- Hanya 26 persen penderita diabetes dalam gabungan studi itu merawat kakinya dengan baik.
- Pengetahuan yang baik tentang perawatan kaki dimiliki 32 persen penderita, sedangkan 34 persen pengetahuannya buruk.
- Sikap yang mendukung perawatan kaki hanya ditemukan pada 20 persen penderita.
- Sebagian besar studi berasal dari India bagian selatan dan barat, sehingga angkanya tidak mewakili seluruh negeri.
Daftar Isi
- Ulkus kaki diabetik, luka yang mendahului amputasi
- Pengetahuan, atau tahu apa yang mengancam kaki
- Sikap, atau mau tidaknya peduli pada kaki
- Praktik, atau yang benar-benar dikerjakan tiap hari
- Pendidikan antarprofesi, belajar lintas tenaga kesehatan
- Heterogenitas, tanda bahwa angka antarstudi berjauhan
Pengetahuan, sikap, dan praktik, tiga kata yang dalam naskah penelitian kesehatan disingkat KAP, pada dasarnya menanyakan tiga hal sederhana kepada seorang penderita diabetes: apakah ia tahu cara merawat kakinya, apakah ia mau, dan apakah ia sungguh melakukannya. Di India, gabungan 20 studi mendapati kadar yang baik pada ketiganya masih rendah.
Jawaban itu dihimpun Bhukya Nom Kumar Naik, Mohd Jahid Riyaz Ahmad Khan, Sushma Prabhath, dan delapan rekan mereka dalam artikel Knowledge, attitudes, and practices related to diabetic foot care among individuals with diabetes in India: a systematic review and meta-analysis. Artikel itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Para penulisnya berasal dari Manipal Academy of Higher Education di Karnataka, India, Deakin University di Australia, dan kantor UNICEF di Hyderabad.
Bentuknya tinjauan sistematis yang disertai meta-analisis, yaitu penggabungan angka dari banyak studi terdahulu menjadi satu perkiraan. Bahannya 20 studi yang terbit antara 2012 dan 2025, dari 13 negara bagian dan 2 teritori persatuan di India. Tamil Nadu menyumbang paling banyak, lima studi, disusul Kerala, Karnataka, dan Maharashtra yang masing-masing dua.
Hasil gabungannya ringkas. Pengetahuan yang baik tentang perawatan kaki dimiliki 32 persen penderita, sedangkan 34 persen pengetahuannya buruk. Sikap yang mendukung perawatan kaki hanya ditemukan pada 20 persen penderita. Hanya 26 persen penderita diabetes dalam gabungan studi itu merawat kakinya dengan baik.
Ulkus kaki diabetik, luka yang mendahului amputasi
Ulkus kaki diabetik adalah luka terbuka pada kaki penderita diabetes. Naskah itu menempatkannya di pusat persoalan karena dari sanalah amputasi biasanya berawal. Di seluruh dunia, 40 sampai 70 persen amputasi tungkai bawah berkaitan dengan diabetes, dan 85 persen di antaranya didahului luka di kaki.
Jalannya menuju luka itu juga diuraikan. Komplikasi kaki kerap bermula dari neuropati, yakni kerusakan saraf yang membuat kaki kehilangan rasa, lalu peredaran darah yang buruk dan cedera kecil yang tidak disadari. Cedera kecil itu memburuk karena dibiarkan. Risiko itu, tulis para penulis, dapat ditekan lewat perawatan kaki yang konsisten.
Akibatnya tidak ringan. Penderita diabetes, menurut sumber yang dikutip para penulis, 25 kali lebih mungkin menjalani amputasi kaki daripada orang tanpa diabetes. Angka kematian dalam lima tahun sesudah amputasi besar berkisar 50 sampai 80 persen.
Untuk India sendiri, para penulis mengutip gabungan studi lain yang memperkirakan 6,2 persen penderita diabetes mengalami ulkus kaki. Angkanya berbeda menurut wilayah: 9,5 persen di India Timur, 7,4 persen di India Selatan, dan 5,6 persen di India Utara. Studi di rumah sakit mencatat 7,5 persen, sedangkan studi di tengah masyarakat 2,5 persen.
