- 10 dari 60 lansia Talat Chaiya, Surat Thani, jatuh dalam enam bulan terakhir (17 persen)
- Delapan dari 21 lansia yang tidak bekerja jatuh; dari 39 yang bekerja hanya dua (p = 0,002)
- Dari 37 butir rumah yang diperiksa, hanya kasa atau kelambu kamar tidur yang bermakna (p = 0,031)
- Lumut, tangga curam, dan karat udara asin disebut di pembuka tetapi tidak diukur langsung
Daftar Isi
Tangga kayu itu curam, dan lantai papan di bawahnya licin oleh lumut yang tumbuh cepat sepanjang musim hujan. Rumah panggung di pesisir Surat Thani, Thailand selatan, dibangun dengan ruang tamu terbuka dan tempat mandi yang terpisah di luar. Udara asin dari laut menggerogoti pegangan logam dan melapukkan kayu lebih cepat daripada di pedalaman. Di rumah semacam itulah 60 lansia Talat Chaiya tinggal.
Sepuluh di antara mereka jatuh dalam enam bulan terakhir. Angka itu dicatat Parnchon Chokprasit Jaiyuen, Pakavadee Rakthong, dan Thanwarat Chantanachai dalam When the home becomes a hazard: fall risks among older adults in Thailand’s coastal rural communities, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 846, tahun 2026. Ketiganya berasal dari Walailak University, Suratthani Rajabhat University, dan Mahidol University.
Rumah Panggung Kayu
Talat Chaiya adalah subdistrik di Chaiya District, Provinsi Surat Thani. Paper menggolongkannya sebagai kawasan pedesaan pesisir, dengan penduduk campuran warga asli dan pendatang serta proporsi lansia yang tinggi. Enam puluh orang berusia 60 sampai 93 tahun ditemui di rumah masing-masing, diwawancarai, lalu rumahnya diperiksa langsung dari ruang tamu sampai dapur.
Gambaran fisik rumah pesisir itu ditulis di bagian pembuka. Musim hujan yang panjang dan kelembapan yang tinggi membuat lantai kayu dan jalan setapak licin, sebab alga dan lumut cepat menumpuk. Tangga rumah panggung curam, kamar mandi sering berada di luar atau jauh dari kamar tidur. Semua itu memperbanyak pertemuan kaki tua dengan permukaan basah dan tidak rata.
Bandingannya adalah rumah pedalaman. Di sana, menurut paper, jatuh lebih sering terkait pencahayaan yang buruk, permukaan jalan yang jelek, dan bangunan yang menua bersama penghuninya, bukan kelembapan, garam, atau karat. Provinsi pesisir selatan yang disebut bernasib serupa adalah Nakhon Si Thammarat, Phatthalung, Songkhla, dan Surat Thani sendiri.
Di Thailand, jatuh pada lansia berujung pada lebih dari 60.000 rawat inap setiap tahun, dengan rata-rata empat kematian akibat jatuh per hari. Penduduk berusia 60 tahun ke atas naik dari 7 persen pada 1990 menjadi sekitar 20 persen pada 2022. Rumah-rumah kayu di pesisir menampung sebagian dari lonjakan itu.
Sekolah Lansia Chaiya
Keenam puluh orang itu ditarik dari daftar Municipal Elderly School of Chaiya, sekolah lansia milik pemerintah kota yang beranggotakan 70 orang. Sebanyak 85 persen perempuan, usia tengahnya 66,5 tahun. Sepertiga lebih, tepatnya 35 persen, tidak bekerja. Seperempat tinggal sendiri, 70 persen punya hipertensi, diabetes, atau dislipidemia, dan 75 persen minum sedikitnya satu obat.
Jatuh didefinisikan sebagai peristiwa tak terduga ketika seseorang berakhir di tanah, lantai, atau permukaan yang lebih rendah. Dengan ukuran itu, 10 orang atau 17 persen tergolong pernah jatuh dalam setengah tahun terakhir, dengan rentang kepercayaan 7,2 sampai 26,1 persen. Lima puluh orang lainnya tidak.
Yang membedakan sepuluh orang itu dari lima puluh lainnya bukan umur, bukan jenis kelamin, bukan pula penyakit. Lima dari yang jatuh berusia 60-an, lima lagi 70 tahun ke atas. Delapan perempuan, dua laki-laki. Delapan punya penyakit penyerta, tetapi 34 dari yang tidak jatuh juga punya. Semua perbedaan itu tidak bermakna secara statistik.
Pembedanya adalah pekerjaan. Dari 21 lansia yang tidak bekerja, delapan pernah jatuh. Dari 39 yang masih bekerja, hanya dua. Selisih itu bermakna dengan nilai p 0,002. Paper menyebutkan temuan serupa dari pedesaan India dan dari lansia Thailand lain, serta satu studi bahwa lansia yang bertani di pesisir pedesaan justru lebih jarang jatuh.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Kamar Tidur dan Dapur
Kunjungan rumah memeriksa 37 hal. Dua belas di ruang hunian, mulai dari kekokohan bangunan, lantai yang rata, pegangan di tangga, sampai warna interior yang mudah dilihat. Sepuluh di kamar tidur, sembilan di kamar mandi, enam di dapur. Setiap butir dinilai aman bila punya lebih dari lima titik pengaman, dan berisiko tinggi bila lima atau kurang.
Dari 37 butir itu, hanya satu yang berkaitan bermakna dengan jatuh, dan letaknya di kamar tidur: kasa nyamuk di jendela atau kelambu di tempat tidur. Dari 13 rumah yang kurang dalam hal ini, lima penghuninya jatuh. Dari 47 rumah yang memenuhinya, hanya lima yang jatuh. Nilai p-nya 0,031.
