- Prevalensi penyakit Keshan pada 2022 tercatat 0,70 per 10.000 penduduk di 2.351 kecamatan endemik Tiongkok.
- Sebanyak 613 kecamatan endemik, atau 26,05 persen, memiliki prevalensi di atas rata-rata nasional.
- Kecamatan dengan angka tinggi mengelompok terutama di Shaanxi, Jilin, dan Gansu di belahan utara Tiongkok.
- Hubungan pendapatan dengan penyakit Keshan berlawanan arah di Jilin dan searah di Inner Mongolia.
Daftar Isi
- Warisan 1950-an: jantung yang sakit di sabuk rendah selenium
- Dari 14 county pada 1990 ke seluruh kecamatan pada 2019
- Zhang dan rekan pada 2022: 0,70 kasus per 10.000 penduduk
- Titik panas 2022 di Shaanxi, Jilin, dan Gansu
- Han, Jia, dan peta kecamatan yang lebih peka
- Pendapatan 2022: berlawanan di Jilin, searah di Inner Mongolia
- Mata rantai sesudah 2022: kebijakan per kecamatan
Pada dasawarsa 1950-an dan 1960-an, penyakit Keshan adalah nama yang ditakuti di pedesaan Tiongkok. Kardiomiopati endemik itu, yakni penyakit otot jantung yang menetap di wilayah tertentu, pertama kali dilaporkan di Tiongkok, disusul Jepang dan Korea Utara, dengan angka kematian mencapai 80 persen. Masa itu sudah lama lewat, dan kasus akut maupun subakut yang berujung edema paru atau syok kardiogenik kini jarang dilaporkan. Namun penyakit ini belum pergi, sebab kasus kronis dan kasus laten yang baru masih terus ditemukan.
Di titik itulah berdiri laporan Xin Zhang, Zidan Guo, Zhifeng Xing, dan rekan-rekan, dengan Dianjun Sun, Bo Yu, dan Jie Hou sebagai penulis korespondensi. Artikel mereka, Prevalence of Keshan disease at the township level in China: a cross-sectional study, dimuat jurnal BMC Public Health tahun 2026. Ketiga penulis korespondensi itu berafiliasi dengan Center for Endemic Disease Control, Chinese Center for Disease Control and Prevention, Harbin Medical University, di Harbin, Tiongkok.
Warisan 1950-an: jantung yang sakit di sabuk rendah selenium
Apa yang dulu diyakini tentang penyakit ini sebagian besar masih dipegang sampai sekarang. Menurut Zhang dan rekan, kekurangan selenium adalah salah satu penyebab yang paling masuk akal, karena daerah endemik Keshan terbatas pada satu pita sempit yang membentang dari timur laut ke barat daya Tiongkok dan bertumpang-tindih dengan sabuk geologi rendah selenium. Pemberian natrium selenit, tulis mereka dengan merujuk riset terdahulu, dapat mencegah Keshan akut dan subakut.
Tetapi selenium bukan satu-satunya dugaan yang beredar. Daerah endemik umumnya tertinggal secara ekonomi, terpencil, serta terbatas dalam transportasi dan layanan kesehatan, dan warganya lazim makan dengan menu yang monoton, sehingga muncul pula teori pola makan tidak seimbang. Penyakit ini juga dikaitkan dengan infeksi virus Coxsackie B atau keracunan jamur. Dengan semua hipotesis itu, para penulis menegaskan, penyebab dasar penyakit Keshan tetap belum jelas.
Yang jelas adalah siapa yang menanggungnya. Penyakit ini, menurut naskah tersebut, kini menyangkut lebih dari 50 juta orang di 332 county pada 16 provinsi, dengan anak-anak dan perempuan sebagai kelompok yang paling rentan. Bentuk kronisnya kerap tampil sebagai gagal jantung kongestif, pembesaran jantung, atau gangguan irama. Bentuk latennya tidak menunjukkan gejala nyata dan hanya terlihat pada rekaman jantung, tetapi tanpa penanganan yang efektif dapat memburuk menjadi kronis.
Baca juga Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia
Dari 14 county pada 1990 ke seluruh kecamatan pada 2019
Pemantauan terhadap penyakit ini bertumbuh selangkah demi selangkah. Dengan dukungan Kementerian Kesehatan Tiongkok, surveilans pertama kali dijalankan pada 1990 di 14 county. Cakupannya kemudian melebar di tingkat county, termasuk pengambilan sampel di 128 county pada 2008. Baru pada 2019 berjalan program menyeluruh yang menjangkau semua kecamatan endemik, satuan wilayah yang dalam naskah berbahasa Inggris itu disebut township.
Meski jaring pemantauan sudah serapat itu, satu hal masih tertinggal. “Namun, hingga saat ini, prevalensi penyakit Keshan di tingkat kecamatan belum pernah dilaporkan,” tulis Xin Zhang, Jie Hou, dan rekan-rekan dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kekosongan itulah yang mereka isi dengan data tahun 2022 dari 2.351 kecamatan endemik, tempat tinggal 56,079 juta penduduk yang berada di bawah pemantauan.
