TBC Sembuh Sebulan? Dokter IPB: Hanya untuk TBC Laten

A A

Ilustrasi dokter memeriksa hasil rontgen paru. [Foto: Shixart1985 / Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Regimen satu bulan rifapentin-isoniazid hanya untuk TBC laten.
  • TBC paru aktif masih butuh 6 bulan, atau 4 bulan dengan regimen berbasis moksifloksasin.
  • Berhenti minum obat terlalu cepat berisiko kambuh dan resisten.

Cekricek.id — Wacana mempersingkat pengobatan tuberkulosis (TBC) menjadi hanya satu bulan perlu disikapi hati-hati. Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr dr Desdiani SpP MKK MSc (MBioEt), mengingatkan bahwa regimen satu bulan sejauh ini hanya berlaku untuk infeksi TBC laten, bukan TBC aktif.

Menurut Desdiani, sejumlah regimen pencegahan TBC laten memang berdurasi singkat, yakni kombinasi rifapentin dan isoniazid yang diminum setiap hari selama satu bulan. Namun, kondisi itu berbeda secara klinis dengan TBC paru aktif.

“Beberapa regimen pencegahan untuk TBC laten memang berlangsung satu bulan, tetapi tidak dapat dijadikan dasar bahwa TBC aktif sembuh dalam durasi sama,” kata Desdiani, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis IPB University, Rabu (28/10/2026).

“Jadi pengobatan 1 bulan, hanya untuk TBC Laten, bukan TBC aktif,” tandasnya.

Baca juga: UGM Kembangkan TBScreen.AI, Alat Bantu Skrining Tuberkulosis untuk Wilayah 3T

Standar TBC Aktif Masih 4–6 Bulan

Desdiani menjelaskan, regimen standar untuk kasus baru TBC paru aktif yang sensitif obat umumnya berlangsung enam bulan. Dua bulan pertama pasien mendapat kombinasi isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol, lalu dilanjutkan empat bulan dengan isoniazid dan rifampisin.

Durasi itu bisa dipangkas menjadi empat bulan dengan regimen rifapentin, isoniazid, pirazinamid, dan moksifloksasin. Dasarnya adalah Study 31/A5349 yang dimuat The New England Journal of Medicine pada 2021, yang menunjukkan regimen empat bulan itu tidak inferior dibanding regimen enam bulan pada pasien yang memenuhi kriteria. Namun, regimen empat bulan tanpa moksifloksasin gagal membuktikan hal serupa.

“Ini berarti keberhasilan tidak hanya ditentukan lamanya terapi, tetapi juga kombinasi obat,” kata Desdiani.

Baca juga: Model Penularan Tuberkulosis Unggulkan Pendampingan Perorangan

Ia mengingatkan, terapi yang dihentikan terlalu cepat atau regimen yang tidak memadai bisa berujung pada kegagalan pengobatan, kekambuhan, dan resistensi obat.

“Jika resistensi terjadi, pasien mungkin memerlukan kombinasi obat berbeda, terapi yang lebih kompleks dan berdurasi lebih panjang. Selain itu, pasien TBC paru yang masih menular berisiko terus menularkan bakteri kepada orang-orang di sekitarnya,” ujarnya.

Karena itu, pasien diminta tidak berhenti minum obat sendiri saat batuk mereda dan segera berkonsultasi bila mengalami efek samping. Menurut Desdiani, percepatan penanganan TBC sebaiknya difokuskan pada diagnosis dini, ketepatan terapi, ketersediaan obat, serta pendampingan pasien hingga tuntas.

“Durasi satu bulan sendiri masih berupa potensi kandidat obat, dan penggunaannya bergantung pada hasil uji klinis serta persetujuan otoritas terkait,” pungkasnya.

Baca juga: Agam Luncurkan Program Eliminasi Tuberkulosis di Tempat Kerja, Targetkan Zero Kasus TB Tahun 2030

Bagikan

Baca Juga

Tifus Semak di Ganzhou Paling Sering Menimpa Petani Perempuan
Makanan Anak di Kampung Kumuh Dhaka Tercemar meski Ibunya Paham
Pemegang Asuransi Lebih Sering Berobat, Biaya Belum Tentu Ringan
Taman Bermain di Tepi Jalan Ankara Lebih Berisiko Logam Berat
Vitamin D Ibu Hamil di New Delhi Naik, Berat Bayi Tak Berbeda
Peluang Pulih dari Henti Jantung di Tokyo Berbeda Barat dan Timur