Separuh Penderita Darah Tinggi di Nepal Tak Tahu Dirinya Sakit

A A

Ilustrasi lengan seseorang diukur tekanan darahnya dengan tensimeter digital di atas meja [Foto: Gustavo Fring/Pexels]

  • Satu dari dua orang yang tekanan darahnya tinggi di Nepal tidak tahu bahwa dirinya mengidapnya.
  • Empat dari lima penderita berusia 15 sampai 34 tahun tidak tahu dirinya darah tinggi.
  • Laki-laki penderita yang terkendali hanya 7,6 persen di kelompok termiskin dan 29,4 persen di kelompok terkaya.
  • Kajian ini tidak dapat menetapkan urutan waktu karena surveinya memotret satu waktu saja.
Daftar Isi
  1. Hitungan Acharya: Separuh Penderita Belum Pernah Didiagnosis
  2. Thapa Mendapati Anak Muda Paling Jarang Tahu
  3. Dari Rumah Termiskin ke Terkaya, Jaraknya Empat Kali Lipat
  4. Bangku Sekolah Tidak Selalu Mengantar ke Obat
  5. Obat Gratis Tersedia, Banyak yang Tidak Sampai ke Sana
  6. Batas yang Diakui Thapa dan Rekan-rekannya

Kiran Acharya mengerjakan hitungannya, Rajshree Thapa ikut membaca hasilnya. Dari meja dua peneliti itu muncul gambaran yang sederhana tetapi berat tentang Nepal: satu dari dua orang yang tekanan darahnya tinggi tidak tahu bahwa dirinya mengidapnya. Mereka baru mendengarnya ketika petugas survei nasional memasang manset di lengan atas, lalu menyerahkan hasil ukur secara tertulis.

Temuan itu dimuat dalam artikel Equity in the continuum of hypertension care: evidence from a nationally representative survey in Nepal, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26, nomor artikel 1716, tahun 2026. Thapa dan Acharya menulisnya bersama Prabhat Lamichhane, Siew Lim, Jacqueline Boyle, Navaraj Bhattarai, dan Kiran Bam. Thapa bekerja di Monash University, Australia, dan Nepal Development Society, sedangkan Acharya di lembaga New ERA, Kathmandu.

Orang-orang yang mereka telaah berjumlah 1.033 perempuan dan 993 laki-laki berusia 15 tahun ke atas, semuanya terbukti bertekanan darah tinggi dalam Survei Demografi dan Kesehatan Nepal 2022. Usia rata-rata perempuan 54,3 tahun, laki-laki 52,3 tahun. Tim Thapa menelusuri tiga anak tangga pada mereka: tahu dirinya sakit, minum obat, lalu tekanan darahnya terkendali.

Hitungan Acharya: Separuh Penderita Belum Pernah Didiagnosis

Acharya memilah para penderita ke dalam empat kelompok yang tidak saling tumpang-tindih. Di kalangan perempuan, 47,7 persen belum pernah diberi tahu tenaga kesehatan bahwa tekanan darah mereka tinggi. Sebanyak 17,1 persen sudah tahu tetapi tidak minum obat. Lalu 15,8 persen minum obat tanpa hasil yang terkendali, dan hanya 19,4 persen yang tahu, berobat, sekaligus terkendali.

Untuk laki-laki, Acharya dan Thapa mencatat angka berikut. Yang tidak tahu mencapai 52,0 persen, yang tahu tetapi tidak berobat 19,9 persen, yang berobat tanpa terkendali 11,6 persen. Hanya 16,5 persen yang sampai ke anak tangga terakhir, yakni tahu, berobat, dan terkendali sekaligus.

“Kami menemukan bahwa satu dari dua orang dengan hipertensi tidak mengetahui status hipertensinya sebelum survei,” tulis Thapa dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menyebut rendahnya angka kesadaran itu sebagai salah satu tantangan terbesar perawatan darah tinggi di negara seperti Nepal.