Zhang dan rekan pada 2022: 0,70 kasus per 10.000 penduduk
Prevalensi penyakit Keshan pada 2022 tercatat 0,70 per 10.000 penduduk di 2.351 kecamatan endemik Tiongkok. Rentang kepercayaan 95 persennya 0,68 sampai 0,72 per 10.000 penduduk. Bentuk laten sedikit lebih banyak daripada bentuk kronis, yakni 0,38 berbanding 0,32 per 10.000 penduduk. Selama masa pemantauan, 229 pasien yang sudah terdiagnosis sebelumnya meninggal dunia dan tidak lagi dihitung dalam angka tersebut.
Sebanyak 613 kecamatan endemik, atau 26,05 persen, memiliki prevalensi di atas rata-rata nasional. Lebih dari separuhnya, yaitu 348 kecamatan, berada di tiga provinsi saja: Jilin, Gansu, dan Shaanxi. Di kelompok kecamatan yang melampaui rata-rata ini, nilai tengah prevalensinya 2,52 per 10.000 penduduk.
Sebagian kecamatan bahkan mencatat prevalensi di atas 5,64 per 10.000 penduduk, dan kecamatan semacam ini terutama terkumpul di Tiongkok bagian tengah dan utara. Para penulis mengakui bahwa sejak 1990 pengendalian penyakit ini mencatat kemajuan yang berarti. Meski begitu, mereka mencatat bahwa lebih dari seperempat kecamatan endemik masih berada di atas rata-rata, dan bahwa provinsi yang paling banyak memilikinya juga provinsi dengan wilayah endemik yang luas.
Titik panas 2022 di Shaanxi, Jilin, dan Gansu
Kecamatan berprevalensi tinggi itu tidak tersebar acak. Kecamatan dengan angka tinggi mengelompok terutama di Shaanxi, Jilin, dan Gansu di belahan utara Tiongkok. Dari kecamatan yang membentuk gugus tinggi-tinggi, yakni kecamatan berangka tinggi yang dikelilingi tetangga berangka tinggi pula, 34,30 persen berada di Shaanxi, 30,89 persen di Jilin, dan 18,11 persen di Gansu. Sebanyak 33 kecamatan lain dengan pola serupa terdapat di Inner Mongolia, Shanxi, Hebei, dan Heilongjiang.
Ketika dicari titik panasnya, peta itu menandai 629 kecamatan, atau 26,75 persen, untuk penyakit Keshan secara keseluruhan, 428 kecamatan untuk bentuk kronis, dan 443 kecamatan untuk bentuk laten. Letaknya berulang di tempat yang sama: Gansu dan Shaanxi di barat laut, Hebei dan Shanxi di bagian tengah, sebagian wilayah Jilin dan Liaoning, serta perbatasan Heilongjiang dengan Inner Mongolia.
Kedua bentuk penyakit itu pun punya kantongnya sendiri. Gugus prevalensi tinggi untuk bentuk kronis terutama terletak di Gansu, Shaanxi, dan Inner Mongolia bagian utara, sedangkan untuk bentuk laten terkumpul di Jilin dan Shaanxi. Sebaliknya, titik dingin, yaitu kumpulan kecamatan berangka rendah, tersebar terutama di Yunnan, Sichuan, dan Chongqing di barat daya serta Shandong di timur.
Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok
Han, Jia, dan peta kecamatan yang lebih peka
Temuan ini disandingkan para penulis dengan dua riset terdahulu yang bekerja di tingkat county. Pengelompokan prevalensi bentuk kronis kini terlihat di 46 county, termasuk 13 county yang pernah dilaporkan Han dan rekan. Jia dan rekan sebelumnya menemukan pengelompokan untuk bentuk laten, tetapi tidak untuk bentuk kronis. Dalam peta Zhang dan rekan, bentuk kronis justru memiliki 190 kecamatan gugus tinggi-tinggi dan 48 kecamatan titik panas.
Perbedaan itu, menurut mereka, memperlihatkan bahwa analisis di tingkat kecamatan lebih peka dalam menemukan wilayah dengan konsentrasi bentuk kronis yang tinggi dibandingkan analisis di tingkat county. Adapun titik dingin di Heilongjiang, Shandong, Yunnan, Sichuan, dan Chongqing mereka duga berkaitan dengan lebih besarnya proporsi pasien lama yang meninggal karena usia tua atau komplikasi kronis, dan mungkin pula dengan menurunnya prevalensi serta kapasitas diagnosis di sana.
Catatan lama dari provinsi-provinsi itu ikut dihadirkan untuk memberi kedalaman waktu. Kasus subakut dilaporkan di Gansu pada 2012 dan 2013, dan 77 kasus subakut pernah muncul di wilayah Dazhu, Sichuan, antara April dan September pada 1971 dan 1972. Di Provinsi Jilin tercatat 1.160 kasus, termasuk 18 kasus kronis yang baru dikenali. Karena itu para penulis menilai penyakit Keshan masih menjadi risiko kesehatan masyarakat yang berarti bagi penghuni kecamatan endemik.
