- Dari 3.178 pasien pneumonia, 322 orang atau 10,1 persen tergolong berat.
- Sebanyak 36,4 persen pasien berat merokok, sedangkan pada pasien tidak berat 22,0 persen.
- Sebanyak 43 pasien meninggal, dan semuanya berasal dari kelompok berat.
- Para penulis tidak punya data paparan polusi udara luar ruang.
Daftar Isi
Pneumonia berat di Ulaanbaatar berkaitan dengan rokok dan alkohol. Kaitan itu muncul pada orang dewasa yang dirawat di empat rumah sakit distrik di ibu kota Mongolia. Dari 3.178 pasien pneumonia, 322 orang atau 10,1 persen tergolong berat.
Temuan itu dilaporkan Amy Simkiss, Munkhchuluun Ulziibayar, dan rekan-rekan mereka dalam artikel Factors associated with severe pneumonia in adults hospitalised with community-acquired pneumonia in Mongolia. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Simkiss berasal dari Department of Paediatrics, University of Melbourne, sedangkan Ulziibayar dari National Center for Communicable Diseases, Ministry of Health, di Ulaanbaatar.
Pneumonia yang diteliti adalah pneumonia yang didapat di masyarakat. Pasiennya berusia 18 tahun ke atas dan dirawat antara Maret 2019 dan Februari 2022 di distrik Songinokhairkhan, Sukhbaatar, Bayanzurkh, dan Chingeltei. Sejak 2020, pasien yang positif SARS-CoV-2 tidak diikutkan.
Seorang pasien digolongkan berat bila menunjukkan dua atau lebih tanda keparahan. Tandanya adalah kebingungan, tekanan darah rendah, napas cepat, atau kadar oksigen darah yang rendah. Pasien yang masuk unit perawatan intensif atau meninggal juga dihitung berat.
Enam faktor yang bertahan
Enam faktor tetap berkaitan dengan pneumonia berat setelah faktor lain diperhitungkan bersama. Keenamnya adalah kuman pneumokokus yang terbawa di nasofaring, antigen pneumokokus di urine, rawat inap dalam setahun terakhir, penyakit penyerta, rokok, dan alkohol.
Kaitan paling kuat ada pada pembawa pneumokokus. Para penulis menyebut odds pneumonia berat pada kelompok ini naik hampir tiga kali lipat, dengan rasio 2,67. Alkohol menyusul dengan rasio 2,19, lalu penyakit penyerta 1,96.
Tiga faktor lain angkanya lebih kecil. Rawat inap dalam setahun terakhir mencatat rasio 1,73, antigen pneumokokus di urine 1,69, dan rokok 1,53. Semua angka itu adalah rasio odds yang sudah disesuaikan, dan semuanya bermakna secara statistik.
Kuman di saluran napas
Streptococcus pneumoniae, atau pneumokokus, dicari lewat usap nasofaring dan sampel urine. Di antara pasien berat, 24,9 persen membawa kuman itu. Di antara pasien tidak berat, angkanya 8,8 persen.
Hasil urine menunjukkan pola serupa. Antigen pneumokokus terdeteksi pada 18,0 persen pasien berat dan 6,8 persen pasien tidak berat. Para penulis memakai hasil urine itu sebagai penanda penyakit pneumokokus.
Para penulis menyebut pneumokokus sebagai penyebab utama pneumonia dewasa di dunia. Di Mongolia, tulis mereka, belum ada rekomendasi maupun ketersediaan vaksin pneumokokus untuk orang dewasa. Vaksin PCV13 hanya tersedia dalam program imunisasi anak.
Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar
Rokok dan alkohol
Perokok lebih banyak di kelompok berat. Sebanyak 36,4 persen pasien berat merokok, sedangkan pada pasien tidak berat 22,0 persen. Para penulis mencatat perkiraan bahwa 50 persen laki-laki di Mongolia merokok.
Alkohol menunjukkan jarak yang lebih lebar. Sebanyak 25,8 persen pasien berat melaporkan minum alkohol, sedangkan pada pasien tidak berat 10,9 persen. Lebih dari separuh peminum di kelompok berat menyebut diri peminum ringan sampai sedang.
Para penulis sendiri berhati-hati membaca angka alkohol. Studi terdahulu, tulis mereka, memberi hasil beragam, dan kaitan terkuat ada pada minum berlebihan. Rokok dan alkohol juga kerap muncul bersama, sehingga alkohol mungkin faktor perancu, bukan faktor risiko.
Penyakit penyerta, rawat inap
Lebih dari tiga perempat pasien berat, tepatnya 76,7 persen, punya sedikitnya satu penyakit penyerta. Pada pasien tidak berat angkanya 58,9 persen. Hipertensi adalah penyakit penyerta paling umum di kedua kelompok.
Beberapa penyakit lebih sering dijumpai pada pasien berat yang punya penyakit penyerta. Penyakit jantung tercatat 31,2 persen berbanding 18,4 persen, dan penyakit paru 36,8 persen berbanding 26,9 persen. Diabetes 19,5 persen berbanding 11,7 persen, sedangkan gangguan saraf 18,2 persen berbanding 7,6 persen.
Riwayat rawat inap juga membedakan dua kelompok itu. Sebanyak 28,9 persen pasien berat pernah dirawat dalam setahun terakhir, berbanding 17,7 persen pasien tidak berat. Para penulis menulis bahwa sebagian rawat inap itu mungkin didorong oleh penyakit penyerta.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Usia tidak lagi bermakna
Pasien berat lebih tua. Median usia mereka 58,9 tahun, sedangkan pasien tidak berat 53,7 tahun. Sebelum faktor lain diperhitungkan, usia 65 tahun ke atas berkaitan dengan odds pneumonia berat 2,43 kali kelompok usia 18 sampai 25 tahun.
