- Dari 798 pekerja Tiongkok di Uganda yang mengisi survei, 355 orang atau 44,5 persen pernah terinfeksi malaria.
- Peluang pekerja laki-laki terinfeksi malaria 1,92 kali peluang perempuan.
- Pekerja yang bersikap negatif terhadap pencegahan berpeluang 2,49 kali lebih besar terinfeksi.
- Pekerja di tempat kerja yang menyediakan obat antimalaria justru berpeluang lebih besar terinfeksi.
- Riwayat malaria dilaporkan sendiri oleh pekerja, yang menurut para penulis bisa keliru karena ingatan.
Daftar Isi
Hampir separuh pekerja Tiongkok di Uganda pernah terkena malaria. Dari 798 orang yang mengisi survei, 355 orang atau 44,5 persen melaporkan pernah terinfeksi selama tinggal di negara itu. Mereka tersebar di 32 distrik, dan tujuh dari sepuluh berada di ibu kota, Kampala.
Angka itu dilaporkan Jian Ji, Xiaowen Gao, Lingmin Lei, Tiancan Yang, Aijie Zhou, Yafei Wang, Lvyang Chen, Qingpeng Cui, dan Yuanquan Zhu. Artikel mereka berjudul Epidemiological characteristics, prevention and control status, and factors associated with malaria infection among overseas Chinese workforce in Uganda. Naskah itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Kesembilan penulis berasal dari Department of Urology, The Third People’s Hospital of Yunnan Province, di Kunming. Jian Ji juga anggota The 22nd Chinese Medical Team to Uganda di China Uganda Friendship Hospital (Naguru), Kampala. Tim medis itulah yang menyebar kuesioner pada 2022 sampai 2023.
Dari negeri bebas malaria
Tiongkok dinyatakan bebas malaria oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 30 Juni 2021. Negara itu menjadi yang pertama di kawasan Pasifik Barat WHO yang meraih sertifikat tersebut dalam lebih dari 30 tahun.
Uganda berada di sisi sebaliknya. WHO memasukkannya ke kelompok negara “High Burden to High Impact”, dengan penularan yang terus tinggi. Para penulis mencatat perkiraan WHO untuk 2023: 263 juta kasus malaria dan 597.000 kematian di dunia, sebagian besar di Afrika sub-Sahara.
Pekerja Tiongkok berpindah dari negeri pertama ke negeri kedua. Menurut para penulis, mereka penduduk berpindah yang sebelumnya jarang terpapar malaria. Data Kementerian Perdagangan Tiongkok yang dikutip naskah mencatat 271.000 pekerja dikirim ke luar negeri sepanjang Januari sampai Agustus 2025.
Siapa para pekerja
Tiga dari empat responden laki-laki, yakni 606 orang atau 75,9 persen. Usia rata-rata mereka 38,6 tahun, dengan rentang 20 sampai 66 tahun. Kelompok terbesar berumur 30 sampai 39 tahun, sebanyak 41,6 persen.
Pekerjaan mereka beragam. Konstruksi dan teknik menyerap 320 orang atau 40,1 persen. Manufaktur 139 orang atau 17,4 persen, lalu bisnis dan jasa 124 orang atau 15,5 persen.
Lulusan sarjana paling banyak, 324 orang atau 40,6 persen. Sebanyak 245 orang atau 30,7 persen berpendidikan menengah atau lebih rendah. Lulusan pascasarjana 84 orang, dan 145 orang menempuh pendidikan lanjutan nonuniversitas, seperti pelatihan kejuruan atau teknik.
Banyak yang sudah lama di sana. Sebanyak 366 orang atau 45,9 persen telah tinggal empat tahun atau lebih, dan 394 orang sudah datang tiga kali atau lebih. Hanya 136 orang atau 17,0 persen yang tinggal bersama pasangan.
Kamp lapangan dan kota
Tempat tinggal mereka terbagi tiga. Sebanyak 466 orang atau 58,4 persen berada di perkotaan. Kamp lapangan dihuni 196 orang atau 24,6 persen, dan kawasan industri 136 orang atau 17,0 persen.
