- Sebanyak 57.051 orang atau 66,4 persen masuk golongan kekurangan vitamin D.
- Di antara perempuan 68,6 persen kekurangan vitamin D, sementara di antara laki-laki 61,3 persen.
- Kelompok usia 18 sampai 29 tahun mencatat kekurangan paling tinggi, yaitu 72,00 persen.
- Puncaknya jatuh pada 2020, ketika 79,5 persen orang yang diperiksa kekurangan vitamin D.
Daftar Isi
Vitamin D dijuluki vitamin sinar matahari, dan julukan itu mudah membuat orang mengira kekurangannya hanya menimpa segelintir orang. Catatan laboratorium sebuah rumah sakit universitas di Duzce, Turki, berkata lain: dari puluhan ribu orang dewasa yang darahnya diperiksa antara 2016 dan 2025, kira-kira dua dari tiga ternyata kekurangan vitamin itu, sedangkan yang kadarnya tergolong cukup hanya sekitar satu dari sepuluh.
Angka-angka itu dihimpun Rumeysa Samanci dalam artikel How deficient are we? A retrospective analysis of vitamin D status in 85,892 Turkish adults, yang terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Samanci, dari Departemen Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Fakultas Kedokteran Duzce University, membaca hasil pemeriksaan 85.892 orang berusia 18 tahun ke atas yang datang ke Duzce University Hospital karena alasan apa pun dan diukur kadar vitamin D dalam darahnya.
Kekurangan sebagai Keadaan yang Lazim
Batas yang dipakai sederhana: kadar di atas 30 nanogram per mililiter disebut cukup, antara 20 dan 30 belum memadai, dan di bawah 20 kekurangan. Dengan ukuran itu, 57.051 orang atau 66,4 persen masuk golongan kekurangan, 18.635 orang atau 21,7 persen belum memadai, dan hanya 10.206 orang atau 11,9 persen yang cukup. Rata-rata kadar seluruh orang yang diperiksa pun berada di bawah garis kekurangan, yakni 17,90 nanogram per mililiter, dengan nilai tengah 15,30.
Samanci menyebut hasil itu sejalan dengan penelitian-penelitian terdahulu di Turki, dan menurutnya kekurangan vitamin D sangat umum serta mengenai sebagian besar penduduk. Ia menduga beberapa hal ikut menyumbang, yaitu kebiasaan berpakaian, belum adanya penambahan vitamin D pada bahan pangan, dan pola makan. Ketiganya ia sampaikan sebagai kemungkinan, dan angka yang ia olah sendiri dipilah menurut jenis kelamin, usia, musim, serta tahun pemeriksaan.
Samanci menyandingkan angka Duzce itu dengan angka dari penelitian lain yang dikutip dalam naskahnya. Sebuah analisis gabungan dunia mencatat kekurangan vitamin D pada 47,9 persen orang, sementara di Eropa angkanya 40,4 persen. Di Australia 22,7 persen penduduk dilaporkan kekurangan, di Amerika Serikat pada 2001 sampai 2010 angkanya 28,9 persen, dan pada orang dewasa Denmark 13,8 persen. Satu penelitian di Pakistan yang dikutip Samanci mencatat kekurangan pada 69,9 persen pesertanya.
Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Perempuan Lebih Sering Diperiksa dan Lebih Sering Kekurangan
Tujuh dari sepuluh orang yang diperiksa adalah perempuan, tepatnya 60.309 orang atau 70,2 persen, sedangkan laki-laki berjumlah 25.583 orang atau 29,8 persen. Di antara perempuan, 68,6 persen kekurangan vitamin D, sementara di antara laki-laki 61,3 persen. Rata-rata kadar laki-laki tercatat 19,16 nanogram per mililiter dan perempuan 17,37, dan perbedaan itu dinyatakan bermakna secara statistik.
Di golongan tengah urutannya berbalik. Laki-laki yang kadarnya belum memadai mencapai 27,0 persen, sedangkan perempuan 19,4 persen, sementara golongan cukup hampir sama, 12,0 persen pada perempuan dan 11,7 persen pada laki-laki. Nilai tengah kadar perempuan pun lebih rendah, 14,20 berbanding 17,39 nanogram per mililiter. Samanci menyimpulkan bahwa laki-laki memperlihatkan tingkat kecukupan vitamin D yang lebih tinggi daripada perempuan.