Setelah faktor lain masuk hitungan, usia tidak lagi bermakna secara statistik. Angka perkiraannya, menurut para penulis, tetap mengarah pada usia sebagai faktor risiko. Mereka menulis bahwa kaitan itu mungkin terpengaruh efek perancu antara usia dan penyakit penyerta.
Kelompok usia tertua tetap menanggung beban paling besar. Kelompok itu, tulis para penulis, mencatat proporsi kematian tertinggi dan masa rawat terlama. Jumlah perawatan intensif terbanyak juga ada di kelompok itu.
Laki-laki juga lebih banyak di kelompok berat. Perempuan mencakup 56,9 persen dari seluruh pasien pneumonia, tetapi laki-laki mengisi 57,8 persen kasus berat. Sebelum faktor lain diperhitungkan, odds laki-laki hampir dua kali odds perempuan.
Ger dan bahan bakar
Beberapa faktor sosial-ekonomi tampak berkaitan sebelum faktor lain diperhitungkan. Tinggal di ger, hunian informal, berkaitan dengan odds 1,35 kali. Bahan bakar berasap di rumah, yakni kayu atau batu bara, berkaitan dengan odds 1,46 kali.
Pendapatan rumah tangga di garis kemiskinan atau di bawahnya berkaitan dengan odds 1,40 kali. Batasnya 61 dolar AS per orang per bulan. Paparan bahan bakar berasap di tempat kerja mencatat angka terbesar, yakni 3,55 kali.
Kaitan itu tidak semuanya bertahan. Setelah faktor lain diperhitungkan, tingkat pendidikan dan bahan bakar di rumah tidak lagi berkaitan dengan pneumonia berat. Rasionya masing-masing 1,13 dan 1,17, keduanya tidak bermakna.
Akibat bagi pasien
Pneumonia berat membawa akibat yang nyata. Sebanyak 43 pasien meninggal, dan semuanya berasal dari kelompok berat. Jumlah itu setara 13,3 persen pasien berat, sedangkan 85,4 persen lainnya tercatat selamat.
Masa rawat mereka juga lebih panjang. Sebanyak 53,1 persen pasien berat dirawat 8 sampai 14 hari, berbanding 37,7 persen pasien tidak berat. Rawat inap 15 hari atau lebih dialami 7,1 persen pasien berat.
Masa pandemi COVID-19 mengubah sedikit hal. Pada pasien berat, pembawa pneumokokus turun dari 39,6 persen sebelum pandemi menjadi 24,2 persen selama pandemi. Antigen pneumokokus di urine turun dari 28,0 persen menjadi 16,2 persen, dan infeksi virus influenza atau RSV dari 12 persen menjadi 1 persen.
Cakupan vaksin influenza rendah, di bawah 2 persen pada kedua kelompok. Cakupan vaksin COVID-19 pada pasien berat 18,6 persen, lebih rendah daripada 34,6 persen pada pasien tidak berat. Para penulis mengingatkan bahwa angka vaksin COVID-19 itu hanya mencakup sebagian peserta.
Baca juga Hanya 0,76 Persen Remaja Taizhou Terinfeksi TB, BCG Menekannya
Saran dan batasnya
Para penulis mengusulkan vaksinasi yang terarah. Di Mongolia dan negara berpenghasilan rendah-menengah lain, tulis mereka, program vaksinasi dewasa kemungkinan perlu menyasar kelompok berisiko tinggi. Kelompok itu mencakup orang dengan penyakit penyerta atau berusia 65 tahun ke atas.
“Temuan kami menunjukkan bahwa penerapan program vaksin pneumokokus yang terarah bagi orang dewasa lanjut usia dan semua orang dewasa dengan penyakit penyerta dapat menjadi pendekatan yang berharga untuk mengurangi kasus pneumonia berat yang didapat di masyarakat,” tulis Simkiss dan rekan-rekannya. Naskah mereka aslinya berbahasa Inggris.
Rawat inap bisa menjadi kesempatan lain. Karena rawat inap sebelumnya adalah faktor risiko, para penulis mengusulkan vaksin pneumokokus ditawarkan saat pasien pulang. Contoh yang mereka sebut adalah orang berusia 50 tahun ke atas dengan penyakit penyerta.
Selain vaksin, mereka menyarankan kebijakan dan program kesehatan lain terus dijalankan. Sasarannya mengurangi kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebihan. Rokok, menurut mereka, adalah faktor yang bisa diubah untuk mengurangi beban pneumonia pada laki-laki.
Penelitian ini punya keterbatasan. Konsumsi alkohol dan frekuensi merokok dilaporkan sendiri oleh pasien, sehingga angkanya mungkin lebih rendah dari kenyataan. Infeksi virus yang terdeteksi juga sedikit, sehingga risikonya tidak bisa diperiksa.
Satu faktor lain tidak terkumpul datanya. Para penulis tidak punya data paparan polusi udara luar ruang. Padahal, menurut mereka, faktor itu sangat relevan karena kualitas udara Ulaanbaatar buruk. Mereka juga tidak dapat mengumpulkan data semua faktor risiko pneumonia berat.
Enam faktor kini tercatat untuk pneumonia berat pada orang dewasa yang dirawat di Ulaanbaatar. Paparan polusi udara luar ruang belum termasuk di dalamnya karena datanya tidak terkumpul. Para penulis menulis bahwa temuan ini akan membantu merancang pencegahan pneumonia yang terarah bagi orang dewasa.















