- Sebanyak 7.454 unggahan, atau 61,88 persen, tergolong positif.
- Puncak tertinggi datang pada November, pada musim gugur dan musim dingin.
- Di ketiga golongan nada, tema teratas adalah kaitan vaksin flu dengan penyakit menular lain beserta vaksinnya.
- Hampir seperempat unggahan netral berkaitan dengan keraguan terhadap vaksin flu.
- Pengguna Weibo mungkin tidak mewakili penduduk Tiongkok, dan komentar di bawah unggahan tidak ikut dianalisis.
Daftar Isi
- Enam dari sepuluh unggahan bernada positif dan November jadi bulan paling ramai
- Covid-19 dan pneumonia terus membayangi percakapan warganet tentang vaksin flu
- Para ibu mengantar anak ke tempat suntik, kalangan dewasa muda mengikuti saran ahli
- Di golongan netral orang bimbang, di golongan negatif orang menolak dan menyesal
- Nada positif di layar belum tentu berarti warganet setuju pada vaksinnya
Menyesal. Kata itu muncul dari dua arah sekaligus di Weibo sepanjang 2023. Sebagian pengguna menyesal karena melewatkan suntikan vaksin flu dengan berbagai alasan. Sebagian lain menyesal justru karena sudah disuntik, lalu merasakan efek samping atau badan yang sangat tidak nyaman. Dua penyesalan yang berlawanan itu terkumpul dalam satu tema, di antara ribuan unggahan bernada negatif tentang vaksin flu.
Tema itu ditemukan Jiaxin Zhang, Desheng Huang, Min Li, Peng Guan, Chi Ma, dan Fan Li ketika membaca percakapan warganet Tiongkok tentang vaksin flu. Hasilnya mereka tulis dalam artikel Sentiments and Themes in the Public Posts Related to Influenza Vaccines in China: Insights from Weibo Data in 2023, yang dimuat BMC Public Health tahun 2026 sebagai naskah dalam proses terbit. Para penulis berasal dari China Medical University dan Shenyang University of Chemical Technology di Shenyang serta Qiqihar Heping Hospital di Qiqihar.
Bahan mereka adalah 12.045 unggahan asli warga biasa di Sina Weibo, yang terbit dari 1 Januari sampai 31 Desember 2023. Unggahan media, lembaga pemerintah, klinik, akun dagang, dan promosi para pemengaruh kesehatan disisihkan lebih dulu. Tiap unggahan lalu diberi skor nada dari 0 sampai 1: di atas 0,6 dihitung positif, di bawah 0,4 negatif, dan di antaranya netral.
Enam dari sepuluh unggahan bernada positif dan November jadi bulan paling ramai
Hitungannya condong ke satu sisi. Sebanyak 7.454 unggahan, atau 61,88 persen, tergolong positif. Yang negatif 3.468 unggahan atau 28,79 persen, sedangkan yang netral 1.123 unggahan atau 9,32 persen. Kira-kira enam dari sepuluh unggahan, dengan kata lain, bernada positif. Dari bulan ke bulan urutannya tidak berubah: unggahan positif selalu lebih banyak daripada yang netral dan yang negatif.
Skor rata-rata bulanan hanya bergerak tipis. Titik terendahnya jatuh pada Juni, yakni 0,60. Pada semua bulan lain rata-ratanya berada di atas angka itu. Zhang dan rekan membaca pola tersebut sebagai tanda bahwa nada unggahan secara umum didominasi nada positif, dan bahwa vaksin flu disebut dalam konteks yang relatif positif di media sosial.
Jumlah unggahan naik turun mengikuti kalender. Ada puncak yang relatif tinggi pada Maret, musim semi di Tiongkok. Puncak tertinggi datang pada November, pada musim gugur dan musim dingin, dan itu berlaku untuk jumlah keseluruhan maupun tiap golongan nada. Juni dan Juli, musim panas di sana, menjadi lembah percakapan.
Kalender itu mirip kalender flu. Dengan merujuk laporan pemantauan mingguan Chinese National Influenza Center, para penulis mencatat aktivitas flu di Tiongkok mulai naik pada awal Februari 2023 dan memuncak pada pertengahan Maret. Sejak September angka positif uji virus flu di provinsi selatan terus naik, disusul provinsi utara sejak Oktober. November menjadi masa kasus tinggi musim gugur dan dingin.
Zhang dan rekan menyebutnya pengamatan awal. Mereka menulis adanya kesesuaian tertentu antara jumlah unggahan dan musim flu, yang mengisyaratkan orang di Tiongkok mungkin lebih memperhatikan vaksin flu ketika flu sedang ramai. Apakah hubungan itu bermakna secara statistik, ke mana arah sebab-akibatnya, dan berapa jeda waktunya, menurut mereka masih perlu diuji dengan analisis deret waktu.
