Mahasiswi Anhui Lebih Berhati-hati soal Menikah dan Punya Anak

A A

Taman kampus Anhui University di Hefei, Tiongkok, pada hari bersalju dengan pohon palem [Foto: Vmenkov/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Hanya 15,1 persen dari 238 mahasiswa di Anhui yang menyatakan sangat mengharapkan pernikahan.
  • Yang sangat mengharapkan kehadiran anak lebih sedikit lagi, yaitu 9,7 persen mahasiswa.
  • Mahasiswa laki-laki lebih mungkin melaporkan harapan positif terhadap pernikahan dan anak daripada mahasiswi.
  • Dalam wawancara, mahasiswi menyebut perubahan tubuh sesudah melahirkan dan perlakuan tempat kerja sebagai sumber kehati-hatian.
  • Responden berasal dari satu provinsi dan dijaring lewat ajakan berantai sehingga keluasan temuannya terbatas.
Daftar Isi
  1. Sikap yang lebih banyak menggantung
  2. Jarak antara mahasiswa dan mahasiswi
  3. Tubuh, lowongan kerja, dan hitungan risiko
  4. Ongkos, masa tenang perceraian, dan persaingan
  5. Makna yang tetap diakui
  6. Usul dari ruang wawancara dan batas temuannya

Menikah dan punya anak kerap dianggap urusan selera pribadi, perkara hati yang diputuskan sendiri-sendiri oleh tiap orang muda begitu waktunya tiba. Anggapan itu goyah di hadapan jawaban mahasiswa di Provinsi Anhui, Tiongkok, yang ketika ditanya tentang dua hal tersebut berbicara panjang tentang biaya, lowongan kerja, aturan perceraian, dan tubuh yang berubah sesudah melahirkan, seolah-olah keputusan paling pribadi itu sudah lebih dulu ditimbang oleh keadaan di luar diri mereka.

Jawaban itu dihimpun Yi-ran Yue, Wen-ting Xia, Jia Tao, Yue Zhang, Jia Tang, dan Dan Su dalam artikel A mixed-methods survey to explore current status of college students’ views on marriage and childbearing and their influencing factors, yang dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Keenamnya bekerja di School of Nursing, Anhui Medical University, di Hefei, dan mereka menanyai 238 mahasiswa program sarjana dan magister lewat kuesioner, lalu mewawancarai dua belas orang di antaranya, enam yang lajang dan enam yang sedang berpasangan.

Sikap yang lebih banyak menggantung

Dari 238 mahasiswa itu, 159 orang atau 66,8 persen adalah perempuan, dan 31,5 persen sedang menjalin hubungan ketika kuesioner diisi. Tentang pernikahan, hanya 15,1 persen yang menyatakan sangat mengharapkannya, sedangkan 60,1 persen, kira-kira enam dari sepuluh orang, memilih jawaban bahwa menikah itu boleh ada dan boleh tidak. Sisanya berada di sisi yang lebih jauh: 16,8 persen tidak menginginkannya sama sekali, dan 8,0 persen menyatakan takut serta menolak.

Harapan untuk punya anak lebih tipis lagi, dan di situlah perbedaan dua pertanyaan itu terlihat. Hanya 9,7 persen mahasiswa yang sangat mengharapkan kehadiran anak, sementara 45,0 persen menganggapnya boleh ada dan boleh tidak. Yang tidak menginginkan anak sama sekali mencapai 23,5 persen, dan yang menyatakan takut serta menolak mencapai 21,8 persen, sehingga harapan yang sungguh-sungguh menjadi jawaban paling jarang untuk pertanyaan tentang anak.