Butir yang lebih masuk akal sebagai penyebab jatuh justru berhenti di ambang batas. Lantai dan jalan setapak yang mulus memberi nilai p 0,052; dari enam rumah yang lantainya buruk, tiga penghuninya jatuh. Warna interior yang mudah dilihat juga 0,052. Pintu masuk yang terang 0,074, pencahayaan kamar tidur 0,101, pegangan di kamar mandi 0,128.
Kelambu bukan alat pencegah jatuh, dan para penulis tahu itu. Mereka menawarkan tiga dugaan. Rumah berkasa cenderung lebih rapi karena ambang jendela dan pintu dijaga bersih. Kasa membiarkan cahaya siang masuk lebih banyak. Kasa juga memungkinkan jendela dibuka tanpa takut serangga, sehingga udara mengalir di rumah pesisir yang umumnya tidak ber-AC, dan tidur lebih nyenyak.
“Temuan kami bahwa keberadaan kasa atau kelambu nyamuk di kamar tidur berkaitan dengan risiko jatuh yang lebih rendah pada lansia di pedesaan pesisir harus ditafsirkan dengan hati-hati,” tulis Chokprasit Jaiyuen, Rakthong, dan Chantanachai dalam naskah berbahasa Inggris mereka. Mereka menambahkan bahwa penjelasan yang diajukan masih bersifat hipotetis dan mekanismenya memerlukan penelitian lanjutan.
Ada satu pola yang menarik di tabel, meski tidak dibahas panjang. Beberapa butir tidak menghasilkan satu pun kejadian jatuh di kelompok berisiko rendah. Empat rumah tanpa pegangan tangga, lima rumah tanpa pemisah area basah dan kering di kamar mandi, tujuh rumah dengan lantai dapur yang tidak bersih dan kering: tidak ada penghuninya yang jatuh.
Angka nol semacam itu tidak berarti aman. Jumlahnya terlalu kecil untuk berbicara, dan paper sendiri memakai uji Fisher justru karena banyak kotak tabel berisi kurang dari lima orang. Namun angka-angka itu menunjukkan betapa sedikitnya rumah yang benar-benar buruk dalam sampel ini. Dari 60 rumah, 47 dinilai kokoh secara struktur dan 54 punya lantai yang mulus.
Para penulis merekomendasikan pemeriksaan risiko lingkungan rumah dimasukkan ke program yang sudah ada, yakni sekolah lansia kota dan relawan kesehatan desa. Alasannya praktis: modifikasi rumah berbiaya rendah seperti kelambu bisa dilakukan tanpa menunggu program besar, dan lansia yang tidak bekerja memerlukan perhatian lebih karena lebih banyak berada di rumah.
Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka
Batas Sampel
Keterbatasannya diakui sendiri. Sampel hanya 60 orang dari satu provinsi, sehingga hasilnya tidak bisa dipakai untuk pesisir lain apalagi pedalaman Thailand. Riwayat jatuh diambil dari ingatan enam bulan, yang rawan lupa dan rasa malu. Rancangannya potong lintang, sehingga hubungan antara pengangguran, kelambu, dan jatuh tidak bisa dibaca sebagai sebab-akibat.
Paper juga membandingkan angka 17 persen dengan 12,1 persen di Thailand selatan non-pesisir, 13,8 persen di komunitas tani dan nelayan Kaohsiung, Taiwan, serta 11,4 persen cedera akibat jatuh di pesisir Ekuador. Dua pembanding terakhir memakai jendela dua belas bulan, sedangkan Talat Chaiya enam bulan. Perbandingan itu tetap ditulis sebagai bukti pesisir lebih rawan.
Tabel yang Janggal
Beberapa hal di naskah bisa diperiksa pembaca. Pada Tabel 2, butir desain perabot yang aman memuat persentase 13,6, 76,3, 3,4, dan 6,8, yang berjumlah 100 hanya jika pesertanya 59 orang, bukan 60 seperti butir lainnya. Judul tabel menyebut uji Fisher untuk semua baris, tetapi kolomnya berjudul Chi-Square Test.
Daftar pustaka juga menyimpan dua kekeliruan. Rujukan tentang kesejahteraan lansia Thailand oleh Teerawichitchainan dan kawan-kawan dicantumkan terbit di Angewandte Chemie International Edition, sebuah jurnal kimia. Artikel Iamtrakul dan kawan-kawan di Sustainability tahun 2021 dimuat dua kali sebagai rujukan nomor 9 dan nomor 14.
Yang paling patut dicatat adalah jarak antara pembuka dan tabel. Pembukanya berbicara tentang lumut, tangga curam rumah panggung, dan karat oleh udara asin. Tidak satu pun dari 37 butir yang diperiksa mengukur ketiganya secara langsung. Kekokohan bangunan memberi nilai p 0,675, jauh dari bermakna. Bahaya khas pesisir yang dijanjikan judul tidak muncul di angka.
Baca juga Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia
Kembali ke Tangga
Rumah panggung dengan tangga kayu curam itu tetap berdiri di Talat Chaiya, dan lumutnya tetap tumbuh setiap musim hujan. Tetapi setelah 60 rumah diperiksa, yang membedakan penghuni yang jatuh dari yang tidak bukan tangga atau lantainya, melainkan apakah ia masih bekerja dan apakah jendela kamarnya berkasa. Bahaya yang tampak dari luar ternyata bukan yang tercatat di dalam.