Ukuran yang dipakai Thapa dan Acharya lugas. Seseorang digolongkan darah tinggi bila tekanan atasnya 140 mmHg atau lebih, tekanan bawahnya 90 mmHg atau lebih, atau ia sedang minum obat. Ia disebut terkendali bila minum obat dan angkanya berada di bawah batas itu saat diukur. Sasaran yang mereka kutip: 80 persen tahu, 80 persen dari yang tahu diobati, 80 persen dari yang diobati terkendali pada 2040.

Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja

Thapa Mendapati Anak Muda Paling Jarang Tahu

Ketika Thapa dan Acharya memilah menurut umur, kelompok termuda muncul paling gelap. Di antara penderita berusia 15 sampai 34 tahun, 80,1 persen perempuan dan 80,3 persen laki-laki tidak tahu dirinya darah tinggi. Itu empat dari lima orang. Pada perempuan berusia 75 tahun ke atas, angka yang sama hanya 36,0 persen.

Anak tangga terakhir lebih sepi lagi bagi yang muda. Acharya mencatat hanya 3,5 persen perempuan dan 4,3 persen laki-laki berusia 15 sampai 34 tahun yang tekanan darahnya terkendali. Pada perempuan berumur 60 sampai 74 tahun angkanya 26,8 persen. Pada laki-laki berumur 75 tahun ke atas, 31,9 persen.

Yang tidak tahu dirinya darah tinggiYang tidak tahu dirinya darah tinggiYang tidak tahu dirinya darah tinggiPersen penderita yang belum pernah didiagnosis, Nepal 2022PerempuanLaki-laki47,7%52,0%Seluruhnya80,1%80,3%Usia 15-3438,4%42,6%Usia 60-7469,3%69,0%Termiskin33,1%38,5%Terkaya44,6%50,9%Kota54,2%55,4%Desa
Sumber: Rajshree Thapa, Kiran Acharya, Prabhat Lamichhane, Siew Lim, Jacqueline Boyle, Navaraj Bhattarai, dan Kiran Bam, Equity in the continuum of hypertension care: evidence from a nationally representative survey in Nepal, BMC Public Health, 26:1716, 2026. Grafik: Cekricek.id

Thapa dan rekan-rekannya mengaitkan hal itu dengan cara layanan bekerja. Pemeriksaan tekanan darah di Nepal, tulis mereka, bertumpu pada penapisan pasif di fasilitas kesehatan, sementara orang muda jarang mencari layanan kesehatan. Tim itu mengusulkan beberapa jalan: pemeriksaan rutin di sekolah yang disertai konseling, penapisan di tengah komunitas, dan pembagian tugas dengan kader kesehatan masyarakat.

Dari Rumah Termiskin ke Terkaya, Jaraknya Empat Kali Lipat

Garis paling tegas dalam data Acharya ditarik oleh kekayaan rumah tangga. Di kelompok perempuan termiskin, 69,3 persen penderita tidak tahu dirinya darah tinggi. Di kelompok terkaya, 33,1 persen. Arah yang sama terlihat di ujung tangga: perempuan yang terkendali hanya 9,1 persen di rumah termiskin dan 32,9 persen di rumah terkaya.

Pada laki-laki, Thapa dan Acharya menyebut selisihnya empat kali lipat. Hanya 7,6 persen penderita dari kelompok termiskin yang tekanan darahnya terkendali, berbanding 29,4 persen di kelompok terkaya. Yang tidak tahu dirinya sakit mencapai 69,0 persen di lapisan terbawah dan 38,5 persen di lapisan teratas. Kekayaan, tulis mereka, konsisten seiring dengan kesadaran, pengobatan, dan pengendalian yang lebih baik.

