- Survei terhadap 703 karyawan kasino penuh waktu di Makau mengukur ketangguhan, dukungan sosial, kecemasan, depresi, dan stres.
- Saat ketangguhan dan dukungan sosial sama-sama naik, kecemasan, depresi, dan stres sama-sama turun.
- Saat kedua bekal timpang, dukungan sosial lebih menentukan untuk depresi, sedangkan untuk stres ketangguhan yang menonjol.
- Dari tiga faktor yang diuji, hanya status pernikahan yang mengubah pola kedua bekal, dan itu pun hanya pada kecemasan.
Daftar Isi
Karyawan kasino Makau paling sehat jiwanya bila tangguh sekaligus didukung. Kecemasan, gejala depresi, dan stres mereka paling rendah saat ketangguhan psikologis dan dukungan sosial sama-sama tinggi. Namun, bila salah satu bekal itu timpang, masing-masing ternyata menjaga sisi kesehatan jiwa yang berbeda.
Temuan itu datang dari Wei Cao dari Sekolah Humaniora Guangdong Peizheng College, Guangzhou, dan rekan dari Fakultas Kesehatan dan Kesejahteraan City University of Macau. Laporan mereka berjudul Toward targeted mental health support: the (in)congruence effect of resilience and social support among casino employees in Macau. Naskahnya terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Tim menyurvei 703 karyawan kasino penuh waktu berusia 21 tahun ke atas di Makau secara daring dan tanpa nama. Sebanyak 96 persen direkrut lewat Gaming Industry Employees’ Home, wadah yang mewakili enam operator besar setempat. Sisanya dijangkau asisten peneliti yang membagikan tautan survei di ruang istirahat kasino.
Dua Bekal Pelindung
Bekal pertama adalah ketangguhan psikologis, yang diukur dengan skala sepuluh butir versi bahasa Tionghoa. Salah satu butirnya berbunyi mampu beradaptasi ketika perubahan terjadi. Skornya berentang 0 sampai 40, dan rata-rata karyawan kasino dalam survei ini mencapai 20,21.
Bekal kedua adalah dukungan sosial yang dirasakan, diukur dengan skala versi bahasa Tionghoa yang mencakup tiga sumber, yaitu keluarga, teman, dan orang penting dalam hidup. Salah satu butirnya berbunyi keluarga saya sungguh berusaha membantu saya. Skor berentang 12 sampai 84, dengan rata-rata 53,94 pada sampel ini.
Tim lalu mengukur tiga masalah jiwa yang menjadi sasaran utama. Kecemasan diukur dengan kuesioner tujuh butir, depresi dengan sembilan butir, dan stres yang dirasakan dengan 14 butir. Semuanya diisi sendiri oleh karyawan dalam kuesioner daring yang sama.
Kedua bekal itu saling berkaitan, dengan korelasi 0,503 dalam tabel paper. Namun, paper mencatat kadar keduanya tidak selalu seimbang pada setiap orang. Kombinasi yang timpang inilah, menurut tim, yang selama ini nyaris tak tersentuh pada karyawan kasino Makau.
Gejala yang Tercatat
Skor depresi karyawan menyebar ke semua tingkat yang dipakai kuesioner. Sebanyak 206 karyawan atau 29,30 persen skornya berada di tingkat minimal. Sebanyak 176 orang (25,04 persen) bergejala ringan, sementara 189 orang (26,88 persen) bergejala sedang.
Di ujung atas, 84 orang atau 11,95 persen berada di tingkat agak berat. Sebanyak 48 orang lainnya, atau 6,83 persen, masuk tingkat berat. Rata-rata skor depresi seluruh sampel adalah 9,04 pada skala yang berentang 0 sampai 27.
Kecemasan dicatat dalam empat tingkat, dengan rata-rata skor 6,69 pada skala 0 sampai 21. Sebanyak 292 orang atau 41,54 persen berada di tingkat minimal dan 212 orang (30,16 persen) di tingkat ringan. Tingkat sedang dialami 125 orang (17,78 persen), tingkat berat 74 orang (10,53 persen).