Sikap mahasiswa soal menikah dan punya anakSangat mengharapkan: Menikah +15,1%, Punya anak +9,7%; Boleh ada, boleh tidak: Menikah +60,1%, Punya anak +45,0%; Tidak ingin sama sekali: Menikah +16,8%, Punya anak +23,5%; Takut dan menolak: Menikah +8,0%, Punya anak +21,8%.Sikap mahasiswa soal menikah dan punya anakSikap 238 mahasiswa di Anhui, Tiongkok, dalam persenMenikahPunya anak20%40%60%80%0Sangat mengharapkan15,1%9,7%Boleh ada, boleh tidak60,1%45,0%Tidak ingin sama sekali16,8%23,5%Takut dan menolak8,0%21,8%
Sumber: Yi-ran Yue, Wen-ting Xia, Jia Tao, Yue Zhang, Jia Tang, dan Dan Su, A mixed-methods survey to explore current status of college students’ views on marriage and childbearing and their influencing factors, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Jarak antara mahasiswa dan mahasiswi

Namun angka keseluruhan itu menyembunyikan jarak yang paling tegas dalam data, yaitu jarak antara laki-laki dan perempuan. Mahasiswa laki-laki lebih mungkin melaporkan harapan positif terhadap pernikahan daripada mahasiswi, dengan rasio odds 0,402, dan jarak itu melebar pada pertanyaan tentang punya anak, dengan rasio odds 0,181. Menurut catatan para peneliti, mahasiswi mengisi porsi yang lebih besar pada dua jawaban terjauh, yakni tidak ingin sama sekali serta takut dan menolak, baik untuk pernikahan maupun untuk anak.

Selain jenis kelamin, ada dua hal lain yang ikut berkaitan dengan sikap terhadap pernikahan. Mahasiswa yang sedang berpasangan lebih mungkin menaruh harapan positif daripada yang lajang, dan mahasiswa tingkat akhir program sarjana lebih mungkin berharap positif dibandingkan mahasiswa pascasarjana. Sebaliknya, status sebagai anak tunggal tidak berkaitan dengan sikap terhadap pernikahan maupun anak, dan pengalaman pernah berpacaran tidak lagi berkaitan dengan sikap menikah setelah faktor lain ikut diperhitungkan.

Pada pertanyaan tentang anak, kaitan dengan status hubungan itu justru tidak bertahan. Sedang berpasangan atau tidak, sikap mahasiswa terhadap punya anak tidak berbeda secara bermakna setelah faktor lain diperhitungkan, sedangkan jenis kelamin dan tingkat studi tetap berkaitan. Pada analisis awal, sebelum faktor lain diperhitungkan, status hubungan itu masih berkaitan dengan sikap terhadap punya anak.

Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis

Tubuh, lowongan kerja, dan hitungan risiko

Di situlah persoalannya, sebab angka hanya menunjukkan bahwa jarak itu ada, bukan dari mana ia datang. Jawabannya dicari para peneliti di ruang wawancara, dan yang pertama muncul adalah tubuh. Seorang mahasiswi lajang berusia 20 tahun, yang dicatat peneliti sebagai D1, menyatakan sangat menolak melahirkan karena ia memahami bahwa persalinan dan masa pemulihan sesudahnya mengubah tubuh perempuan, dan ia tidak ingin tubuhnya menanggung kerusakan yang tidak dapat dipulihkan.

Yang kedua adalah tempat kerja, yang menurut para narasumber sudah menghitung perempuan sebelum perempuan itu sendiri memutuskan apa pun. Partisipan yang dicatat sebagai D3 menuturkan bahwa sebagian perusahaan lebih suka merekrut laki-laki daripada perempuan dengan kualifikasi serupa, untuk menghindari biaya yang terkait dengan pernikahan dan cuti melahirkan. Partisipan D2 menambahkan bahwa perempuan pekerja yang hamil lebih dulu menghadapi risiko kehilangan pekerjaan, lalu tekanan pengasuhan, dan sesudah melahirkan pun dapat ditolak ketika hendak kembali bekerja.

