Sedikit Mahasiswa Yordania-Suriah Tahu Rokok Faktor Risiko Stroke

A A

Halaman dalam kampus Damascus University, Suriah, dengan gedung beratap genting merah dan pohon zaitun [Foto: Bryn Pinzgauer/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Sebanyak 353 mahasiswa, atau 66,7 persen, mencapai ambang pengetahuan stroke yang memadai.
  • Sebanyak 164 mahasiswa, atau 31 persen, mengenali ketiga gejala kunci stroke.
  • Obesitas dikenali 84,5 persen mahasiswa sebagai faktor risiko, sedangkan merokok hanya 10,4 persen.
  • Mahasiswa dari Suriah mencatat rasio peluang 3,1 dibanding mahasiswa dari Yordania dalam mengenali gejala.
  • Peserta dijaring lewat media sosial sehingga pengetahuan stroke bisa tampak lebih tinggi daripada yang sebenarnya.
Daftar Isi
  1. Pengetahuan Memadai, Benar Separuh Soal
  2. Tanda Peringatan, Wajah, Lengan, dan Bicara
  3. Faktor Risiko, dari Obesitas sampai Rokok
  4. Fakta Medis, Bagian dengan Nilai Terendah
  5. Rasio Peluang, Siapa yang Lebih Mengenali
  6. Kampanye Terarah, Usul untuk Menutup Celah

Pengetahuan stroke yang memadai, dalam sebuah survei terhadap mahasiswa di Yordania dan Suriah, sama artinya dengan lulus ujian tepat di garis batas: menjawab benar sedikitnya separuh soal. Dua dari tiga mahasiswa melewati garis itu. Namun di balik kelulusan tersebut, hanya 10,4 persen yang mengenali rokok sebagai faktor risiko stroke.

Survei itu dilaporkan Taleb Alsalloum, Hadi Salame, Asma Daoud, Shahd Almansour, Juman Isstaif, Abdallah Alawaisheh, dan Khaled Funjan dalam artikel Stroke awareness and response among university students in Jordan and Syria: a cross-sectional study, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Alsalloum berasal dari Fakultas Kedokteran University of Hama di Suriah. Rekan-rekannya bekerja di Damascus University, Homs University, Ferhat Abbas University di Aljazair, dan Al-Balqa Applied University di Yordania.

Pesertanya 529 mahasiswa program sarjana di kedua negara, yang mengisi kuesioner daring berbahasa Arab pada 2024. Sebanyak 56,3 persen perempuan, dan 88,3 persen berusia di bawah 23 tahun. Sebagian besar, 70,3 persen, berasal dari Suriah. Sebanyak 60,5 persen kuliah di luar bidang kesehatan dan kedokteran. Sebanyak 42,5 persen mengenal seseorang yang pernah terkena stroke, tetapi hanya 10,8 persen yang punya riwayat stroke dalam keluarga.

Pengetahuan Memadai, Benar Separuh Soal

Alat ukurnya bernama Stroke Knowledge Test, yaitu tes pengetahuan stroke berisi 20 soal. Soal-soalnya menanyakan bagaimana stroke terjadi, apa faktor risikonya, apa gejalanya, dan apa akibatnya. Seorang mahasiswa disebut berpengetahuan memadai bila menjawab benar sedikitnya 10 dari 20 soal itu.

Ambang itu tidak dicapai semua peserta. Sebanyak 353 mahasiswa, atau 66,7 persen, mencapainya. Sisanya, 176 orang atau 33,3 persen, berada di bawah ambang. Selain itu, 67,5 persen peserta dapat menunjukkan mekanisme stroke, yakni bahwa stroke muncul akibat gangguan aliran darah ke otak.

Para peneliti menilai angka itu relatif kuat. Mereka menyandingkannya dengan Lebanon, tempat 51,5 persen peserta sebuah penelitian menunjukkan pemahaman yang memuaskan tentang stroke. Di sisi lain, angka itu masih di bawah mahasiswa bidang kesehatan di Palestina, yang mencapai 83 persen.

Pengetahuan stroke mahasiswa, sekilasPengetahuan stroke mahasiswa, sekilasPengetahuan stroke mahasiswa, sekilasSurvei daring berbahasa Arab, 2024529mahasiswaYordania danSuriah66,7%memadaiminimal 10 dari20 benar31%tiga gejalawajah, lengan,bicara8,9%nol gejalatak mengenalisatu punJalan risetnya529 mahasiswa disurvei20 soal tentang stroke353 lolos ambang
Sumber: Taleb Alsalloum, Hadi Salame, Asma Daoud, Shahd Almansour, Juman Isstaif, Abdallah Alawaisheh, dan Khaled Funjan, Stroke awareness and response among university students in Jordan and Syria: a cross-sectional study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tanda Peringatan, Wajah, Lengan, dan Bicara

Istilah berikutnya adalah gejala dan tanda peringatan, yaitu perubahan pada tubuh yang menandai stroke. Naskah ini menyebut tiga gejala kunci: wajah yang turun sebelah, lengan atau tungkai yang melemah, dan gangguan bicara. Peserta diukur dari berapa banyak di antara ketiganya yang mereka kenali.

