Dalam Simulasi Iran, Kurs Beraturan Lebih Tahan Guncangan

A A

Lorong berlengkung bata di Bazar Besar Teheran, Iran, dengan orang-orang berjalan membelakangi kamera [Foto: Mahmoud Atashi/Pexels]

  • Dua cara mengelola kurs diuji pada model ekonomi terbuka kecil yang diisi dengan parameter struktural Iran.
  • Model menghasilkan inflasi domestik 0,2356 di bawah diskresi dan 0,0250 di bawah aturan selisih inflasi.
  • Sesudah harga impor terguncang, varians impor bersih 0,2413 di bawah diskresi dan 0,1282 di bawah aturan.
  • Menghadapi guncangan yang melanda seluruh dunia pun, aturan dinilai lebih patut dipilih daripada diskresi.
  • Ketahanan ekonomi dalam kajian ini hanya diukur dari kestabilan, dan tolok ukur lain dibiarkan untuk riset berikutnya.
Daftar Isi
  1. Diskresi: kurs melemah dengan laju hampir tetap
  2. Aturan: kurs bergerak mengikuti selisih inflasi
  3. Di titik tenang, diskresi berujung inflasi 0,2356
  4. Di titik tenang, aturan berujung inflasi 0,0250
  5. Guncangan satu negara: sanksi, hambatan dagang, tarif
  6. Guncangan seluruh dunia: krisis, energi, pandemi

Nama resmi sebuah rezim kurs dan apa yang sungguh dikerjakan otoritasnya dari hari ke hari kerap kali dua hal yang tidak sama. Banyak negara berkembang melaporkan diri menganut mengambang terkendali. Dalam praktik, nilai tukar mereka dibiarkan melemah dengan laju yang hampir tetap, diatur menurut pertimbangan sesaat, dengan harapan meredam ekspektasi inflasi.

Jarak antara label dan praktik itu menjadi pokok tulisan Behnam Ebrahimi dan Mohammad Vaez Barzani, Inflation-Differential Rule Versus (De Facto Soft-Peg) Discretion: Exchange-Rate Management Approach in Developing Economies, yang terbit di Bulletin of Monetary Economics and Banking volume 29 nomor 2 tahun 2026. Keduanya berasal dari University of Isfahan di Isfahan, Iran. Mereka menyandingkan dua cara mengelola kurs di dalam rezim yang sama, lalu menimbang mana yang membuat ekonomi lebih tahan guncangan dari luar.

Cara pertama mereka sebut diskresi: otoritas menetapkan laju kenaikan kurs menurut keadaan sosial, ekonomi, dan politik pada saat itu. Cara kedua berupa aturan: laju kenaikan kurs mengikuti selisih antara inflasi di dalam negeri dan inflasi dunia. Keduanya diuji pada model ekonomi terbuka kecil yang diisi dengan parameter struktural Iran. Hasilnya, cara beraturan memberi inflasi lebih rendah dan gejolak lebih kecil.

Diskresi: kurs melemah dengan laju hampir tetap

Pada cara pertama, pengumuman dan praktik berjalan terpisah. Secara resmi rezimnya mengambang terkendali. Pelaksanaannya, tulis kedua peneliti, menyerupai patokan lunak: campur tangan berulang yang menjaga laju pelemahan kurs nyaris tidak berubah. Pembuat kebijakan biasanya membenarkan cara ini sebagai jawaban praktis atas tekanan inflasi, atau sebagai penjaga angka-angka yang peka secara politik.

Rezim yang lahir dari cara itu, menurut naskah, tidak sungguh tetap dan tidak pula sungguh luwes. Ia memuat unsur patokan, tetapi bersandar pada campur tangan jangka pendek yang dasarnya penilaian sesaat. Mengutip kajian Dana Moneter Internasional, para penulis mencatat patokan lunak semacam ini biasanya muncul ketika inflasi tinggi, kepercayaan pada lembaga lemah, atau keadaan dunia sangat tidak pasti.

Iran dipilih karena cirinya cocok dengan gambaran tersebut. Negara itu kaya sumber daya alam tetapi terbatas ragam ekonominya, sehingga sangat terbuka terhadap gejolak pasar minyak dan komoditas, pengetatan keuangan internasional, serta gangguan geopolitik yang berulang. Kerangka kursnya tercatat mengambang terkendali. Dalam praktik, tulis Ebrahimi dan Vaez Barzani, ia bekerja sebagai patokan lunak dengan campur tangan terus-menerus.

Baca juga Ekspor Sumatera Utara Harus Dibuat Dua Kali Permintaannya

Aturan: kurs bergerak mengikuti selisih inflasi

Di sisi lain, cara kedua mencabut ruang pertimbangan sesaat itu. Laju kenaikan kurs disetel secara mekanis menurut selisih inflasi dalam negeri dan inflasi di luar negeri. Kedua peneliti menyebut rumusan ini jernih, bisa diperkirakan, dan berakar pada kajian moneter ekonomi terbuka. Pelemahan nominal mata uang dijangkarkan pada inflasi yang mendasarinya, bukan pada penilaian otoritas dari waktu ke waktu.