Temuan itu, tulis Samanci, sejalan dengan kepustakaan yang melaporkan kadar vitamin D laki-laki lebih tinggi secara bermakna daripada perempuan. Penjelasan yang ia tawarkan kembali berupa kemungkinan: kebiasaan berpakaian, paparan sinar matahari yang lebih sedikit, dan pola makan yang berbeda di kalangan perempuan. Dalam analisis regresinya, peluang perempuan berada di golongan cukup alih-alih golongan kekurangan tercatat lebih rendah daripada laki-laki, dengan rasio odds 0,91.
Yang Muda Lebih Kekurangan daripada yang Tua
Usia lanjut lazim dianggap membuat orang lebih rentan kekurangan vitamin D, dan naskah itu sendiri menyebutnya sebagai salah satu faktor risiko. Justru sebaliknya yang tampak di Duzce. Kelompok usia 18 sampai 29 tahun mencatat kekurangan paling tinggi, 72,00 persen, dengan rata-rata kadar terendah, 16,44 nanogram per mililiter, dan kadar mereka lebih rendah secara bermakna daripada semua kelompok usia lain.
Angka kekurangan itu turun setapak demi setapak seiring usia: 68,39 persen pada usia 30-an, 66,87 persen pada usia 40-an, 63,89 persen pada usia 50-an, dan 61,98 persen pada usia 60-an. Rata-rata kadar tertinggi dimiliki kelompok 70 sampai 79 tahun, yaitu 19,05 nanogram per mililiter. Sesudah itu angkanya berbalik, sebab kekurangan tercatat 64,77 persen pada usia 80-an dan 68,77 persen pada mereka yang berusia 90 tahun ke atas.
Bila disederhanakan menjadi dua golongan, mereka yang berusia 65 tahun ke atas memiliki rata-rata kadar 18,77 nanogram per mililiter, lebih tinggi secara bermakna daripada 17,70 pada yang lebih muda. Kekurangan pada golongan tua itu 62,51 persen dan kadar belum memadai 22,73 persen. Samanci menyandingkannya dengan sebuah analisis gabungan tentang lansia yang mencatat 59,7 persen kekurangan dan 27,5 persen belum memadai.
Di situlah persoalannya, dan Samanci menjawabnya dengan menunjuk pada cara orang tua berhubungan dengan layanan kesehatan. “Meskipun usia lanjut umumnya dianggap faktor risiko kekurangan vitamin D, meningkatnya risiko osteoporosis dan adanya penyakit penyerta dapat membuat kunjungan ke layanan kesehatan lebih sering dan, akibatnya, anjuran suplemen vitamin D lebih sering pula,” tulisnya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Ia tidak sendirian dengan pola itu. Penelitian Kaytaz dan rekan-rekannya di Turki, yang ia kutip, juga menemukan kadar tertinggi pada orang berusia 70 tahun ke atas. Namun kepustakaan yang ia baca tidak seragam: sebagian melaporkan kadar orang muda lebih rendah daripada orang tua, sebagian lain melaporkan hal sebaliknya, dan sebuah analisis gabungan tidak menemukan perbedaan menurut usia di Eropa maupun Amerika Utara.
Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat
Musim Dingin Menekan Kadar, Musim Panas Mengangkatnya
Musim pun ikut menggeser angka, dan perbedaannya dinyatakan bermakna. Rata-rata kadar tertinggi tercatat pada musim panas, 19,87 nanogram per mililiter, disusul musim gugur 19,76, sedangkan musim semi hanya 16,70 dan musim dingin paling rendah, 15,77. Di musim dingin 74,69 persen orang yang diperiksa kekurangan vitamin D dan di musim semi 71,87 persen, sementara di musim panas angkanya 57,57 persen dan di musim gugur 59,51 persen.
Pola itu, menurut Samanci, memang sudah diperkirakan, sebab paparan sinar matahari yang bertambah di musim panas meningkatkan pembentukan vitamin D, dan pengaruh itu menyusut menjelang musim dingin. Namun musim terbaik pun tidak membalik keadaan. Pada musim panas, yang kadarnya cukup hanya 15,15 persen, dan pada musim dingin 8,93 persen, sehingga di setiap musim lebih dari separuh orang yang diperiksa tetap berada di golongan kekurangan.