Hasilnya berlapis. Sebanyak 164 mahasiswa, atau 31 persen, mengenali ketiga gejala itu. Kelompok terbesar, 224 orang atau 42,3 persen, mengenali dua. Ada 94 orang yang hanya mengenali satu. Lalu 47 mahasiswa, atau 8,9 persen, tidak mengenali satu gejala pun.

Bila dibalik, 91,1 persen peserta mengenali setidaknya satu gejala. Para peneliti membandingkannya dengan sebuah penelitian di Arab Saudi, tempat hanya 25 persen dari 897 mahasiswa mampu menyebut sedikitnya satu gejala. Angka itu juga melampaui penelitian di Portugal, Norwegia, Oman, dan Lebanon, serta sejalan dengan sebuah penelitian di Yordania yang mencatat 95,5 persen.

Baca juga Pasien Stroke yang Makan Sehat Malah Rentan Multimorbiditas

Faktor Risiko, dari Obesitas sampai Rokok

Faktor risiko adalah hal-hal yang berkaitan dengan kemungkinan seseorang terkena stroke. Para penulis membaginya menjadi dua. Ada yang tidak bisa diubah, seperti usia lanjut dan riwayat keluarga. Ada pula yang bisa diubah, yaitu hipertensi atau tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah, merokok, dan konsumsi alkohol yang membahayakan.

Hampir semua peserta, 93,8 persen, mengetahui setidaknya satu faktor risiko. Hanya 33 orang atau 6,2 persen yang tidak mengetahui satu pun. Di ujung lain, yang bisa mengenali lima faktor risiko cuma lima orang atau 0,9 persen peserta.

Urutannya yang menarik perhatian para peneliti. Obesitas dikenali 84,5 persen mahasiswa, paling tinggi di antara semua faktor. Hipertensi menyusul dengan 55,8 persen, lalu diabetes 45,9 persen dan konsumsi alkohol 45,2 persen. Merokok berada jauh di bawah: 10,4 persen.

Obesitas paling dikenali, rokok paling jarangObesitas: Persen mahasiswa +84,5%; Hipertensi: Persen mahasiswa +55,8%; Diabetes: Persen mahasiswa +45,9%; Konsumsi alkohol: Persen mahasiswa +45,2%; Merokok: Persen mahasiswa +10,4%.Obesitas paling dikenali, rokok paling jarangPersen mahasiswa yang mengenalinya sebagai faktor risiko stroke25%50%75%100%0Obesitas84,5%Hipertensi55,8%Diabetes45,9%Konsumsi alkohol45,2%Merokok10,4%
Sumber: Taleb Alsalloum, Hadi Salame, Asma Daoud, Shahd Almansour, Juman Isstaif, Abdallah Alawaisheh, dan Khaled Funjan, Stroke awareness and response among university students in Jordan and Syria: a cross-sectional study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Bedanya begini. Menurut para penulis, pada kebanyakan penelitian lain di kampus dan di kawasan itu, hipertensi dan merokok justru paling dikenali, sedangkan obesitas berada di urutan lebih rendah. Mahasiswa di Bangladesh, misalnya, menyebut hipertensi 87,2 persen dan merokok 79,4 persen. Obesitas di sana 59,6 persen.

Tingginya pengenalan terhadap obesitas, tulis mereka, mengisyaratkan tumbuhnya kesadaran akan peran metabolisme dan gaya hidup di kalangan anak muda terdidik. Sebaliknya, rendahnya pengenalan terhadap rokok menegaskan adanya celah yang menetap, meski kampanye antirokok sudah tersebar luas.

Fakta Medis, Bagian dengan Nilai Terendah

Bagian keempat tes itu disebut pengetahuan medis dan ilmiah, yaitu fakta-fakta kedokteran seputar stroke. Di antara semua bagian, di sinilah nilai peserta paling rendah. Hanya 16 mahasiswa, atau 3 persen, yang menguasai kelima hal yang ditanyakan. Sebanyak 51 orang, atau 9,6 persen, tidak dapat menunjukkan satu konsep ilmiah pun dengan benar.

Pengetahuan tentang penanganan dan pencegahan berada di antara keduanya. Sebanyak 94 mahasiswa, atau 17,8 persen, mengetahui keenam cara yang ditanyakan. Ada 125 orang, atau 23,6 persen, yang mengenali empat cara. Sementara itu, 34 orang, atau 6,4 persen, hanya tahu satu.

Latar kuliah ikut membedakan hasil. Di bagian fakta medis, 96,2 persen mahasiswa kesehatan dan kedokteran menjawab benar setidaknya satu hal, sedangkan pada mahasiswa bidang lain 86,6 persen. Untuk pengetahuan keseluruhan, 78,0 persen mahasiswa kesehatan mencapai ambang memadai. Pada bidang lain angkanya 59,4 persen.