Cara kerjanya mereka terangkan dalam satu kalimat berbahasa Inggris, yang terjemahannya begini. “Logikanya sederhana: jika inflasi domestik melampaui inflasi dunia, mata uang harus melemah untuk memulihkan daya saing; jika berada di bawahnya, penguatan dibenarkan,” tulis Behnam Ebrahimi dan Mohammad Vaez Barzani dalam naskahnya. Koreksi atas selisih inflasi, dengan begitu, berlangsung otomatis.

Naskah itu merinci apa yang diharapkan dari kaitan mekanis tersebut. Gerak harga di dalam negeri dan di dunia dipaksa tetap selaras. Penguatan kurs riil pada saat inflasi domestik melonjak dapat dihindari. Ruang diskresi menyempit, dan ekspektasi pelaku ekonomi terjangkar ke depan. Sinyal kebijakan menjadi terbuka, sementara peluang kurs dimainkan menurut selera sesaat berkurang.

Di titik tenang, diskresi berujung inflasi 0,2356

Perbandingan pertama menyangkut keadaan seimbang jangka panjang, ketika tidak ada guncangan yang sedang bekerja. Untuk cara diskresi, kedua peneliti memasang laju kenaikan kurs 20,55 persen. Angka itu, menurut catatan mereka, adalah rata-rata laju kenaikan kurs selama cara diskresi dipakai dalam perekonomian Iran. Inflasi dunia dipatok 2,5 persen, mengikuti patokan jangka panjang internasional.

Dengan bahan itu, model menghasilkan inflasi domestik 0,2356 pada titik seimbang di bawah diskresi. Uang beredar tumbuh 0,2542. Nilai riil seigniorage, yakni pembiayaan belanja pemerintah lewat penciptaan uang yang dalam kepustakaan kerap disebut pajak inflasi, tercatat 0,1637. Pemerintah dalam model ini memang menutup selisih antara belanja dan hasil penjualan devisa dengan mencetak uang.

Angka-angka lain di titik yang sama ikut dicatat. Output per kepala 3,6627 dan persediaan modal 11,0684, semuanya dalam satuan barang yang dipakai model. Upah tenaga kerja 0,8346. Impor bersih 1,8363, sama besar dengan devisa yang dijual pemerintah. Saldo riil pinjaman bank 3,6505.

Dua cara mengelola kurs di titik keseimbanganDua cara mengelola kurs di titik keseimbanganDua cara mengelola kurs di titik keseimbanganNilai keseimbangan model yang dikalibrasi dengan parameter IranDiskresiAturan0,23560,0250Inflasi domestik0,20550,0000Laju kenaikan kurs0,25420,0404Laju pertumbuhanuang3,66273,7941Output0,83460,9288Upah tenaga kerja
Sumber: Behnam Ebrahimi dan Mohammad Vaez Barzani, Inflation-Differential Rule Versus (De Facto Soft-Peg) Discretion: Exchange-Rate Management Approach in Developing Economies, Bulletin of Monetary Economics and Banking, 29(2), 2026. Grafik: Cekricek.id

Di titik tenang, aturan berujung inflasi 0,0250

Pada cara beraturan, titik seimbangnya berbeda jauh. Inflasi domestik berhenti di 0,0250, sama dengan inflasi dunia yang dipasang dalam model. Laju kenaikan kurs menjadi 0,0000. Kedua peneliti menyatakan perbedaan inflasi di antara dua cara itu bermakna secara statistik, baik ketika model diguncang lewat inflasi dunia maupun lewat harga impor.

Sisi uang ikut bergeser. Pertumbuhan uang turun dari 0,2542 menjadi 0,0404, dan nilai riil seigniorage dari 0,1637 menjadi 0,0284. Sebaliknya, output naik menjadi 3,7941 dan persediaan modal menjadi 11,8145. Upah tenaga kerja tercatat 0,9288. Impor bersih menjadi 1,9716 dan saldo riil pinjaman bank 3,9907.

Tidak semua angka berubah. Bunga simpanan sama pada kedua cara, yaitu 0,17, dan tingkat harga impor sama-sama 1,2. Dari perbandingan itu para penulis menarik simpulan pertama mereka: penerapan aturan selisih inflasi meredam inflasi, yang mereka pandang sebagai sasaran dan tolok ukur penting ketahanan ekonomi. Dari sudut ketahanan, aturan lebih patut dipilih daripada diskresi.

Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka

Guncangan satu negara: sanksi, hambatan dagang, tarif

Perbandingan kedua menyangkut apa yang terjadi sesudah ekonomi diguncang dari luar. Jenis pertama adalah guncangan pada harga impor, yang oleh naskah digolongkan khas satu negara. Contohnya sanksi ekonomi, hambatan dagang, dan tarif pelindung. Sanksi sementara, menurut para penulis, dianggap hanya menaikkan ongkos perdagangan internasional karena perusahaan terpaksa memakai jalur yang lebih mahal.

