Jantung Bawaan Ratusan Anak Tiongkok Baru Ketahuan di Sekolah

A A

Ilustrasi tangan dokter menempelkan stetoskop ke dada seorang anak, dipotret dari dekat [Foto: silverkblack/Pexels]

  • Dari 484 anak dengan kelainan jantung yang perlu ditangani, 325 orang atau 67,1 persen belum pernah mendapat diagnosis.
  • Di Xinjiang, 82 persen anak baru terdeteksi dalam pemeriksaan ini, sedangkan di Yunnan angkanya 58,5 persen.
  • Pendidikan orang tua dan penghasilan rumah tangga tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok anak.
  • Anak yang baru terdeteksi melaporkan skor kualitas hidup lebih tinggi daripada yang sudah lama tahu dirinya sakit.
  • Para peneliti menganjurkan pemeriksaan ultrasonografi jantung pada usia sekolah dipadukan ke program kesehatan masyarakat.
Daftar Isi
  1. Dari Sejuta Murid, Tersisa 484 Anak
  2. Kelainan yang Tidak Bersuara
  3. Xinjiang dan Yunnan, Dua Angka yang Berjauhan
  4. Bukan Sekolah Orang Tua, Bukan Pula Penghasilan
  5. Anak yang Belum Tahu Merasa Lebih Baik
  6. Menunggu Gejala atau Mendatangi Sekolah

Penyakit yang dibawa sejak lahir semestinya sudah diketahui sejak lahir, atau setidaknya begitulah orang lazim membayangkan kelainan jantung pada anak, terlebih di negeri yang sudah menjalankan pemeriksaan bayi baru lahir secara nasional. Pemeriksaan terhadap lebih dari sejuta murid di tiga wilayah Tiongkok mematahkan bayangan itu, sebab sebagian besar anak yang jantungnya perlu ditangani ternyata baru ketahuan ketika mereka sudah duduk di bangku sekolah.

Temuan itu dilaporkan Kai Bai, Teng Wang, dan rekan-rekan mereka dalam artikel First-time detection of treatable congenital heart disease - a study of school-aged children in the community of three regions in China, yang terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Sebagian besar penulisnya bekerja di Fuwai Yunnan Hospital di Kunming, dan pemeriksaan itu sendiri dijalankan rumah sakit tersebut sebagai bagian dari rencana Provinsi Yunnan untuk mencegah dan mengendalikan penyakit jantung bawaan pada anak.

Antara Juni 2024 dan Juni 2025, tim itu memeriksa 1.024.531 murid berusia 3 sampai 18 tahun di Yunnan, Xinjiang, dan Chongqing, tiga wilayah yang sengaja dipilih karena berbeda bentang alam, ekonomi, dan layanan kesehatannya. Dari jumlah sebesar itu, pemeriksaan ultrasonografi jantung memastikan 3.376 anak mengidap penyakit jantung bawaan, dan dari merekalah seluruh cerita dalam naskah ini berangkat.

Dari Sejuta Murid, Tersisa 484 Anak

Tidak semua dari 3.376 anak itu menjadi pokok kajian, karena para peneliti hanya menaruh perhatian pada mereka yang kelainannya masih perlu ditangani. Sebanyak 1.644 anak sudah pernah menjalani operasi, 1.198 anak dinilai tidak memerlukan tindakan, dan 50 lainnya tidak lengkap datanya atau walinya menolak ikut serta. Yang tersisa adalah 484 anak dengan penyakit jantung bawaan yang layak ditangani tetapi belum tersentuh tindakan apa pun.

Di situlah angka yang paling menohok muncul. Dari 484 anak itu, 325 orang atau 67,1 persen belum pernah mendapat diagnosis sebelum tim pemeriksa datang ke sekolah mereka, sedangkan 159 anak sisanya, 32,9 persen, sudah pernah didiagnosis tetapi belum ditangani. Kelompok pertama disebut para peneliti sebagai kasus yang baru terdeteksi, sedangkan kelompok kedua sebagai kasus yang sudah terdeteksi sebelumnya.

