- Yang dan rekan menemukan hanya 52 persen orang tua yang menilai ukuran tubuh anaknya dengan benar.
- Bedah metabolik dan bariatrik, yaitu operasi untuk menurunkan berat badan, hanya dipilih 10,8 persen.
- Sebanyak 34,7 persen responden tidak bersedia anaknya menjalani bedah bariatrik.
- Kelompok terbesar, 49,57 persen, ingin memperoleh keterangan tentang bedah bariatrik dari tenaga kesehatan.
Daftar Isi
- Bagaimana mata orang tua meleset menilai tubuh anak
- Mengapa sebagian orang belum menyebut obesitas anak sebagai penyakit
- Olahraga hampir mutlak, pisau bedah di urutan jauh
- Siapa yang lebih terbuka pada operasi untuk anak
- Manfaat yang paling dikenal adalah turunnya berat badan
- Kabar tentang operasi datang dari layar, bukan dari dokter
- Sampai di mana penjelasan survei ini berlaku
Orang tua melihat anaknya setiap hari, tetapi belum tentu tepat menilai apakah tubuh anak itu kurus, pas, atau kegemukan. Kejanggalan itu muncul dalam survei terhadap sebagian warga Tiongkok tentang obesitas pada anak dan remaja. Survei yang sama memperlihatkan kejanggalan kedua: hampir semua responden percaya anak yang kegemukan perlu menurunkan berat badan, namun sedikit sekali yang menganggap meja operasi sebagai jalan yang cocok.
Survei itu dilaporkan YuRou Yang, Wenhuan He, GuoQiang Wang, dan Biao Huang dalam artikel Perceptions and attitudes towards obesity and metabolic and bariatric surgery for weight loss in children and adolescents: a survey among a subset of Chinese residents, yang dimuat jurnal BMC Public Health tahun 2026. Yang dan He berasal dari Guangzhou Medical University Affiliated Dental Hospital, sedangkan Wang dan Huang dari the Second Affiliated Hospital of Guangzhou Medical University, Guangzhou.
Sebanyak 3.015 kuesioner dinyatakan sah, diisi oleh responden berusia 12 sampai 75 tahun, dan 56,7 persen di antaranya perempuan. Sebanyak 42 persen responden adalah orang tua, dan 951 orang mengisi data anak berusia 2 sampai 18 tahun. Dari anak-anak itu, 16,6 persen tergolong berat badan lebih dan 9,4 persen tergolong obesitas, sementara 54,2 persen berada di kategori standar.
Bagaimana mata orang tua meleset menilai tubuh anak
Yang dan rekan menemukan hanya 52 persen orang tua yang menilai ukuran tubuh anaknya dengan benar. Sebanyak 38,2 persen menilainya lebih kecil daripada kenyataan, artinya anak yang kegemukan dianggap belum kegemukan. Ibu lebih jitu daripada ayah: 56,6 persen ibu menilai dengan tepat, berbanding 47,8 persen ayah. Orang tua yang lebih tua, sebaliknya, lebih cenderung menilai tubuh anaknya lebih besar daripada kenyataan.
Para penulis mengaitkan salah nilai ini dengan penanganan berat badan anak. Mereka menyebut perlunya program pendidikan kesehatan tentang obesitas yang dirancang khusus bagi kelompok penduduk yang berbeda-beda. “Jika orang tua salah menilai berat badan anaknya, mereka tidak akan mampu melakukan intervensi terbaik bagi anak mereka,” tulis Yang dan rekan dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Tubuh anak juga membawa jejak dari rumahnya. Para peneliti mencatat indeks massa tubuh anak berhubungan positif dengan berat lahirnya dan dengan indeks massa tubuh orang tuanya. Tabel mereka memperlihatkan gambaran itu: di antara anak dari orang tua bertubuh standar, 6,7 persen tergolong obesitas. Di antara anak dari orang tua yang obesitas, angkanya 23,7 persen. Hubungan itu, menurut penulis, sejalan dengan hasil penelitian terdahulu.
Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi
Mengapa sebagian orang belum menyebut obesitas anak sebagai penyakit
Langkah berikutnya dalam rantai itu adalah cara orang memandang kegemukan. Tidak semua responden menganggap obesitas pada anak dan remaja sebagai penyakit, dan pandangan itu berbeda menurut kelompok. Perempuan lebih sering menganggapnya penyakit, yakni 85,9 persen. Kecenderungan serupa tampak pada responden berpendidikan tinggi, 85,3 persen, pada mereka yang bekerja di bidang kesehatan, 80,7 persen, dan pada responden berindeks massa tubuh standar, 83,1 persen.