Baca juga Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China
Covid-19 dan pneumonia terus membayangi percakapan warganet tentang vaksin flu
Di ketiga golongan nada, satu tema selalu berada paling atas: kaitan vaksin flu dengan penyakit menular lain beserta vaksinnya. Pada unggahan positif tema ini mencakup 5.318 unggahan atau 71,34 persen. Pada unggahan negatif 2.261 unggahan atau 65,20 persen. Pada unggahan netral 316 unggahan atau 28,14 persen. Satu unggahan bisa masuk lebih dari satu tema, sehingga jumlah persentase tiap golongan melampaui seratus.
Isinya berkisar pada gejala. Sebagian orang membicarakan demam dan batuk, dua gejala paling umum setelah terkena flu, pneumonia, atau Covid-19, yang lalu memengaruhi vaksinasi flu mereka. Para penulis mencatat bahwa sebagian gejala serupa juga bisa muncul sesudah vaksinasi. Sebagian lain bercerita menerima vaksin flu bersamaan dengan vaksin Covid-19 atau vaksin pneumonia.
Zhang dan rekan punya penjelasan untuk kuatnya bayangan itu. Tahun 2023, tulis mereka, adalah tahun pertama era pascapandemi Covid-19. Pengaruh pandemi pada kehidupan sehari-hari masih berlanjut, sehingga Covid-19 tetap menjadi kata yang menonjol di banyak tema. Temuan itu, menurut mereka, menegaskan perlunya penelitian yang menggabungkan vaksin flu dengan penyakit menular lain dan vaksinnya.
Para ibu mengantar anak ke tempat suntik, kalangan dewasa muda mengikuti saran ahli
Unggahan positif memuat empat tema lain. Keputusan dan rencana vaksinasi muncul di 2.732 unggahan atau 36,65 persen, berisi pertimbangan soal waktu, seberapa sering, tempat suntik, dan jenis vaksin. Vaksinasi untuk anak menyusul dengan 2.614 unggahan atau 35,07 persen. Ketepatan waktu dan perlunya vaksin tercatat di 1.350 unggahan atau 18,11 persen, dan vaksinasi kalangan dewasa muda di 1.229 unggahan atau 16,49 persen.
Tema anak punya wajah yang jelas. Umumnya ibu yang menemani anaknya menerima vaksin flu. Orang cenderung membenarkan khasiat vaksin atau menaruh harapan baik padanya, sebelum maupun sesudah anak disuntik. Para penulis menduga tema ini ramai karena anak berisiko tinggi terkena flu dan menjadi kelompok prioritas vaksinasi, sehingga orang tua sangat memperhatikan suntikan flu anak mereka.
Dua tema sisanya lebih pendek ceritanya. Sebagian pengguna bertanya apakah suntikan masih perlu, atau apakah pada waktu tertentu sudah terlambat. Kalangan dewasa muda, catat naskah itu, biasanya mengikuti anjuran ahli. Mereka mendapat vaksin flu atas kemauan sendiri atau lewat pengaturan tempat kerja.
Baca juga Vaksin HPV Baru Menjangkau Satu dari Lima Siswa Chiang Mai
Di golongan netral orang bimbang, di golongan negatif orang menolak dan menyesal
Unggahan netral terbagi hampir rata. Selain tema penyakit lain, ada janji suntik di 301 unggahan atau 26,80 persen, khasiat vaksin di 286 unggahan atau 25,47 persen, keraguan terhadap vaksin di 276 unggahan atau 24,58 persen, dan rencana vaksinasi di 258 unggahan atau 22,97 persen. Sebagian menulis sudah memesan jadwal dan segera disuntik.
Soal khasiat, suara terbelah. Ada pengguna yang yakin vaksinasi bermanfaat. Ada pula yang melaporkan batuk dan demam sesudah disuntik, lalu mempertanyakan khasiatnya. Hampir seperempat unggahan netral berkaitan dengan keraguan, dan penulisnya mengungkapkan sikap bingung terhadap vaksinasi flu. Pada Maret dan Agustus, tema keraguan ini bahkan melampaui semua tema lain di golongan netral.
Para penulis menemukan satu kata yang menonjol di unggahan keraguan itu: reaksi. Keraguan terhadap vaksin, tulis mereka, adalah penundaan atau penolakan vaksinasi walau layanannya tersedia, dan terkait dengan banyak faktor.