Untuk stres yang dirasakan, 272 orang atau 38,69 persen masuk tingkat tinggi dan 19 orang (2,70 persen) tingkat sangat tinggi. Paper merangkumnya menjadi 41,39 persen peserta dengan stres tinggi atau sangat tinggi. Rata-rata skor stres seluruh sampel tercatat 27,16.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Tim menilai angka-angka itu sebagai persoalan kesehatan kerja dan kesehatan masyarakat yang mendesak. Mereka juga menyebut tenaga kerja kasino sangat penting bagi ekonomi dan kesehatan masyarakat kawasan. Karena itu, sistem dukungan kesehatan mental bagi mereka dinilai perlu disusun lebih tepat sasaran.
Kota Bertumpu Kasino
Paper menyebut Makau sebagai salah satu pusat judi terbesar dunia. Industri judi di sana menyumbang 63,1 persen produk domestik bruto lokal pada puncaknya tahun 2013. Menurut paper, industri ini memegang peran sentral dalam pembangunan ekonomi dan sosial Makau.
Tim menyandingkan Makau dengan Las Vegas untuk menunjukkan kekhasannya. Di Las Vegas, 63 persen pendapatan datang dari layanan hiburan di luar judi, sedangkan di Makau lebih dari 90 persen pendapatan wisata berasal dari judi kasino. Paper juga mencatat 60 hingga 70 persen pendapatan judi Makau dihasilkan bisnis bakarat VIP untuk tamu berharta besar.
Struktur itu membawa tekanan khas bagi karyawan. Paper menyebut kerja emosional yang ekstrem untuk tamu VIP, sif kerja tak teratur, dan dilema etis yang terus ada. Ada pula perilaku kasar, pelecehan verbal, bahkan kekerasan dari penjudi.
Riset terdahulu tentang karyawan kasino banyak menyorot dampak buruk tekanan itu. Menurut tim, perhatian pada bekal pelindung yang bisa meredam risikonya masih terbatas. Studi sebelumnya yang menjajaki program bagi karyawan judi pun berangkat dari sisi ketangguhan saja atau dukungan sosial saja.
Profil responden memperlihatkan susunan pekerjaan mereka. Sebanyak 360 orang atau 51,12 persen adalah bandar meja (croupier), disusul 192 manajer dan administrator. Sebanyak 584 orang atau 83,07 persen bekerja bergiliran sif, 97 orang berjadwal tetap, dan 22 orang bekerja dengan sif tak teratur.
Perempuan mendominasi dengan 446 orang atau 63,44 persen. Kelompok usia 36–45 tahun paling besar, yakni 384 orang, dan 399 orang berpenghasilan 20.001 sampai 30.000 pataca per bulan. Sebanyak 576 orang atau 81,93 persen berstatus menikah, 60 orang belum menikah, dan 67 orang bercerai atau berpisah.
Naik Bersama, Turun Bersama
Temuan pokoknya lugas. Saat ketangguhan dan dukungan sosial sama-sama naik, skor kecemasan, depresi, dan stres sama-sama turun. Pola ini berlaku untuk ketiga masalah jiwa itu dan tetap bertahan baik dengan maupun tanpa memperhitungkan faktor latar karyawan.
Turunnya pun tidak lurus. Tim mencatat penurunan kecemasan, depresi, dan stres yang makin cepat seiring kedua bekal naik bersamaan. Mereka menyebutnya keuntungan menumpuk dari sumber daya jiwa yang berbeda, yang di lingkungan kasino bertekanan tinggi tampak membentuk lingkaran perlindungan.
Temuan ini punya arti praktis menurut tim. Karyawan yang ketangguhan dan dukungan sosialnya sudah tinggi pun mungkin masih bisa memperoleh manfaat besar dari penguatan lanjutan yang terarah. Bantuan tidak harus terbatas pada mereka yang bekalnya rendah.
Baca juga Pekerja Malam Bristol: 85 Persen Tetap Masuk Kerja saat Sakit
Saat Bekal Timpang
Hasil lain muncul ketika kedua bekal tidak seimbang, misalnya tangguh tetapi kurang didukung, atau sebaliknya. Pada kondisi itu, peran pelindung keduanya berpisah jalan. Masing-masing lebih erat dengan masalah jiwa yang berbeda.
Untuk depresi, dukungan sosial lebih menentukan. Dukungan sosial tinggi yang dibarengi ketangguhan rendah berhubungan dengan skor depresi yang lebih rendah. Dari pola itu tim menyimpulkan dukungan sosial lebih penting bagi depresi karyawan kasino Makau.