Dari dua jenis penuturan itu para peneliti menarik kesimpulan yang menjadi poros naskah mereka. “Sikap berhati-hati perempuan terhadap pernikahan dan melahirkan anak tidak muncul dari pilihan pribadi semata. Sikap itu merupakan hasil dari gabungan risiko fisik, tekanan psikologis, harapan budaya, dan batasan kelembagaan pada berbagai tingkat kerangka sosio-ekologis,” tulis Yue dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Kehati-hatian tersebut, dalam uraian mereka, adalah hasil perempuan menimbang risiko di banyak lapisan sekaligus.

Justru sebaliknya gambaran yang datang dari sisi laki-laki. Seorang partisipan laki-laki, D5, melukiskan keluarga idamannya berisi dua atau tiga anak, satu laki-laki dan dua perempuan, atau satu laki-laki dan satu perempuan. Para peneliti membaca gambaran itu sebagai tanda bahwa laki-laki lebih mudah membayangkan keluarga besar tanpa berhadapan langsung dengan risiko dan tekanan yang kerap disebut partisipan perempuan, dan mereka menilai pola ini sejalan dengan pandangan tradisional dalam budaya keluarga Tiongkok.

Ongkos, masa tenang perceraian, dan persaingan

Namun kehati-hatian tidak hanya milik perempuan, sebab harapan yang tinggi pun jarang ditemukan pada seluruh kelompok. Penjelasan yang paling sering terdengar adalah uang. Partisipan L5 menyebut keadaan ekonomi secara umum sedang berat sehingga orang tidak punya dasar materi untuk menikah atau punya anak, dan partisipan L1 menyebut biaya membesarkan anak yang tinggi membuat orang muda takut tidak sanggup menopangnya. Partisipan D5 merinci bahwa pesta pernikahan yang pantas, rumah sesudah menikah, kendaraan sehari-hari, dan jaminan hidup semuanya bertumpu pada ekonomi yang stabil.

Aturan negara ikut masuk ke dalam timbangan itu, dan contohnya datang dari arah yang tidak terduga. Para narasumber merasa prosedur perceraian yang berbelit, termasuk masa tenang sebelum perceraian disahkan, justru dapat menghalangi orang untuk menikah. Partisipan L3 menuturkan bahwa masa tenang itu membuat sebagian mahasiswi enggan menikah, karena setelah menyaksikan atau mengalami pernikahan yang tidak bahagia, mereka khawatir aturan tersebut menghalangi perceraian yang lancar.

Lapisan ketiga adalah suasana sosial tempat orang muda itu hidup. Partisipan L5 menyebut persaingan sosial yang makin sengit turut memengaruhi kemauan orang untuk menikah dan punya anak, sedangkan partisipan L1 menunjuk banjir informasi negatif di internet yang memicu kecemasan yang tidak perlu. Para peneliti merangkum ketiga lapisan itu, yakni tekanan ekonomi, kebijakan yang membatasi, dan lingkungan sosial yang bertekanan tinggi, sebagai hal yang membuat pernikahan dan anak tampak sebagai pilihan hidup yang mahal dan tidak pasti.

Mahasiswa Anhui, empat angkaMahasiswa Anhui, empat angkaMahasiswa Anhui, empat angkaSiapa yang ditanya soal menikah dan punya anak238mahasiswamengisikuesioner159perempuan66,8% dariresponden31,5%berpasangansaat surveiberlangsung12orangdiwawancaraiJalan risetnyaKuesioner diisiWawancara 12 orangDua hasil dipadukan
Sumber: Yi-ran Yue, Wen-ting Xia, Jia Tao, Yue Zhang, Jia Tang, dan Dan Su, A mixed-methods survey to explore current status of college students’ views on marriage and childbearing and their influencing factors, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet

Makna yang tetap diakui

Dalam wawancara yang sama, para mahasiswa itu juga ditanya tentang makna pernikahan dan kelahiran anak, dan mereka masih mengakui makna keduanya. Partisipan L1 memandang pernikahan pertama-tama sebagai cara dua orang yang sungguh saling mencintai membentuk keluarga dan saling bertanggung jawab, sedangkan partisipan L5 memandangnya sebagai penghubung dua keluarga yang melahirkan satu keluarga kecil baru. Pada tingkat masyarakat dan negara, para narasumber meyakini pernikahan dan kelahiran dapat menjaga kestabilan sosial.