Kamp lapangan umumnya berupa rumah prafabrikasi berangka baja ringan atau bangunan campuran bata dan beton. Rancangannya sederhana, tetapi jendelanya berkasa dan tirai pintunya berinsektisida. Kelambu berinsektisida, penyemprotan dalam ruangan, dan semprotan aerosol tersedia rutin.
Kompleks kamp punya saluran air. Tanahnya dilapisi semen atau bata, dan seluruh area dikelilingi pagar. Di kota, pekerja menempati apartemen bertingkat dari beton bertulang yang padat penghuni, atau rumah tunggal dengan halaman lebih luas dan tumbuhan lebih rimbun.
Baca juga RFC 0,96, Tali Kuning Jawaban Utama Obat Malaria Suku Moi
Sakit lalu berobat
Demam adalah gejala yang paling sering disebut, oleh 269 orang atau 33,7 persen dari seluruh responden. Nyeri badan disebut 256 orang atau 32,1 persen. Menggigil dilaporkan 193 orang atau 24,2 persen.
Sebagian besar yang terinfeksi tidak cukup dengan obat minum. Dari 355 orang, 115 orang atau 32,4 persen menerima obat minum sekaligus infus. Sebanyak 112 orang atau 31,5 persen diinfus, dan 63 orang atau 17,7 persen hanya minum obat.
Ada 55 orang yang harus dirawat inap, setara 15,5 persen dari mereka yang terinfeksi. Sepuluh orang lain, atau 2,8 persen, tidak berobat atau mengandalkan obat herbal tradisional Tiongkok.
Rumah sakit setempat menjadi pilihan utama berobat bagi 491 orang atau 61,5 persen. Tim medis Tiongkok dipilih 318 orang atau 39,8 persen. Tenaga medis di lokasi kerja disebut 172 orang, dan 94 orang memilih mengobati diri sendiri.
Nyamuk dan kebiasaan
Gigitan nyamuk adalah urusan harian bagi banyak pekerja. Sebanyak 208 orang atau 26,1 persen digigit setidaknya sekali sehari. Sebanyak 152 orang digigit beberapa kali seminggu, 387 orang sesekali, dan hanya 51 orang yang nyaris tidak pernah.
Lebih dari separuh rajin merawat lingkungan. Sebanyak 426 orang atau 53,4 persen memotong rumput, membuang genangan, dan menyemprot insektisida sedikitnya sebulan sekali. Sebanyak 116 orang atau 14,5 persen melakukannya tidak teratur.
Sebagian tetap mendatangi sarang nyamuk. Sebanyak 81 orang atau 10,2 persen sering berada di rawa, tepi sungai, atau padang rumput pada pagi buta dan petang, saat nyamuk paling aktif. Sebanyak 286 orang sesekali ke sana, dan 431 orang jarang atau tidak pernah.
Pengetahuan mereka tidak merata. Sebanyak 31,8 persen mengaku sangat paham soal malaria, 51,5 persen paham sedang, dan 16,7 persen hanya tahu sedikit. Sikapnya juga terbelah: 33,8 persen positif terhadap pencegahan, 33,5 persen bimbang, dan 10,9 persen negatif.
Baca juga Suhu, Bukan Hujan, Kunci Ramalan Dengue di Nepal Barat
Malaria bukan penyakit yang paling mereka cemaskan. Ebola disebut 683 orang atau 85,6 persen. Malaria disebut 492 orang atau 61,7 persen, disusul HIV/AIDS dengan 443 orang atau 55,5 persen.
Rentan dan terlindung
Laki-laki lebih sering terinfeksi. Peluang mereka 1,92 kali peluang perempuan. Para penulis mencatat pekerja laki-laki lebih banyak beraktivitas di luar ruangan, sementara kepatuhan mereka pada pencegahan gigitan nyamuk umumnya lebih rendah.
Waktu ikut berperan. Makin lama seseorang bekerja dan tinggal di Uganda, makin besar peluangnya terinfeksi, dengan angka 1,38. Makin sering ia datang ke negara itu, peluangnya juga naik, dengan angka 1,28.
Sikap paling tajam kaitannya. Pekerja yang bersikap negatif terhadap pencegahan berpeluang 2,49 kali lebih besar terinfeksi dibanding yang bersikap positif. Menurut para penulis, orang yang berulang kali terinfeksi bisa menjadi “fatalistis” lalu meninggalkan perilaku melindungi diri.