Dari sejuta murid ke 325 anakDari sejuta murid ke 325 anakDari sejuta murid ke 325 anakMurid usia 3-18 tahun di tiga wilayah Tiongkok1.024.531murid diperiksa3.376jantung bawaan484perlu ditangani325baru ketahuanSebanyak 159 anak lainnya sudah pernah terdiagnosis tetapi belumditangani.
Sumber: Kai Bai, Teng Wang, dkk., First-time detection of treatable congenital heart disease - a study of school-aged children in the community of three regions in China, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Usia tengah anak-anak itu 10 tahun, dan 40,7 persen di antaranya laki-laki. Bagi kelompok yang baru terdeteksi, keterlambatan itu berlaku tanpa kecuali: seluruh 325 anak tercatat terlambat didiagnosis, yaitu baru dikenali sesudah melewati usia tindakan yang dianjurkan pedoman penanganan penyakit jantung bawaan di Tiongkok. Hampir semua dari 484 anak itu, tepatnya 95 persen, ditanggung asuransi kesehatan dasar bagi penduduk kota dan desa.

Baca juga Skrining Sekolah Timor-Leste Ungkap Karies 30 Persen

Kelainan yang Tidak Bersuara

Namun yang lolos dari perhatian bukanlah kelainan yang paling berat. Jenis yang paling banyak ditemukan adalah defek septum atrium, 39,3 persen dari seluruh kasus, disusul defek septum ventrikel 28,3 persen, duktus arteriosus paten 11,8 persen, dan gabungan dua kelainan sederhana atau lebih 11,6 persen. Kelainan kompleks hanya 2,7 persen atau 13 anak, enam di antaranya dengan tetralogi Fallot.

Justru sebaliknya dari yang mungkin diduga, kelainan kompleks lebih jarang terlewat. Hanya 38,5 persen kasus kompleks yang baru terdeteksi dalam pemeriksaan ini, sementara pada defek septum atrium angkanya mencapai 72 persen. Para peneliti menulis bahwa anak dengan bentuk penyakit yang lebih berat mungkin didiagnosis lebih awal karena gejala atau komplikasinya tampak jelas, sedangkan kelainan yang ringan dan nyaris tanpa gejala dapat tetap tak dikenali sampai usia yang lebih tua.

Cara anak-anak itu ditemukan memperkuat gambaran tersebut. Sebagian besar anak dengan defek septum atrium, defek septum ventrikel, atau duktus arteriosus paten dirujuk ke pemeriksaan ultrasonografi karena dokter mendengar bising jantung, bukan karena gejala kasatmata seperti gagal tumbuh atau kebiruan. Menurut naskah itu, banyak kasus memang samar secara klinis dan bisa terlewat bila jantung anak tidak didengarkan secara teratur dalam kunjungan kesehatan rutin.

Di sinilah kutipan yang menjadi poros naskah itu berada. Meski pemeriksaan bayi baru lahir di Tiongkok sudah maju, tulis Kai Bai, peneliti Fuwai Yunnan Hospital dan School of Public Health Kunming Medical University, bersama rekan-rekannya, sebagian anak, terutama yang kelainannya tidak menimbulkan kebiruan, “diam-diam lolos dari celah”. Kalimat itu diterjemahkan dari naskah aslinya yang berbahasa Inggris.

Xinjiang dan Yunnan, Dua Angka yang Berjauhan

Peta ikut menentukan siapa yang terlewat. Di Xinjiang, 82 persen anak dengan kelainan jantung yang perlu ditangani baru terdeteksi dalam pemeriksaan ini, sedangkan di Yunnan angkanya 58,5 persen. Sesudah faktor-faktor lain diperhitungkan, peluang seorang anak di Xinjiang masuk kelompok yang baru terdeteksi tercatat 4,818 kali peluang anak di Yunnan, dengan rentang kepercayaan 95 persen antara 2,510 dan 9,230.