Pendapatan 2022: berlawanan di Jilin, searah di Inner Mongolia
Sesudah peta penyakit, giliran peta pendapatan yang dibentangkan. Pendapatan siap belanja per kapita di kecamatan endemik pada sebagian besar provinsi lebih rendah daripada 20.133 renminbi, rata-rata penduduk pedesaan Tiongkok, kecuali di Chongqing dan Shandong. Secara keseluruhan, makin rendah pendapatan suatu kecamatan, makin tinggi prevalensi penyakit Keshan di sana, tetapi daya jelas hubungan itu terbatas.
Hubungan pendapatan dengan penyakit Keshan berlawanan arah di Jilin dan searah di Inner Mongolia. Hubungan yang berlawanan arah juga terlihat di Heilongjiang, Shaanxi, dan Gansu, yang secara historis merupakan wilayah berinsidensi tinggi. Pola ini, tulis para penulis, sejalan dengan pengamatan lama bahwa penyakit Keshan lebih sering dijumpai di komunitas pedesaan yang kurang beruntung secara sosial ekonomi.
Inner Mongolia menjadi pengecualian yang menarik perhatian mereka. Provinsi yang juga tercatat sebagai wilayah berinsidensi tinggi ini menempati peringkat ketiga pendapatan tingkat kecamatan di antara provinsi endemik, di bawah Shandong dan Chongqing, berkat usaha peternakan. Para penulis menawarkan satu kemungkinan: akses layanan, kapasitas diagnosis, dan pengelolaan pasien jangka panjang yang lebih baik memudahkan penemuan kasus dan memperpanjang hidup pasien, sehingga prevalensi yang terlaporkan lebih tinggi.
Kemungkinan itu mereka beri tanda dengan hati-hati, sebab akses layanan, kapasitas diagnosis, dan ketahanan hidup pasien tidak diukur langsung. Kehati-hatian yang sama berlaku bagi pendapatan itu sendiri. “Ini menunjukkan bahwa pendapatan siap belanja per kapita semestinya ditafsirkan sebagai faktor terkait prevalensi penyakit Keshan yang lemah tetapi beragam secara spasial, bukan sebagai faktor penjelas utama,” tulis Zhang, Hou, dan rekan-rekan.
Baca juga Skor Kualitas Hidup Lansia Jantung Vietnam di Bawah Rata-rata
Para penulis menyebut sendiri keterbatasan penelitian mereka. Karena surveilans nasional terutama bertumpu pada penyaringan rekam medis yang disusul konfirmasi klinis, kasus laten atau tanpa gejala mungkin tidak seluruhnya terjaring, sehingga prevalensi bisa lebih rendah daripada kenyataan. Penelitian ini juga memotret wilayah pada satu waktu, sehingga hubungan pendapatan dengan penyakit Keshan tidak boleh dibaca sebagai sebab-akibat pada tingkat perorangan.
Selain itu, kadar selenium tidak diukur langsung, sehingga jalur biologis di balik pola spasial tadi belum dapat ditelusuri. Temuan mereka, kata para penulis, sejalan dengan hipotesis bahwa kondisi sosial ekonomi berkaitan dengan gizi selenium, tetapi tidak membuktikannya. Perbedaan akses layanan dan kapasitas diagnosis antardaerah juga dapat memengaruhi angka yang dilaporkan, terutama di wilayah dengan sistem kesehatan yang relatif lebih maju.
Mata rantai sesudah 2022: kebijakan per kecamatan
Dari peta itu para penulis menarik saran yang berbeda untuk tiap jenis wilayah. Di kecamatan titik panas, prioritasnya adalah memperkuat surveilans, alokasi sumber daya medis, dan tata laksana pasien yang baku. Di wilayah berpendapatan rendah dengan prevalensi tinggi, upaya perlu diarahkan pada kapasitas layanan kesehatan primer, deteksi dini, serta ketertinggalan sosial ekonomi dan gizi.
Wilayah berpendapatan tinggi dengan prevalensi tinggi, seperti sebagian Inner Mongolia, menurut mereka akan terbantu oleh penguatan tindak lanjut jangka panjang dan pengelolaan pasien sambil menjaga penemuan kasus. Untuk langkah berikutnya, para penulis menyerukan penelitian jangka panjang yang memadukan data sosial ekonomi perorangan, indikator sumber daya kesehatan, dan pengukuran biologis seperti status selenium.
Dengan begitu, laporan ini menempati satu mata rantai dalam rangkaian panjang yang bermula dari 14 county pada 1990, melebar pada 2008, dan mencakup seluruh kecamatan endemik pada 2019. Untuk pertama kalinya prevalensi penyakit Keshan dilaporkan sampai tingkat kecamatan. Para penulis menutup naskahnya dengan anjuran agar bukti sebaran itu dipadukan dengan kondisi sosial ekonomi dan ciri sistem layanan kesehatan setempat.