Lingkungan sekitar juga berkaitan. Makin banyak kasus malaria di antara orang-orang sekeliling, makin besar peluang terinfeksi, dengan angka 1,95. Gigitan nyamuk yang makin sering membawa angka 1,31.
Bergaul dengan rekan lokal tidak termasuk. Sebanyak 693 orang atau 86,8 persen hampir setiap hari bertemu staf Uganda, dan hal itu tidak berkaitan dengan infeksi. Para penulis menyimpulkan yang menentukan adalah kepadatan orang terinfeksi di lingkungan tinggal, bukan seringnya bertemu orang.
Pendidikan tinggi berkaitan dengan infeksi yang lebih jarang: dibanding lulusan sekolah menengah ke bawah, angka untuk sarjana 0,65 dan untuk pascasarjana 0,41. Lulusan pendidikan lanjutan nonuniversitas tidak berbeda bermakna dari kelompok pembanding. Para penulis mencatat kelompok terakhir ini lebih sering bekerja di posisi teknis atau lapangan dan biasanya tinggal di asrama bersama.
Pasangan pun berkaitan. Pekerja yang tinggal bersama suami atau istri berpeluang 43 persen lebih rendah terinfeksi dibanding yang lain. Para penulis menyebut dukungan emosional, rutinitas harian yang lebih stabil, dan kelambu yang dipakai bersama.
Baca juga Separuh Buruh Migran Myanmar di Chiang Rai Pergi Berobat
Obat tersedia, infeksi tinggi
Satu temuan berlawanan dengan dugaan. Sebanyak 485 orang atau 60,8 persen bekerja di tempat yang menyediakan obat antimalaria. Justru merekalah yang berpeluang lebih besar terinfeksi, dengan angka 1,48.
Para penulis menduga arah hubungannya terbalik. Obat disimpan karena banyak karyawan bekerja atau tinggal di daerah berisiko tinggi. Obat yang mudah didapat juga bisa membuat orang kurang patuh memakai kelambu atau menghindari luar ruangan.
“Penyimpanan obat saja tidak menjamin pengendalian malaria yang efektif,” tulis Jian Ji, anggota The 22nd Chinese Medical Team to Uganda, bersama delapan rekannya. Kalimat itu aslinya berbahasa Inggris.
Tenaga kesehatan pun tipis. Hanya 216 orang atau 27,1 persen yang punya tenaga medis di tempat kerja atau tempat tinggal. Sebanyak 457 orang atau 57,3 persen pernah mendapat pelatihan malaria, tetapi pelatihan rutin hanya diterima 9 orang.
Merawat lingkungan ternyata tidak berkaitan dengan infeksi. Para penulis menyebut sebagian besar pekerja sudah menempati hunian yang baik, berlantai semen, berjendela kasa, dan bersaluran air. Kelambu dan obat nyamuk yang luas dipakai ikut mengecilkan sumbangan langkah itu.
Batas dan saran
Penelitian ini punya batas. Datanya diambil pada satu waktu, sehingga hubungan sebab-akibat tidak bisa ditetapkan, dan riwayat malaria dilaporkan sendiri oleh pekerja, yang menurut para penulis bisa keliru karena ingatan. Responden pun hanya pekerja Tiongkok di Uganda, sementara kuesioner daring bisa kurang mewakili mereka yang sulit mengakses internet.
Para penulis turut mengingatkan cara membaca angkanya. Karena infeksi cukup umum, angka-angka tadi bisa melebihkan risiko dan perlu dibaca sebagai peluang relatif, bukan risiko mutlak. Mereka menyebut studi lanjutan di banyak negara masih diperlukan.
Sarannya ada tiga: perbaikan tempat tinggal dan akses layanan kesehatan, pendidikan kesehatan yang sistematis, serta pasokan rutin perlengkapan antimalaria. Sebanyak 507 orang atau 63,5 persen mengaku sangat memerlukan bantuan dari luar. Menurut para penulis, langkah itu melindungi pekerja sekaligus membantu menjaga status bebas malaria Tiongkok.















