu yang tersisa: wilayah dengan paparan karbon monoksida lebih tinggi sering kali lebih bersifat kota atau lebih padat lalu lintas, dan wilayah seperti itu boleh jadi juga menawarkan jarak ke sekolah yang lebih pendek, tujuan yang lebih dekat, serta lingkungan yang lebih mudah dijalani dengan berjalan kaki.
Karbon monoksida juga tidak terlihat. Rata-rata tahunan gas itu, menurut mereka, belum tentu sejalan dengan polusi yang tampak mata atau dengan kesan sehari-hari orang tentang bahaya lingkungan. Berbeda dari kajian Wells yang menanyakan tanggapan orang terhadap udara buruk, penelitian ini tidak mengukur persepsi, kesadaran, ataupun penyesuaian perilaku, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa anak atau orang tua sengaja mengubah kegiatan karena polusi.
Gerak anak, lanjut mereka, lebih ditentukan oleh rutinitas seperti perjalanan ke sekolah, waktu di taman bermain, kegiatan terorganisasi, dan kebiasaan keluarga ketimbang oleh tanggapan sadar terhadap paparan lingkungan. Maka kaitan antara karbon monoksida yang lebih tinggi dan langkah yang lebih banyak, menurut para penulis, lebih selaras dengan ciri lingkungan kota yang ramah pejalan kaki daripada dengan tanggapan perilaku terhadap polusi.
Terhadap riset sebelumnya mereka memilih sikap yang sama berhati-hatinya. Smith dan rekan-rekannya pada 2019 menelaah ciri lingkungan, termasuk nitrogen dioksida, dalam kaitannya dengan aktivitas orang dewasa, sedangkan Wells meneliti perubahan kegiatan yang dilaporkan sendiri. Karena ukuran paparan dan hasilnya sangat berlainan, Kuroiwa dan rekan-rekannya menulis bahwa temuan mereka tidak semestinya dibaca sebagai bantahan langsung, melainkan isyarat bahwa kaitan dapat berbeda menurut polutan, kelompok umur, dan konteks.
Anak perempuan, anak Asia Selatan, dan ekonomi keluarga
Di luar soal udara, perhitungan yang sama memperlihatkan perbedaan antarkelompok anak. Anak perempuan mencatat 1.423,97 langkah lebih sedikit daripada anak laki-laki, tetapi peluang mereka mengaku suka bermain di luar lebih tinggi. Rasio peluangnya 1,53. Bagi para penulis, hal itu menandakan bahwa kesukaan yang diakui dan gerak yang terekam alat boleh jadi menangkap sisi perilaku yang berbeda, sebab kesukaan belum tentu menjelma menjadi kegiatan ketika kesempatan dibentuk oleh aturan orang tua, rutinitas sekolah, rasa aman, norma sosial, dan akses ke ruang terbuka.
Etnis tidak berkaitan dengan kesukaan bermain di luar, tetapi anak Asia Selatan mencatat 1.197,87 langkah lebih sedikit daripada anak kulit putih yang menjadi kelompok pembanding. Para penulis meminta angka ini dibaca dengan hati-hati, mengingat terbatasnya keterwakilan sebagian kelompok dan besarnya kemungkinan bahwa selisih itu mencerminkan faktor sosial, budaya, dan lingkungan yang lebih luas, yang tidak tertangkap dalam telaah mereka.
Ekonomi keluarga menghadirkan pola yang oleh para penulis disebut rumit. Dibandingkan dengan anak dari seperlima keluarga berpenghasilan terendah, anak di empat kelompok di atasnya mencatat langkah lebih sedikit, masing-masing 722,31, 924,47, 733,49, dan 805,25 langkah. Keadaan ekonomi rumah tangga, tulis mereka, dapat membentuk gerak anak lewat akses ke kegiatan terorganisasi, pola perjalanan ke sekolah, keamanan lingkungan, kepemilikan mobil, dan pola kerja orang tua.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Batas-batas yang diakui kelima penulis
Daftar keterbatasan yang mereka susun panjang. Penelitian ini memotret satu waktu sehingga tidak dapat menetapkan sebab-akibat, dan paparan yang dicatat sebagai rata-rata bertahun-tahun dipasangkan dengan gerak yang direkam hanya sepekan. Ada pula selisih ruang: anak bisa saja bergerak di sekolah, di perjalanan, atau di lingkungan lain, sehingga karbon monoksida di sekitar rumah belum tentu mewakili udara yang mereka hirup selama pekan perekaman.
Sejumlah hal yang mungkin ikut berperan juga tidak masuk hitungan, antara lain letak di kota atau desa, musim, cuaca, pendidikan dan kegiatan fisik orang tua, kepemilikan mobil, jarak sekolah, kepadatan lalu lintas dan perumahan, serta tingkat ketertinggalan wilayah. Membelah paparan menjadi dua kelompok memang memudahkan pembacaan, tetapi menurut para penulis dapat menutupi pola bertingkat, sementara hanya memakai anak berdata lengkap membuka kemungkinan bias seleksi.
Mata rantai berikutnya setelah 2026
“Temuan ini tidak menunjukkan bahwa paparan CO mendorong aktivitas fisik,” tulis mereka, juga dalam bahasa Inggris. Para penulis menegaskan bahwa temuan ini tidak berarti paparan karbon monoksida mendorong anak lebih giat bergerak. Yang mereka garis bawahi justru betapa rumitnya menelaah gerak anak dalam kaitannya dengan paparan lingkungan apabila data yang tersedia hanya potret satu waktu.
Dalam rantai riset tentang polusi dan gerak, Kuroiwa dan rekan-rekannya menempatkan kajian mereka sebagai telaah penjajakan atas satu polutan, bukan penilaian menyeluruh atas udara. Mata rantai berikutnya mereka serahkan kepada penelitian yang menelaah beberapa polutan sekaligus, dengan waktu paparan dan waktu gerak yang lebih selaras, serta ukuran yang lebih kaya tentang lingkungan terbangun, perjalanan ke sekolah, cuaca, perilaku orang tua, dan ketertinggalan wilayah.
Hanya dengan cara itu, menurut mereka, dapat diperjelas apakah kaitan yang teramati mencerminkan paparan polutan itu sendiri atau lingkungan sosial dan fisik yang lebih luas tempat anak-anak itu hidup. Sampai jawaban itu tersedia, selisih 356 langkah pada anak-anak kelahiran pergantian milenium tersebut tetap mereka perlakukan sebagai kaitan yang kecil, yang harus dibaca dengan hati-hati.