Para penulis menduga hal itu lahir dari pengalaman belajar mahasiswa kedokteran, yang mengutamakan pencegahan, pengenalan, dan penanganan stroke. Temuan itu, kata mereka, sejalan dengan sebuah penelitian di Polandia. Bekal tersebut membuat mahasiswa kedokteran mampu mengenali gejala lebih dini dan ikut mendidik masyarakat.

Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi

Rasio Peluang, Siapa yang Lebih Mengenali

Untuk membandingkan kelompok, naskah ini memakai rasio peluang atau odds ratio, ukuran yang menyandingkan peluang dua kelompok. Yang diukur adalah peluang mengenali setidaknya satu gejala stroke.

Mahasiswa dari Suriah mencatat rasio 3,1 dibanding mahasiswa dari Yordania. Mereka yang tinggal bersama keluarga mencatat 1,9 dibanding penghuni asrama kampus. Mahasiswa yang mengenal seseorang yang pernah terkena stroke mencatat 1,4. Laki-laki, dibanding perempuan, mencatat 0,7, yang berarti lebih kecil peluangnya mengenali gejala. Untuk pengenalan faktor risiko, rasio mahasiswa Suriah 2,7 dan rasio mereka yang mengenal penyintas 1,8.

Pola serupa tampak pada pengetahuan keseluruhan. Ambang memadai dicapai 72,8 persen mahasiswa perempuan dan 58,9 persen laki-laki. Di antara yang mengenal penyintas stroke angkanya 75,6 persen, pada yang tidak mengenal 60,2 persen. Mahasiswa dari Suriah mencapai 75,3 persen, dari Yordania 46,5 persen.

Para penulis menawarkan beberapa penjelasan. Selisih antarnegara bisa mencerminkan susunan peserta, misalnya lebih banyak responden Suriah yang kuliah di bidang kesehatan, atau kegiatan penyadaran di Suriah belakangan ini. Tinggal bersama keluarga mungkin mendekatkan mahasiswa pada kerabat yang lebih tua dan obrolan tentang penyakit kronis. Mengenal penyintas memberi pengalaman langsung.

Semua itu mereka beri tanda. “Penjelasan-penjelasan ini bersifat spekulatif dan perlu diuji dalam penelitian mendatang,” tulis Alsalloum dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Rancangan penelitian mereka, yang memotret peserta pada satu waktu saja, tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat.

Baca juga Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia

Kampanye Terarah, Usul untuk Menutup Celah

Dari celah-celah itu para peneliti mengusulkan kampanye pendidikan yang terarah, yakni yang menyasar bagian yang lemah. Mereka menyebut program pendidikan yang disesuaikan dengan budaya setempat dan menekankan risiko merokok serta gaya hidup lain. Modul pencegahan stroke, menurut mereka, dapat dimasukkan ke dalam kurikulum agar mahasiswa terpapar berulang.

Media sosial dan platform multimedia disebut dapat memperluas sebaran materi. Kegiatan penjangkauan masyarakat dan lokakarya interaktif dapat menguatkan pentingnya pengenalan dini dan pertolongan medis yang cepat. Mahasiswa dipilih sebagai sasaran karena mudah dijangkau lewat kampus dan dapat meneruskan informasi kesehatan kepada keluarga dan lingkungannya.

Penelitian ini punya batas yang diakui penulisnya. Pesertanya dijaring lewat media sosial kampus, grup Telegram mahasiswa, dan ajakan berantai, bukan dipilih secara acak. Cara itu kemungkinan lebih banyak menjaring mahasiswa yang punya akses internet, melek digital, atau berminat pada kesehatan, sehingga pengetahuan stroke bisa tampak lebih tinggi daripada yang sebenarnya.

Jawaban peserta juga dilaporkan sendiri, sehingga bisa dipengaruhi ingatan dan keinginan tampak baik. Tingkat respons tidak dapat dihitung dengan pasti. Para penulis menambahkan bahwa perbedaan halus antara kuesioner berbahasa Arab dan versi aslinya yang berbahasa Inggris tidak dapat disingkirkan sepenuhnya.

Dalam simpulannya, para penulis mencatat bahwa pengenalan sejumlah gejala akut stroke dan faktor risiko kunci yang dapat diubah masih terbatas, meski 66,7 persen peserta mencapai ambang pengetahuan memadai. Para penulis sendiri menutup dengan peringatan tentang celah di baliknya. “Celah-celah ini semestinya meredam temuan yang secara keseluruhan positif, karena dapat menghambat pengenalan tepat waktu dan respons darurat yang semestinya,” tulis Alsalloum dan rekan-rekannya.

Bagikan

Baca Juga

TBC Sembuh Sebulan? Dokter IPB: Hanya untuk TBC Laten
Tifus Semak di Ganzhou Paling Sering Menimpa Petani Perempuan
Makanan Anak di Kampung Kumuh Dhaka Tercemar meski Ibunya Paham
Awalan Paling Sering Menempel pada Kata Ulang Novel 1970-an
Orang Osing Memilih Ritual Mana yang Boleh Dijual ke Wisatawan
Pemegang Asuransi Lebih Sering Berobat, Biaya Belum Tentu Ringan