Seberapa banyak yang baru ketahuanAnak di Xinjiang: Persen baru terdeteksi +82%; Anak dengan defek septum atrium: Persen baru terdeteksi +72%; Seluruh 484 anak: Persen baru terdeteksi +67,1%; Anak di Yunnan: Persen baru terdeteksi +58,5%; Anak dengan kelainan kompleks: Persen baru terdeteksi +38,5%.Seberapa banyak yang baru ketahuanPersen yang baru terdeteksi di usia sekolah25%50%75%100%0Anak di Xinjiang82%Anak dengan defek septum atrium72%Seluruh 484 anak67,1%Anak di Yunnan58,5%Anak dengan kelainan kompleks38,5%
Sumber: Kai Bai, Teng Wang, dkk., First-time detection of treatable congenital heart disease - a study of school-aged children in the community of three regions in China, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para peneliti melukiskan Xinjiang sebagai wilayah setingkat provinsi yang paling luas di negeri itu, berpenduduk jarang, dengan kesenjangan akses layanan kesehatan antara kota dan desa terpencil. Yunnan mereka gambarkan bergunung-gunung dan secara historis terbatas layanan kesehatannya di perdesaan, sementara Chongqing mewakili kawasan yang sedang mengota dengan prasarana medis yang relatif berkembang. Di Chongqing, 102 dari 151 anak tergolong baru terdeteksi.

Ketiga wilayah itu, menurut naskah tersebut, sebenarnya memiliki layanan kesehatan anak yang tertata dan biasanya diberikan lewat pusat kesehatan masyarakat. Layanan itu mencakup pemantauan tumbuh kembang berkala dan imunisasi, tetapi di sejumlah tempat berpenghasilan rendah mungkin tidak mencakup pemeriksaan bunyi jantung. Kemampuannya mengenali tanda kelainan jantung yang halus, tulis para peneliti, tampak terbatas.

Baca juga Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur

Bukan Sekolah Orang Tua, Bukan Pula Penghasilan

Dugaan awal para peneliti sendiri ikut patah di sini. Ukuran yang lazim dipakai untuk menakar kemampuan ekonomi keluarga, yakni pendidikan orang tua dan penghasilan rumah tangga, ternyata tidak berbeda bermakna antara kelompok yang baru terdeteksi dan kelompok yang sudah pernah didiagnosis. Usia orang tua saat anak lahir, pengeluaran rumah tangga, jarak ke fasilitas kesehatan terdekat, dan skor pengetahuan orang tua tentang penyakit jantung bawaan pun serupa di kedua kelompok.

Yang membedakan adalah hal-hal yang lebih halus. Anak yang memiliki asuransi kesehatan komersial lebih kecil peluangnya masuk kelompok yang baru terdeteksi dibanding anak dengan asuransi dasar, dengan rasio odds 0,191. Begitu pula setiap tambahan 1.000 yuan pengeluaran kesehatan rumah tangga per tahun berkaitan dengan peluang yang sedikit lebih rendah, rasio odds 0,972. Hanya 13 dari 484 anak yang memiliki asuransi komersial itu.

Jejak kehamilan ibu juga terbaca dalam data. Ibu dari anak yang sudah pernah didiagnosis rata-rata memeriksakan kehamilan sembilan kali, sedangkan ibu dari anak yang baru terdeteksi tujuh kali. Pemeriksaan kehamilan di rumah sakit tingkat prefektur atau kota berkaitan dengan peluang yang lebih rendah untuk baru terdeteksi, dengan rasio odds 0,402, bila dibandingkan dengan ibu yang sama sekali tidak memeriksakan kehamilannya.

Tempat lahir menunjukkan arah yang sama. Sebanyak 19,7 persen anak yang baru terdeteksi dilahirkan di pusat kesehatan tingkat kecamatan, berbanding 9,4 persen pada kelompok yang sudah pernah didiagnosis, sedangkan kelahiran di rumah sakit tingkat prefektur atau kota tercatat 10,5 persen berbanding 17 persen. Dari sana para peneliti menulis bahwa kemampuan keluarga menempuh sistem layanan kesehatan mungkin lebih kuat meramalkan diagnosis tepat waktu daripada penghasilan semata.

Anak yang Belum Tahu Merasa Lebih Baik

Temuan yang paling ganjil justru menyangkut perasaan anak-anak itu sendiri. Mereka yang baru terdeteksi melaporkan skor kualitas hidup yang lebih tinggi secara bermakna daripada mereka yang sudah lama tahu dirinya sakit. Kuesioner itu diisi sesudah diagnosis dipastikan dan sebelum tindakan apa pun dimulai, dan skor kualitas hidup menjadi faktor paling berpengaruh kedua, sesudah wilayah, dalam analisis para peneliti.