Jumlah orang yang berisiko pun terus bertambah. Naskah itu mencatat 69,2 juta penderita diabetes di India pada 2015, dengan proyeksi 123,5 juta pada 2040. Padahal pemeriksaan kaki secara teratur, pengenalan dini masalah kaki, dan perawatan mandiri yang tepat disebut dapat menekan komplikasi secara berarti.
Baca juga Pengetahuan Diabetes Turunkan Gejala Neuropati Pasien
Pengetahuan, atau tahu apa yang mengancam kaki
Pengetahuan di sini berarti paham bahwa diabetes bisa merusak kaki dan tahu cara mencegahnya. Tujuh belas studi yang mencakup 2.861 orang mengukur hal itu. Hasil gabungannya menunjukkan 34 persen penderita berpengetahuan buruk, 37 persen memadai, dan 32 persen baik.
Para penulis membacanya sebagai jurang kesadaran yang lebar. Lebih dari sepertiga penderita, tulis mereka, tidak memiliki pemahaman dasar tentang perawatan kaki untuk pencegahan. Mereka merujuk studi di Kolkata dan Pondicherry yang mendapati banyak pasien tidak tahu tentang ulkus kaki dan hilangnya rasa pada kaki.
Perbedaan antarstudi mereka kaitkan dengan latar sosial ekonomi, pendidikan, dan akses ke layanan kesehatan. Penduduk desa dan kelompok berpenghasilan rendah disebut kerap kurang terpapar informasi perawatan kaki. Di sisi lain, program pengajaran terstruktur dilaporkan berhasil. Sebuah studi di Nagaland, India Timur Laut, mencatat kenaikan pengetahuan yang bermakna sesudah program semacam itu dijalankan.
Sikap, atau mau tidaknya peduli pada kaki
Sikap adalah lapisan berikutnya: bukan lagi soal tahu, melainkan soal mau. Enam studi dengan 713 peserta mengukurnya. Sikap yang mendukung perawatan kaki hanya tampak pada 20 persen penderita, kira-kira satu dari lima orang, sedangkan 21 persen menunjukkan sikap yang tidak mendukung.
Angka itu, menurut para penulis, menandakan kurangnya dorongan atau minat yang meluas terhadap perawatan kaki. Kesadaran tidak selalu berubah menjadi niat. Mereka menyebut stigma, rasa takut, kurangnya motivasi, dan perawatan kaki yang belum menyatu dengan layanan kesehatan sebagai faktor yang membentuk sikap itu.
Ada pula kebiasaan sehari-hari yang ikut memperberat. Naskah itu menunjuk berjalan tanpa alas kaki sebagai kebiasaan tradisional yang masih bertahan, di samping kurangnya tenaga kesehatan terlatih. Karena itu para penulis menilai penyuluhan tidak cukup hanya menyampaikan informasi. Penyuluhan harus dirancang untuk menyentuh keyakinan, emosi, dan rasa mampu pasien.
Cara yang mereka sebut lebih berhasil mengubah cara pandang pasien adalah wawancara motivasi dan konseling berbasis keluarga. Dukungan emosional, pelurusan mitos, dan cerita yang peka budaya ikut dianjurkan. Kisah sesama pasien, kampanye setempat, dan tokoh panutan yang dekat dengan keseharian disebut dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab.
Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun
Praktik, atau yang benar-benar dikerjakan tiap hari
Praktik adalah ujungnya, yakni apa yang sungguh dilakukan penderita terhadap kakinya. Empat belas studi mengukurnya. Hanya 26 persen penderita diabetes dalam gabungan studi itu merawat kakinya dengan baik. Sebanyak 45 persen praktiknya memadai, dan 36 persen masih buruk.
Di titik inilah para penulis menarik garis paling tegas. “Temuan ini menegaskan bahwa pengetahuan dan motivasi saja tidak menjamin tindakan pencegahan yang konsisten,” tulis Bhukya Nom Kumar Naik, peneliti dari Department of Anatomy, Kasturba Medical College Manipal, bersama rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Maksudnya, yang kurang bukan hanya kesadaran. Para penulis menyebut hambatan dari sisi sistem: akses pemeriksaan yang terbatas, alas kaki pelindung yang tidak terjangkau, dan pelatihan tenaga kesehatan yang belum memadai. Pelatihan langsung, pendampingan lanjutan, dan model perawatan berbiaya hemat disebut menjanjikan, tetapi penerapannya terpecah-pecah dan tidak seragam antarwilayah.