Makin berada, makin terkendaliTermiskin: Perempuan +9,1%, Laki-laki +7,6%; Kelompok kedua: Perempuan +13,8%, Laki-laki +13,1%; Menengah: Perempuan +18,4%, Laki-laki +15,9%; Kelompok keempat: Perempuan +19,0%, Laki-laki +8,7%; Terkaya: Perempuan +32,9%, Laki-laki +29,4%.Makin berada, makin terkendaliPersen penderita yang tekanan darahnya terkendaliPerempuanLaki-laki10%20%30%40%0Termiskin9,1%7,6%Kelompok kedua13,8%13,1%Menengah18,4%15,9%Kelompok keempat19,0%8,7%Terkaya32,9%29,4%
Sumber: Rajshree Thapa, Kiran Acharya, Prabhat Lamichhane, Siew Lim, Jacqueline Boyle, Navaraj Bhattarai, dan Kiran Bam, Equity in the continuum of hypertension care: evidence from a nationally representative survey in Nepal, BMC Public Health, 26:1716, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tempat tinggal ikut membelah angka-angka Acharya. Di kota, 22,2 persen perempuan dan 18,3 persen laki-laki penderita terkendali. Di desa, 13,5 persen dan 11,3 persen. Kenaikan kesadaran seiring kekayaan paling tajam pada perempuan kota: 71,0 persen perempuan miskin kota tidak tahu dirinya darah tinggi, berbanding 32,7 persen perempuan kaya kota.

Peta provinsi dalam tabel Thapa memperlihatkan jarak serupa. Di Sudurpaschim, 72,3 persen perempuan penderita tidak tahu dirinya sakit dan hanya 4,2 persen yang terkendali. Di Bagmati, yang tidak tahu 33,7 persen dan yang terkendali 28,8 persen. Laki-laki mengikuti pola itu: 26,8 persen terkendali di Bagmati, 5,7 persen di Sudurpaschim.

Baca juga Satu dari Sepuluh Orang Dewasa Malaysia Gemuk dan Hipertensi

Bangku Sekolah Tidak Selalu Mengantar ke Obat

Pendidikan memberi Thapa dan Acharya hasil yang tidak lurus. Pada laki-laki, polanya rapi: yang tidak tahu dirinya darah tinggi 59,0 persen di kalangan tanpa pendidikan formal dan 30,5 persen di kalangan berpendidikan tinggi. Pada perempuan justru lain. Yang berpendidikan menengah paling banyak tidak tahu, 57,8 persen, lebih tinggi daripada perempuan tanpa pendidikan formal.

Thapa dan rekan-rekannya mencatat bahwa perempuan berpendidikan menengah itu, begitu tahu, lebih mungkin diobati. Untuk menjelaskan beda perempuan dan laki-laki, mereka menyebut beberapa kemungkinan: norma sosial-budaya, terbatasnya otonomi perempuan dalam keputusan kesehatan, dan perbedaan perilaku mencari layanan. Karena itu mereka meminta strategi penapisan yang peka gender di semua jenjang pendidikan.

Saat Acharya menggabungkan pendidikan dan kekayaan, celahnya melebar. Perempuan termiskin berpendidikan dasar paling banyak tidak tahu, 84,3 persen. Angka terkendali pada perempuan miskin dan kurang berpendidikan 10,1 persen, berbanding 30,1 persen pada perempuan kaya dan berpendidikan tinggi. Pada laki-laki jaraknya lebih lebar lagi, 6,1 persen berbanding 38,7 persen.

Satu angka membuat Thapa menulis bahwa pendidikan saja tidak seiring dengan pengobatan. Di kalangan laki-laki berpendidikan tinggi dari lapisan kekayaan bawah, 65,6 persen penderita tidak diobati, porsi terbesar di antara semua kelompok. Laki-laki kaya di kota pun masih banyak yang tahu tetapi tidak berobat. Pendidikan dasar dan menengah hanya memberi tambahan terbatas pada pengobatan dan pengendalian, di kota maupun di desa.

Obat Gratis Tersedia, Banyak yang Tidak Sampai ke Sana

Thapa dan Acharya mengingatkan bahwa diagnosis darah tinggi sudah masuk paket layanan kesehatan dasar Nepal, dan obat dasarnya tersedia gratis di pusat layanan kesehatan primer. Meski begitu, sebagian besar penduduk tetap tidak memeriksakan tekanan darah secara rutin di sana. Diagnosis yang terlambat, tulis mereka, berujung pada pengobatan yang lebih rendah dan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah yang lebih besar.