Di golongan negatif, sebagian pengguna menolak atau tidak bisa disuntik karena gejala berat akibat Covid-19 atau infeksi pneumokokus. Tema gejala dan pengobatan flu mencakup 970 unggahan atau 27,97 persen, berisi emosi negatif tentang merebaknya flu, demam, sakit kepala, dan batuk. Sebagian memilih oseltamivir dan obat penurun panas untuk mengobati flu atau meredakan gejalanya.
Penolakan terhadap khasiat vaksin muncul di 617 unggahan atau 17,79 persen. Ada yang tidak mau disuntik karena menganggap vaksin flu tidak mempan, ada yang meragukannya justru setelah disuntik. Urusan lain seperti biaya, jenis vaksin, dan janji suntik tercatat di 607 unggahan atau 17,50 persen. Lalu tema penyesalan, dua arah itu, di 522 unggahan atau 15,05 persen.
Biaya mendapat catatan tersendiri. Vaksin flu di Tiongkok dibayar sendiri dan diberikan secara sukarela, dan penelitian terdahulu yang dirujuk naskah menunjukkan penerimaannya dipengaruhi harga. Munculnya biaya di unggahan negatif, menurut Zhang dan rekan, menunjukkan lagi bahwa masyarakat peka terhadap harga vaksin flu.
Penyesalan karena efek samping juga mereka timbang. Sejumlah besar penelitian dan praktik klinis, tulis mereka, menunjukkan sebagian reaksi sesudah vaksin flu itu umum, ringan, dan sementara. Tetap saja hal itu menjadi kekhawatiran masyarakat, dan emosi negatif semacam itu mungkin berpengaruh pada keputusan vaksinasi berikutnya.
Baca juga Debu PM2.5 Menaikkan Risiko Influenza di Xinjiang 6,7 Persen
Nada positif di layar belum tentu berarti warganet setuju pada vaksinnya
Angka 61,88 persen itu tidak dibiarkan berdiri tanpa pagar. “‘Sentimen positif’ yang dikenali lewat analisis sentimen tidak serta-merta sama dengan sikap positif masyarakat terhadap, atau dukungan penuh atas, vaksin itu sendiri,” tulis Zhang, Huang, Li, Guan, Ma, dan Li dalam naskah mereka yang aslinya berbahasa Inggris. Di antara unggahan bernada negatif pun, sebagian penggunanya justru berpandangan baik tentang vaksin flu, sementara yang lain menentangnya.
Latar yang mereka sodorkan menjelaskan mengapa nada unggahan itu diteliti. Vaksinasi adalah langkah utama mencegah flu, tetapi angka vaksinasi flu di Tiongkok masih sangat rendah. Satu penelitian yang dirujuk naskah memperkirakan cakupannya pada musim flu 2014 sampai 2021 berkisar 0,62 hingga 2,94 persen. Survei lain mencatat 3,16 persen pada musim 2020-2021 dan 2,47 persen pada musim 2021-2022.
Keterbatasannya mereka tulis sendiri. Perangkat pemberi skor bisa keliru membaca bahasa yang rumit, terutama kiasan dan ironi; ketika diuji pada 300 unggahan yang dinilai manual, ketepatannya 71,33 persen. Pengguna Weibo mungkin tidak mewakili penduduk Tiongkok, dan komentar di bawah unggahan tidak ikut dianalisis. Akun resmi, akun robot, atau akun dagang yang sulit dikenali mungkin masih terselip. Emotikon pun dibuang saat teks dibersihkan.
“Karena itu, temuan penelitian eksploratif ini harus digeneralisasi dengan sangat hati-hati,” tulis mereka. Ke depan, para penulis ingin memakai lebih banyak platform seperti WeChat dan Zhihu, membaca unggahan beserta komentarnya, dan menimbang lokasi geografis, demografi, atau budaya.
Saran mereka tertuju kepada otoritas kesehatan. Analisis nada unggahan media sosial dapat dipakai memantau kekhawatiran masyarakat sebagai dasar strategi komunikasi yang lebih terarah. Strategi komunikasi tentang vaksin flu, tulis mereka, perlu memuat temuan berbasis bukti dari analisis efektivitas biaya dan analisis risiko-manfaat sebagai rujukan masyarakat. Penelitian lanjutan juga dapat membantu menemukan waktu terbaik menyebarkan edukasi, sebelum atau pada awal musim flu.
Empat tema mereka sebut di simpulan: pemberian beberapa vaksin secara bersamaan, harga vaksin flu, vaksinasi anak, dan keraguan terhadap vaksin. Sebelum rekomendasi yang jelas diajukan, menurut para penulis, tema-tema itu perlu digali lebih dalam lewat survei, data perilaku, atau studi penerapan. Dua penyesalan di Weibo itu tercatat sebagai satu dari lima tema unggahan negatif yang mereka petakan.