Untuk stres, ketangguhanlah yang menonjol. Tingkat stres yang dirasakan turun seiring naiknya ketangguhan psikologis, termasuk ketika dukungan sosialnya tidak setinggi itu. Tim menyebut ketangguhan tampaknya menjadi faktor pelindung utama bagi stres.
Secara terpisah, tabel korelasi paper menunjukkan kedua bekal berkorelasi negatif dengan ketiga masalah jiwa. Ketangguhan berkorelasi −0,623 dengan stres, sedangkan dukungan sosial −0,453. Untuk depresi, korelasinya −0,304 bagi ketangguhan dan −0,381 bagi dukungan sosial, sementara untuk kecemasan −0,318 dan −0,367.
Temuan ini berbeda dari riset Zhu dan rekan pada remaja yang dirujuk paper. Riset itu mendapati dukungan sosial paling penting bagi stres. Menurut tim, perbedaan itu mungkin menandakan susunan bekal yang berubah dalam pekerjaan bertekanan tinggi kronis.
Peran Status Pernikahan
Tim juga menguji apakah status pernikahan, posisi kerja, dan pola sif mengubah pola kedua bekal. Hasilnya, hanya status pernikahan yang berpengaruh, dan itu pun hanya pada kecemasan. Posisi kerja dan pola sif tetap tercatat berkaitan dengan skor kecemasan, sedangkan pola sif juga dengan depresi.
Karyawan yang bercerai atau berpisah paling diuntungkan saat kedua bekal sama-sama tinggi. Karyawan menikah juga menunjukkan kecemasan yang turun seiring naiknya kedua bekal secara bersamaan. Sebaliknya, karyawan yang belum menikah tidak menunjukkan penurunan kecemasan yang bermakna ketika kedua bekal naik bersamaan.
Baca juga Pengusaha Kecil Lagos: Kendali Kerja Baik, Depresi Lebih Jarang
Tim menjelaskan perbedaan itu lewat sumber dukungan. Bagi karyawan menikah, status pernikahan bisa menjadi sumber dukungan sosial yang paling menonjol dan konsisten serta membentuk sumber daya keluarga. Bagi yang lajang atau bercerai, jaringan dukungannya lebih beragam.
Saran untuk Kantor
Tim mengusulkan sistem dukungan kesehatan mental yang membaca profil bekal tiap karyawan secara sistematis. Wei Cao dan rekan menulis, dalam terjemahan: “Karyawan dengan ketangguhan tinggi tetapi dukungan sosial rendah, yang berisiko depresi lebih tinggi meski cukup mampu mengatasi stres, perlu mendapat program dukungan sosial.”
Sebaliknya, karyawan dengan dukungan tinggi tetapi ketangguhan rendah disarankan fokus pada pelatihan ketangguhan untuk menekan stres yang dirasakan. Perusahaan juga diminta rutin memetakan bekal karyawan untuk menemukan yang timpang. Menurut tim, langkah itu lebih baik daripada baru bertindak setelah masalah kesehatan mental muncul.
Status pernikahan ikut dipertimbangkan agar bantuan lebih efektif. Bagi yang menikah, dukungan keluarga disarankan masuk program kesehatan mental di tempat kerja. Bagi yang bercerai atau berpisah disarankan program ganda yang membangun ketangguhan dan dukungan alternatif, sedangkan lajang butuh pendekatan perorangan.
Batas Penelitian
Tim mengakui sejumlah keterbatasan. Survei dilakukan satu kali sehingga tidak bisa menetapkan arah hubungan antara kedua bekal dan kesehatan jiwa karyawan. Studi jangka panjang masih dibutuhkan untuk memastikan hubungan sebab-akibatnya.
Analisis subkelompok mungkin kurang kuat karena jumlahnya tidak merata, terutama kelompok yang bercerai atau berpisah. Sumber daya lain seperti sifat kepribadian dan strategi menghadapi masalah tidak diukur. Kerangka bantuan yang diusulkan pun belum diuji.
Tim berharap riset lanjutan mengatasi keterbatasan itu dan melahirkan sistem dukungan kesehatan mental yang lebih efektif dan sesuai budaya bagi pekerja kasino Makau. Dalam survei ini, kesehatan jiwa terbaik tercatat pada karyawan yang kedua bekalnya sama-sama tinggi.