Hambatan yang didaftar tim Thapa panjang. Ada biaya langsung dan tidak langsung, dari ongkos konsultasi, obat, laboratorium, sampai transportasi. Ada pula tindak lanjut yang lemah dan keraguan memulai pengobatan. Di sisi layanan, mereka menyebut tenaga kesehatan yang terbatas terutama di perdesaan serta pasokan obat yang tidak teratur.

Asuransi belum menutup celah itu. Menurut Thapa dan rekan-rekannya, Program Asuransi Kesehatan Nasional Nepal menanggung diagnosis dan penanganan darah tinggi, tetapi kepesertaannya rendah, 21,6 persen, dan angka putus kepesertaannya 25,5 persen. Mereka menilai strategi baru untuk menambah dan mempertahankan peserta dapat menjadi jalan penting bagi penanganan penyakit tidak menular.

Baca juga Arsip Survei Kamboja: Tekanan Darah dan Kesenjangan Sekolah

Jalan keluar yang ditawarkan Thapa bertumpu pada warga sendiri. Timnya mengusulkan agar layanan dirancang bersama orang yang hidup dengan darah tinggi, pembuat kebijakan, dan tenaga kesehatan. Sebuah riset penerapan, tulis mereka, sedang berjalan untuk memadukan penapisan darah tinggi dan diabetes berbasis komunitas ke dalam layanan rutin.

“Tanpa ukuran yang digerakkan komunitas ini dan sistem kesehatan yang akuntabel, kesenjangan dalam sistem perawatan kemungkinan akan terus berlanjut,” tulis Thapa, Acharya, dan kelima rekan mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Batas yang Diakui Thapa dan Rekan-rekannya

Thapa dan Acharya menuliskan sendiri batas kajian mereka. Karena surveinya memotret satu waktu saja, kajian ini tidak dapat menetapkan urutan waktu antara keadaan sosial-ekonomi dan kesadaran, pengobatan, serta pengendalian. Data suku, pekerjaan, dan agama untuk laki-laki juga tidak tersedia, sehingga tidak semua ukuran ketimpangan bisa mereka periksa.

Jumlah orang di beberapa kelompok kecil pun menjadi catatan Acharya. Sebagian kotak, misalnya penderita berpendidikan tinggi di lapisan termiskin, perlu dibaca hati-hati karena sampelnya sedikit. Sampel tingkat provinsi juga kecil. “Keterbatasan ini, bagaimanapun, tidak mengurangi relevansi temuan bagi pembuat kebijakan,” tulis para peneliti dalam bahasa Inggris.

Simpulan Thapa menyebut tiga kelompok yang perlu didahulukan: orang dewasa muda, penduduk di lapisan sosial-ekonomi terbawah, dan mereka yang berpendidikan rendah. Untuk ketiganya, tim itu meminta pendekatan yang berpusat pada komunitas dan menimbang keadilan, demi sistem kesehatan yang adil dan akuntabel bagi penanganan penyakit tidak menular di Nepal.

Hitungan Acharya dan bacaan Thapa berakhir pada gambaran yang sama dengan awalnya. Dari setiap dua penderita darah tinggi di Nepal, satu belum pernah mendengar diagnosisnya, dan yang paling jarang mendengarnya adalah kaum muda serta penghuni rumah termiskin. Tekanan darah yang terkendali, menurut mereka, terkumpul pada penduduk di lapisan kekayaan atas, baik di kota maupun di desa.

Bagikan

Baca Juga

Anak Inggris di Kawasan Lebih Berpolusi Lebih Banyak Melangkah
Perempuan Bangladesh yang Benarkan Pemukulan Istri Lebih Cemas
Bonus Demografi Indonesia Belum Otomatis Jadi Pertumbuhan Ekonomi
Suami Pengekang Kian Lekat dengan Kekerasan pada Istri di Nepal
Yang Percaya Bahaya Sisa Asap Rokok Lebih Sering Melarang Rokok
Obat HIV Gratis di Jharkhand Terhalang Antrean dan Upah Hilang