Usul mereka pun bersifat praktis. Penyuluhan perlu dilengkapi peragaan langsung, alas kaki bersubsidi, dan kunjungan ulang yang rutin. Pengingat lewat ponsel, aplikasi pencatat kebiasaan, dan keterlibatan pendamping pasien disebut berguna untuk menjaga perawatan mandiri sehari-hari. Angka praktik memadai yang mencapai 45 persen mereka baca sebagai tanda bahwa perilaku bisa diperbaiki.
Namun, kenyataan bahwa hanya seperempat peserta yang konsisten mengikuti anjuran tetap mereka sebut mengkhawatirkan. Pemeriksaan kaki berkala di layanan kesehatan dasar dan dukungan biaya atau asuransi untuk perawatan pencegahan mereka nilai penting. Dari pengetahuan ke praktik, tulis mereka, terlihat penurunan bertahap.
Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja
Pendidikan antarprofesi, belajar lintas tenaga kesehatan
Pendidikan antarprofesi berarti tenaga kesehatan dari bidang berbeda belajar bersama, dari, dan tentang satu sama lain. Para penulis menyebut dokter, perawat, podiatris atau ahli perawatan kaki, penyuluh diabetes, fisioterapis, dan petugas kesehatan masyarakat. Bedanya dengan model lama terletak pada jumlah tangan: bukan satu petugas yang menangani pasien, melainkan satu tim.
Manfaat yang mereka harapkan adalah tanggung jawab bersama dan pesan yang seragam kepada pasien. Di tingkat klinik, perawatan oleh tim lintas bidang disebut terbukti menurunkan angka amputasi. Klinik khusus kaki, pemantauan yang ajek, dan alat baru seperti sensor suhu kulit ikut diusulkan untuk membantu deteksi dini.
Telemedisin, yaitu konsultasi jarak jauh, mereka sebut menjanjikan bagi daerah pedesaan dan wilayah yang kurang terlayani. Dari sisi kebijakan, dukungan pemerintah dinilai menentukan. Pedoman nasional, akses layanan yang merata, dan pusat perawatan kaki khusus perlu diutamakan, sementara kampanye lewat media dan jaringan warga dapat membuat perawatan kaki menjadi kebiasaan yang lumrah.
Heterogenitas, tanda bahwa angka antarstudi berjauhan
Heterogenitas adalah istilah untuk hasil yang berbeda jauh dari satu studi ke studi lain. Dalam tinjauan ini nilainya tinggi di semua ukuran. Para penulis menduga sebabnya bukan hanya perbedaan cara dan alat ukur, melainkan juga kesenjangan sosial budaya, ekonomi, dan akses layanan antarwilayah yang tidak tertangkap.
Keterbatasan terbesar ada pada peta. Sebagian besar studi berasal dari India bagian selatan dan barat, sehingga angkanya tidak mewakili seluruh negeri. Negara bagian di timur laut, tengah, dan timur, termasuk Bihar, kurang terwakili. Para penulis karena itu meminta angka gabungan mereka dibaca sebagai gambaran wilayah tertentu, bukan gambaran nasional.
Ada batas lain yang mereka akui. Kebanyakan studi memotret satu waktu saja, sehingga hubungan sebab-akibat tidak bisa ditarik. Keragaman budaya dan bahasa belum dikaji mendalam. Data kependudukan di beberapa studi juga tidak lengkap, sehingga faktor yang memengaruhi tahu, mau, dan melakukan itu belum bisa diurai lebih jauh.
Untuk penelitian berikutnya, mereka menyarankan studi berskala besar yang mewakili seluruh negeri, serta studi yang mengikuti pasien dari waktu ke waktu. Rancangan seperti itu, menurut mereka, dapat memberi bukti yang lebih kuat tentang perubahan perilaku yang bertahan.















