- Warga Arab memiliki risiko patah tulang panggul 45 persen lebih tinggi daripada warga Yahudi.
- Selama sepuluh tahun, 22.087 orang mengalami patah tulang panggul, atau 2,3 persen dari seluruh peserta.
- Perempuan dari semua kelompok memiliki risiko 33 persen lebih tinggi daripada laki-laki.
- Perempuan Arab memiliki risiko kematian 23 persen lebih tinggi daripada perempuan Yahudi dalam dua tahun sesudah patah.
Daftar Isi
- Sebelum 2010: Data tentang Warga Arab Masih Langka
- 1 Januari 2010: Sebanyak 941.534 Orang Masuk Catatan
- 2010–2019: Sepuluh Tahun, 22.087 Patah Tulang Panggul
- Sesudah Diperhitungkan: Risiko 45 Persen Lebih Tinggi
- Sesudah Patah Pertama: Tiga Tahun, lalu Dua Tahun
- 2026: Batas dan Saran yang Dicatat Para Penulis
Pada 1 Januari 2010, pencatatan dimulai. Hampir satu juta anggota Clalit Health Services di Israel, semuanya berusia 50 sampai 80 tahun, masuk ke dalam satu daftar pengamatan. Sejak hari itu rekam medis mereka diikuti sampai 31 Desember 2019 untuk satu pertanyaan: siapa yang kelak mengalami patah tulang panggul.
Catatan sepuluh tahun itu dilaporkan Hiba Masri Iraqi, Gloria Tsvetov, Einav Dandeker, Adi Turjeman, dan Samah Hayek dalam artikel Ethnic and gender differences in hip fracture risk among older adults: implications for prevention in a universal healthcare system, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026. Iraqi dan Tsvetov bekerja di Institute of Endocrinology, Beilinson Hospital, Rabin Medical Center, Petah Tikva. Hayek berasal dari School of Public Health, Tel Aviv University.
Hasilnya ringkas. Sesudah usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, kebiasaan merokok, penyakit penyerta, dan pemakaian obat diperhitungkan, warga Arab memiliki risiko patah tulang panggul 45 persen lebih tinggi daripada warga Yahudi. Kedua kelompok itu berada dalam sistem asuransi kesehatan nasional yang sama.
Sebelum 2010: Data tentang Warga Arab Masih Langka
Patah tulang panggul disebut para penulis sebagai komplikasi paling berat dari osteoporosis, penyakit yang ditandai massa tulang rendah. Akibatnya adalah kematian yang lebih tinggi, penurunan fungsi tubuh, dan hilangnya kemandirian. Jumlahnya kurang dari 20 persen seluruh patah tulang akibat osteoporosis, tetapi bebannya pada layanan kesehatan dan biaya lansia jauh lebih besar.
Perbedaan antara perempuan dan laki-laki sudah lama tercatat. Perempuan lebih sering mengalami patah tulang dan penyakit yang menyertainya. Perbedaan antarkelompok etnis lain ceritanya, sebab buktinya terbatas dan terutama berasal dari Amerika Serikat serta negara lain yang sistem kesehatannya beragam.
Kajian-kajian itu mencatat angka lebih tinggi pada penduduk kulit putih non-Hispanik dan lebih rendah pada penduduk kulit hitam dan Asia. Tafsirnya, menurut para penulis, diperumit oleh perbedaan akses layanan, kepesertaan asuransi, dan mutu perawatan. Data tentang penduduk Arab masih langka dan tidak seragam, meski satu laporan terdahulu menyebut risiko yang sangat tinggi pada perempuan Arab.
Israel kemudian dipilih sebagai tempat memeriksa soal itu. Yahudi dan Arab adalah dua kelompok penduduk terbesar di sana, dan keduanya dilayani asuransi kesehatan nasional yang menyeluruh. Keadaan itu, tulis para penulis, memperkecil hambatan kepesertaan dan biaya, sehingga bisa dilihat apakah kesenjangan tetap ada ketika akses layanan setara.
1 Januari 2010: Sebanyak 941.534 Orang Masuk Catatan
Clalit Health Services adalah yang terbesar dari empat organisasi layanan kesehatan terpadu di Israel. Anggotanya lebih dari 4,7 juta orang, atau 53 persen penduduk negara itu. Dari 1.147.911 anggota yang semula tersaring, 941.534 orang akhirnya masuk catatan, semuanya belum pernah mengalami patah tulang panggul.