Ketika faktor-faktor itu diuji bersama, tiga hal bertahan. Peluang perempuan mengakui obesitas sebagai penyakit tercatat 1,913 kali peluang laki-laki, dan peluang tenaga kesehatan 1,988 kali peluang pekerja bidang keuangan. Kelompok usia 18 tahun ke atas juga lebih mengakuinya dibanding responden di bawah 18 tahun. Tingkat pendapatan dan indeks massa tubuh responden sendiri tidak berhubungan bermakna dengan pandangan itu.
Para penulis menawarkan dugaan tentang sebabnya, dan mereka menuliskannya sebagai kemungkinan. Orang paruh baya dan lanjut usia mungkin lebih sering mengalami langsung gangguan kesehatan yang terkait obesitas. Perempuan, menurut mereka, mungkin lebih banyak memikul tanggung jawab kesehatan keluarga, lebih peka terhadap persoalan kesehatan anak, atau lebih memikirkan dampak obesitas pada mutu hidup anak kelak.
Pengetahuan tentang sebab kegemukan pun belum utuh. Hanya 45 persen responden yang mampu menyebut secara benar dan lengkap faktor yang mendorong obesitas pada anak dan remaja, yaitu faktor genetik, perilaku berupa pola makan dan aktivitas fisik, faktor psikologis, dan lingkungan. Yang dan rekan juga menilai pengetahuan responden tentang komplikasi obesitas tidak lengkap, padahal obesitas menurut mereka turut memengaruhi kesehatan jiwa, kepribadian, dan kecakapan sosial anak.
Olahraga hampir mutlak, pisau bedah di urutan jauh
Yang membuatnya rumit, kesediaan menurunkan berat badan anak tidak berjalan seiring dengan kesediaan memakai semua cara. Ketika ditanya cara yang paling cocok bagi anak dan remaja, 97 persen responden menyebut olahraga. Bedah metabolik dan bariatrik, yaitu operasi untuk menurunkan berat badan, hanya dipilih 10,8 persen. Sebanyak 1,4 persen responden bahkan berpendapat anak dan remaja tidak perlu menurunkan berat badan.
Jarak itu makin terlihat ketika pertanyaannya menyangkut anak sendiri. Sebanyak 34,7 persen responden tidak bersedia anaknya menjalani bedah bariatrik. Kekhawatiran utama mereka adalah kurangnya pengetahuan: 60,96 persen menyatakan belum cukup tahu tentang operasi itu. Para peneliti mencatat pula kecemasan responden terhadap komplikasi sesudah operasi, seperti kekurangan gizi dan pengaruhnya terhadap perkembangan masa puber.
Persoalannya, pandangan tentang obesitas ternyata terhubung dengan sikap terhadap operasi. Responden yang tidak menganggap obesitas anak sebagai penyakit lebih kecil kemungkinannya mendukung bedah bariatrik, dengan rasio odds 0,650. “Menganggap obesitas sebagai penyakit berarti menerima bahwa ia memerlukan intervensi medis, dan bedah bariatrik dengan sendirinya menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan,” tulis Yang dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Siapa yang lebih terbuka pada operasi untuk anak
Dukungan terhadap operasi tidak tersebar rata. Perempuan lebih mendukung daripada laki-laki, dengan rasio odds 1,301. Dibandingkan pekerja bidang keuangan, dukungan lebih tinggi tercatat pada pekerja bidang kesehatan, pekerja lepas, dan pelajar. Menurut para penulis, perbedaan antarkelompok pekerjaan itu mungkin berkaitan dengan tingkat pengetahuan tentang tindakan medis, literasi kesehatan, atau status sosial ekonomi.
Pengalaman tubuh sendiri juga ikut bekerja. Responden yang berat badannya lebih atau obesitas jauh lebih bersedia membiarkan anaknya menjalani bedah bariatrik, yakni 90,2 persen. Di antara perempuan angkanya 61,4 persen, dan di antara pekerja bidang kesehatan 66,9 persen. Catatan lain: dari seluruh responden, 34 orang atau 1,1 persen pernah menjalani bedah bariatrik sendiri.
Kemauan anak ternyata punya bobot besar. Peneliti menyodorkan satu keadaan: anak berusia 7 sampai 18 tahun mengalami masalah terkait obesitas dan sangat ingin dioperasi. Dalam keadaan itu, 69,2 persen responden menyatakan akan mengikuti keinginan pengobatan sang anak. Angkanya 72,8 persen pada responden yang tidak memiliki anak dan 93,5 persen pada responden yang dirinya sendiri berat badan lebih atau obesitas.
Soal umur, jawaban responden terbelah. Sebanyak 40 persen memilih jawaban bahwa usia bukan persoalan, sedangkan 18,6 persen menilai usia 12 sampai 18 tahun sebagai waktu yang tepat untuk operasi. Responden tanpa anak lebih banyak yang tidak mempersoalkan usia, yaitu 68,2 persen. Para penulis mengutip American Academy of Pediatrics, yang menyebut bedah ini dapat ditempuh tanpa memandang usia selama syarat operasinya terpenuhi.