Para peneliti meminta temuan itu dibaca dengan hati-hati. Kelompok yang sudah pernah didiagnosis memuat lebih banyak anak dengan kelainan kompleks dan gabungan, sehingga keterbatasan mereka di sekolah atau dalam kegiatan bersama teman sebaya dapat langsung menurunkan penilaian atas hidupnya. Kelompok yang baru terdeteksi, sebaliknya, kemungkinan lebih banyak berisi anak dengan kelainan ringan yang tidak bergejala.

Pada anak-anak yang terakhir itu, tulis mereka, tidak adanya riwayat berobat, pembatasan kegiatan, atau stigma karena sakit boleh jadi ikut membuat hidup terasa lebih baik. Naskah berbahasa Inggris itu menyebut gejala tersebut dengan ungkapan “ignorance is bliss”, ketidaktahuan yang membahagiakan. Anak yang sudah lama tahu, menurut para peneliti, mungkin lebih menyadari persoalan kesehatannya dan menilai hidupnya dengan lebih realistis.

Baca juga Skor Kualitas Hidup Lansia Jantung Vietnam di Bawah Rata-rata

Menunggu Gejala atau Mendatangi Sekolah

Dari seluruh temuan itu, para peneliti menarik usulan yang praktis. Mereka menyarankan pemeriksaan bunyi jantung secara sistematis dimasukkan ke pemeriksaan kesehatan sekolah, tenaga layanan primer dilatih mengenali bising jantung, alat pemeriksaan portabel ditempatkan di daerah yang kekurangan sumber daya, dan jaringan telemedisin disokong untuk konsultasi dengan dokter spesialis. Perangkat berbantuan kecerdasan buatan yang murah mereka sebut dapat menambah ketepatan dan jangkauan pemeriksaan.

Namun mereka juga mencatat batas kajiannya sendiri. Rancangan potong lintang hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat, dan temuan dari tiga wilayah itu belum tentu berlaku bagi provinsi lain di Tiongkok. Ukuran lubang pada jantung dan riwayat tindakan tidak tercatat secara sistematis, sedangkan skor kualitas hidup yang dilaporkan sendiri bersifat subjektif dan, menurut para peneliti, kelak perlu disandingkan dengan indikator klinis yang lebih objektif.

Angka 3.376 itu pun, menurut mereka, mungkin lebih kecil daripada kenyataan. Ultrasonografi jantung hanya dikerjakan pada anak yang menunjukkan tanda klinis seperti bising jantung atau kebiruan, sehingga kelainan kecil yang tidak bergejala bisa terlewat. Kebiruan pun dinilai hanya dengan pengamatan tanpa oksimetri nadi, dan karena itu para peneliti menganjurkan alat tersebut dipakai secara rutin dalam pemeriksaan serupa di kemudian hari.

Naskah itu ditutup dengan ajakan untuk menimbang ulang cara yang berlaku. “Strategi yang berlaku sekarang, yakni menunggu secara pasif sampai anak dengan penyakit jantung bawaan dirawat di rumah sakit karena bergejala, layak dipikirkan ulang,” tulis Kai Bai dan rekan-rekannya dalam bahasa Inggris. Mereka menganjurkan pemeriksaan ultrasonografi jantung pada usia sekolah dipadukan ke dalam program kesehatan masyarakat, terutama di daerah yang kurang terlayani.

Satu hal tetap tidak terjawab oleh pemeriksaan terhadap sejuta murid itu. Para peneliti mengakui tidak memiliki data tentang alasan keluarga tidak mencari diagnosis lebih awal, padahal keterangan itu, menurut mereka, dapat memberi pemahaman yang lebih dalam.

Bagikan

Baca Juga

Pekerja Fisik Berat di Dalam Ruangan Paling Banyak Mengeluh Sakit
Tumbuhan Obat Suku Moronene Ada 57, Sagu Paling Bernilai Budaya
Tidur Singkat atau Panjang, Anak Muda Jepang Lebih Jarang Sarapan
Remaja Gemuk Tetap Lebih Rentan Dirundung di Negara yang Aman
Hampir Satu dari Tiga Lansia di Asia Selatan Mengalami Kekerasan
Satu dari Empat Tenaga Kesehatan Bangladesh Idap Penyakit Ganda