Pada hari pertama itu usia rata-rata mereka 62,7 tahun. Perempuan sedikit lebih banyak, 53,4 persen, dibandingkan laki-laki, 46,6 persen. Sebanyak 84,7 persen adalah warga Yahudi, 12,3 persen warga Arab, dan 3 persen berasal dari kelompok etnis lain.
Penyakit menahun yang paling banyak tercatat pada awal pengamatan adalah diabetes, 25,5 persen. Menyusul kemudian hiperlipidemia, 19,3 persen, dan penyakit kardiovaskular, 10,2 persen. Antara 2008 dan 2010, 24,5 persen peserta tercatat memakai kalsium dan 20,7 persen memakai vitamin D.
Baca juga Kelambu Kamar Tidur dan Lansia Pesisir Surat Thani yang Jatuh
2010–2019: Sepuluh Tahun, 22.087 Patah Tulang Panggul
Selama sepuluh tahun berikutnya, 22.087 orang mengalami patah tulang panggul, atau 2,3 persen dari seluruh peserta. Angka kejadian keseluruhan adalah 2,6 kasus per 1.000 orang-tahun. Pada warga Yahudi angkanya 2,53, sedangkan pada warga Arab 3,08 per 1.000 orang-tahun.
Mereka yang patah tulang lebih tua sejak awal, dengan usia rata-rata 69,14 tahun, dibandingkan 62,51 tahun pada yang tidak patah. Hampir dua dari tiga di antaranya perempuan, tepatnya 64 persen. Diabetes tercatat pada 40,3 persen mereka, sedangkan pada kelompok tanpa patah tulang 25,1 persen.
Jarak antara perempuan dan laki-laki bertahan sepanjang masa pengamatan. Angka kejadian pada perempuan 3,10 per 1.000 orang-tahun, pada laki-laki 2,03. Sesudah usia disetarakan, angka tahunan perempuan tetap berada di atas laki-laki dari tahun ke tahun.
Jarak antara Arab dan Yahudi muncul pada kedua jenis kelamin. Pada laki-laki, angkanya 1,95 untuk warga Yahudi dan 2,53 untuk warga Arab. Pada perempuan, 3,02 dan 3,56. Angka tahunan yang sudah disetarakan menurut usia juga lebih tinggi pada warga Arab sepanjang masa pengamatan.
Kedua kelompok pasien itu tidak serupa. Di antara 18.179 warga Yahudi yang patah tulang panggul, 64,5 persen perempuan, usia rata-rata awalnya 69,44 tahun, dan 66,2 persen berstatus sosial ekonomi menengah. Di antara 3.199 warga Arab, 61,4 persen perempuan, usia rata-ratanya 67,44 tahun, dan 60,1 persen berstatus sosial ekonomi rendah.
Para penulis mencatat bahwa pasien Arab mengalami patah tulang panggul pada usia lebih muda. Profil metabolik mereka juga kurang baik dibandingkan pasien Yahudi. Diagnosis osteoporosis yang tercatat, menurut naskah itu, tidak berbeda menurut etnis.
Sesudah Diperhitungkan: Risiko 45 Persen Lebih Tinggi
Tahap berikutnya adalah memperhitungkan perbedaan ciri kedua kelompok. Sesudah itu dilakukan, risiko warga Arab tercatat 45 persen lebih tinggi daripada warga Yahudi. Perempuan, dari semua kelompok, memiliki risiko 33 persen lebih tinggi daripada laki-laki.
Selisih itu berlaku pada dua jenis kelamin. Laki-laki Arab berisiko 41 persen lebih tinggi daripada laki-laki Yahudi. Perempuan Arab berisiko 48 persen lebih tinggi daripada perempuan Yahudi. Hubungan antara etnis dan patah tulang panggul itu, menurut para penulis, konsisten di seluruh rentang usia peserta.
Dari situ para penulis menarik satu bacaan. Kebanyakan kajian terdahulu dikerjakan di negara yang akses layanan dan kepesertaan asuransinya berbeda-beda antarkelompok. Di Israel hambatan biaya sudah diperkecil, dan kesenjangan itu tetap tercatat.
“Temuan ini mengisyaratkan bahwa akses layanan kesehatan saja tidak mungkin sepenuhnya menjelaskan perbedaan etnis dalam risiko dan luaran patah tulang panggul,” tulis Hiba Masri Iraqi dari Institute of Endocrinology, Beilinson Hospital, bersama empat rekannya. Naskah mereka aslinya berbahasa Inggris.
Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota
Sesudah Patah Pertama: Tiga Tahun, lalu Dua Tahun
Pengamatan tidak berhenti pada patah pertama. Dalam tiga tahun sesudahnya, 10,2 persen pasien, kira-kira satu dari sepuluh, mengalami patah tulang lain di luar panggul. Angka tertinggi ada pada warga Yahudi, 10,6 persen, disusul kelompok etnis lain, 9,4 persen, dan warga Arab, 8,0 persen.
Urutan itu sama pada laki-laki dan perempuan. Di antara laki-laki, 7,8 persen pasien Yahudi dan 5,2 persen pasien Arab mengalami patah tulang lain. Di antara perempuan, angkanya 12,1 persen dan 9,7 persen.
Sesudah ciri-ciri pasien diperhitungkan, warga Arab memiliki risiko patah tulang kedua 17 persen lebih rendah daripada warga Yahudi. Laki-laki Arab juga berisiko lebih rendah daripada laki-laki Yahudi. Perempuan, sebaliknya, berisiko lebih tinggi daripada laki-laki untuk mengalami patah tulang lain dalam tiga tahun.
Catatan kematian dihitung dalam dua tahun sesudah patah pertama. Dalam rentang itu 17,2 persen pasien meninggal karena sebab apa pun. Pada pasien Arab angkanya 19,8 persen, sedangkan pada pasien Yahudi 16,7 persen.
Selisih itu lebih tegas pada perempuan. Sebanyak 16,7 persen perempuan Arab meninggal dalam dua tahun, dibandingkan 13,8 persen perempuan Yahudi. Pada laki-laki angkanya 24,8 persen dan 22 persen, selisih yang oleh para penulis dinyatakan tidak bermakna secara statistik.
Sesudah ciri-ciri pasien diperhitungkan, kematian dua tahun antara pasien Arab dan Yahudi secara keseluruhan tidak lagi berbeda bermakna. Perbedaan menurut jenis kelamin tetap terlihat: perempuan memiliki risiko meninggal lebih rendah daripada laki-laki. Satu kelompok tetap menonjol, yaitu perempuan Arab, yang risiko kematiannya 23 persen lebih tinggi daripada perempuan Yahudi.
Para penulis menyebut beberapa hal yang mungkin ikut berperan dalam kesenjangan itu. Di antaranya perbedaan kepadatan mineral tulang, ketebalan korteks, bentuk tulang panggul, dan panjang sumbu panggul. Akses layanan dan penyakit penyerta, tulis mereka, kemungkinan juga memengaruhi kejadian dan luarannya.
Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat
2026: Batas dan Saran yang Dicatat Para Penulis
Ketika laporan itu terbit pada 2026, para penulis menyertakan batas-batasnya. Kepadatan mineral tulang dan aktivitas fisik peserta tidak tersedia. Indeks massa tubuh sebelum pengamatan kosong pada 98,6 persen peserta, sehingga pengaruh faktor yang tidak terukur tidak dapat disingkirkan.
Etnis pun tidak dicatat per orang. Kelompok etnis didekati dari penggolongan sektor klinik layanan primer tempat tiap peserta terdaftar, sehingga sebagian orang mungkin salah digolongkan. Sebanyak 74.093 peserta, atau 7,9 persen, juga dikeluarkan dari perhitungan lanjutan karena datanya tidak lengkap.
Ada pula batas usia dan tempat. Pengamatan dihentikan pada usia 85 tahun, yang menurut para penulis dapat membuat angka patah tulang atau kematian pada kelompok tertua terhitung terlalu rendah. Seluruh data berasal dari satu organisasi layanan kesehatan, meski yang terbesar di Israel.
Dari temuan itu mereka menurunkan saran. Pencegahan osteoporosis perlu disesuaikan dengan budaya tiap kelompok, penilaian risiko patah tulang perlu setara, dan kelompok berisiko tinggi perlu program penanganan sesudah patah tulang. Kajian berikutnya mereka minta mencatat etnis per orang, kepadatan mineral tulang, aktivitas fisik, dan gaya hidup.
Simpulan naskah itu menyatakan kesenjangan menurut etnis dan jenis kelamin tetap ada di Israel meski layanan kesehatannya menyeluruh. Warga Arab, terutama perempuan, berisiko lebih tinggi dan mengalami luaran lebih buruk. Catatan itu berhenti pada 31 Desember 2019.