Tahun Pandemi Mencatat Kekurangan Tertinggi
Angka kekurangan juga berubah dari tahun ke tahun. Pada 2016 tercatat 37,4 persen, lalu 61,5 persen pada 2017, 62,6 persen pada 2018, dan 76,5 persen pada 2019. Puncaknya jatuh pada 2020, ketika 79,5 persen orang yang diperiksa kekurangan vitamin D. Sesudah itu angkanya 68,9 persen pada 2022, 74,4 persen pada 2023, 61,5 persen pada 2024, dan 66,4 persen pada 2025.
Samanci mengaitkan puncak 2020 dengan berkurangnya paparan sinar matahari selama karantina wilayah dan anjuran tinggal di rumah pada masa pandemi Covid-19, dan lagi-lagi ia menyebutnya sebagai kemungkinan. Sepanjang sepuluh tahun itu, golongan belum memadai bergerak antara 13,4 dan 27,0 persen, sedangkan golongan cukup antara 7,0 dan 35,6 persen. Data laboratorium 2021 tidak tersedia, sehingga tahun itu kosong dalam deret angka tahunan tersebut.
Samanci juga membagi sepuluh tahun itu menjadi tiga babak, dan ketiganya berbeda secara bermakna. Pada 2016 sampai 2018, kekurangan tercatat 58,31 persen dengan rata-rata kadar 20,57 nanogram per mililiter, dan 17,18 persen orang tergolong cukup. Pada 2019 sampai 2021 kekurangan naik menjadi 77,09 persen, rata-rata turun ke 15,13, dan yang cukup tinggal 6,74 persen. Pada babak 2022 sampai 2025, kekurangan tercatat 67,43 persen, rata-rata 17,31, dan yang cukup 10,58 persen.
Samanci mencatat bahwa dibandingkan tahun-tahun awal, porsi orang berkadar cukup pada 2022 sampai 2025 lebih kecil. Ia menulis bahwa perubahan kadar vitamin D dari tahun ke tahun dapat menjadi petunjuk keadaan kesehatan masyarakat secara umum. Kepustakaan tentang arah perubahan itu, menurut naskahnya, tidak sepakat: ada penelitian yang melaporkan kadar menurun dari waktu ke waktu, ada yang melaporkan kenaikan, dan ada pula yang tidak menemukan perubahan berarti.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Yang Tidak Tercatat di Lembar Laboratorium
Samanci menuliskan sendiri batas pekerjaannya. Orang-orang yang diperiksa mencakup mereka yang mengidap penyakit menahun, data laboratorium tahun 2021 tidak tersedia, dan pemakaian suplemen vitamin D atau multivitamin tidak dinilai. Alat ukur kadar vitamin D antarlaboratorium juga belum seragam, dan hal itu, menurut dia, dapat menjadi keterbatasan ketika temuan Duzce dibandingkan dengan temuan penelitian lain.
Dari angka-angka itu ia menarik simpulan yang lugas. “Kekurangan vitamin D tetap menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang penting di Turki,” tulis Samanci. Menambah paparan sinar matahari, mendorong konsumsi pangan yang diperkaya vitamin D, dan menganjurkan pemakaian suplemen ia sebut sebagai langkah penting, dan ia meminta upaya nasional yang menyeluruh serta program kesehatan masyarakat berskala besar dijalankan secepat mungkin.
Naskah itu juga menyebut ikan berlemak sebagai sumber yang patut diperbanyak, dan menempatkan pencegahan kekurangan vitamin D sebagai urusan pemerintah, pembuat kebijakan, tenaga kesehatan, dan tiap orang. Samanci menutup dengan seruan agar penelitian yang lebih menyeluruh segera dilakukan untuk menopang penyusunan strategi yang efektif. Ia juga mengutip sebuah penelitian yang melaporkan asupan harian vitamin D orang lanjut usia lebih tinggi secara bermakna daripada orang dewasa muda.