Anak pun mendapat tempat yang serupa dalam penuturan mereka. Partisipan D2 menyebut kehadiran bayi dapat menjadi poros sebuah keluarga dan membuatnya lebih bahagia, partisipan L1 menyebut kelahiran berarti meneruskan nama keluarga ke generasi berikutnya, dan partisipan L3 mengingatkan bahwa banyak budaya Tiongkok perlu diwariskan turun-temurun. Partisipan L4 bahkan mengaitkannya dengan negara: penduduk menua, bayi yang lahir makin sedikit, dan kelahiran dapat menambah jumlah penduduk.

Usul dari ruang wawancara dan batas temuannya

Karena hambatan yang mereka sebut bersifat luar, usul yang mereka ajukan pun mengarah ke luar. Partisipan L3 dan L4 meminta cuti melahirkan yang memadai bagi perempuan dan cuti ayah yang lebih panjang bagi laki-laki, dengan alasan pengasuhan adalah tanggung jawab bersama keluarga. Partisipan L4 mengusulkan pembebasan biaya sekolah atau jaminan kesejahteraan bagi keluarga dengan dua atau tiga anak, dan partisipan D2 menyarankan konseling psikologis khusus di tingkat komunitas bagi perempuan sesudah melahirkan.

Para peneliti menyusun usul itu menjadi saran berlapis. Kampus, menurut mereka, perlu memasukkan soal pernikahan, hubungan intim, dan kesuburan ke dalam pendidikan kesehatan jiwa, sedangkan layanan komunitas perlu menyediakan pendidikan persalinan dan dukungan sesudah melahirkan. Di tingkat tempat kerja dan negara, mereka menyebut cuti ayah yang ditetapkan lewat undang-undang, perlindungan upah dan karier perempuan, subsidi pernikahan dan kelahiran, serta lapangan kerja yang lebih stabil.

Baca juga Perkawinan Anak Penentu Utama Kelahiran Remaja di 34 Provinsi

Semua itu, menurut pengakuan para peneliti sendiri, berdiri di atas dasar yang terbatas. Responden dijaring lewat ajakan berantai, bukan pengambilan acak, dan seluruhnya berasal dari satu provinsi, Anhui, sehingga keterwakilan dan keluasan temuannya terbatas. Data diambil pada satu waktu saja, sehingga hubungan sebab-akibat tidak dapat ditetapkan. Orientasi seksual tidak ditanyakan, dan beberapa hal yang mungkin berpengaruh, seperti utang mahasiswa dan jalur karier, tidak ikut diperiksa.

Kesimpulan naskah itu kembali ke anggapan yang dipatahkan sejak awal: sikap berhati-hati para mahasiswa, tulis para peneliti, tidak mencerminkan selera pribadi yang berdiri sendiri, tetapi tertanam dalam keadaan sosial yang ditandai ketidakpastian dan risiko. Yang belum terjawab, dan yang mereka serahkan kepada penelitian lanjutan dengan pengamatan berjangka panjang, adalah ke arah mana hubungan di antara faktor-faktor itu sebenarnya berjalan.

Bagikan

Baca Juga

Sedikit Mahasiswa Yordania-Suriah Tahu Rokok Faktor Risiko Stroke
Kurs Renminbi Berperilaku Lain Saat Kebijakan Sulit Ditebak
Pasukan India dan China Masih Berhadapan di Arunachal Pradesh
Merek China Putus Kerja Sama dengan Mbappe Gara-gara Lelucon Mao
Keracunan Pestisida di Zibo Naik, Herbisida Paling Mematikan
Penyakit Jantung Keshan Masih Berkumpul di Utara Tiongkok