Dua variabel diamati, yakni impor bersih per kepala dan tingkat harga umum. Kestabilannya dibaca dari dua takaran. Varians menunjukkan besar gejolak: makin tinggi nilainya, makin bergejolak variabel itu. Koefisien autokorelasi menunjukkan kemulusan jalur: makin tinggi nilainya, makin halus gerak variabel dan makin mudah nilainya ke depan diperkirakan.

Di bawah diskresi, varians impor bersih 0,2413. Di bawah aturan, 0,1282. Autokorelasinya bergeser dari -0,7158 menjadi 0,1368. Untuk tingkat harga umum, varians turun dari 0,1152 menjadi 0,0351, sedangkan autokorelasi naik dari 0,1744 menjadi 0,7981. Semua pergeseran itu dinyatakan bermakna. Untuk guncangan seperti sanksi terhadap ekonomi dalam negeri, simpul naskah, aturan lebih patut dipilih.

Gejolak sesudah harga impor terguncangImpor bersih: Diskresi +0,2413, Aturan selisih inflasi +0,1282; Tingkat harga umum: Diskresi +0,1152, Aturan selisih inflasi +0,0351.Gejolak sesudah harga impor terguncangVarians dua variabel, makin kecil makin stabilDiskresiAturan selisih inflasi0,10,20,30Impor bersih0,24130,1282Tingkat harga umum0,11520,0351
Sumber: Behnam Ebrahimi dan Mohammad Vaez Barzani, Inflation-Differential Rule Versus (De Facto Soft-Peg) Discretion: Exchange-Rate Management Approach in Developing Economies, Bulletin of Monetary Economics and Banking, 29(2), 2026. Grafik: Cekricek.id

Guncangan seluruh dunia: krisis, energi, pandemi

Pada kasus kedua, guncangan datang lewat inflasi dunia dan menimpa sebagian besar negara sekaligus. Naskah menyebut beberapa asalnya: guncangan produktivitas, krisis keuangan global, gangguan pasokan energi dan sumber daya alam, serta wabah dan pandemi seperti COVID-19. Jenis ini juga penting diperiksa karena inflasi dunia adalah salah satu unsur dalam rumus aturan itu sendiri.

Arah hasilnya serupa dengan kasus pertama. Varians impor bersih 0,004 di bawah diskresi dan 0,0007 di bawah aturan, dengan autokorelasi yang bergeser dari -0,1673 menjadi 0,5955. Varians tingkat harga umum 0,001 berbanding 0,0001, dan autokorelasinya dari -0,2511 menjadi 0,6103. Menghadapi guncangan yang melanda seluruh dunia pun, tulis para peneliti, aturan lebih patut dipilih daripada diskresi.

Baca juga Inklusi Keuangan Disabilitas, Belanja Lebih Tinggi 23 Persen

Ada kesamaan yang dicatat pula. Pada kedua cara, guncangan sementara membuat semua variabel menyimpang dari jalur seimbangnya. Setelah guncangan reda, ekonomi kembali ke titik seimbang melalui ayunan yang makin mengecil. Bedanya terletak pada besar simpangan, lamanya bertahan, dan akibatnya bagi ekonomi. Diskresi, menurut simpulan naskah, menghasilkan simpangan yang lebih besar dan lebih awet.

Para penulis membatasi sendiri jangkauan temuan mereka. Ketahanan ekonomi di sini hanya diukur dari kestabilan; tolok ukur lain, tulis mereka, dapat menjadi pokok riset berikutnya. Modelnya juga disederhanakan: satu barang mewakili seluruh barang, utang pemerintah dan badan usaha milik negara dikesampingkan, dan sektor sumber daya alam tidak masuk fungsi produksi. Kepustakaan sendiri, menurut mereka, belum sepakat cara mana yang lebih baik.

Dua cara itu, pada akhirnya, hidup di bawah label yang sama. Diskresi menjaga laju pelemahan kurs lewat penilaian sesaat, dan aturan mengikatnya pada selisih inflasi. Bagi negara yang resminya mengambang terkendali, kedua peneliti tidak mengusulkan rezim baru. “Dalam arti ini, aturan selisih inflasi merupakan penyempurnaan rezim mengambang terkendali yang layak dijalankan, bukan penyimpangan darinya,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Bagikan

Baca Juga

Belanja Pemerintah Negara Berkembang Naik Saat Dunia Tak Menentu
Mentan: Stok Beras Aman hingga Juli 2027, Tahun Ini Tanpa Impor
Perpres 107/2026 Terbit, Impor BBM dan LPG Kini Lewat Antarnegara
AS Bantu Ekspor Minyak Teluk 1,5 Miliar Barel Lewat Hormuz
BEI Siap Bekukan Rekening Investor Mencurigakan Mulai November
Perdagangan Karbon di Tiongkok Ikut Menekan Biaya Berobat Warga