Manfaat yang paling dikenal adalah turunnya berat badan
Responden juga ditanya tentang manfaat bedah bariatrik bagi anak dan remaja. Manfaat yang paling dikenal adalah turunnya berat badan, disebut 84,78 persen. Berikutnya rasa percaya diri dan citra diri yang membaik, 78,97 persen, serta penyakit yang membaik, misalnya berkurangnya pemakaian obat, 70,3 persen. Dua manfaat lain lebih sedikit disebut: pergaulan yang lebih baik 51,70 persen dan prestasi akademik yang membaik hanya 25,39 persen.
Yang dan rekan menyimpulkan bahwa responden menaksir terlalu rendah manfaat tindakan ini. Mereka menyandingkan hasil survei dengan kepustakaan yang mereka rujuk: pada anak dan remaja, bedah bariatrik sama efektifnya dengan pada orang dewasa dalam menurunkan berat badan dan meredakan komplikasi. Satu studi yang mereka kutip mencatat remisi diabetes tipe 2 lima tahun sesudah operasi mencapai 86 persen pada remaja, berbanding 53 persen pada orang dewasa.
Risikonya ikut mereka catat. Satu studi lain yang mereka kutip, tulis para penulis, mencatat angka komplikasi selama rawat inap sesudah operasi turun dari 8,8 persen pada 2005 menjadi 2,0 persen pada 2014. Namun pada pemantauan jangka panjang, anemia kekurangan zat besi dan kekurangan vitamin B12 lebih menonjol. Tiga tahun sesudah operasi, 46 persen pasien mengalami anemia dan 78 persen melaporkan kadar vitamin D yang rendah.
Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008
Kabar tentang operasi datang dari layar, bukan dari dokter
Rantai penjelasan itu berujung pada sumber kabar. Sebelum survei, 47,53 persen responden sudah pernah mendengar bahwa obesitas dan penyakit metabolik dapat ditangani lewat bedah bariatrik. Kebanyakan mengetahuinya dari situs web, 49,96 persen, dan dari televisi, 49,96 persen. Pendidikan di sekolah hanya disebut 8,14 persen, penyuluhan pemerintah 4,75 persen, dan penyuluhan rumah sakit 0,16 persen.
Yang diinginkan responden berbeda dari yang mereka terima. Kelompok terbesar, 49,57 persen, ingin memperoleh keterangan tentang bedah bariatrik dari tenaga kesehatan. Sebanyak 30,43 persen ingin mendapatkannya dari bahan penyuluhan pemerintah, padahal yang benar-benar memperoleh kabar dari saluran itu hanya 4,75 persen. Para penulis menduga tenaga kesehatan dipilih karena keterangannya dirasa lebih berwibawa.
Mereka menambahkan catatan dari kepustakaan: beberapa studi menunjukkan mutu dan isi keterangan tentang bedah bariatrik di internet umumnya buruk. Dari situ Yang dan rekan mengusulkan agar tenaga medis dan perawat digandeng dengan beragam media, misalnya video pendek dari akun resmi rumah sakit. Sekolah juga mereka sebut, sebab sebagian besar anak dan remaja masih bersekolah dan bisa dijangkau lewat pendidikan kesehatan di sana.
Sampai di mana penjelasan survei ini berlaku
Para penulis sendiri menggarisbawahi batas temuannya. Survei dijalankan secara daring dan pesertanya ikut atas kemauan sendiri, sehingga orang tanpa akses internet tidak terjangkau. Sekitar 87,7 persen responden bergelar sarjana atau lebih tinggi, sedangkan menurut data sensus yang mereka kutip hanya sekitar 15 persen penduduk Tiongkok berpendidikan diploma ke atas. Angka-angka survei ini, tulis mereka, tidak boleh dibaca sebagai taksiran tingkat nasional.
Dua batas lain mereka sebut. Berat dan tinggi badan diisi sendiri oleh responden, sehingga bisa keliru dan memengaruhi hubungan antarfaktor. Lalu, pandangan yang terekam mencerminkan satu masa tertentu, yaitu ujung pandemi COVID-19 di Tiongkok. Menurut para penulis, temuan ini mungkin belum menangkap perubahan masyarakat yang cepat sesudahnya, seperti melonjaknya popularitas obat golongan agonis reseptor GLP-1.
Kejanggalan di awal kini punya jawabannya menurut Yang dan rekan. Sikap sebagian warga Tiongkok terhadap penurunan berat badan dan bedah bariatrik bagi anak tergolong konservatif, terutama karena mereka belum cukup mengenal operasinya dan menaksir terlalu rendah bahaya obesitas pada anak. Para penulis menyarankan agar syarat, hasil, dan komplikasi bedah itu disebarkan secara objektif, supaya anak yang membutuhkan dan orang tuanya dapat menimbang manfaat dan risikonya dengan cermat.















